array(13) {
  [0]=>
  object(stdClass)#97 (6) {
    ["_index"]=>
    string(7) "article"
    ["_type"]=>
    string(4) "data"
    ["_id"]=>
    string(7) "3800315"
    ["_score"]=>
    NULL
    ["_source"]=>
    object(stdClass)#98 (9) {
      ["thumb_url"]=>
      string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2023/07/11/02-pembunuhan-di-malam-tahun-bar-20230711015217.jpg"
      ["author"]=>
      array(1) {
        [0]=>
        object(stdClass)#99 (7) {
          ["twitter"]=>
          string(0) ""
          ["profile"]=>
          string(0) ""
          ["facebook"]=>
          string(0) ""
          ["name"]=>
          string(5) "Ade S"
          ["photo"]=>
          string(54) "http://asset-a.grid.id/photo/2019/01/16/2423765631.png"
          ["id"]=>
          int(8011)
          ["email"]=>
          string(22) "ade.intisari@gmail.com"
        }
      }
      ["description"]=>
      string(150) "Di awal tahun baru, sesosok mayat ditemukan di semak-semak dengan kepala pecah dan luka tusukan. Di pipinya terdapat luka goresan yang mirip huruf S. "
      ["section"]=>
      object(stdClass)#100 (8) {
        ["parent"]=>
        NULL
        ["name"]=>
        string(8) "Kriminal"
        ["show"]=>
        int(1)
        ["alias"]=>
        string(5) "crime"
        ["description"]=>
        string(0) ""
        ["id"]=>
        int(1369)
        ["keyword"]=>
        string(0) ""
        ["title"]=>
        string(24) "Intisari Plus - Kriminal"
      }
      ["photo_url"]=>
      string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2023/07/11/02-pembunuhan-di-malam-tahun-bar-20230711015217.jpg"
      ["title"]=>
      string(30) "Pembunuhan di Malam Tahun Baru"
      ["published_date"]=>
      string(19) "2023-07-11 13:52:43"
      ["content"]=>
      string(24891) "

Intisari Plus - Tepat di awal tahun baru, sesosok mayat ditemukan di semak-semak dengan kepala pecah dan luka tusukan. Di pipinya terdapat luka goresan yang mirip huruf S. Apakah ia korban dari perkumpulan misterius?

----------

Malam tahun baru 1911 membawa urusan yang menegangkan polisi London. Menjelang pagi tanggal 1 Januari tahun itu mereka menemukan sesosok mayat di semak-semak di daerah Clapham Common. Korban pembunuhan itu seorang lelaki tua. Kepalanya pecah dan tubuhnya tertembus oleh beberapa tusukan yang dalam. Ada lagi satu hal lagi yang membuat kejadian ini seperti pembunuhan yang misterius. Pada kedua belah pipi korban terdapat luka goresan — tidak begitu dalam — yang mirip dengan huruf ‘S’.

Dari penyelidikan, ternyata orang itu bernama Leon Beron, seorang Yahudi asal Rusia. Ia bertempat tinggal di sebuah perkampungan di East End, London. Kebangsaan si korban dan goresan-goresan pada pipinya membuat polisi curiga, jangan-jangan mereka berhadapan dengan kasus pembunuhan politis.

Mungkinkah pelakunya anggota sesuatu organisasi rahasia? Pertanyaan ini timbul di benak polisi mengingat ada revolusi gagal yang terjadi beberapa tahun yang lalu di Rusia. Banyak kaum revolusioner itu melarikan diri ke negara lain, termasuk Inggris. Di perantauan, mereka membentuk perkumpulan rahasia dengan disiplin yang ketat. Kalau seseorang anggota sampai berani mengkhianati organisasi atau mencoba meninggalkannya, kematian dengan kekerasan akan jadi hukumannya.

Latar belakang kehidupan korban diselidiki lebih lanjut. Sesuai dengan petunjuk berupa pakaian yang melekat pada tubuhnya — pakaian itu sederhana — cara hidup Leon Beron bersahaja.

la tinggal di sebuah kamar sederhana yang disewanya dengan harga 2 shillings 9 pence seminggu. Beron mempunyai tanah yang menghasilkan 10 shillings seminggu. Selain itu tiap minggu ia menerima 9 pence dari salah satu adiknya, ini mungkin semacam bunga atau cicilan pinjamannya.

Pemasukan dikurangi dengan pengeluaran untuk sewa rumah, masih sisa 8 shillings. Inilah anggaran untuk keperluan hidup sehari-hari. Biasanya Beron makan di restoran Yahudi di Whitechapel atau Stepney. 8 shillings memang sedikit. Tapi di masa itu, dengan anggaran sekian orang sudah bisa hidup asal hemat.

Tetapi Beron terkenal sebagai orang kaya di daerah tempat tinggalnya. Kata orang, lelaki itu selalu mengantongi uang £ 30 ke mana pun ia pergi. 30 pound adalah jumlah besar saat itu, termasuk di lingkungan tempat Beron tinggal. Mungkin uang itu hasil tabungannya selama bertahun-tahun. 

