array(1) {
  [0]=>
  object(stdClass)#49 (6) {
    ["_index"]=>
    string(7) "article"
    ["_type"]=>
    string(4) "data"
    ["_id"]=>
    string(7) "3635694"
    ["_score"]=>
    NULL
    ["_source"]=>
    object(stdClass)#50 (9) {
      ["thumb_url"]=>
      string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2023/01/05/kasih-ibu-berakhir-di-penjara_fe-20230105070644.jpg"
      ["author"]=>
      array(1) {
        [0]=>
        object(stdClass)#51 (7) {
          ["twitter"]=>
          string(0) ""
          ["profile"]=>
          string(0) ""
          ["facebook"]=>
          string(0) ""
          ["name"]=>
          string(13) "Intisari Plus"
          ["photo"]=>
          string(0) ""
          ["id"]=>
          int(9347)
          ["email"]=>
          string(22) "plusintisari@gmail.com"
        }
      }
      ["description"]=>
      string(117) "Seorang wanita mengalami bayinya dua kali diculik dan tewas. Anehnya hanya bayi perempuan saja yang diincar. Ada apa?"
      ["section"]=>
      object(stdClass)#52 (8) {
        ["parent"]=>
        NULL
        ["name"]=>
        string(8) "Kriminal"
        ["show"]=>
        int(1)
        ["alias"]=>
        string(5) "crime"
        ["description"]=>
        string(0) ""
        ["id"]=>
        int(1369)
        ["keyword"]=>
        string(0) ""
        ["title"]=>
        string(24) "Intisari Plus - Kriminal"
      }
      ["photo_url"]=>
      string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2023/01/05/kasih-ibu-berakhir-di-penjara_fe-20230105070644.jpg"
      ["title"]=>
      string(31) "'Kasih' Ibu Berakhir di Penjara"
      ["published_date"]=>
      string(19) "2023-01-05 19:07:02"
      ["content"]=>
      string(35205) "

Intisari Plus - Seorang wanita mengalami bayinya dua kali diculik dan tewas. Anehnya hanya bayi perempuan saja yang diincar. Ada apa?

--------------------

Berita koran edisi 17 Juni 1986 tentang penculikan Loralei Sims, bayi usia 12 hari, dari rumah orang tuanya di Brighton, Illinois, membuat penduduk kota kecil sekitar 100 mil timur laut Missouri, AS, tersebut larut dalam kesedihan.

Menurut pengakuan Paula Sims, ibu sang bayi, kepada Sheriff Frank Yocom, petang itu ia sedang duduk santai menonton televisi sambil menanti kedatangan suaminya pulang kantor, sementara bayi perempuannya tidur nyenyak di ranjangnya. Tiba-tiba terdengar teriakan seorang laki-laki agar ia menelungkupkan kepalanya di lantai. Kurang lebih 10 menit kemudian, ketika ia menengok ke atas, tampak seorang pria bertopeng sambil mengacungkan pistolnya berdiri di tangga lantai dasar.

Sesuai pesan sang suami, jangan sekali-kali melawan orang yang mengacungkan pistol, ia menuruti apa yang dikatakan pria tersebut.

“Saya tak berani beranjak dari lantai. Saya tahu pria itu menaiki tangga menuju ke kamar tidur,” katanya. 

“Setelah itu samar-samar terdengar langkah-langkah kaki menuju pintu, sebelum akhirnya suara pintu kamar ditutup keras-keras.”

Semula ibu muda itu mengira pria tersebut perampok yang ingin mengambil barang berharga. Ternyata dugaannya keliru. Begitu laki-laki tadi menghilang, ia terentak saat menyadari bayinya tidak berada di ranjangnya. Ya. Bayinya telah diculik! 

Usahanya mengejar sekuat tenaga ke arah pria tadi menghilang sia-sia. Dengan perasaan pilu dan berurai air mata, wanita malang tersebut tertunduk lemas dan bersimpuh di depan pintu sambil melolong-lolong minta tolong tetangganya.

Lantaran masih terguncang, Ny. Sims hanya memberikan keterangan samar-samar saja tentang siapa penculiknya. Yang masih diingatnya, si penculik berdiri di atas tangga. la yakin pria tersebut berkulit putih, kira-kira berusia awal 30- an. 

