array(1) {
  [0]=>
  object(stdClass)#49 (6) {
    ["_index"]=>
    string(7) "article"
    ["_type"]=>
    string(4) "data"
    ["_id"]=>
    string(7) "3561359"
    ["_score"]=>
    NULL
    ["_source"]=>
    object(stdClass)#50 (9) {
      ["thumb_url"]=>
      string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2022/11/11/sehelai-rambut-mengantar-ke-bui_-20221111040935.jpg"
      ["author"]=>
      array(1) {
        [0]=>
        object(stdClass)#51 (7) {
          ["twitter"]=>
          string(0) ""
          ["profile"]=>
          string(0) ""
          ["facebook"]=>
          string(0) ""
          ["name"]=>
          string(13) "Intisari Plus"
          ["photo"]=>
          string(0) ""
          ["id"]=>
          int(9347)
          ["email"]=>
          string(22) "plusintisari@gmail.com"
        }
      }
      ["description"]=>
      string(178) "Setelah beberapa hari menghilang, Liss Ostergaard ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa di sebuah taman. Ada tanda kekerasan seksual, namun barang bukti hanyalah sehelai rambut."
      ["section"]=>
      object(stdClass)#52 (8) {
        ["parent"]=>
        NULL
        ["name"]=>
        string(8) "Kriminal"
        ["show"]=>
        int(1)
        ["alias"]=>
        string(5) "crime"
        ["description"]=>
        string(0) ""
        ["id"]=>
        int(1369)
        ["keyword"]=>
        string(0) ""
        ["title"]=>
        string(24) "Intisari Plus - Kriminal"
      }
      ["photo_url"]=>
      string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2022/11/11/sehelai-rambut-mengantar-ke-bui_-20221111040935.jpg"
      ["title"]=>
      string(31) "Sehelai Rambut Mengantar ke Bui"
      ["published_date"]=>
      string(19) "2022-11-11 16:09:52"
      ["content"]=>
      string(27360) "

Intisari Plus - Setelah beberapa hari menghilang, Liss Ostergaard ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa di sebuah taman. Ada tanda kekerasan seksual, namun barang bukti hanyalah sehelai rambut.

-------------------

Minggu terakhir bulan Agustus 1983, Kota Flensburg di Jerman Barat gempar. Ada wanita hilang. Meski kecil dan dingin, kota yang hanya dihuni beberapa ratus ribu penduduk itu selain kota pelabuhan, juga pangkalan armada Baltik. Memang Laut Utara sudah tak jauh lagi dari sana, hanya sejauh 35 mil ke arah barat.

Walaupun terletak di kawasan Jerman, kebanyakan penduduk kota yang, terus terang saja, kurang menarik itu adalah orang Denmark. Pantas saja kalau di sana setidaknya bisa dijumpai tujuh sekolah khusus untuk anak-anak Denmark.

Nah yang diberitakan hilang itu juga seorang wanita Denmark, guru matematika merangkap guru bahasa dan olahraga di sekolah Denmark. Nama sekolahnya Jorgensby Skolen.

 

Tak punya kekasih

Korban, Liss Ostergaard (46) masih lajang. Sesuai profesinya, ia bertubuh kekar dan atletis. Tapi belakangan ia agak sering mengeluh ada gangguan otot di kaki kirinya. Rupanya, akibat kegemarannya berolahraga lari.

Liss sudah sekitar 12 tahun mengajar di sekolah itu. Sebagai guru yang disiplin dan jarang sakit, ia jarang absen. Itu sebabnya ketika suatu pagi sosok Liss tidak muncul tanpa pemberitahuan apa-apa, Olaf Svensson, direktur sekolah, langsung merasa heran. Heran beralih waswas saat menelepon ke rumah Liss ternyata juga tidak ada yang menjawab. Tanpa banyak pertimbangan lagi Olaf pun segera menghubungi polisi.

Benar juga. Kekhawatiran Svensson sepertinya beralasan. Ketika detektif Juergen Bolger dari divisi penyelidikan kriminal mengetuk pintu flat kediaman liss, tidak ada orang yang menjawab ataupun membukakan pintu. Sang detektif langsung minta alamat keluarga wanita itu. Siapa tahu, malam Minggu sebelumnya Liss pulang ke rumah orang tuanya, lalu beralangan pulang tepat waktu.

