array(1) {
  [0]=>
  object(stdClass)#49 (6) {
    ["_index"]=>
    string(7) "article"
    ["_type"]=>
    string(4) "data"
    ["_id"]=>
    string(7) "3448365"
    ["_score"]=>
    NULL
    ["_source"]=>
    object(stdClass)#50 (9) {
      ["thumb_url"]=>
      string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2022/08/31/pembunuhan-yang-memecah-kongsi_s-20220831011259.jpg"
      ["author"]=>
      array(1) {
        [0]=>
        object(stdClass)#51 (7) {
          ["twitter"]=>
          string(0) ""
          ["profile"]=>
          string(0) ""
          ["facebook"]=>
          string(0) ""
          ["name"]=>
          string(13) "Intisari Plus"
          ["photo"]=>
          string(0) ""
          ["id"]=>
          int(9347)
          ["email"]=>
          string(22) "plusintisari@gmail.com"
        }
      }
      ["description"]=>
      string(139) "Robert dan istrinya harus hidup nomaden dengan sebuah rumah mobil. Sang ibu rutin memberi kabar kepada putrinya hingga suatu saat terputus."
      ["section"]=>
      object(stdClass)#52 (7) {
        ["parent"]=>
        NULL
        ["name"]=>
        string(8) "Kriminal"
        ["description"]=>
        string(0) ""
        ["alias"]=>
        string(5) "crime"
        ["id"]=>
        int(1369)
        ["keyword"]=>
        string(0) ""
        ["title"]=>
        string(24) "Intisari Plus - Kriminal"
      }
      ["photo_url"]=>
      string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2022/08/31/pembunuhan-yang-memecah-kongsi_s-20220831011259.jpg"
      ["title"]=>
      string(32) "Pembunuhan yang Memecah 'Kongsi'"
      ["published_date"]=>
      string(19) "2022-08-31 13:13:29"
      ["content"]=>
      string(24360) "

Intisari Plus - Robert dan istrinya harus hidup nomaden dengan sebuah rumah mobil. Sang ibu rutin memberi kabar kepada putrinya hingga suatu saat terputus. Sayangnya Robert selalu bungkam akan nasib istrinya itu.

-------------------

Awalnya, perputaran kehidupan seperti memihak pasutri Robert Kirkup dan Janet Kirkup. Robert bekerja sebagai eksekutif senior di sebuah perusahaan swasta, memungkinkannya membeli sebuah rumah bagus dan memboyong keluarganya ke sebuah kawasan berkelas di California, Amerika Serikat. Sementara dari rahim Janet, lahir tiga anak perempuan yang cantik-cantik.

Janet, meski dikenal para tetangga sebagai perempuan yang agak materialistis, sangat dekat dengan anak-anaknya. Terutama anak kedua, Sherry, dan si bungsu Susan. Sedangkan anak pertama mereka, Shana, kelihatannya lebih dekat dengan sang ayah, Robert, yang karena tuntutan pekerjaan lebih sering bepergian ke luar kota ketimbang menghabiskan waktu di rumah. Mungkin karena Shana - saat pindah ke California berusia 10 tahun lebih tua dari Susan - lebih dewasa dan lebih bisa memahami kesibukan ayahnya.

Sedangkan Sherry (dua tahun lebih muda dari Shana) dan Susan yang saat itu masih balita lebih banyak bermanja-manja dan mencurahkan waktu dengan sang ibu. “Ada satu hal yang ngangeni, membuat saya selalu teringat pada Ibu. Masakan dan kue bikinan Ibu enak banget. Kadang saya begitu merindukan masakan dan kue-kue itu,” terawang Susan, beberapa tahun kemudian. Toh tiga anak perempuan yang manis-manis itu - baik yang kesayangan Ayah maupun kesayangan Ibu - (kini semuanya sudah dewasa dan bukan anak-anak lagi, tentu saja) masih mengingat dengan baik rumah besar yang pernah mereka tinggali. Termasuk kolam renang di halaman belakang rumah dan kuda poni lucu milik Susan.

Sayang, seperti Bumi yang terus berputar, roda kehidupan pun tak pernah diam. Beberapa tahun kemudian, roda itu mengarah ke bawah, menggilas kenangan indah Shana, Sherry, dan Susan. Menggantinya dengan kenangan pahit yang membuat ketiga gadis itu - meski berstatus saudara kandung - bak tiga pribadi yang tak pernah saling kenal, bahkan bermusuhan.