Sheriff Yocom kemudian minta bantuan kantor polisi, agen FBI Illinois dan Missouri, para ahli kejahatan dan anjing pelacak lengkap dengan pawangnya untuk mencari bayi serta si penculik. Penciuman anjing pelacak tidak berhasil mendeteksi bau si penculik. Diduga si penculik langsung lari, masuk ke sebuah mobil dan segera meninggalkan lokasi sebelum ibu bayi keluar rumah.

Polisi penyelidik yakin motif penculikan ini bukan uang tebusan karena orang tua si bayi tidak kaya. Seingat pasutri ini mereka pun tidak mempunyai musuh.

Sheriff Yocom berusaha menghibur pasangan Sims yang sedang kebingungan dengan mengatakan semoga penculikan ini dilakukan oleh seseorang yang menginginkan kehadiran seorang bayi karena tidak mempunyai anak. Kalau ini penyebabnya, mestinya sang bayi akan dirawat dengan baik. Masalahnya tinggal bagaimana melacak alamat si penculik.

la lalu mengecek RS Alton di mana bayi ini dilahirkan. Menurut staf rumah sakit, bayi ini lahir normal dan tidak ada orang lain kecuali orang tuanya sendiri yang pernah berurusan dengannya.

Kepada media massa, Sheriff Yocom menitipkan pesan dalam pemberitaan, siapa saja yang mengetahui belakangan ini ada seseorang yang tiba-tiba merawat seorang bayi, harap segera melapor ke kantornya.

Pencarian Loralei Sims yang hilang sudah berlangsung satu minggu tanpa hasil. Polisi terus berusaha melacak di mana bayi ini disembunyikan serta mencari-cari petunjuk siapa penculiknya dan apa motifnya. 

Penuh penasaran, Sheriff Yocom sekali lagi minta bantuan pawang anjing pelacak. “Siapa tahu si penculik tidak langsung naik mobil seperti yang diduga sebelumnya, tapi berjalan kaki menuju daerah bersemak di belakang rumah tersebut,” kata Yocom.

Rupanya sinyalemen Yocom tidak meleset. Pada suatu siang seorang pawang anjing pelacak memberitakan bahwa anjingnya mencium sesuatu. Anjing menuntun beberapa penyelidik menuruni jurang. Di lokasi tempat anjing itu berhenti ditemukan tulang-tulang kecil berserakan. Para polisi yakin tulang berserakan tersebut adalah tulang-tulang bayi yang dicari-cari. Tingginya suhu udara selama seminggu menyebabkan cepatnya tubuh sang bayi membusuk sehingga hanya tinggal kerangka saja. 

Tulang-tulang tersebut langsung dikumpulkan untuk diperiksa bagian patologi forensik. Ternyata benar. Kerangka tersebut memang tulang-tulang si kecil Loralei yang hilang. Tapi belum dapat diketahui apa penyebab kematiannya.

Polisi yakin, penculik dengan cepat meninggalkan rumah keluarga Sims bersama bayi tersebut dan langsung masuk ke semak-semak itu. Diduga dalam kegelapan ia tersandung, jatuh menimpa sang bayi. Kemungkinan karena melihat si bayi sudah meninggal, ia langsung membuangnya. 

Meskipun demikian, penemuan barang bukti tersebut tak juga membantu mengungkap tindak kriminal itu. Motif penculikan tersebut tetap tidak jelas. Apalagi orang tua korban agaknya sudah tidak terlalu peduli lagi dengan kejadian tersebut. Buktinya, sehari setelah ditemukannya tulang-tulang korban, mereka malah meninggalkan rumah mereka di Brighton. 

Alasannya, Paula Sims merasa sedih tinggal di rumah penuh dengan segala macam barang peninggalan putri kecil kesayangannya. Selama beberapa minggu pasutri ini pindah ke rumah saudaranya dekat Cottage Hills, sampai akhirnya mereka membeli rumah Alton, dekat Sungai Missouri, berdekatan dengan tempat kerja Sims. Mereka bertekad untuk memulai hidup baru dan merencanakan punya anak lagi.

 

Meneliti keluarga korban

Setelah sekian lama belum juga ditemukan perkembangan baru mengenai siapa dan mengapa terjadi penculikan, akhirnya pihak kepolisian dan FBI menghentikan upaya penyelidikan kasus ini. Namun, Sheriff Yocom tetap penasaran. la bersumpah akan terus mencari siapa penjahat kejam yang begitu tega membunuh serta membuang bayi mungil tak berdosa.

Setiap hari Yocom berusaha memperoleh kunci baru dan berharap mendapatkan sesuatu yang sebelumnya terabaikan.