Ternyata satu-satunya orang yang dapat dihubungi cuma ayah Liss yang tinggal di sebuah kota di Denmark, tidak jauh dari perbatasan dengan negara itu. Melalui telepon sang ayah mengatakan sudah berminggu-minggu tidak bertemu dengan putrinya. Juga tidak ada rencana Liss bakal mengunjunginya malam Minggu itu.

Meski belum berhasil melacak ke mana perginya Liss, sang detektif tetap melaporkan perkembangan kasus dan semua tindakan yang diambilnya ke kantor pusat. 

Tindakan selanjutnya, ia mencoba membuka paksa pintu flat kediaman Liss. Ternyata, di dalam flat pun Liss tidak ditemukan. Yang menarik, berdasarkan temuannya di seputar situasi flat, diduga wanita lajang itu tidak berencana bepergian jauh. 

Di meja makan masih terhidang sepotong roti beroleskan mentega di atas piring. Menemani roti itu ada segelas susu di sampingnya. Satu setel pakaian berupa celana panjang, blus, pakaian dalam lengkap dengan stocking-nya pun rapi tersusun di atas kursi. Sepertinya pakaian itu siap untuk segera dikenakan menjelang berangkat kerja.

Dugaan kuat, pasti terjadi sesuatu terhadap Liss pada pagi atau sore sebelum ia menghilang. Namun, pencarian di pelbagai rumah sakit dan klinik pun memberikan hasil nihil. Liss tetap tidak ditemukan. Sampai akhirnya penyelidikan selanjutnya diambil alih oleh Inspektur Walter Trapp, yang berperawakan tinggi, tegap, serta bersuara keras.

Penyelidikan kembali dilakukan di flat kediaman Liss. Tim forensik diminta meneliti segelas susu dan sepotong roti yang tak sempat disantap Liss. Yang ingin diketahui, sudah berapa lama kedua benda itu ditinggalkan pemiliknya. Hasil penelitian mengatakan, susu dan roti sudah disiapkan sejak Minggu sore. Terhitung hingga saat laporan diserahkan, berarti sudah hampir 24 jam Liss menghilang. 

Sasaran penyelidikan selanjutnya adalah setumpuk surat pribadi Liss Ostergaard. Siapa tahu ia sering melakukan surat-menyurat dengan teman, sanak saudara, atau kekasih. Siapa tahu pula ia berencana mengunjungi salah satu di antara mereka.

Hasilnya? Nihil juga. Satu-satunya orang terdekat cuma ayahnya. Temannya hanya berkisar di tempat kerja yakni sekolah dan klub joging. Bagaimana dengan kekasih? Untuk sementara ini Walter Trapp menyimpulkan liss tidak mempunyai kekasih. Kalaupun ada Liss pasti tidak akan menaruh surat cintanya secara sembarangan. 

Kesimpulan itu ternyata didukung informasi dari teman sekerjanya. Liss tidak memiliki kekasih. Ia bukan tipe orang yang suka melakukan hubungan asmara dengan lawan jenis. Meski Liss dikenal selalu bersikap hangat dan suka menolong baik terhadap teman-teman laki ataupun wanita. 

Satu hal yang penting dicatat, sejak mengeluh soal cedera otot kaki, Liss belum kembali berlatih olahraga lagi bersama teman seperkumpulan. Alasannya, ia tidak mau menghambat latihan teman-temannya. Berarti selama beberapa waktu menjelang hilangnya, Liss berjoging seorang diri. Jadi dugaan sementara liss meninggalkan tempat tinggalnya dengan kostum joging.

Menurut sejumlah tetangga di sekitar flat, biasanya ia joging di Volkspark. Meski agak terpencil dan sebagian masih berupa hutan, taman itu sehari-hari cukup populer sebagai ajang berolahraga.