 

Orang ketiga

Malapetaka itu terjadi pada tahun 1989, ketika perusahaan tempat Robert bekerja terancam pailit. Sebelum betul-betul dipecat lantaran perusahaan tak mampu membayar gaji para karyawan, Robert memutuskan untuk mengundurkan diri. Bersama beberapa temannya, Robert kemudian mencoba peruntungan dengan memulai bisnis baru, sebagai pemilik bar. Namun lagi-lagi ketidakberuntungan mendera Robert. Bisnis barnya tak berjalan mulus. Hanya dua tahun sejak dibuka, pada 1991 bar milik Robert menyusul bangkrut.

Yang lebih mengenaskan, bukan hanya uang pesangon dan tabungan Robert yang tertelan di saloon itu. Tapi dia harus menanggung risiko lain yang lebih mengenaskan: ketidakmampuan membayar pinjaman dari bank. Rumah besar yang menjadi jaminan pun terpaksa direlakan sebagai alat pembayaran. Hutang lunas, namun Robert dan Janet tak lagi punya rumah. Dalam kondisi kepepet itu, Robert dan Janet akhirnya memutuskan membeli rumah mobil dan untuk sementara waktu, tinggal di jalanan.

Dalam masa-masa berat yang penuh gonjang-ganjing itu, Robert dan Janet pun mesti “kehilangan” Sherry, yang kabur dari rumah, lantaran tak tahan terus-menerus menyaksikan pertengkaran bapak-ibunya. Belakangan, Sherry diketahui menikah dan melahirkan seorang bayi mungil. Shana si sulung yang bekerja sebagai terapis di sebuah klinik sudah lebih dulu meninggalkan rumah bersama suaminya. Saat Janet dan Robert meninggalkan rumah, Shana sudah memiliki satu momongan.

Sedangkan si bungsu Susan yang baru berusia 16 tahun, sempat bolak-balik. Awalnya dia memutuskan tinggal bersama Shana. Namun tinggal bersama kakak yang baru punya momongan dan sedang membangun kehidupannya sendiri bukan perkara gampang. la lalu bergabung dengan Robert dan Janet di rumah mobil. Tapi tinggal di rumah mobil, buat remaja belasan tahun seperti Susan, ternyata jauh lebih tidak menyenangkan. Akhirnya, ia memutuskan kembali ke rumah Shana.

Life goes on. “Rumah berjalan” Robert dan Janet terus berkelana dari satu wilayah di sebuah kota, ke wilayah lain di kota yang berbeda. Suatu kali mereka terlihat di Illinois, tempat keluarga besar Janet. Kali lain, mereka mangkal di Michigan, kota tempat bermukimnya keluarga besar Robert. Shana, Sherry, dan terutama Susan, mengikuti terus perkembangan kedua orangtua lewat telepon dan surat yang dikirimkan Janet. Di surat-surat itulah, sebagian besar dikirim ke Sherry dan Susan, Janet bercerita tentang banyak hal, tentang keseharian di “rumah berjalan”, maupun hubungannya dengan Robert. Kadang ia juga menanyakan kabar cucu-cucunya.

Namun, tradisi berkomunikasi secara rutin itu mulai mengalami gangguan sekitar pertengahan 1992, hanya beberapa bulan setelah Susan memutuskan tinggal di rumah Shana. Telepon dari Janet tak pernah lagi berdering, suratnya pun tak lagi datang. “Setiap kali saya mencoba menghubungi Ibu, Ayah selalu punya banyak alasan. Kadang dia bilang Ibu sedang tidur. Kadang Ibu sedang mengajak anjingnya jalan-jalan. Pokoknya, susah banget hendak bicara dengan Ibu. Enggak tahu juga, apakah pesan untuk ibu yang selalu saya titip ke Ayah benar-benar disampaikan, karena Ibu benar-benar seperti ditelan Bumi,” cerita Susan.

Bahkan di hari Natal 1992, kabar tentang Janet tetap jadi misteri. Keluarga besar Kirkup tak merayakan Natal bersama. Titik terang baru muncul pada Januari 1993, ketika datang sepucuk surat dari Robert, yang menjelaskan, Ibu mereka - Shana, Sherry, dan Susan - tak lagi tinggal di rumah mobil. Robert sekaligus menjawab pertanyaan, mengapa selama ini dia seolah menyembunyikan keberadaan Janet. Di dalam suratnya, Robert menyebut, Janet kabur bersama pria lain yang tampaknya lebih “berada” - seorang pemilik rumah mobil juga, tapi mobilnya lebih besar.