Dari Pusat Analisis Kejahatan dengan Kekerasan FBI, ia memperoleh gambaran profil psikologis berbagai macam pelaku pembunuhan. Antara lain dikatakan, pada kasus kriminalitas yang sulit pun akhirnya si pelaku bisa tertangkap. Biasanya si pelaku tindak kejahatan tersebut, seiring dengan perjalanan waktu, akan menderita kecemasan hebat yang tercermin dari tingkah lakunya.

Berpegang pada asumsi tersebut, perhatian Yocom kini tertuju pada orang yang menurut psikolog bertingkah laku tidak seperti biasanya. Untuk mengawali penyelidikannya, terlebih dahulu Sheriff Yocom meneliti latar belakang keluarga Sims. Siapa tahu ada sesuatu yang tidak beres pada keluarga ini.

Paula Marie Blew Sims (27), ibu sang bayi, dilahirkan di La Plata, Missouri. Hidupnya normal dan cukup bahagia. Paula yang lulus sekolah menengah tahun 1977, terkenal tomboy dan masuk tim sofbol serta atlet lari. Ia juga sempat menjadi anggota paduan suara Sekolah Menengah Civic Memorial.

Ketika berusia 15 tahun, Paula pernah mengalami trauma. Bersama kakaknya yang 3 tahun lebih tua, mereka mengalami kecelakaan mobil. Kakaknya meninggal seketika sedangkan Paula menderita luka serius pada mukanya sehingga memerlukan operasi.

Bersama orang tuanya Paula kemudian pindah dari La Plata ke Cottage Hills. Di situ Paula bekerja sebagai pramuniaga sebuah toko dekat Alton. Di tempat ini pula ia ketemu jodoh, sampai akhirnya mereka menikah pada 2 Mei 1981. Anak pertamanya, Loralei Marie, lahir 5 Juni 1986. Tapi malang, belum sampai satu bulan keluarga muda itu menimang bayi, Tuhan telah mengambilnya lagi dengan jalan yang amat tragis.

Suami Paula dilahirkan di Carbondale, tetapi masa mudanya dihabiskan di Alton. Sempat kuliah di Universitas Southern Edwardsville selama 4 semester sebelum kemudian ditinggalkan karena ia diterima di angkatan laut. Selama dinasnya ia pernah ditugaskan di stasiun angkatan laut di Brunswick, Maine. 

Di Brunswick ini Sims bertemu dengan seorang gadis berusia 17 tahun. Mereka menikah 5 Juli 1974. Setelah tugas selesai, bersama istrinya ia kembali ke Alton dan bekerja pada sebuah koperasi kredit. Sims keluar dari pekerjaan tersebut setelah para pegawai wanita di sana mengeluh, mereka sering terganggu oleh sikap sok patriotiknya walaupun ia menyangkal. Terakhir ia bekerja pada sebuah perusahaan kotak papan. Karena tidak tahan atas perilakunya yang keras, istrinya minta cerai Juni 1978 dan pulang ke Maine. 

Yocom lalu mengontak istri pertama Sims di Maine. Ia malah tidak menyangka bahwa Sims sudah menikah lagi, mempunyai anak, dan si anak telah diculik serta dibunuh. 

Dari hasil penelitian tersebut, Sheriff Yocom tetap tidak menemukan sesuatu pun dalam kehidupan pasutri tersebut yang membawanya pada titik terang motif penculikan bayi itu.

 

Terulang kembali

Sementara itu pasangan suami-istri Sims sudah hidup dalam suasana lain di tempat tinggalnya yang baru. Tampaknya mereka sudah melupakan tragedi yang pernah dialami. Tidak lama kemudian, Paula hamil kembali. Ia melahirkan seorang anak laki-laki, namanya sama dengan nama kakak Paula yang meninggal karena kecelakaan dulu. 

Kejadian tragis di masa lalu tampaknya membuat pasutri ini menjadi superprotektif atas kepentingan keluarga. Paling tidak itu tecermin dari apa yang dilakukan Sims. Di sekeliling halaman depan rumahnya dipasang pagar setinggi 2 m. Begitu pula di bagian belakang rumah. Sejak kejadian tersebut pasutri ini agak tertutup, jarang bergaul keluar. Mungkin untuk menghindari terjadinya malapetaka yang sama seperti di Brighton dulu. Karena jarangnya bergaul dengan masyarakat setempat, tidak satu pun tetangga yang tahu kalau Paula mulai hamil lagi. Anak ketiganya, seorang perempuan lagi, Heather Lee, lahir 29 Maret 1989.