Kekayaan itu selalu dibawanya ke mana-mana. Barangkali karena Beron tidak percaya pada bank dan merasa kurang aman untuk menyimpannya di rumah. Sebaliknya, banyak orang di East End tidak akan berani keluar dengan mengantongi uang 30 pence, apalagi £ 30. Sebab London tahun 1911 terkenal sangat brutal dan tidak aman. Bahkan polisi tidak pernah sendirian menyusuri jalan di malam hari.

Penyelidikan sejauh ini ternyata membantah dugaan jika Leon Beron dibunuh karena latar belakang politis.

Beron tidak punya pekerjaan tertentu. Mungkin dia “mengobjek” sana sini, antara lain dengan meminjamkan uang kepada beberapa kenalan. Tentu saja selalu dengan bunga tinggi. 

Ada kemungkinan pula bahwa orang itu menjadi tukang tadah.

Selain itu, tersedia semacam profesi yang bisa memberi keuntungan lumayan di London bagi orang-orang seperti Beron. Di masa itu, Inggris menjadi tempat pelarian bagi banyak orang Yahudi korban pogrom (aksi penindasan) di Eropa Timur. Penindasan ini juga dialami oleh banyak kaum revolusioner yang gagal memberontak di negaranya.

Banyak di antara mereka masuk Inggris, khususnya London, secara ilegal. Mereka lantas menyelinap masuk ke pedesaan-pedesaan di pelosok. Tenggelam dalam hiruk pikuk rakyat jelata yang hidup di rumah-rumah jorok yang berdempetan dan tidak karuan susunannya. Kalau kepergok polisi, penduduk gelap semacam mereka dapat dengan mudah bisa menghilang lewat Iiku-liku perkampungan.

Kehidupan pendatang-pendatang di lingkungan yang asing tentu tidak mudah. Mereka sering kali memerlukan bantuan. Misalnya bila hendak menukarkan mata uang asing, menjual perhiasan untuk menyambung hidup, menulis surat dalam bahasa Inggris, mencari pondokan, atau mencari partner berdagang. Barangkali Beron pun hidup dari “profesi” memberikan bantuan untuk keperluan semacam itu kepada para pendatang asing.

Leon Beron mati terbunuh tidak di daerah tempat tinggalnya di East End, tapi di daerah lain. Ini menarik perhatian polisi.

Daerah East End memang bukan sebuah ghetto tertutup dalam arti yang sebenarnya. Sebab penduduk di situ bebas untuk pergi ke mana saja. Akan tetapi sebagian besar dari mereka telah terbiasa dengan adat generasi sebelumnya. Mereka lebih suka bergerak dalam batas-batas wilayahnya. Tidak keluar dari daerah itu kecuali jika memang benar-benar diperlukan perlu. Misalnya untuk urusan bisnis yang dapat diharap memberi keuntungannya lumayan.

Lalu, apakah gerangan yang menarik Leon Beron untuk meninggalkan lingkungan tempat tinggalnya dan menggunakan taksi sejauh Clapham.

Apa pun motif kepergian Leon Beron, yang pasti ia dihabisi oleh pembunuhnya. Dalam sakunya tersisa uang setengah penny saja. Dan jam berantai emasnya dirampas pula.

Pada masa itu rantai emas untuk pengikat jam dianggap lambang kedudukan sosial. Rantai dari logam mulia, yang membentang di atas perut penggunanya, merupakan bukti bahwa orang itu mampu menghidupi keluarganya secara berlebih. Tidak hidup dari tangan ke mulut, tapi mampu menyisihkan uang yang tidak sedikit jumlahnya, hanya untuk perhiasan yang fungsinya tak seberapa. Pada rantai jam itu biasa digantungkan mata uang atau berbagai medali, misalnya medali lambang prestasi olahraga, bintang Daud (lambang kaum Yahudi), dan sebagainya. 

Leon Beron juga menggantungkan benda-benda seperti itu pada rantai emasnya, di antaranya sebuah mata uang.

Segala petunjuk memberikan kesan bahwa kejahatan yang terjadi di malam tahun baru itu hanyalah peristiwa pembunuhan biasa dengan motif perampokan.  

Polisi beranggapan bahwa Beron naik taksi bersama-sama lelaki pembunuhnya sampai di tempat kejadian. Karena itu, mereka mengedarkan pengumuman lewat koran untuk menemukan sopir yang telah mengantarkan Beron dan temannya dari East End ke Clapham di malam tahun baru.

East End bukan hanya daerah tempat tinggal para pengungsi dari Eropa Timur. Selain mereka, masih ada dua golongan yang merupakan kelompok besar. Itu adalah buruh kasar yang bekerja keras dengan penghasilan yang sangat sedikit dan kaum penjahat.

Ketiga golongan masyarakat itu — para pendatang asing, kaum buruh dan kalangan penjahat — mempunyai pola hidup yang berlainan dan saling bertentangan. Tapi mereka kompak dalam satu hal. Ketiganya sama-sama benci dan takut polisi.

Maka polisi keheranan ketika pada suatu hari tiga orang penduduk East End datang melapor. Mereka menuturkan bahwa pada malam tahun baru melihat Leon Beron makan di restoran Yahudi langganannya. Baron sedang bersama dengan lelaki bernama Steinie Morrison saat itu. 