 

Perang saudara

Seperti pedang, surat Robert itu langsung memecah-belah “perkongsian” Shana, Sherry, dan Susan. Shana yang sejak kecil memang lebih dekat dengan ayahnya, percaya Janet benar-benar kabur dengan laki-laki lain. “Ibu begitu materialistis. Karena Ayah tidak bisa memenuhi kebutuhannya lagi, Ibu pergi. Sederhana saja dan masuk akal. Jadi, terus terang, saya menganggapnya sebagai hal yang wajar,” cetus Shana.

Di mata Shana, ayahnya hanyalah korban ketidaksabaran ibunya, yang dilukiskannya sebagai “pemberang”. “Buat saya, Ibu lebih menakutkan daripada Ayah. Ayah tidak pernah memukul, bahkan tidak pernah memarahi saya. Tapi ibu melakukan itu. Suatu kali, dia pernah memukul dan mendorongku dengan keras. Dia kerap menyakiti aku. Sejak dulu, Ibu juga ingin semua kebutuhannya dipenuhi oleh ayah. Aku benci menyaksikan itu. Ibu memegang uang sangat berlebihan, minta dibelikan mobil mewah, dan banyak lagi.”

“Oh ya, ada suatu masa ketika Ibu mengetahui Ayah berselingkuh. Ibu marah besar dan berkata ia akan membalas perbuatan Ayah. Benar saja, aku melihat dengan mata kepala sendiri, Ibu berselingkuh di rumah.”

Bagaimana dengan Susan? Saat mendengar kabar tentang “kaburnya” Janet, Susan malah bersyukur. “Setidaknya, kini ia terlepas dari siksaan hidup bersama Ayah,” bilangnya. Namun Susan sendiri tidak yakin Janet benar-benar kabur dengan lelaki lain. Beda dengan Shana yang pasrah saja, Susan bertekad sekuat tenaga mencari jejak sang ibu. “Kalau ia memang pergi dengan pria lain, berarti ia masih hidup. Jejaknya pasti bisa dilacak,” imbuh Susan. Itu sebabnya, Susan lalu berinisiatif melaporkan Janet sebagai “orang hilang” ke kantor polisi San Bernardino County. 

Bertolak belakang dengan Shana, Susan menganggap ayahnya sebagai sosok yang menakutkan. Masa kecil Susan mencatat Robert sebagai tokoh antagonis yang lebih sering berada di luar rumah ketimbang memperhatikan anak-anaknya. Sering melakukan kekerasan terhadap istri dan tak jarang pulang dalam keadaan mabuk. 

“Bagi saya, dia bukan sosok ayah, tapi orang jahat. Dia juga jagoan yang selalu sok kuasa. Lihat foto-foto kami yang kelihatan bahagia di masa kecil, semuanya semu dan penuh kebohongan. Robert betul-betul menakutkan. Sebaliknya, Ibu seperti bagian dari diriku. Sebelah hatiku berharap, ia sedang berbahagia di suatu tempat, mungkin di sebuah pantai di Hawaii, atau .... Entahlah.”

Ya, “perang saudara” ini memang unik. Ketiganya sama-sama berstatus anak kandung, dilahirkan dari rahim yang sama, dibesarkan oleh orangtua yang sama, tinggal di rumah yang sama selama bertahun-tahun, makan makanan yang sama, nonton teve di ruang keluarga yang sama, namun mempunyai kenangan terhadap masa kecil dan masa remaja yang sama sekali berlawanan. Shana tumbuh menjadi “anak Ayah”, sementara Sherry dan Susan berkembang menjadi “anak Ibu”.

 

Salah omong 

Meskipun bertahun-tahun berstatus “orang hilang”, tak mudah bagi polisi untuk menemukan jejak Janet. Sama tak mudahnya dengan menemukan siapa laki-laki yang telah menggoda Janet pindah ke lain hati. Tahun 1998, kasus Janet ditingkatkan dari sekadar kasus “orang hilang” dan diambil alih oleh Kepolisian Michigan. Opsir Mark Siegel yang diminta menangani, langsung berinisiatif mengontak Robert. Di mata Siegel, Robertlah orang yang paling mungkin membuat terang persoalan ini. Kesabaran Siegel benar-benar diuji, karena Robert hidup nomaden. Hari ini dia berada di Kota A, hari lain di Kota B.