Walter Trapp mengakui timnya sangat kesulitan melacak jejak di daerah hutan yang penuh semak belukar dan rumput liar yang lebat dan tinggi. Biar bagaimanapun kru polisi tetap mengupayakan yang terbaik. Tak hanya bekerja sekuat tenaga, mereka pun meminta bantuan pada sejumlah petugas pemadam kebakaran, teman-teman kerja Liss, dan beberapa pelaut dari pelabuhan dekat situ.

 

Bajunya terkoyak-koyak

Tiba-tiba Kamis, 15 September, seorang kru pelacak menemukan baju olahraga di antara semak-semak, tidak jauh dari kawasan tempat orang biasa melakukan joging. Beberapa anggota klub joging segera diminta melihat pakaian tersebut.

Semua hampir yakin pakaian tersebut milik Liss Ostergaard. Sementara itu polisi melanjutkan menyisir daerah di sekitar pakaian tersebut ditemukan. Hanya sekitar 20 kaki dari lokasi ditemukannya baju tadi, ditemukan celana training. Malah sedikit lebih jauh lagi ada pakaian dalam yang terkoyak-koyak. Penelusuran terus dilanjutkan. Baru beberapa langkah, mereka menemukan jenazah Liss Ostergaard dalam keadaan tanpa busana.

“Sudah tidak utuh. Selain karena pengaruh cuaca yang terus berganti-ganti, sebagian besar karena dikoyak-koyak burung, serangga, dan binatang kecil lain,” tutur dr. Johan Schmidt, petugas forensik, apa adanya. Kondisi Liss memang menyedihkan. Boleh dibilang sebagian besar tubuh dan wajahnya sudah berupa tengkorak. Untungnya, beberapa teman dekatnya masih bisa mengenali bahwa itu benar jenazah Liss Ostergaard.

“Jenazah Liss sudah ditemukan. Sekarang tinggal meneliti apa penyebab kematiannya?” tanya Walter Trap.

“Kemungkinan besar pembunuhan dengan pemerkosaan,” kata Johan Schmidt. Untuk memastikan, petugas mengambil sidik jari dari ujung-ujung jari yang belum rusak.

Hasil otopsi dan pemeriksaan lab semakin memperjelas motif pembunuhan itu. Sebagaimana dugaan Johan Schmidt, penyebab kematian Liss memang pembunuhan dengan motif pemerkosaan. “Satu hal, sebelum diperkosa, dipastikan Liss masih perawan.”

“Lalu siapa ya kira-kira pelakunya?” Walter Trapp bertanya pada dirinya-sendiri.

Berdasarkan hasil otopsi dan pemeriksaan lab tersebut, Polisi membuat perkiraan. Diduga Liss Ostergaard diserang saat ia joging di sepanjang jalan setapak sempit tidak jauh dari tempat jenazahnya ditemukan. Tampaknya Liss sempat berusaha menyerang balik si pelaku lalu mencoba menghindar dari serangan lanjutan. Sayangnya, meski meski sudah berusaha lari, si penyerang mampu menghentikan Liss, dengan merenggut pakaian Liss sampai bajunya robek. Begitupun rupanya liss masih berusaha melarikan diri untuk kedua kalinya, tetapi si penyerang terlalu kuat. Malang benar, Liss berhasil dilumpuhkan.

Diduga kuat penyebab tewasnya Liss akibat dicekik dengan tangan oleh si penyerang. Sebelumnya korban sempat dipukul di bagian kepala dan mukanya karena pada bagian tersebut keluar banyak darah.

“Dengan demikian, pasti pada pakaian si pembunuh terdapat bercak-bercak darah korban,” kata Juergen Bolger. 

Untungnya, banyak bukti berhasil dikumpulkan. Bukti itu antara lain robekan pakaian dan sejumlah helai rambut. Pembunuhan diperkirakan terjadi tanggal 28 Agustus 1983, sekitar pukul 17.00.

“Tapi belum ditemukan indikasi kuat siapa pemilik rambut dan robekan kain itu,” sahut Walter Trapp.

“Tidak mungkinkah kita menetapkan beberapa tersangka? Mungkin dari beberapa orang dekat yang tahu kebiasaannya?” kata Juergen lagi.