Semenfara itu, Sheriff Yocom terus melakukan penyelidikan. Selama 3 tahun, ia telah melakukan ratusan wawancara dan mengumpulkan petunjuk-petunjuk yang bisa memberikan kunci terbongkarnya penculikan itu. Ia begitu yakin pasti ada sesuatu yang terlewatkan atau terabaikan yang merupakan kunci motif penculikan tersebut. Walaupun keluarga Sims dan polisi rupanya telah melupakan peristiwa tersebut, bagi Yocom kasus ini belum tertutup.

Sabtu malam, 29 April 1989. Ketika Sims pulang kantor sekitar pukul 23.40, ia menemukan istrinya tidak sadarkan diri di halaman belakang rumah dekat sebuah tong sampah. Begitu siuman, Paula bercerita, sekitar pukul 10.30 ia sedang membawa sampah ke halaman belakang, tiba-tiba seorang laki-laki menghantam bagian belakang kepalanya dengan pukulan karate sampai tak sadarkan diri. Berarti, ia pingsan sekitar tiga perempat jam.

Ketika pasutri ini bergegas masuk rumah untuk mencari anaknya, mereka tidak menemukan Heather yang baru berusia 3 minggu. Tapi anak laki-lakinya masih tertidur pulas dalam ranjangnya.

Polisi Alton segera datang ke tempat kejadian dan Paula Sims dibawa ke rumah sakit untuk dirawat. Wakil kepala polisi Alton, Tony Vintimiglia serta Detektif Rick McCain langsung bekerja. Mereka juga menghubungi seorang sheriff St. Charles, Ed Uevinger, Letnan Tom Bishop serta beberapa agen polisi setempat. Vintimiglia dan McCain juga minta kepada Sheriff Yocom ikut serta dalam penanganan kasus ini. Apalagi Yocom masih terus menyelidiki kasus pertama.

Kepada polisi, Paula Sims mengatakan ia tidak mampu mengenali wajah si penculik karena hanya bertatap muka sekejap. Namun ia merasa yakin, orangnya sama dengan yang dulu memaksanya berbaring di lantai dasar rumahnya di Brighton ketika penculikan pertama terjadi.

Penyelidikan besar-besaran segera dilaksanakan baik oleh polisi setempat dari Illinois dan Missouri maupun agen FBI Springfields. Mereka bekerja di bawah pengarahan agen polisi khusus Bob Groom.

Pencarian jejak serta motif penculikan bayi perempuan terus diusahakan. Anjing pelacak dikerahkan untuk mencari jejak di sekitar rumah. Sementara itu para ahli kriminal memeriksa kediaman keluarga Sims untuk mencari bukti-bukti fisik yang bisa memberikan petunjuk siapa orang yang masuk dan merenggut bayi tersebut. 

Tim polisi penyelam skuba pun tak ketinggalan memeriksa kolam dekat rumah Sims kemudian mengalihkan perhatiannya ke Sungai Missouri, 4,5 km dari rumah tersebut yang juga sebagai pusat rekreasi. 

Kasus langka ini begitu menarik perhatian nasional sampai para wartawan berbondong-bondong datang ke Alton untuk meliput. Mereka belum berhasil mendapatkan jawaban pasti dari polisi yang menangani kasus ini. Para ahli hukum pun heran mengapa kasus yang sama terulang kembali. 

Bersama polisi lain, Sheriff Yocom sekali lagi mempelajari file yang pernah dikumpulkan sehubungan dengan penculikan pertama. “Walaupun sudah tiga tahun saya berusaha meneliti dari segala macam segi, kasus ini belum terpecahkan,” akunya. 

Satu hal aneh, kedua bayi yang diculik perempuan. Rupanya penculik tidak tertarik dengan bayi laki-laki. Yang lebih tak masuk akal, walaupun si bayi ketiga ini lahir normal dan orang tuanya begitu menjaganya dengan hati-hati, toh berhasil diculik!

 

Misteri kantung plastik

Sementara para wartawan berdatangan dan polisi terus mengecek rumah, keluarga Sims langsung diungsikan di rumah seorang saudaranya dekat Cottage Hills. Suami Paula memohon agar wartawan segera meninggalkan mereka karena Paula sangat tertekan menghadapi penculikan kedua ini. 