Bahwa seseorang dari kalangan masyarakat pelosok East End sampai melapor pada polisi, ini tampaknya suatu kasus yang istimewa.

Beron dan Morrison pasti sudah kenal satu sama lain. Terutama karena keduanya keturunan Yahudi dan berasal dari Eropa Timur. Morrison mempunyai masa lalu kriminal. Bahkan dia terkenal sebagai seorang jagoan. Mungkin Beron pernah atau sesekali mempunyai urusan dengannya.

Masyarakat pelosok East End rupanya memandang Beron sebagai “orang kita” sendiri. Dianggap merupakan bagian integral dari masyarakat itu dan harus dilindungi dari tindakan kekerasan. Kalau seseorang dirampok dan dibunuh, maka itu harus orang asing dan bukannya seseorang dari kalangan mereka sendiri.

Bukti-bukti yang meyakinkan belum ada. Tapi polisi merasa perlu membawa Morrison ke markas polisi di Leman Street. la ditanya tentang gerak-geriknya pada malam tahun baru. Polisi waktu itu tidak mengatakan bahwa interviu ini sehubungan dengan pembunuhan Leon Beron. Tapi meski belum diberitahu, ia mengatakan, “Ya, ya, saya tahu, saya ditahan karena tuduhan serius. Soal pembunuhan itu ‘kan?”

Ucapan ini kemudian mendorong polisi untuk mendesak Morrison agar mengaku. Di sisi lain, kata-kata Morrison tersebut sebenarnya tidaklah aneh. Sebab waktu itu sudah tanggal 6 Januari dan seluruh East End sudah tahu tentang pembunuhan Leon Beron. Hingga jika polisi memanggil seseorang, orang tersebut bisa mengira bahwa persoalannya menyangkut pembunuhan itu.

Tetapi Morrison punya alibi. Pada malam tahun baru, ia pergi ke Shoredith Music Hall lalu ke restoran. Di restoran itu ia melihat Beron. Namun saat itu Morrison tidak bicara dengannya. Ia hanya memberinya salam saja dari kejauhan dan menerima salam balasan. Tidak lama setelah lewat tengah malam, Morrison pulang dan tidak keluar lagi sampai keesokan harinya. Dia bisa mengajukan saksi-saksi tentang pernyataannya ini. Saksinya adalah suami istri induk semang, pemilik rumah tempat kediamannya. Mereka bersedia memberi kesaksian di bawah sumpah, katanya.

Orang yang terlihat bicara dengan Beron, pasti orang lain. Saksi mata itu tentu salah lihat, kata Morrison, yang mengaku berada di restoran hanya selama 5 menit. Waktu Morrison pergi, serulingnya tertinggal di restoran itu. Terpaksa ia kembali untuk mengambilnya.

Pelayan restoran yang menyerahkan kembali seruling itu kepada Morrison pun diinterviu. Ia menerangkan kepada polisi bahwa benda itu dibungkus dengan kertas berwarna cokelat, panjangnya kira-kira 60 cm dan lebarnya 2,5 cm. Benda yang terbungkus rapat itu begitu berat, seperti batangan besi saja.

Morrison, yang baru saja keluar dari penjara, sangat kekurangan uang. Tetapi setelah tanggal 1 Januari kantongnya menjadi tebal. Ia bisa membayar kembali semua utangnya, membeli setelan baru, dan makan minum dengan leluasa. Atas pertanyaan polisi, ia menyatakan baru saja menerima kiriman uang dari ibunya yang menetap di Rusia.

Saat ia memberi keterangan, sebuah mata uang emas tampak bergantung pada rantai jam Morrison. Saat ditanya soal uang tersebut, keterangan para saksi saling bertentangan. 

Seorang wanita yang mengenal Morrison maupun Beron, menyatakan bahwa uang tersebut sama dengan yang tergantung pada rantai milik Beron. “Saya bisa berkata begitu karena ayah saya juga mempunyai bandul mata uang emas serupa, yaitu mata uang 5 pound,” tambahnya.

Ketika diselidiki lebih Ianjut, ternyata milik ayah wanita tersebut berupa mata uang dua guinea sedangkan medali Beron adalah mata uang Kruger setengah sovereign. Dan medali baru pada rantai jam Morrison juga Kruger setengah sovereign. Keterangan ini memang suatu petunjuk tapi bukan bukti yang meyakinkan tentang pelaku kejahatan. Sebab Kruger setengah sovereign pada waktu itu lazim dipakai sebagai hiasan rantai jam.

Data-data yang diperoleh sejauh ini semata-mata baru berupa indikasi dan bukannya bukti. Polisi masih harus menunggu munculnya sopir taksi yang diharapkan bisa memberikan bukti. Dan memang mereka datang melapor. Dikatakan “mereka” sebab sopir itu berjumlah 3 orang.

Sopir pertama mengatakan, pada malam tahun baru, sekira jam 2 pagi ia membawa dua orang lelaki. Mereka menyetop taksinya pada persimpangan Jalan Whitechapel dan Jalan Commercial. Sopir mengatakan, kedua orang itu ia turunkan di Lavender Hill jam 02.40. Salah satu dari kedua lelaki itu adalah Morrison, tapi yang lain bukanlah Beron. Demikian sopir taksi itu menambahkan. 

