array(1) {
  [0]=>
  object(stdClass)#49 (6) {
    ["_index"]=>
    string(7) "article"
    ["_type"]=>
    string(4) "data"
    ["_id"]=>
    string(7) "3256177"
    ["_score"]=>
    NULL
    ["_source"]=>
    object(stdClass)#50 (9) {
      ["thumb_url"]=>
      string(111) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2022/04/26/siapakah-pembunuh-raja-siamjpg-20220426045006.jpg"
      ["author"]=>
      array(1) {
        [0]=>
        object(stdClass)#51 (7) {
          ["twitter"]=>
          string(0) ""
          ["profile"]=>
          string(0) ""
          ["facebook"]=>
          string(0) ""
          ["name"]=>
          string(13) "Intisari Plus"
          ["photo"]=>
          string(0) ""
          ["id"]=>
          int(9347)
          ["email"]=>
          string(22) "plusintisari@gmail.com"
        }
      }
      ["description"]=>
      string(128) "Raja Siam, Ananda Mahidol ditemukan tewas di istananya. Padahal, tidak seorang pun yang diperkenankan menyentuh raja sedikitpun."
      ["section"]=>
      object(stdClass)#52 (7) {
        ["parent"]=>
        NULL
        ["name"]=>
        string(8) "Kriminal"
        ["description"]=>
        string(0) ""
        ["alias"]=>
        string(5) "crime"
        ["id"]=>
        int(1369)
        ["keyword"]=>
        string(0) ""
        ["title"]=>
        string(24) "Intisari Plus - Kriminal"
      }
      ["photo_url"]=>
      string(111) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2022/04/26/siapakah-pembunuh-raja-siamjpg-20220426045006.jpg"
      ["title"]=>
      string(27) "Siapakah Pembunuh Raja Siam"
      ["published_date"]=>
      string(19) "2022-04-26 17:20:04"
      ["content"]=>
      string(22793) "

Intisari Plus - Raja Siam, Ananda Mahidol ditemukan tewas di istananya, Istana Bahompiman. Beberapa menyatakan bahwa sang raja tewas dalam kecelakaan, padahal kondisinya diduga tewas karena dibunuh. Padahal, tidak seorang pun yang diperkenankan menyentuh raja sedikitpun, membuat kematiannya berbuntut misteri.

----------------------------

Suatu pagi di bulan Juni 1946, sambil sarapan saya membaca Koran The Times. ' Ada sebuah berita menarik dari Associated Press di Bangkok. Tanggal 9 Juni, Raja Siam yang masih muda, Ananda Mahidol, ditemukan meninggal di tempat tidurnya di Istana Barompiman dengan luka bekas peluru di kepalanya. la ditemukan dalam keadaan ini oleh seorang pelayan menjelang tengah hari. Kepala kepolisian dan para direktur RS Chulnlongkorn segera dipanggil ke istana dan mereka kemudian menyatakan raja wafat akibat kecelakaan. Orang-orang yang berduka bergerombol diam-diam di luar istana. Kebanyakan di antara mereka baru mengetahui raja wafat setelah mendengar siaran resmi dari radio pukul 07.00

Tentu saja pada saat itu saya tidak pernah berpikir akan terlibat di dalamnya. Saya juga tidak tahu bahwa pernyataan "meninggal karena kecelakaan" cuma usaha pemerintah untuk menutupi kejadian sebenarnya. Apa pun yang dikeluarkan dalam pernyataan resmi, kepala kepolisian dan para dokter semestinya mengetahui bahwa ini kasus pembunuhan.

Raja-raja Siam dari dinasti Chakri sudah memerintah negara ini selama tujuh abad. Tidak seorang pun dari rakyatnya diperkenankan menyentuh raja atau membelakanginya. Mereka juga bahkan tidak boleh bertumpang kaki pada saat raja hadir. Raja dianggap seperti dewa. Membunuhnya bukan berarti melakukan kejahatan membunuh raja, tetapi membunuh dewa. Namun dalam kenyataan, dari 33 raja sepertiganya dibunuh atau tewas di tangan saingannya. Menjadi dewa hidup rupanya bukan jaminan untuk terlindung dari pembunuhan.

 

"Raja menembak diri!" 