Kasus kedua ini seperti juga kasus yang pertama hampir mengalami jalan buntu. Tak hanya motif, jejak-jejak penculiknya pun belum berhasil diidentifikasikan. 

Untunglah Rabu sore, empat hari setelah peristiwa itu, mulai tercium jejak baru. Seorang pria yang kebetulan memancing di sepanjang Sungai Missouri, menemukan kantung plastik hitam dalam sebuah tong sampah. Karena merasa penasaran untuk mengetahui isi kantung tersebut, iseng-iseng ia mengorek-ngorek kantung itu dengan pisaunya. Betapa terperanjatnya ketika ia menemukan mayat telanjang seorang bayi perempuan. 

Polisi langsung datang ke lokasi dan hampir dapat dipastikan mayat tersebut adalah jenazah si kecil Heather Sims. Barang bukti ini langsung direkam gambarnya sebelum jenazah tersentuh atau terkontaminasi. 

Ketika diperiksa, jenazah sudah membusuk. Barangkali karena pengaruh cuaca panas. Menurut pendapat polisi, kalau memang betul bayi ini Heather Sims, penculik pasti membiarkan ia hidup sebentar sebelum akhirnya dibuang ke tong sampah. 

Identifikasi yang tepat dilakukan dengan membandingkan sidik telapak kaki Heather dari rumah sakit tempat ia dilahirkan dengan jenazah tersebut. Setelah itu jenazah dikembalikan ke pusat pemeriksaan medis daerah St. Charles untuk diautopsi oleh dr. Mary Case, ahli patoligi forensik. 

Informasi lebih jelas didapat dari seorang pemulung yang dijumpai di dekat sungai tadi. Kepada para penyelidik ia mengatakan, saat mencari barang-barang bekas berupa kaleng serta botol sambil mengorek sampah, ia merasa yakin pukul 10.30 kantung plastik berisi mayat itu belum ada. Ketika ia datang kedua kalinya ke tempat yang sama sekitar pukul 13.00, ia melihat kantung tersebut. Namun sengaja tidak dibukanya karena ia pikir toh isinya hanya sampah, bukan barang bekas. 

Yang menjadi pertanyaan ke mana Heather Sims dibawa selama 4 hari sebelum jenazah dibuang? Siapa pula yang membuangnya ke sana? Apakah si pelaku pernah datang ke pusat rekreasi sepanjang sungai tersebut?

Salah satu jawaban datang dari dr. Mary Case. Dari hasil pemeriksaan mayat diketahui terdapat sayatan di mulut si bayi. Analisis ahli patologi menjelaskan bayi itu dicekik oleh seseorang yang sebelumnya menutup mulut dan hidungnya. Selain itu ditemukan pula luka pada kulit akibat pernah dibekukan. Di sini menunjukkan bahwa si bayi meninggal akibat kekurangan zat asam dalam darah pada hari ia diberitakan diculik kemudian untuk sesaat ia dimasukkan ke dalam freezer (lemari es).

Ketika beberapa detektif berkumpul untuk mengevaluasi apa yang sudah ditemukan, seorang detektif tiba-tiba nyeletuk, “Apakah pendapat kalian mungkin sama seperti apa yang saya pikirkan saat ini? Mungkinkah ibunya sendiri yang membunuh?”

Semuanya tercengang! Bukankah ibu yang tega membunuh atau membuang anak hanya mereka yang melahirkan di luar nikah? Mana mungkin! Pasutri Sims tampak pasangan serasi. Pekerjaan suaminya cukup baik. Mereka memiliki rumah yang cukup nyaman dan sang ibu tampak sangat mengasihi putra tunggalnya.

“Menurut Anda bagaimana?” tanya Detektif McCain kepada Sheriff Yocom, “Bukankah selama ini Anda juga menyelidiki kasus pertama?”

“Ya,” jawab Yocom. “Kasus ini tidak pernah terlupakan dan selama ini saya telah berusaha mengumpulkan segudang kemungkinan. Saya belum bisa percaya bahwa kemungkinan sang ibu sendiri yang membunuh bayinya.”

“Ya, marilah kita periksa kembali,” ajak McCain pula. 

“Saya akan segera minta surat perintah penyelidikan.”

Begitu William R. Haine, pengacara daerah Madison menerima surat perintah tersebut, bersama para polisi menuju kediaman keluarga Sims. Sialnya pasutri Sims sudah tidak berada di sana. Mereka telah pindah ke rumah saudaranya bersama putra tunggalnya.