Kesaksian sopir taksi pertama ini mengandung kelemahan. Sebab dia tentu sudah melihat gambar Steinie Morrison di koran. Ini bisa memengaruhi ingatannya sehingga wajah yang dilihatnya di tengah malam pun berubah menjadi wajah Morrison yang terpampang dalam surat kabar. 

Tidak lama setelah sopir pertama, muncul sopir kedua. Dia menyatakan mengangkut Steinie Morrison di Clapham Cross pada jam 02.30 pagi dan mengantarnya ke Kennington. Akhirnya sopir ketiga menerangkan bahwa ia membawa dua orang penumpang dari depan Gereja Kennington ke Jalan Seven Sisters.

Ada satu hal yang menonjol pada keterangan ketiga sopir itu. Itu adalah ketidakcocokan waktu dan sopir mungkin salah mengenali Morrison. 

Jika pernyataan ketiga sopir itu kita gabungkan menjadi satu, maka kita peroleh keterangan berikut.

Jam 2 pagi Morrison dan seorang lelaki (bukan Beron) naik taksi pertama dari Jalan Whitechapel ke Lavender Hill.

Morrison turun di tempat ini jam 02.40. Lantas jam 02.30 Morrison mengambil taksi di Clapham Cross (tentunya sesudah membunuh Leon Beron) dan pergi ke Kennington. Akhirnya dari depan gereja Kennington dia mengambil taksi lagi — yang ketiga — untuk pergi ke Jalan Seven Sisters.

Berjalan dari Lavender Hill ke tempat pembunuhan di Clapham memerlukan waktu. Jelas tak mungkin seseorang tiba di tempat pertama jam 02.40, berjalan ke tempat kedua dan disitu membunuh Beron, lalu jam 02.30 sudah mengundang taksi di Clapham Cross. Maka ada dua kemungkinan sopir taksi pertama salah sama sekali dalam penentuan waktu atau orang yang diangkut oleh taksi kedua di Clapham Cross itu bukan Morrison.

Ketidakcocokan kesaksian ini diteliti. Ternyata sopir taksi kedua tidak mempunyai jam. Keterangan waktu dia berikan hanya atas dasar perkiraan, bertolak dari jadwal lewatnya kereta api jam 01.30. Sopir kedua mengangkut orang yang dikenalinya sebagai Morrison, kira-kira 1 jam setelah kereta tersebut lewat. Kemampuan untuk memperkirakan waktu pada orang yang dalam pekerjaannya harus banyak menunggu kerap kali sangat tajam. Bisa memperkirakan waktu dengan selisih waktu 5 sampai 6 menit saja.

Setelah diteliti, ternyata keterangan sopir kedua itu tidak terlalu meleset. Sebab kereta jam 01.30 pada malam tahun baru mengalami perubahan jadwal. Kereta itu baru jalan 1 jam kemudian atau jam 02.30. Jadi saat sopir kedua mengangkut Morrison ialah kira-kira pukul 03.30. Dengan ini rekonstruksi waktu menjadi masuk akal.

Menurut keterangan sopir pertama, lelaki lain yang naik taksinya bersama Morrison itu bukanlah Beron. Siapa lelaki kedua ini? Mungkin sekali ia terlibat dalam pembunuhan bersama Morrison. Yang jelas, teori ini masuk akal. Sebab tusukan pada tubuh Beron sebetulnya tidak diperlukan. Sebab Beron pasti sudah meninggal akibat hantaman yang memecahkan tengkoraknya.

Akhirnya soal goresan yang mirip huruf S pada pipi korban. Goresan itu kiranya menunjuk pada balas dendam atau kebencian. Namun dalam sidang pengadilan hakim mengatakan bahwa orang yang merasa melihat huruf S pada pipi almarhum Beron itu terlalu berkhayal atau matanya lamur.

Bagaimanapun juga “pembunuh kedua” itu — jika dia memang ada — tidak pernah ditemukan.

Setelah mendapat keterangan dari ketiga sopir, polisi merasa mempunyai bukti-bukti yang cukup kuat untuk menangkap Steinie Morrison. la dihadapkan ke pengadilan pada tanggal 6 Maret 1911.

Sidang berlangsung selama 9 hari dalam suasana penuh hiruk pikuk. Antara lain karena masyarakat East End terpecah dalam dua golongan, mereka adalah kelompok yang pro Beron dan yang pro Morrison. Selain itu, banyak di antara para saksi tidak menguasai bahasa Inggris dengan baik. Bahkan ada beberapa yang sama sekali tidak bisa berbicara dengan bahasa Inggris. Dan Morrison sendiri kerap berteriak-teriak protes karena merasa telah menjadi korban diskriminasi ras dan agama.

Justru karena menghadapi seorang asing, pengadilan Inggris bertindak sangat hati-hati. Tuan Darling yang bertindak selaku hakim, berusaha memberi Morrison segala peluang untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah.