Ananda diangkat menjadi Rama VIII pada tahun 1935. Ketika itu umurnya 10 tahun. la menggantikan ayahnya, Mahidol atau Raja Rama VII yang memakzulkan diri. Dalam PD II pada saat pemerintah Thai tunduk pada Jepang tetapi diam-diam terus berhubungan dengan Amerika, ia tinggal di Swiss. la kembali ke negaranya sebagai pemuda yang cerdas berumur 21 tahun. 

Tanggal 8 Juni 1946 atau tahun Anjing 2489 menurut perhitungan Buddhis, ia merasa perutnya kurang enak. Jadi pukul 10.00 ia masuk ke tempat kediaman pribadinya untuk berganti pakaian dengan baju kaus tipis dan celana sutra model Cina, lalu naik ke ranjang.

Ketika tidur itu ia dilindungi oleh empat pengawal dan kepala penjaga. Pukul 06.00 keesokan harinya ibunya berkunjung. Ibunya membangunkan raja dan mendapat kenyataan putranya dalam keadaan baik-baik saja. Pukul 07.30 pelayan kepercayaannya, Butr, mulai bertugas. Butr menyiapkan meja makan di balkon yang berhubungan dengan kamar tempat raja berpakaian. Pada saat itu juga para penjaga malam selesai bertugas digantikan oleh para petugas siang. 

Pukul 08.30 Butr melihat raja berdiri di kamar tempat berganti pakaian. Beberapa menit kemudian ia masuk membawakan segelas air jeruk, seperti yang biasa diminum raja setiap pagi. Tetapi ketika itu raja sudah kembali ke ranjangnya. Dengan gerakan tangan ia memberi tanda bahwa ia tidak mau air jeruk dan Butr boleh pergi. Demikian menurut taksiran Butr. 

Pukul 08.45 pelayan kepercayaan lain bernama Nai Chit muncul secara tidak terduga. Kedua pelayan itu bertugas bergiliran. Sebenarnya giliran Nai Chit baru akan tiba dua jam kemudian. Katanya, ia datang untuk mengukur medali-medali raja atas permintaan seorang pandai emas yang akan membuat kotak untuk benda-benda itu.

Pukul 09.00 Pangeran Bhumibol, adik Ananda, datang menjenguk untuk menanyakan kesehatan kakaknya. Kemudian ia memberi keterangan bahwa ia menemukan kakaknya sedang tidur nyenyak di ranjang yang seluruhnya tertutup kelambu. 

Dua puluh menit kemudian sebuah tembakan terdengar dari kamar raja. Nai Chit berlari masuk, lalu keluar dan berteriak-teriak sepanjang lorong yang menuju ke apartemen ibusuri. 

"Raja menembak diri!" katanya. Ini kelak dipakai untuk bukti yang memberatkan dirinya.

 

Polisi tak boleh menyentuh "Sang Suci" 

Peristiwa ini kemudian diceritakan secara lisan dengan saksama kepada saya oleh mayor jenderal dari Kepolisian Siam yang datang ke departemen saya di Guy's Hospital, London, untuk minta tolong. Ini merupakan kasus saya yang pertama di luar Inggris. 

Ananda terbaring di ranjang yang tertutup kelambu. Tubuhnya berselimut, tetapi lengannya terletak di luar selimut, sejajar dengan tubuh. Dekat lengan kirinya ada sebuah pistol otomatis, American Army 45 Colt. Di atas mata kirinya ada sebuah lubang bekas peluru. 

Tetapi tidak ada sebuah foto pun yang dibuat oleh polisi untuk menyokong pernyatan ini, karena ketika polisi datang segalanya sudah "dibereskan".

Salah seorang pertama yang masuk ke kamar raja ialah ibusuri. Ibu yang sedih ini segera menjatuhkan dirinya ke tubuh putranya dan menangis meraung-raung. la diikuti oleh bekas pengasuh raja. Wanita tua itu memegang nadi raja, lalu meletakkan pistol ke atas lemari kecil di sebelah ranjang. 

Ketika mendengar ribut-ribut, Pangeran Bhumibol masuk. Butr memasukkan pistol ke laci "demi keamanan". Jadi pistol itu selain dinodai sidik jari pengasuh, juga dinodai sidik jari Butr. Butr disuruh memanggil dokter. 

Sesudah dokter datang, ibusuri, bekas pengasuh raja, Pangeran Bhumibol dan dua pelayan memandikan jenazah raja, membaringkannya di seprai baru, menaruh balok-balok es, dan memasang kipas angin untuk mendinginkan tubuh, supaya proses perusakan terhambat.