“Rasanya tidak semudah itu. Dalam kasus pembunuhan ini cukup sulit untuk menemukan tersangka. Saya menduga, korban dan si pemerkosa tidak memiliki hubungan apa-apa. Mereka tidak saling kenal satu sama lain,” Walter Trapp menyimpulkan.

Pada sejumlah kasus pemerkosaan yang terjadi di kota itu jarang ditemukan peristiwa seperti itu. Yang menyulitkan, korban pembunuhan baru ditemukan hampir sebulan kemudian. Kalaupun ada saksi mata, mungkin tidak terlalu ingat lagi peristiwa tersebut. Padahal dalam kasus demikian saksi mata memiliki peran sangat penting. 

“Lalu apa yang kita lakukan?”

 

Makhluk aneh dari planet lain

Pihak kepolisian lantas menyebarkan berita pembunuhan tersebut lewat berbagai media informasi - surat kabar, televisi, dan radio lokal. Isinya, siapa saja yang pada 28 Agustus berada di Volkspark, diharap segera melapor ke polisi, tidak peduli apakah mereka mempunyai informasi berharga atau tidak. Apa pertimbangannya? Menurut Trapp, mungkin saja ada orang yang pada hari tersebut melihat sesuatu yang dianggap sepele, tetapi bagi polisi bisa merupakan kunci pemecahan kasus. 

Ternyata sambutan masyarakat di luar dugaan. Mereka begitu antusias menanggapi pengumuman itu. Tampak benar mereka amat bersemangat untuk memecahkan kasus pembunuhan sadis itu. Polisi pun sempat merasa kewalahan untuk menampung semua informasi yang masuk. Tentu saja, karena mereka harus mengecek dan mengevaluasi sejauh mana informasi tertentu bisa dipertanggungjawabkan. Untuk itu, sudah pasti dibutuhkan waktu yang lama dan tenaga yang tidak sedikit.

Sayangnya, tidak satu pun kesaksian di lokasi kejadian bermanfaat bagi polisi. Misalnya, sejumlah orang mengaku melihat Liss Ostergaard berjoging santai sepanjang hari. Sementara orang lain lagi mengatakan sepintas saja melihat korban. Malah ada yang mengatakan tahu Liss hanya dari namanya. Yang pasti, tidak ada yang mengatakan pernah melihat liss berjalan bersama laki-laki. 

Dari sekian banyak laporan, malah ada informasi yang aneh-aneh. Di antaranya, di TKP sering terlihat sejumlah pria tak dikenal yang bertampang menyeramkan. Mereka selalu bersembunyi di antara semak-semak. Yang lebih sulit diterima akal sehat, ada yang melapor pernah melihat makhluk aneh dari planet lain yang mendarat dengan piring terbang. Meskipun sangat janggal, polisi tetap mengecek kebenaran laporan itu. Kesimpulan akhirnya, semua laporan tidak menunjukkan adanya hubungan dengan kasus pembunuhan terhadap Liss.

Laporan yang masuk tidak hanya berasal dari mereka yang berada di taman pada hari kejadian. Ada pula yang melaporkan lewat telepon, merasa yakin tahu identitas si pembunuh. Umumnya, pelapor dari kelompok ini menolak menyebutkan nama. Yang lebih celaka, ada pula yang memberikan laporan dengan nada dengki sehingga malah membuat masalah makin kusut. 

Pada situasi serba tidak pasti itu tiba-tiba ada seorang penelepon yang berterus terang menyebutkan namanya. Si penelepon mengaku bernama Mark Peters dari pangkalan angkatan laut yang bertugas sebagai anggota korps pelayanan kesehatan.

“Saya mempunyai informasi yang mungkin bisa memberikan petunjuk tentang ciri-ciri si pembunuh,” kata Mark Peters setelah menyebutkan dengan gamblang identitasnya. 

“Terima kasih sudah menelepon kami, Mark. Untuk kelanjutannya, apakah Anda bersedia datang ke kantor polisi? Atau Anda merasa lebih aman bila kami yang datang ke tempat Anda?” tanya Walter Trapp. 

Tanpa alasan berbelit, Mark segera menyanggupi untuk datang ke kantor polisi.