Perpecahan masyarakat East End menjadi golongan pro Morrison dan pro Beron cukup mengacaukan sidang. Seorang anak muda pernah menyatakan kepada polisi bahwa ia melihat Morrison membawa pistol. Tapi di depan pengadilan pemuda itu menarik kembali kesaksiannya. Itu karena, katanya, salah seorang saudara Beron mengancam akan membunuhnya jika ia tidak berbuat demikian. Padahal Morrison memang mempunyai sepucuk revolver yang pada tanggal 1 Januari 1911 ia simpan di tempat penitipan di stasiun.

Seorang saksi lain diancam dan kemudian dihajar habis-habisanan oleh 4 orang anggota geng yang pro Morrison. Keempat orang itu kemudian ditangkap dan diadili oleh Hakim Darling, 2 hari sebelum pengadilan Morrison dimulai. Mereka mengakui telah melakukan penganiayaan. Tapi, kata mereka, persoalannya adalah karena salah satu dari keempat orang itu mengganggu istri Morrison. Jadi perkelahian itu tak ada hubungannya dengan kasus Morrison. Tapi anehnya, mengapa peristiwa pemukulan ini terjadi justru terjadi menjelang tertuduh itu disidangkan?

Sebagian saksi-saksi memberikan keterangan palsu. Orang-orang asing dari kalangan sederhana itu mempunyai pengertian yang salah tentang pemberian bukti-bukti. Mereka beranggapan bahwa bukti-bukti dari pihak penuntut hanyalah hasil rekaan-rekaan. Maka mereka pun berusaha mengajukan bukti-bukti rekaan pula, sebagai tandingan untuk menunjukkan bahwa Morrison tak bersalah.

Kesaksian-kesaksian yang diajukan dari segi kedokteran singkat saja dan tidak yang istimewa.

Selanjutnya Morrison ditanyai tentang uang yang katanya berasal dari ibunya di Rusia. Hakim memberinya jalan untuk membuktikan pernyataannya ini. Apakah tertuduh bisa menunjukkan sepucuk surat dari ibunya, yang menyebutkan soal kiriman uang tersebut? Atau barangkali ada sebuah amplop pos tercatat? Uang kiriman itu tentunya dalam bentuk rubel, hingga harus ditukar dengan mata uang Inggris. Adakah Morrison mempunyai surat tanda bukti dari pedagang penukar uang? Tertuduh tidak mempunyai bukti-bukti sedikit pun.

Pernyataan Morrison dimanfaatkan baik-baik oleh jaksa. Itu adalah pernyataannya ketika didatangi polisi untuk pertama kali. Seperti dikatakan di atas, waktu itu Morrison berkata, “Ini tentu persoalan pembunuhan di malam tahun baru.” Padahal polisi belum menyebut-nyebut soal itu.

Morrison menyatakan bahwa polisi sebelum itu telah menyebut pembunuhan Beron. Akan tetapi selama proses Morrison berkali-kali ketahuan bohong hingga pernyataannya itu tidak mendapat tanggapan baik. 

Apalagi saksi-saksi dari anggota kepolisian satu per satu menyatakan bahwa polisi pada pertemuan pertama dengan Morrison sama sekali tidak menyebut-nyebut soal pembunuhan Leon Beron. Hanya seorang polisi muda usia membenarkan pernyataan Morrison. Ketika memberikan kesaksiannya itu, polisi itu gugup dan bercucuran keringat dinginnya. Hingga banyak orang mengira bahwa polisi yang satu ini telah disogok oleh kelompok pro Morrison.

Keterangan-keterangan yang diajukan oleh berbagai pihak, memang banyak yang simpang siur. Tapi tiga hal memberi kesan yang meyakinkan kepada para juri. Itu adalah keterangan para sopir taksi, kesaksian tentang seruling yang ternyata bukan seruling, dan kesaksian bahwa Steinie Morrison mendadak menjadi berduit beberapa hari setelah pembunuhan Leon Beron.

Selain itu, masih ada satu petunjuk lagi yang sampai kini belum disebutkan. Terdapat noda darah manusia di pakaian Morrison. Pembela mengemukakan, jika benar darah itu darah Beron, tak masuk akal bahwa Morrison tidak segera membersihkannya. Untuk itu tersedia waktu 6 hari, mengingat bahwa baru pada tanggal 6 Januari ia ditahan.

Penuntut di lain pihak menunjuk pada kenyataan bahwa orang-orang di pelosok East End sangat kesulitan air. Bak fasilitas untuk mandi sedikit sekali. Lebih sulit lagi kesempatan untuk cuci pakaian. Mengenai sulitnya air di East End, Hakim Darling menyaksikannya sendiri ketika beberapa waktu sebelum sidang ia mengunjungi daerah tersebut.

Juri hanya memerlukan waktu 35 menit untuk sampai pada keputusan “bersalah”. Mendengar putusan juri, Morrison meloncat dari tempat duduknya karena geram. Dengan Iantang ia berteriak bahwa ia tidak bersalah. Ia menerima uang £ 300 dari ibunya sebelum Leon Beron terbunuh. Ia tak perlu membunuh hanya karena ingin mendapatkan uang. Apakah keputusan dapat dirubah kalau ia berhasil membuktikan pernyataannya itu?