Sementara itu pelbagai pejabat berdatangan: kepala keamanan istana, kepala rumah tangga istana, para menteri kabinet yang dikepalai oleh PM Pridi Banomyong yang sudah lama menjadi tokoh penuh teka-teki dalam kehidupan politik Siam. Sebagai pengacara muda, Pridi bersama seorang perwira artileri yang masih muda, Pibul Songram, pernah bersekongkol menggulingkan monarki tahun 1932. Revolusi ini lekas bisa ditanggulangi dan Pridi pergi ke pengasingan. Tetapi ketika kembali ia berhasil naik lagi bersama temannya, Pibul. Pibul saat itu sudah menjadi jenderal. 

Pridi kelihatan senewen. Ia berkata kepada pejabat tinggi lain, "Raja bunuh diri", kalimat sama seperti yang diucapkan Nai Chit pada saat mengumumkan kematian raja. 

Akhirnya, polisi tiba. Yang dimaksudkan dengan polisi ialah kepala kepolisian yang harus berdesak-desakan di antara para pejabat untuk bisa mendekati jenazah. Saat itu pun ia tidak diperkenankan melakukan sesuatu yang berguna. Mengikuti ketentuan protokol, tidak seorang pun boleh menyentuh tubuh Sang Suci. Paman raja mencegahnya memeriksa bekas luka maupun tangan jenazah. Tidak seorang pun boleh meraba tubuh raja untuk mengetahui apakah tubuh itu masih hangat atau sudah dingin. Yang bisa dilakukan kepala kepolisian hanyalah meminta pistol. Ketika benda itu disodorkan, ia menambah sidik jarinya pada sidik pengasuh dan pelayan yang sudah tertera di situ. Ia melihat bahwa benda itu dalam keadaan siap ditembakkan dan sebuah peluru hilang. Di kamar itu tidak ditemukan peluru, tetapi Nai Chit menyerahkan selongsong peluru yang sudah dipakai. Katanya, benda itu ditemukan di lantai sebelah kiri tubuh.

Sebelum tubuh raja dibalsem, para dokter di RS Chulalongkorn diperkenankan memeriksanya. Mereka menemukan luka kedua, yang lebih kecil daripada yang pertama di bagian belakang kepala. Berdasarkan anggapan keliru bahwa luka keluar selalu lebih besar dari luka masuk, mereka menarik kesimpulan raja ditembak dari belakang kepala. 

Kabar angin segera tersebar di Bangkok. "Raja dibunuh". "Pridi membunuh raja". Kalau bukan Pridi, salah seorang dari kaki tangannya. Dua di antara yang paling dicuriga i yaitu Letnan Vacharachai, yang biasa disebut Too dan bekas ajudan raja, tetapi baru saja dipecat, dan Chaleo, bekas sekretaris pribadi raja. 

Tiga hari setelah penembakan itu Nai Chit menunjukkan kepada polisi tentang sebuah lubang di kasur pada bagian yang tadinya terletak di belakang kepala raja. Di situ ditemukan sebuah peluru.

 

Terlalu banyak ahli yang tak perlu

Kecelakaan bunuh diri atau pembunuhan? Komisi penyelidikan dibentuk untuk mengetahui peristiwa yang sebenarnya. Komisi ini dibantu oleh subkomisi kedokteran yang terdiri atas terlalu banyak orang, yaitu 15 dokter: dokter umum, ahli bedah, seorang psikiater, seorang ahli racun, seorang ahli anatomi, tetapi hanya satu ahli patologi forensik, yaitu Dr. S.G. Niyomsen, dosen patologi forensik pada Universitas Bangkok. 

Komisi mulai mencari keterangan tanggal 26 Juni dan masih bekerja pada bulan Agustus, ketika partai Pridi menang dalam pemilu. 

Pridi yang rupanya merasa namanya dibersihkan, mengundurkan diri dari jabatan sebagai PM. Bulan Oktober komisi penyelidik melaporkan bahwa kematian raja tidak mungkin disebabkan oleh kecelakaan, tetapi mereka tidak bisa memperoleh bukti yang meyakinkan bahwa raja bunuh diri atau dibunuh.