Di rumah itu hanya ada sebuah lemari es di dapur. Di lemari itu tergantung penanggalan magnetik. Sedangkan pada kalender dinding tak jauh dari situ terdapat tulisan tangan berbunyi “Kami mencintai si manis Heather”, “Heather Lee Sims cantik”, “Terima kasih Tuhan atas pemberian Heather Lee”.

“Nah, apa pendapat Anda setelah membaca tulisan tersebut?” tanya Detektif McCain.

Sambil memperhatikan tulisan tersebut Sheriff Yocom berkomentar, “Mudah-mudahan Tuhan, pendapat kami salah. Tak masuk di akal seorang ibu tega membunuh kedua anak yang dilahirkannya.”

Teknisi laboratorium kemudian memeriksa kotak pendingin dalam lemari es. Hasil pemeriksaan menyatakan tidak ada bukti sedikit pun bahwa mayat bayi pernah dimasukkan ke pendingin itu. Begitu pula, luka pada jenazah Heather tidak mungkin terjadi akibat disimpan dalam kotak pendingin lemari es ini.

Ketika pemeriksaan dilakukan lebih cermat, polisi menemukan gulungan kantung plastik berjenis sama dengan kantung pembungkus jenazah Heather yang ditemukan di tong sampah. 

“Tapi kantung seperti ini ‘kan ada di hampir semua toko,” bantah seorang detektif. “Saya ragu apakah ini bisa dijadikan barang bukti.”

Namun agen khusus FBI Groom mengusulkan agar gulungan kantung plastik tersebut diambil, paling tidak untuk satu barang bukti. 

Groom segera mengirimkan kantung plastik ini bersama kantung plastik pembungkus mayat ke lab kriminal FBI di Quantico, Virginia. 

Selang seminggu agen khusus David W. Attenberger menyatakan, berdasarkan pemeriksaan labkrim FBI, dapat dipastikan kantung plastik pembungkus mayat diambil dari gulungan besar kantung di rumah itu.

Pengepresan bagian bawah setiap kantung di pabrik biasanya dilakukan dengan proses pemanasan melalui sistem running. Kantung plastik buatan pabrik memiliki ciri-ciri khas pada seal-nya. Berdasarkan hasil penyelidikan lab tersebut, agen Attenberger menyatakan bahwa dari ciri-ciri seal kantung tersebut dapat terdeteksi bahwa kantung yang dipakai untuk membungkus bayi Heather dibuat hanya dalam tenggang waktu 10 detik dari kantung dalam sisa gulungan yang ditemukan di rumah Sims. 

“Nah, kalau begitu saya akan menemui pengacara Bill Haine,” kata McCain. 

Kepada Haine, McCain mengatakan bahwa ia menginginkan surat perintah untuk menyelidiki Paula Sims yang mungkin terlibat dalam pembunuhan bayinya Heather. 

“Bukti apa yang sudah Anda dapatkan,” tanya Haine.

McCain menunjukkan bukti berupa kantung plastik yang telah diberikan oleh FBI, sambil menambahkan bahwa ia juga telah mewawancarai dr. Duk C. Kim yang pernah memeriksa Paula Sims ketika dirawat di rumah sakit karena kepalanya terkena pukulan karate dari belakang. 

“Dokter ini tidak menemukan luka, benjolan atau apapun di kepalanya. Tambahan lagi, wanita ini tidak kelihatan bingung, kaget, ataupun mengalami disorientasi seperti halnya seseorang kalau dipukul kepalanya sampai pingsan,” tegas McCain.

“Jelas sudah, dia memang tidak pernah dipukul oleh siapa pun karena memang tidak ada penculiknya. Dia sendiri pembunuh anaknya!” tambahnya tegas.

“Mengapa ia membunuhnya?” Haine bertanya-tanya.

Detektif McCain sudah menyiapkan jawaban. Seorang wanita, teman sekamar Paula Sims saat dirawat di rumah sakit pernah mengungkapkan kepada seorang polisi, saat Paula dijenguk seseorang, sekilas terdengar pembicaraan mereka soal anak perempuan. Paula kecewa ia melahirkan anak perempuan kembali karena suaminya mengharapkan anak keduanya laki-laki.

“Tapi bagaimana sampai anak sempat dibekukan?” tanya Haine kembali.

Bagi McCain pertanyaan ini tak sulit untuk dijawab.