Tapi sebelum itu Steinie Morrison sudah diberi kesempatan untuk membuktikan kebenaran pernyataannya tentang uang itu. Maka permintaan ditolak dan ia dijatuhi hukuman mati.

Ketika mengucapkan pidatonya yang terakhir, Hakim Darling yang selama sidang senantiasa sangat berhati-hati menggarap perkara pembunuhan ini, tak lupa menunjuk pada kenisbian penyelidikan manusia. Katanya, “Juri sampai pada kesimpulan yang cocok dengan keseluruhan bukti-bukti yang memberatkan Anda dan rupanya ini adalah satu-satunya kesimpulan seperti terlihat oleh mereka.” Seolah-olah dengan kata-kata ini Hakim Darling hendak melepaskan diri dari tanggung jawab pemutusan perkara ini.

Setelah ada teori yang sensasional — yaitu seolah-olah pembunuhan ini berlatar belakang motif politik — peristiwa pembunuhan Leon Beron ini ternyata suatu perkara biasa. Itu adalah pembunuhan dengan motif perampokan. Secara teoritis, memang mungkin bahwa masih ada pembunuh kedua di samping Beron dan bahwa huruf S pada pipi korban benar-benar lambang suatu perkumpulan rahasia. Tapi kemungkinan itu sangat kecil sekali.

Hasil proses pengadilan ini diteruskan ke atas. Dan Menteri Dalam Negeri Winston Churchill merubah hukuman menjadi penjara seumur hidup. Steinie Morrison meninggal beberapa tahun kemudian di Parkhurst.

(Robin Squire)

Baca Juga: Yang Salah Polisi atau Ahli Nujum?

 

" ["url"]=> string(75) "https://plus.intisari.grid.id/read/553800315/pembunuhan-di-malam-tahun-baru" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1689083563000) } } [1]=> object(stdClass)#101 (6) { ["_index"]=> string(7) "article" ["_type"]=> string(4) "data" ["_id"]=> string(7) "3725983" ["_score"]=> NULL ["_source"]=> object(stdClass)#102 (9) { ["thumb_url"]=> string(111) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2023/04/06/perampok-dikira-pemain-filmjpg-20230406072101.jpg" ["author"]=> array(1) { [0]=> object(stdClass)#103 (7) { ["twitter"]=> string(0) "" ["profile"]=> string(0) "" ["facebook"]=> string(0) "" ["name"]=> string(5) "Ade S" ["photo"]=> string(54) "http://asset-a.grid.id/photo/2019/01/16/2423765631.png" ["id"]=> int(8011) ["email"]=> string(22) "ade.intisari@gmail.com" } } ["description"]=> string(143) "Di London tahun 70-an, perampokan bank merajalela. Polisi sempat kewalahan untuk menangkap sekelompok perampok yang seakan tidak tersentuh itu." ["section"]=> object(stdClass)#104 (8) { ["parent"]=> NULL ["name"]=> string(8) "Kriminal" ["show"]=> int(1) ["alias"]=> string(5) "crime" ["description"]=> string(0) "" ["id"]=> int(1369) ["keyword"]=> string(0) "" ["title"]=> string(24) "Intisari Plus - Kriminal" } ["photo_url"]=> string(111) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2023/04/06/perampok-dikira-pemain-filmjpg-20230406072101.jpg" ["title"]=> string(27) "Perampok Dikira Pemain Film" ["published_date"]=> string(19) "2023-04-06 19:21:13" ["content"]=> string(33836) "

Intisari Plus - Di London tahun 70-an, perampokan bank merajalela. Polisi sempat kewalahan untuk menangkap sekelompok perampok yang seakan tidak tersentuh itu.

----------

Suatu sore di bulan Maret 1969. Enam orang pria minum-minum di ruang dalam Cabin Club di Paddington, London. Seorang di antaranya ialah pemilik klub itu. Pria berumur 33 tahun itu bernama Derek Crichton Smalls, tetapi teman-temannya menyebutnya Bertie.

Lima orang lagi ialah Johnny Richards atau Vodka Johnny, Tony Edlin, Micky Green, Jimmy Jeffrey dan Lenny Jones. Mereka menunggu orang ketujuh. la datang mengenakan sweater polo dan jeans tambalan. Orangnya kurus, kepalanya hampir botak dan matanya berkedip-kedip senewen. Namanya Clem Eden, berumur 49 tahun.

Smalls memperkenalkannya kepada yang lain. Clem Eden petugas kebersihan dari Acme Cleaning Company yang dikontrak untuk membersihkan bank di no 63-66 Hatton Garden, E.C.1. setiap pagi. Pukul 06.30 ia sudah muncul di tempat tugasnya. Centeng tempat itu yang tinggal di tingkat atas akan turun mematikan alarm dan menyuruhnya masuk. Lalu Clem Eden dibiarkan sendirian membersihkan bank itu selama dua jam, yaitu sebelum pegawai-pegawai datang.

Walaupun sendirian, ia tidak bisa mencomot uang dan barang-barang berharga, sebab semuanya ditaruh di lemari-lemari besi yang terletak di ruang besi di basemen. Semuanya dilindungi sistem alarm yang sangat baik. Sedangkan lantai pertama merupakan ruang-ruang tempat administrasi.