Bulan November 1947, hampir 18 bulan setelah kabar-kabar angin, intrik, dan pergolakan di dalam, tank menggilas jalan-jalan lama di Kota Bangkok, karena AD di bawah Jenderal Pibul menjalani kudeta. Pridi kabur dengan sampan. Vacharachai juga lenyap. Bekas sekretaris pribadi raja, Chaleo, ditahan bersama Butr dan Nai Chit. Mereka bertiga dituduh bersekongkol membunuh raja. Kepala kepolisian yang baru, Mayjen Phra Phinik Chankadi diinstruksikan mengumpulkan bukti-bukti untuk mengadili mereka. Diputuskan untuk mencari bukti-bukti kedokteran dan karena itulah saya ikut menangani kasus ini. Tanggal 13 Mei 1948 mayjen Siam itu datang menemui saya di London, ditemani seorang penerjemah. la ingin tahu raja meninggal karena kecelakaan, bunuh diri, atau dibunuh. 

Raja sangat senang pada senjata api yang kecil-kecil. la sering latihan menembak dengan Vacharachai. la menaruh sepucuk American Army 45 Colt otomatis di laci yang terletak di sebelah ranjangnya. Mungkinkah senjata itu meletus pada saat sedang diperiksa raja? Mungkinkah seorang pria cerdas yang mengenal betul senjata api memeriksa pistol penuh peluru yang alat pengamannya tidak terpasang sambil telentang di ranjang, dengan kepala menggeletak ke bantal dan pistol ditodongkan ke dahinya? 

Tampaknya hal ini sangat tidak mungkin. Apalagi mata raja begitu kabur, sehingga tidak bisa memeriksa sesuatu tanpa kacamata. Kacamata raja terletak di meja sebelah ranjangnya

Mengingat posisi tubuhnya ketika itu, bunuh diri hampir sama tidak mungkinnya. Selama 20 tahun bergerak dalam bidang kedokteran forensik, saya tidak pernah mengalami ada orang menembak diri sambil berbaring telentang. Kasus semacam itu setahu saya tidak pernah ada. Orang yang menembak diri biasanya melakukannya sambil duduk atau berdiri. 

Ada indikasi kuat lain yang tidak memungkinkan bunuh diri. Pistol ditemukan di sisi sebelah kiri raja, padahal raja tidak kidal. Luka berada pada bagian atas mata kanan dan tempat yang biasa dipilih oleh orang yang menembak diri. Luka ini juga bukan disebabkan oleh tembakan yang dikeluarkan oleh senjata yang menempel pada kepala.

Senjata yang menyebabkan luka itu tidak menempel pada korban. Jurusan tembakan tidak menuju pusat kepala. Lagi pula raja tidak pernah memberi bayangan kepada siapa pun akan bunuh diri dan tidak dalam keadaan depresi pada saat kematiannya. 

Satu-satunya yang bisa menyebabkan kematian ini ialah pembunuhan. Bukti-bukti ke arah ini memang kuat. Saya pikir boleh dipastikan raja ditembak pada saat sedang pulas. Mulut pistol pasti dekat sekali, tetapi tidak menyentuh kulitnya sehingga raja tidak menyadari adanya bahaya dan tidak mempunyai kesempatan mencoba mempertahankan diri.

"Ini bukan kasus bunuh diri atau kecelakaan, tetapi pembunuhan yang dilakukan dengan sengaja memakai senjata api," demikian saya simpulkan dalam laporan saya.

 

Dua pembela dibunuh 

Chaleo, Butr, dan Nai Chit diadili tiga bulan setelah laporan saya buat. Bulan Agustus 1948 itu mereka berhadapan dengan empat hakim yang dikepalai seorang hakim kepala. Penuntut didukung 124 saksi dan bukti-bukti tertulis yang begitu banyaknya sehingga pembela meminta pengunduran waktu. Ketika permintaan ini ditolak, pembela mengundurkan diri. Perkara tertunda lagi sampai ditemukan pembela baru. Sidang berjalan dengan bertele-tele dan permintaaan untuk ditahan di luar ditolak. 

Menurut penuntut, pistol yang ditemukan di luar kelambu dan yang merupakan pistol milik raja sendiri itu bukanlah alat yang dipakai membunuh. Butr dituduh menaruh pistol itu di sana setelah terjadi penembakan agar dikira raja menembak dirinya sendiri. 