Baru setahun kemudian Siegel berhasil menemukan Robert di Michigan. Jawaban standar “tidak tahu” keluar dari mulut Robert saat Siegel menanyakan tentang Janet dan lelaki yang membawanya pergi. Robert juga tak bisa menyebut ciri-ciri pria dimaksud. Dia hanya memberi clue, si pria memiliki rumah mobil yang lebih besar daripada rumah mobilnya. 

Namun ada yang menarik, ketika tiba-tiba saja. Robert nyeletuk, “Saya enggak tahu apa-apa soal kematian Janet!”. Kematian? Mungkinkah Robert menyangka, setelah enam tahun berlalu, polisi tahu Janet sudah meninggal?

Jika begitu, Robert sudah salah omong. Siegel sendiri sempat tercengang, karena polisi sebenarnya belum mendapatkan informasi yang akurat: apakah Janet masih hidup atau sudah meninggal. Penyelidikan, untuk sementara, hanya berusaha menemukan siapa lelaki yang membawa pergi Janet, lalu menemukan Janet di mana pun dia berada, untuk dipertemukan dengan anak-anaknya. Salah omong Robert membuat Siegel mengubah fokus penyelidikan. Kini ia meyakini, Janet sudah meninggal.

“Robert, tak satu pun orang yang bilang Janet sudah mati. Andalah satu-satunya orang yang pernah bilang begitu,” Siegel menegaskan.

Robert cuma bisa tertunduk. 

“Semua sudah berakhir. Anda jangan egois. Jelaskan semuanya kepada anak-anak. Mereka butuh kebenaran,” sambung Siegel.

Robert mendongakkan kepala, lalu berkata pelan, “Saya hanya akan menjawab pertanyaan Anda di depan pengacara. Tolong carikan saya pengacara.”

Sampai di sini, Siegel berhenti. Belum ada cukup bukti untuk menangkap Robert atau menjadikannya sebagai tersangka. Namun indikasi awal sudah cukup bagi Siegel untuk mendapatkan Surat Perintah Penggeledahan rumah mobil Robert.

Di rumah mobil Robert, Siegel menemukan kalender 1992 hingga 1996. Yang menarik, tentu saja kalender 1992, tahun Janet menghilang. Sepanjang tahun itu, seluruh perjalanan tercatat dengan rapi: posisi awal dan tempat tujuan rumah mobil. Kecuali dua hari “minim data”, yang ditengarai oleh Spiegel sebagai hari menghilangnya Janet. Di dua hari itu, 16 Agustus dan 17 Agustus 1992, hanya ada keterangan New York State Park. Polisi yang mencoba menyisir kawasan itu tak dapat menyimpulkan apa-apa, termasuk kemungkinan adanya kuburan Janet.

Dengan kata lain, tetap tak ada bukti Janet hilang karena pembunuhan, apalagi bukti Robert yang melakukan pembunuhan itu.

 

Sempat sekarat

Salinan berkas-berkas laporan Siegel itu, yang diserahkan kepada Susan, dan tersimpan di dalam kotak di lemari si bungsu itu, mengendap selama 10 tahun. Selama ini Susan menyimpannya, tanpa ada keinginan membaca seluruh berkas wawancara polisi dengan ayahnya dan hasil investigasi di lapangan. Karena jujur, ia masih ingin percaya ibunya pergi bersama lelaki lain yang jauh lebih baik daripada Robert, sehingga masih ada kemugkinan ditemukan dalam keadaan hidup. Namun bertahun-tahun setelah peristiwa itu berlalu, tahun 2008, Susan memberanikan diri menemukan “alternatif” sebab kepergian Janet.

Susan tetap bertekad “melanjutkan” hasil penyelidikan itu, dan mengarahkan energinya untuk menemukan bukti-bukti “pembunuhan” yang dilakukan Robert.

“Dia sudah gila. Apa yang dilakukannya benar-benar tak masuk akal. Ayah tidak mungkin membunuh Ibu. Susan salah besar, jika dia berpikir Ibu sudah mati, dan Ayah harus bertanggung jawab atas kematiannya,” tantang Shana. Kebetulan, saat itu, rumah mobil Robert tengah parkir di halaman belakang rumah Shana. “Apalagi sekarang, Ayah baru saja mengalami musibah, dan dia tega-teganya melakukan ini pada ayahnya sendiri?”