Tadi pagi, pukul 06.30 Smalls pergi melihat-lihat ke bank milik Raw Bros Ltd itu. Ia mengenakan setelan bagus seperti yang dipakai orang-orang bisnis dari City of London. Clem membukakan pintu baginya lalu menunjukkan peti besi di belakang loket, ruang-ruang kerja yang masih kosong, basemen, alarm dsb. Sepuluh menit kemudian, Smalls sudah keluar lagi dari bank itu.

Clem berjanji akan memasukkan teman-teman Smalls supaya mereka bisa merampok bank.

 

Tukang pos terlambat datang

Clem juga memberi keterangan bahwa selain uang kontan, di bank itu disimpan pula perhiasan dan batu-batu berharga. “Wah, mendingan duit,” kata Micky Green. “Perhiasan cuma laku dijual seperempat dari nilainya.”

Dari Clem juga diketahui bahwa karyawan bank ada 14 orang. Mereka datang pukul 09.00, sedangkan tukang pos datang pukul 08.30.

“Kami datang besok,” kata Jeffrey. Rencananya Clem akan membiarkan pintu depan tidak terkunci.

“Masuk saja tenang-tenang,” pesan Clem. “Kalau ada orang melihat di jalan, mereka tidak akan tahu kemana tujuan kalian.” Di gedung bertingkat tujuh memang ada kantor-kantor lain.

“Kita perlu senjata,” kata Tony Edlin. “Saya akan mengajak Ronnie Dark. Ia memiliki beberapa buah. Micky, kau bisa mengatur kendaraan?” 

“Beres!”

Tanggal 26 Maret 1969 udara cerah tetapi dingin sekali. Kadang-kadang salju yang terbawa angin berjatuhan. Jalan masih sepi ketika sebuah Ford Cortina dan sebuah Corsair diparkir di tempat parkir strategis yang tidak jauh dari bank. Tidak ada orang yang menaruh perhatian pada kedua mobil itu maupun pada penumpang-penumpangnya. Kemudian datang mobil ketiga. Jumlah penumpang ketiga mobil itu enam orang. Dua orang menunggu di mobil. Empat orang lagi: Bertie Smalls, Tony Edlin, Jimmy Jeffrey dan Ronnie Dark masuk ke gedung tempat Clem Eden bekerja. Mereka tidak datang berempat sekaligus, tetapi seorang-seorang.

Mereka berkumpul di WC wanita. Clem Eden terus membersihkan lantai. Mereka menunggu kedatangan tukang pos. Tetapi ia tidak datang-datang. Padahal rencananya Clem akan pura-pura disergap setelah tukang pos pergi lagi, yaitu pada saat ia akan menutup pintu. Tiga pegawai bank malah datang lebih awal dari biasa. Untung ketiga-tiganya pria, jadi mereka tidak masuk ke WC wanita.

Perampok-perampok jadi tegang menghadapi keadaan yang di luar perhitungan. Jeffrey ingin cepat-cepat pergi saja, tetapi Tony Edlin yang selalu tenang dan Bertie Smalls ingin tetap menjalankan rencana semula.

Pukul 08.45 tukang pos baru datang. Clem Eden harus membukakan pintu, menerima surat- surat yang diantarkan dan menandatangani tanda terima. Ketika melewati WC wanita, ia mengetuk pintu.

Beberapa saat setelah tukang pos pergi, dua pria berkedok dan bersenjata mengiringinya ke WC.

Di sini sudah menunggu dua orang lain yang mengikatnya dan menyumbat mulutnya. Kurir bank dan dua karyawan lain disergap ketika sedang duduk menghadapi meja mereka. Tidak ada yang memberi perlawanan berarti karena Jeffrey dan Dark bersenjata. Mereka diikat dan disumbat. Setiap datang karyawan lain, ia ditodong di pintu. Kalau berteriak kepalanya dipukul. Mereka diserahkan kepada Edlin yang menodong mereka sementara perampok lain mengikat mereka dan menyumbat mulut mereka. Semua dikumpulkan di sebuah sudut.

Seorang karyawan wanita bereaksi cepat di pintu. Ia mencoba berbalik dan berlari keluar, tetapi Jeffrey menyeretnya dan menyumpal mulutnya.

 

Ada kunci A, ada kunci B 

Kini para perampok menunggu kedatangan kepala bagian administrasi. Clem Eden sudah menjelaskan rupa orang ini. Ketika ia datang, ia diseret ke tengah ruangan kantor dan dimintai kunci. Dua perampok yang menunggu di luar kini sudah menyusul masuk.

Sambil menyerahkan kunci, kepala administrasi itu berkata: “Kunci ini tak berguna tanpa Mr. Crafter.”

“Siapa itu si Crafter?” 

“Salah seorang karyawan administrasi. Saya cuma memegang kunci-kunci A. Demi keamanan, satu orang saja tidak bisa membuka lemari besi. Crafter memegang kunci-kunci B.” 

“Ayo tunjukkan, yang mana si Crafter?”

“Ia belum datang”. 

Perampok-perampok ini menunggu sambil diam-diam menyumpahi Clem Eden karena tidak mengetahui kunci A dan kunci B.