Menurut pengakuannya, 28 Agustus malam saat ia sedang bertugas, sekitar pukul 22.00, seorang kelasi angkatan laut dibawa ke tempatnya oleh seorang penjaga pantai. Tubuh orang itu penuh luka cakar, terutama pada bagian muka dan lengannya. Selain itu, pakaiannya penuh lumpur dan percikan darah. 

Saat Mark membersihkan dan mengobati luka-lukanya, dengan nada bercanda pria itu mengatakan, “Eh tahu enggak, saya baru saja bergumul dengan seorang wanita. Kalau ada yang menemukan tubuhnya, itu hasil perbuatan saya.”

“Siapa nama laki-laki itu?” tanya polisi. 

“Hans Wilhelm Hadler,” jawab Mark.

Meski nama sudah di tangan, ternyata tak mudah menemukan Hadler. Perlu waktu beberapa hari untuk memburu Hadler yang anggota militer. Begitu berhasil ditangkap, Hadler langsung ditahan. 

Saat dilakukan interogasi, tentu saja, ia tidak langsung mengakui perbuatannya. 

“Apa yang saya katakan kepada petugas klinik pantai itu tidak benar. Waktu itu saya sedang mabuk. Biasalah, omongan orang-mabuk ‘kan suka ngelantur,” katanya.

“Lalu, mengapa wajahmu penuh luka?” desak Trapp. 

“Itu sih akibat perkelahian di bar.” 

Selain Hadler, penjaga pantai ikut diinterogasi. Katanya, Hadler tertangkap ketika berusaha memanjat pagar pembatas pantai dari luar. Saat itu ia tampak lusuh dan kotor, rambutnya kusut, dan tampak bercak-bercak darah pada pakaiannya.

“Ia tidak menjawab ketika saya tanya mengapa ia tidak masuk melalui pintu masuk umum tapi malah melompati pagar. Apalagi saat itu ia tidak lagi memiliki kartu identitas militer,” tutur si penjaga gardu.

Saat Hadler ditahan bekas luka-luka di wajahnya sudah tidak tampak, tetapi polisi berharap bekas bercak-bercak darah pada sobekan pakaian masih dapat diperiksa.

Ternyata dari sobekan celana korduroi hijau dan kemeja abu-abu muda yang diduga milik Hadler terdeteksi bekas percikan dua macam golongan darah. Walaupun dua macam golongan darah pada pakaian Hadler dinyatakan sebagai golongan darah Liss Ostefgaard dan Hadler, belum berarti tuduhan bisa sepenuhnya diarahkan langsung pada Hadler. Masih perlu bukti lain untuk menyatakan bahwa memang Hadler pelakunya. Pasalnya, ada ribuan orang di Flensburg yang mempunyai golongan darah yang sama, baik dengan Liss maupun Hadler.

Kalau cerita dari Hadler benar bahwa ia terluka gara-gara berantem di sebuah bar, bisa saja golongan darah yang satunya milik lawan berantemnya.

Ketika Hadler ditanya siapa musuh berkelahinya, Hadler mengaku tidak ingat karena sebenarnya ia tak kenal orang itu. Yang jelas, lawannya itu pasti bukan dari angkatan laut.

“Jawabannya cukup cerdas,” komentar Trapp, “Ia tidak akan mengaku terus terang.” Dengan demikian belum ada saksi yang melemahkan - sekaligus juga menguatkan - alibinya. Berarti pula, hingga saat itu si pembunuh Liss belum terungkap. 

Meski Hadler tidak bisa membuktikan bahwa ia pernah berkelahi dengan seseorang di bar, bukan berarti pula ia memberikan cerita bohong. Bar tempat Hadler mengaku telah berkelahi memang selalu ramai dengan “keributan dan kekacauan.” Jelas saja, para pegawai di bar yang selalu penuh pengunjung itu mengatakan tidak ingat apa yang terjadi sebulan silam. Mereka lupa apakah waktu itu ada perkelahian atau tidak. Repotnya lagi, tidak seorang pun mengenal Hadler.

Pernyataan dari petugas klinik dan penjaga pantai saja dinilai belum cukup. Laboratorium juga belum dapat memastikan bahwa sobekan bahan korduroi dan kemeja abu-abu yang mereka periksa benar milik Hadler. Tentu saja karena di kota tersebut banyak dijual celana dan kemeja dari bahan yang sama.