Bulan Januari 1949 saya dihubungi lagi untuk kasus ini. Sekali ini oleh Dr. Niyomsen dari Univesitas Bangkok, yaitu patolog dalam tim pertama yang ditugaskan menyelidiki kasus ini. 

la datang ke London dan tinggal selama sembilan hari untuk memberi tahu fakta-fakta tambahan dari tangan pertama. Keterangan menguatkan pendapat yang sudah saya berikan. Situasi noda-noda darah dan posisi kepala raja sedang menggeletak di bantal pada saat ia ditembak. Dalam laporan saya selanjutnya saya menunjukkan bahwa dengan perbandingan mikroskop, mudah saja untuk menemukan apakah peluru yang ditemukan di kasur dan selongsong yang ditemukan di lantai itu ditembakkan dari pistol yang ditemukan di sebelah tubuh raja ataukah oleh pistol lain. Hal ini tidak pernah dilakukan. 

Dr. Niyomsen bertanya, apakah saya mau memberikan kesaksian dalam persidangan. Saya jawab bahwa saya bersedia dan itu disetujui oleh Departemen Dalam Negeri Inggris. Menurut perkiraan Dr. Niyomsen, saya akan dipanggil ke Bangkok pertengahan April. Tetapi pada bulan Maret, di luar dugaan siapa pun Pridi dan Vacharachai masuk ke Siam dari Cina, melalui S. Menam. Mereka mencoba merebut kekuasaan di Bangkok. Mereka berhasil menduduki stasiun radio, tetapi Jenderal Pibul berhasil dengan cepat mencegat pemberontak. Pridi dan Vacharachai menghilang lagi. Persidangan ditunda, ketika dua dari pembela dibunuh.

Dr. Niyomsen menulis surat, 'memberi tahu bahwa saksi ahli dalam bidang kedokteran tampaknya tidak akan dipanggil sebelum Agustus dan September. "Persidangan berlangsung lama dan membosankan," tulisnya. "Seorang saksi bisa ditanyai selama seminggu dan perkara ini mungkin baru bisa diselesaikan dalam waktu setahun." ini merupakan taktik ulur waktu. 

Bulan September Niyomsen menulis surat lagi. Ketika itu para tertuduh sudah ditahan dua tahun. "Sidang berlangsung dua minggu sekali, setiap kali selama tiga hari penuh. 

Menurut dirjen Departemen Ilmu Pengetahuan dalam kesaksiannya, pistol yang ditemukan di dekat tubuh raja, terakhir ditembakkan sedikitnya seminggu sebelum raja wafat. Katanya, laboratoriumnya tidak mempunyai alat dan bahan untuk memeriksa apakah peluru yang ditemukan di kasur berasal dari selongsong peluru yang ditemukan di lantai. Tetapi menurut seorang perwira polisi, peluru itu cocok dengan selongsong yang ditemukan. Beberapa "ardi" dari pihak penuntut menyatakan bahwa peluru itu tidak mungkin peluru yang menembus kepala raja, "Karena tidak gepeng, mestinya gepeng kalau melewati tulang." 

Para ahli ini juga dengan panjang-lebar memberi keterangan bahwa mesti ada otot-otot yang kejang apabila peluru menembus bagian tertentu dari otak, padahal raja ditemukan tenang seperti tidur, tidak ada tanda-tanda kejang atau bekas menggenggam senjata. 

"Saya kira giliran kita baru akan tiba tahun depan," tulis Dr. Niyomsen yang memiliki kesabaran seorang Timur. 

Beberapa minggu kemudian dua dari pembela ditahan dan dituduh berkhianat. Sedangkan dua lagi mengundurkan diri, sehingga tinggallah seorang pengacara muda yang tidak meyakinkan, Fat Nasingkhla. Menjelang akhir perkara, ia selalu didampingi oleh putri Chaleo yang baru saja lulus dari perguruan tinggi. 

Akhirnya, para saksi kedokteran dipanggil, dimulai dengan lima belas dokter yang berada dalam subkomite dari komisi penyidikan yang dibentuk setelah raja meninggal. 