Shana berang sebab ia baru saja membawa Robert ke rumah sakit. Lelaki gaek itu nyaris meninggal saat berendam di bath-tub kamar mandi Shana. Tiba-tiba saja dia tak sadarkan diri dan nyaris tenggelam. Robert diduga terlalu banyak mengonsumsi alkohol dan mengisap rokok. Asap rokok dan bau minuman memang seakan-akan tak pernah lepas menghiasi ruang-ruang rumah mobil Robert.

Beruntung, saat itu nyawa Robert masih bisa diselamatkan. Shana menelepon Susan untuk memberitahu kondisi sang Ayah yang tengah sekarat. Namun Susan justru menelepon Kepolisian Las Vegas, untuk segera menginterogasi Robert sebelum ayahnya itu meninggal. 

Menginterogasi orang sekarat, itulah yang coba dilakukan beberapa detektif Las Vegas. Hasilnya? Ah, sama saja dengan interogasi saat Robert sehat walafiat. Tak pernah keluar pengakuan atau wasiat soal pembunuhan. Jangan-jangan, Susan memang salah, Robert tak bersalah. Untuk sementara, Shana bisa tersenyum dan membawa ayahnya kembali ke rumah setelah dirawat selama beberapa hari di rumah sakit.

Tak putus asa, Susan mendatangi Kantor Polisi San Bernardino yang pernah didatanginya 16 tahun lalu, saat masih remaja. la menyerahkan kotak berisi berkas wawancara opsir Siegel tahun 1998 dan hasil investigasi pribadi kepada Detektif Greg Myler. 

“Saya punya perasaan yang sama dengan Anda. Ini bisa menjadi kasus pembunuhan. Tapi untuk sampai ke sana, tak ada jalan lain, kita harus mendapat pengakuan,” jelas Myler. 

Susan mengangguk lemah. “Kapan Anda akan menanyai Robert? Sekarang dia ada di rumah Shana di California.” 

“Oke, 17 Juni kami akan ke sana.” 

Persisnya, 17 Juni 2008.

 

Manfaatkan Shana

Seperti diperkirakan sebelumnya, Shana berusaha mengadang perjalanan Myler ke rumah mobil Robert. Namun langkah Shana tertahan ketika Robert sendiri mempersilakan sang detektif masuk, yang datang ditemani rekannya, detektif Alexander. Suasana di dalam rumah mobil begitu “meriah”, karena ketiganya tak hanya bertukar kata-kata, tapi juga saling mengepulkan asap. Mereka merokok hampir nonstop selama interogasi yang berlangsung sepanjang enam jam itu. Bisa dibayangkan betapa pengapnya.

Di menit-menit awal, Myler mencoba menciptakan rasa aman terlebih dahulu dan menghindari pertanyaan-pertanyaan yang langsung menekan. la kembali menanyakan tentang lelaki yang membawa Janet pergi, soal perjalanan-perjalanan sepanjang 1992, hingga tempat-tempat favorit yang ingin Robert kunjungi. Setelah Robert terlihat nyaman, Myler mulai mengeluarkan jurus mematikan: “Anda pernah bilang, Janet dibunuh. Saya rasa memang betul Janet tidak hilang, tapi dibunuh. Dan Anda orang yang paling bertanggung jawab atas kematiannya.”

Jawaban Robert? Masih sama seperti sebelumnya: menolak. “Anda sudah tahu jawabannya. Saya tidak mungkin mengakui apa yang tidak saya lakukan.”

“Ayolah Robert. Kita semua tahu Anda yang membunuh Janet. Anda juga tahu, Anda yang membunuh istri Anda sendiri.”

“Saya tidak ingin mengatakan apa pun soal ini. Karena memang tidak ada yang mesti saya akui dan katakan. Saya sungguh-sungguh tidak tahu dan tidak terlibat.”

Dalam hati, Myler hampir mengaku kalah. Hati kecilnya juga sempat ragu, mengingat jawaban Robert yang meyakinkan, jangan-jangan dia memang tidak bersalah. Dia hampir saja memutuskan untuk pulang, ketika mendadak di otaknya muncul ide brilian. Myler akan berbicara dengan Shana, satu-satunya orang yang masih percaya Robert tidak bersalah. 

Robert juga sangat menyayangi Shana, sehingga jika permintaan untuk berkata jujur itu datang dari Shana, boleh jadi Robert akan menyerah. Problemnya, bagaimana cara meyakinkan Shana agar mau membujuk ayahnya berkata jujur, sementara Shana sendiri tak percaya ayahnya bersalah?