 

Mencari kartu identitas

Sepertinya tim polisi menemui jalan buntu. Lalu apa lagi yang dapat memperkuat tuduhan ini?  

“Oh ya, masih ada kunci yang bisa menjadi bukti otentik yakni rambut,” kata seorang polisi.

“Benar, sebaiknya kita segera menghubungi seorang peneliti rambut dari Kiel. Semoga ia mampu memberikan informasi untuk memecahkan kasus ini.”

Untung sang ahli bisa segera menyanggupi melaksanakan tugas dari Flenburg. Tim kepolisian sempat kaget. Mereka membayangkan, sebagai ahli yang telah mendapat reputasi internasional dalam penelitian forensik bagian tubuh manusia termasuk rambut, tentunya peneliti itu telah cukup berumur. Ternyata ahli itu seorang wanita muda, cantik lagi. Sejumlah rambut baik yang ditemukan di TKP maupun yang baru diambil dari terdakwa bersama robekan pakaian yang bisa dijadikan bukti dikirimkan ke Kiel.

Pada saat bersamaan Hans Wilhelm Hadler tetap bersikukuh menolak disebut sebagi pelaku pembunuhan. Namun kengototannya mengendur manakala banyak saksi mata melihatnya berada di Volkspark sore itu. Terpaksa ia sedikit mengubah pengakuannya: “Saat itu saya memang ada di sana, tapi saya tidak melakukan apa-apa. Saya sama sekali tidak pernah membuntuti Liss Ostergaard,” kata Hadler tegas.

Perubahan pengakuan itu tentu saja mengundang kecurigaan sekaligus membangkitkan gairah anggota tim Walter Trapp untuk terus mengejarnya. Salah satu pengakuan yang bisa digunakan untuk memancing adalah cerita Hadler tentang perkelahiannya di bar. Menurutnya, perkelahian itu terpicu antara lain gara-gara ia kehilangan kartu identitas militer.

Mendengar kata-kata “kehilangan kartu identitas”, Walter Trapp seperti mendapat ilham. Ia langsung menugasi anak buahnya untuk mencari kartu itu di sekitar semak-semak dimana korban ditemukan. Walter Trapp tersenyum lebar, hasil pencarian itu menggembirakan. Mereka berhasil menemukan kartu identitas Hadler dan BH korban di bawah tumpukan dedaunan kering.

Penemuan ini membuat polisi semakin yakin. Hadler tidak bisa mungkir, ia akan segera mengakui kesalahannya. 

Ternyata harapan mereka pupus. Hadler tetap menggelengkan kepala. Sekali lagi dengan tegas ia menyatakan bahwa kartu identitas itu hilang dicuri orang.

“Tembakan kita jatuh jauh dari sasaran,” komentar Juergen Bolger geram. 

Jawaban Hadler membuat pengadilan masih meragukan bukti dari polisi. 

“Tapi, jangan-jangan cerita pengakuannya itu memang benar,” komentar Juergen Bolger yang menjadi agak ragu begitu mendengar pengakuan Hadler. “Mungkin saja orang yang berkelahi dengan Hadler-lah yang membunuh Liss Ostergaard. Apalagi selama ini Hadler tidak pernah berurusan dengan polisi, bukan?”

“Tapi itu kebetulan yang sulit diterima. Bagaimana mungkin si pencuri kartu juga memiliki golongan darah yang sama dengan Hadler?” sanggah Trapp. 

Polisi hampir saja putus asa. Masih belum ada kemajuan ketika perkara ini diajukan kembali ke pengadilan pada bulan September 1984. 

Dalam sidang tersebut pengacara Hadler dengan gesit menangkis setiap bukti yang diajukan penuntut. Posisi tertuduh makin menguat dengan informasi tambahan bahwa semenjak sidang sampai petang pada hari terjadi pembunuhan, Hadler dalam keadaan mabuk. Dengan kondisi demikian Hadler tidak mungkin kuat berlari, memerkosa, apalagi membunuh seorang atlet sekuat Liss Ostergaard.