"Semuanya kini memberi kesaksian bahwa raja dibunuh, tetapi bukan tanpa ragu-ragu. Niyomsen menulis, "Berhubung dengan krisis politik di negara ini, tidak bisa dipastikan apakah perkara ini akan dilanjutkan. Jika pemerintah baru terbentuk, aspek peradilan mungkin berubah dan kami para dokter yang menguatkan bahwa raja dibunuh tidak tahu bagaimana nasib kami kelak. Kami sedang menunggu kudeta yang bisa terjadi setiap saat dan serbuan komunis pun bisa terjadi setiap waktu." Ia menasihati agar saya membongkar koper saja dan saya anggap sarannya beralasan.

 

Dibayar di tepi jalan 

Siam ternyata terhindar dari kudeta maupun serbuan komunis. Saya tidak pernah diminta muncul untuk memberi kesaksian. Pada musim panas tahun 1950, ketika tertuduh menyangkal ikut dalam pembunuhan terhadap raja, Nai Chit paling buruk kedudukannya, karena ia hadir dengan alasan meragukan di istana pada saat terjadi pembunuhan dan karena ia berteriak, "Raja menembak diri." 

Pada bulan Mei 1951, dua tahun sembilan bulan setelah raja wafat, pengadilan menyatakan Raja Ananda dibunuh. Chaleo dinyatakan tidak terbukti bersalah dan tidak seorang pun dari dua pelayan mempunyai kemungkinan menembak raja. Nai Chit dinyatakan bersalah ikut berkomplot dalam pembunuhan. Chaleo dan Butr dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan. 

Nai Chit naik banding. Penuntut juga naik banding karena Chaleo dan Butr dibebaskan. Lima belas bulan kemudian pengadilan banding menolah permintaan banding Nai Chit. Malah Butr dinyatakan bersalah juga. 

Permintaan banding terakhir diajukan ke pengadilan tinggi yang mempertimbangkan selama sepuluh bulan dan Chaleo juga dinyatakan bersalah. Empat bulan kemudian, ketika ketiga orang itu sudah enam tahun ditahan. Chaleo, Nai Chit, dan Butr menjalani hukuman mati. 

Saya sangat menyesal tidak bisa pergi ke Bangkok. Tetapi saya mendapat kotak rokok dari perak yang sangat indah yang dihiasi gambar istana. Benda itu selalu mengingatkan saya pada kasus ini. Kotak itu diserahkan kepada saya di London oleh Mayjen Phra Phinik mewakili raja. Honor saya anehnya dibayar malam hari dalam bentuk uang kontan yang dihitung hati-hati di bawah lampu jalanan di Cromwell Road, dekat kedutaan. Saya dijanjikan agar datang ke sana pada waktu yang sudah ditentukan. Saya tidak pernah berhasil mengungkapkan alasan untuk tindakan ganjil ini. 

Sementara itu Siam menjadi Thailand dan Dr. Niyomsen diangkat menjadi mahaguru kedokteran forensik pertama di Universitas Bangkok. Pada waktu yang hampir bersamaan saya diangkat menjadi ketua pertama dalam bidang yang sama di Guy's Hospital. Saya tidak pernah bertemu lagi dengan Dr. Niyomsen. Tetapi 20 tahun kemudian, akhirnya saya pergi juga ke Bangkok untuk memberi ceramah di Medico-Legal Institute. Di sana saya berhadapan dengan Dr. Niyomsen di ruang utama, tetapi ia sudah dalam bentuk kerangka yang ditaruh dalam lemari yang bagus. Mengerikan sebetulnya, tetapi ini merupakan cara yang mengharukan bagi orang Timur untuk menyatakan penghormatannya pada almarhum pemimpin mereka yang meninggal dua tahun sebelumnya.

Saya juga pergi ke Istana Barompiman sebagai pengunjung biasa. Salah satu tempat yang ditunjukkan kepada pengunjung ialah kamar tidur bekas tempat Raja Ananda ditembak. "Apakah Anda pernah mendengar peristiwa ini?" tanya pramuwisata kepada saya. Gadis itu lulusan universitas. Saya menggumamkan kata-kata bahwa saya menaruh perhatian pada kasus itu. Lalu diceritakannya peristiwa itu dengan cepat. Saya diam saja, kemudian saya mengucapkan terima kasih kepadanya untuk kebaikannya. Ya, bagaimana pun peristiwa ini sekarang sudah menjadi sejarah belaka.

" ["url"]=> string(72) "https://plus.intisari.grid.id/read/553256177/siapakah-pembunuh-raja-siam" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1650993604000) } } }