Detektif Greg Myler kembali mendapat ide brilian. Kata-kata dan bujukan memang manjur, tapi kadang kala, kata-kata tak cukup mewakili sesuatu. Myler butuh bantuan lebih dari sekadar kata-kata. la lalu mengambil kotak penyimpanan berkas milik Susan, yang berisi surat-surat dan pengakuan Sherry sebelum pergi meninggalkan rumah, surat-surat Janet yang dikirimkan kepada Sherry dan Susan, hasil wawancara Siegel dengan Robert, dan beragam hasil investigasi - baik yang dilakukan polisi maupun yang dilakukan Susan secara pribadi.

Shana menangis begitu membaca satu demi satu berkas di dalam kotak. Selama ini dia tidak pernah membaca berkas-berkas itu, karena memang tidak diizinkan oleh Sherry dan Susan. Shana dianggap terlalu pro Robert. Jika dibiarkan membaca berkas-berkas tadi, dikhawatirkan ia bakal membocorkan isinya ke Robert, dan mementahkan upaya menyeret Robert ke pengadilan. 

Myler minta Shana membujuk Robert untuk berkata yang sebenarnya soal Janet, dengan pantauan alat pendeteksi kebohongan. Isi “kotak pandora” yang baru saja Shana baca membuat putri sulung Robert itu punya pilihan. Membantu Myler mengungkap kebenaran atau menolak dan membiarkan kebenaran tak akan terungkap selamanya.

Ketika Shana mengangguk lemah, Myler merasa sangat lega. 

“Ayah, ambil tes ini untuk membuktikan bahwa Ayah memang tidak membunuh Ibu. Hanya ada aku di sini, yang selama ini peduli pada Ayah. Aku berjanji, apa pun yang terjadi, aku akan tetap mencintai Ayah,” Shana berujar lembut. 

“Ayah tahu, Shana .... “ 

Robert terdiam sejenak, sebelum melanjutkan.

“Aku juga bosan dan lelah dengan semua ini. Mungkin sekarang saat yang paling tepat untuk mengatakan semuanya kepada kamu.”

Sherry, Susan, dan belasan detektif harus menghabiskan waktu 16 tahun untuk memaksa kata-kata ini keluar dari kerongkongan Robert. Itu pun masih gagal. Tapi Shana hanya butuh 20 menit untuk membuat Robert benar-benar mengatakannya. Misteri yang selama 16 tahun hanya disimpannya dalam hati.

“Hari itu, dia memulai pertengkaran. Sebelumnya, kami memang sudah sering bertengkar. Hidup nomaden di rumah mobil sungguh tak mudah. Dia memukulku. Menepis kacamataku sampai jatuh dan pecah. Lalu dia berlari ke dapur meraih pisau. Kami sempat bergumul hingga ke lantai kamar tidur. Dia masih berusaha menusukku. Kamu tahu Shana, Ayah hanya mencoba membela diri. Entah apa yang membuatnya akhirnya tak berkutik. Mungkin aku mencekik lehernya, mungkin juga aku menusuknya. Lalu aku menguburkan mayatnya di suatu tempat di New York .... “

Sayang, polisi lagi-lagi tak berhasil memperkirakan letak kuburan Janet. Mayat Janet selamanya tak berhasil ditemukan. Rentang 16 tahun cukup untuk membuat Robert yang kini renta melupakan detail lokasi kuburan itu. Rentang 16 tahun juga memungkinkan pembangunan yang “menghilangkan” tanpa sengaja tanda-tanda kuburan Janet. Sebagai gantinya, Shana, Sherry, dan Susan sepakat membuat semacam “monumen” untuk ibu mereka, agar setiap saat mereka bisa datang berziarah dan mengenang kebaikan sang ibu.

Pada September 2008, Robert dihukum 5-15 tahun penjara. la mengaku dan dinyatakan bersalah melakukan pembunuhan Tingkat II, karena jenazah korban tak ditemukan dan ada unsur bela diri yang tak terbantahkan oleh saksi lain. Namun yang menggembirakan, keluarga besar Kirkup kini berpeluang melakukan reuni. Setelah belasan tahun cerai-berai, “kongsi” kakak-beradik Shana, Sherry, dan Susan bakal menguat lagi. “Mungkin butuh waktu, tapi itu pasti akan terjadi. Kami belajar banyak cara mendidik anak-anak dari kasus ini,” tegas Susan. (Icul)

 

" ["url"]=> string(75) "https://plus.intisari.grid.id/read/553448365/pembunuhan-yang-memecah-kongsi" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1661951609000) } } }