“Begini,” katanya pula. “Setelah Paula membunuh sang bayi dengan cara mencekiknya, mungkin sekali ia membawa jenazahnya ke rumah seorang sanak saudaranya di Cottage Hills. Jenazah dimasukkan ke dalam freezer di rumah tersebut sambil menunggu waktu yang tepat. Tapi begitu mendengar anak Paula diculik, saudaranya segera pulang ke rumahnya. Panik bakal ketahuan rahasianya, Paula segera mengambil kembali kantung dalam freezer tadi. Tanpa pikir panjang ia membawa bungkusan itu ke daerah wisata di tepi sungai dan membuangnya ke dalam tong sampah.”

“Saya tidak mengerti,” sanggah Haine pula. “Anda kaya teori tapi bukti yang diberikan baru sedikit sekali.” Haine segera minta pendapat Don W. Weber, asistennya yang mempunyai reputasi hebat dalam menangani kriminal.

Sehabis Detektif McCain memberikan beberapa fakta tentang kasus ini, Weber kembali bertanya, “Apakah kalian bisa menambahkan bukti lain lagi?”

“Saya masih ragu,” sahut McCain. “Tidak seorang pun melihat dia membunuh dan membuang kantung itu ke tong sampah, tetapi berdasarkan penyelidikan kantung plastik, FBI merasa yakin ia yang melakukannya.”

Sambil mengangkat bahunya Weber mengatakan, “Ya, kalau bukti yang kalian peroleh hanya itu, tidak ada kesempatan lagi memperoleh bukti lain dan kalian merasa yakin ia bersalah, marilah kita teruskan. Tentu tidak mudah, tapi saya akan membantu semampu saya.”

 

Hukuman seumur hidup

Tanggal 12 Mei 1989, tiga tuduhan menutupi kebenaran dan menyembunyikan pembunuhan diajukan Pengadilan Jersey atas diri Paula Marie Blew Sims atas kematian putrinya Loralei, tiga tahun lalu. 

Dua bulan kemudian pihak berwenang daerah Madison mengajukan tuntutan terhadap Paula Sims atas empat tindakan melawan hukum serta dua tuduhan penyembunyian pembunuhan. Tuntutan berdasarkan kebohongan Paula Sims kepada polisi saat ia menyatakan bahwa bayinya Heather diculik seorang bersenjata dan bertopeng. Tuduhan pembunuhan diajukan oleh Grand Jury daerah Madison tanggal 11 Juli 1989. Hari berikutnya, Paula mengajukan pembelaan bahwa dirinya tidak bersalah terhadap tuduhan pembunuhan tingkat pertama atas Heather. 

Di lain pihak, sanak saudara Paula menghubungi Pengacara Donald E. Groshong minta pembelaan hukum. Pengacara kriminal tenar yang selalu mengendarai mobil Rolls Royce klasiknya ini mempunyai reputasi tinggi karena siasatnya.

Dalam sidang pengadilan itu, dua pengacara veteran yang sudah lama bersahabat bertemu, “berperang” satu melawan satu. Mengenai lawannya, Weber berkomentar, “Donal Groshong adalah pengacara terbaik di Illinois. Sekali saya membuat kesalahan, pasti akan terus didesak sampai tidak berkutik.” 

Karena publisitas kasus Madison ini sudah begitu meluas, tempat pengadilan dipindah ke Springfield, 150 mil dari kota kecil Alton, di mana peristiwa itu terjadi.

Pengadilan dimulai pada tanggal 8 Januari 1990 dipimpin Hakim Andy Matoesian. Namun sebelum memilih juri, ada dua masalah yang harus diselesaikan lebih dulu. Groshong menyarankan agar pengadilan dilaksanakan di Illinois karena tempat kejadian perkara (TKP) terakhir di Missouri. Ia juga menuntut agar dalam pengadilan nanti tidak akan disinggung soal penculikan serta pembunuhan yang satu lagi. Namun Hakin Matoesian tidak menyetujui kedua permintaan Groshong. 

Memakan waktu sampai tiga hari untuk memilih juri yang bersifat netral, tidak berat pada salah satu pihak. Di hadapan panel, Jaksa Penuntut Weber menyatakan bahwa kasus negara bagian ini memang belum terbukti jelas. Namun ia mempunyai alasan kuat bahwa Paula Sims pembunuh sang bayi. Ia juga mencoba menyembunyikan tubuh bayi itu serta membohongi polisi jika anaknya telah diculik.