Sungguh pembelaan yang cerdik. Hadler pun mendapat peluang makin besar untuk lepas dari jeratan hukum. Apalagi pengadilan Jerman Barat bisa memberikan pengampunan bagi pelaku tindakan kriminal yang pada saat beraksi sedang dalam keadaan mabuk atau si pelaku diketahui sebagai pemakai narkoba. Tidak peduli sejahat apa pun tindak kejahatan itu, mereka pasti diampuni.

Namun, belum-belum sudah muncul protes dari kaum feminis. Mereka melakukan demonstrasi di Flensburg saat pengadilan berlangsung. 

Dengan spanduk terbentang bertuliskan “Pembunuh adalah pembunuh, apakah dia mabuk atau tidak!” para wanita itu menyerukan agar Hadler mendapat hukuman. Rupanya para pendemo sudah yakin benar bahwa Hadler bersalah, walaupun sampai saat itu belum ada bukti telak yang mendukung kesimpulan itu.

 

Kuncinya rambut

Pada saat pengacara Hadler mulai yakin akan menang karena berhasil mementahkan semua tuduhan terhadap Hadler, tampillah si wanita cantik, sang peneliti dari Kiel. la akan bersaksi atas penelitiannya pada rambut milik korban maupun tertuduh. 

“Mula-mula saya membandingkan sejumlah rambut manusia dengan sampel rambut yang diambil dari tubuh dan kepala si korban, serta tertuduh,” katanya tenang. Kemudian ia membandingkan lagi dengan sembilan helai rambut, panjang mulai 3,5 - 7,5 cm, yang ditemukan pada pakaian atas korban.

“Apakah beberapa helai rambut tersebut tercabut dari tubuh tertuduh?” tanya seorang penuntut. 

“Tidak,” jawab ahli tersebut. Berikutnya adalah dua helai rambut, dengan ukuran panjang 10 dan 11,25 cm. Rambut ini rambut wanita alias milik korban, bukan si penyerang. Selanjutnya, tiga helai rambut, dua berukuran panjang 10 cm dan satu sepanjang 15 cm. Kemungkinan besar dua helai rambut pertama berasal dari kepala si penyerang. 

Tak lupa diteliti pula rambut pendek berasal dari sekitar kemaluan dengan panjang kurang dari 3,75 cm. Rambut ini ditemukan dalam kaus kaki korban. Dapat dipastikan rambut ini berasal tubuh tertuduh karena persis sama dengan sampel rambut kemaluan tertuduh.

Mendengar kalimat terakhir sang peneliti, seketika itu pula sang pembela langsung menyatakan keberatan. “Mana mungkin hanya dengan sehelai rambut sependek itu dapat dibuktikan bahwa itu milik tertuduh,” serunya.

“Memang pada umumnya sulit dibuktikan. Namun pada kasus ini bisa!” tegas sang peneliti. “Kebetulan, tampak hal yang tidak wajar pada rambut tersebut yakni terjadinya proses pigmentasi sehingga memunculkan pembentukan pulau kecil pada ujung rambutnya. Formasi ini memang unik tapi tampak jelas di bawah mikroskop. Saya berani sumpah, ini adalah rambut pada daerah khusus Hadler!”

Sang pengacara bungkam, tidak berkutik. Selanjutnya, ia hanya bisa mempertahankan pembelaannya dengan mengatakan bahwa tertuduh dalam keadaan mabuk. Namun argumennya kali itu tidak berhasil. Baik petugas klinik maupun penjaga gardu mampu meyakinkan bahwa saat itu tertuduh tidak dalam keadaan mabuk.

Juri akhirnya memutuskan Hadler terbukti bersalah melakukan pemerkosaan dan pembunuhan tanpa bisa diperingan lagi.  

Satu helai rambut kecil ternyata mampu memaksa Hans Wilhelm Hadler, pembunuh sekaligus pemerkosa, menjalani hukuman penjara seumur hidup pada tanggal 14 September 1984. (Mindless Murders)


Baca Juga: Bayangan Pembunuh Berantai

 

" ["url"]=> string(76) "https://plus.intisari.grid.id/read/553561359/sehelai-rambut-mengantar-ke-bui" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1668182992000) } } }