Weber menilai terdakwa seorang yang licin tapi cerdik, menunjukkan kebencian terhadap anak-anak perempuannya secara tidak wajar. Weber menggambarkan kasus penculikan bayi ini bagaikan cerita dalam dongeng. “Seperti seorang anak melupakan kuenya yang hilang dan cukup mengatakan: Ya, kue saya diambil setan nakal,” tambah Weber.

Lawannya, Pengacara Groshong dalam pernyataan pertamanya dalam sidang menyatakan kliennya tidak bersalah. Kasus ini tidak memiliki bukti-bukti yang kuat. Lantaran para penyelidik begitu memusatkan kecurigaan pada Paula Sims, langkah ini langsung menghilangkan kecurigaan pada pembunuh lain.

Selama 15 hari bersidang, ruangan dipenuhi 90 orang saksi dan 215 jenis barang bukti. Animo pengunjung yang menghadiri persidangan ini luar biasa. Sampai siaran dalam radio pun mengingatkan agar para pengendara mobil tidak melewati gedung pengadilan karena jalanan dipenuhi mobil-mobil televisi.

Pertanyaan besar yang dinantikan oleh para hadirin adalah, apakah hanya berdasarkan bukti sebuah kantung plastik yang diperiksa agen FBI Weber akan mampu meyakinkan hakim bahwa terdakwa terbukti bersalah?

Suami tertuduh juga siap tampil sebagai saksi yang meringankan. Selama 5 jam kesaksian, berkali-kali menegaskan bahwa ia yakin istrinya tidak ada hubungannya sama sekali dengan hilangnya dan terbunuhnya kedua anak perempuannya.

Sims memberikan sanggahannya tidak benar bahwa selama ini ia tak menginginkan anak perempuan dan mentah-mentah menyangkal tidak ada hubungannya sama sekali dengan kematian kedua anak perempuannya. Bahkan ia mengaku selalu menginginkan anak perempuan. Sebab itu ia masih menyimpan boneka-boneka Barbie lengkap dengan pakaiannya yang diperolehnya waktu ia kecil. “Boneka itu saya simpan kalau saya mempunyai anak perempuan kelak,” katanya.

Dalam suatu perdebatan yang panjang di hadapan para juri, Weber mengatakan, “Saya berharap Anda dapat mengabulkan tuduhan ini. Bukankah seorang bayi semestinya tidur di ranjang buaian, bukan di tong sampah? Saudari terdakwa rupanya tidak bisa membedakan antara buaian bayi dengan tong sampah!”

Sementara itu, Groshong mengajukan pembelaan agar tertuduh diberi kebebasan. Alasannya, tidak ada saksi mata ataupun bukti lain yang menunjukkan kliennya melakukan tindak kejahatan terhadap kedua bayi perempuannya. 

Para juri berunding sampai 5 jam. Pengambilan suara pertama menyatakan bahwa Paula Sims bersalah. Menurut laporan wartawan saat putusan diumumkan, Paula Sims duduk tenang di kursi terdakwa dengan kepala menunduk dan kedua tangannya di pangkuannya. Ekor matanya melirik ke kanan dan ke kiri, tapi tidak menampakkan tanda-tanda emosional saat mendengar putusan juri. 

Hakim Matoesian memohon para juri tidak beranjak dulu untuk mempertimbangkan putusan. Ia mengusulkan keputusan ini harus dibuat di bawah hukum Illinois. Perlu diingat bahwa korban masih berusia di bawah 2 tahun dan merupakan kejahatan keji, tidak berperikemanusiaan. 

Sementara itu Groshong mohon agar panel juri masih memberikan kesempatan hidup kepada tertuduh karena pada setiap orang selalu ada “cahaya pada ujung terowongan dan harapan untuk merehabilitasi diri.”

Pada tanggal 30 Januari 1990, 9 bulan setelah bayi Heather terbunuh, juri kembali memberikan keputusan. Paula dijatuhi hukuman seumur hidup tanpa syarat. Jaksa Penuntut Weber puas dengan keputusan juri tersebut. 

Jaksa Penuntut Richard Ringhausen dari Jersey menyatakan, Paula Sims mungkin akan diajukan ke pengadilan lagi dengan tuduhan sebagai pembunuh Loralei Sims. Namun sampai tulisan ini diturunkan, belum ada tuduhan tambahan atas diri Paula Sims. (Jack Heise)

Baca Juga: Agar Jadi Lelaki Sejati

 

" ["url"]=> string(74) "https://plus.intisari.grid.id/read/553635694/kasih-ibu-berakhir-di-penjara" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1672945622000) } } }