Crafter datang terlambat karena kereta api yang ditumpanginya terhalang salju. Sebelum ia datang, muncul seorang karyawan lagi dan dua nasabah. Mereka juga diamankan. Ketika Crafter tiba, sudah ada 18 pria dan seorang wanita terikat tangan dan kakinya di lantai. Mulut mereka tersumbat. Dua orang bersenjata menodong mereka. Dua perampok lagi menunggu di belakang pintu, bersiap-siap menyergap orang yang masuk.

Smalls dan Edlin menodong kepala administrasi dan Crafter ke tempat alarm di kaki tangga. Alarm dimatikan agar tidak berbunyi. Lalu mereka diharuskan membuka lemari-lemari besi. Smalls, Jeffrey dan Edlin menyapu isinya. Semuanya dimasukkan ke dalam dua tas kanvas. Sementara itu kawan-kawan mereka merobohkan tiga nasabah yang baru masuk.

Ternyata isi lemari-lemari besi itu lebih banyak daripada yang mereka perkirakan. Tas mereka sudah gembung. Jadi mereka mengambil dua tas ekstra milik karyawan. Sedangkan kaleng-kaleng tempat uang mereka kepit di ketiak.

Mereka mendorong kedua tawanan mereka ke dalam ruang besi lalu berlari ke teman-temannya yang menunggu dengan tegang.

“Ayo kita pergi!” ajak Smalls. “Bersikap biasa saja agar dikira nasabah.”

Di belakang pintu, dengan punggung ke arah tawanan, mereka mencopot kedok mereka keluar seorang demi seorang setenang mungkin. Di jalan lalu lintas sudah ramai. Bis-bis menyesaki jalan dan mobil-mobil berderet menunggu lampu hijau.

 

Kasir tidak berteriak

Kasir kepala, Cyril Preston, berhasil melepaskan ikatannya ketika perampok-perampok sedang menguras isi lemari besi. Begitu semua perampok keluar, ia berdiri dan bergegas ke pintu. Salahnya ia tidak berteriak, melainkan cuma mengamat-amati mobil yang dipakai kabur oleh perampok-perampok itu. Ia mengingat-ingat nomor dan warna mobil itu. Setelah itu cepat dinyalakannya alarm.

Di St. Cross Street seorang wanita petugas parkir sedang mengisi surat denda untuk sebuah mobil Cortina yang masih tetap berada di situ walaupun sudah melewati waktu parkirnya. Ketika itu pukul 09.23. Empat pria yang membawa dua tas gembung dan sebuah kotak timah datang terburu-buru. Hampir saja ia terlanggar. Mereka masuk ke mobil itu.

“Hei, tunggu dulu! Saya belum selesai menulis,” katanya ketika mobil itu akan pergi.

“Kirimkan saja suratnya kepada kami,” kata pengemudi. 

Setelah mendengar berita perampokan bank, wanita itu melapor tetapi sayang ia tidak bisa menggambarkan dengan jelas bagaimana rupa perampok-perampok ini. 

Di rumah Vodka Johnny di Finchley, perampok-perampok memeriksa hasil yang mereka peroleh. Di dalam kotak-kotak kaleng dijumpai uang kontan 16.000 ponsterling. Selain itu mereka mendapat intan, zamrud, mirah, safir, yang menurut Rally Bros bernilai 400.000 ponsterling. Kebanyakan berupa batu yang belum dipotong. Tidak ada dari permata itu yang ditemukan kembali.

Kendaraan yang dilihat oleh kasir kepala ditemukan dalam keadaan kosong di London utara 10 hari kemudian. Kendaraan yang nomornya dicatat petugas parkir ditemukan di tempat lain tetapi di London utara juga pada hari perampokan. Keduanya mobil curian.

Clem Eden, petugas pembersih bank diperiksa dan diperiksa lagi. Apalagi karena diketahui ia pernah berurusan dengan polisi. Tetapi ia bersikeras bahwa ia disergap di pintu dan diikat seperti yang lain. Tidak ada orang yang membantah hal ini. Jadi ia dilepaskan. Clem Eden mendapat upah 10 ribu pounsterling dari para perampok, tetapi ini baru diketahui polisi setelah ia menghilang entah ke mana.

 

Ketagihan merampok

Tepat seperti yang diramalkan oleh Micky Green, batu-batu permata yang mereka peroleh cuma menghasilkan uang 100 ribu ponsterling. Perampok-perampok ini lantas berlibur ke luar negeri, membeli mobil bagus, berjudi, minum minuman keras dan bergaul dengan wanita-wanita bayaran. Uang yang diperoleh dengan mudah, mudah pula mengalir keluar. Beberapa bulan kemudian, uang mereka menipis. Kini mereka ketagihan merampok bank. Jadi mereka beraksi lagi. Bukan cuma sekali, tetapi berkali-kali. Komplotan mereka tidak selalu sama anggotanya, tetapi bisa berganti-ganti. Sekali dua kali mereka gagal, tetapi umumnya berhasil.

Awal 1970 Criminal Investigation Department (CID) dan Scotland Yard menaruh perhatian pada Derek Crichton (Bertie) Smalls, yang sudah berkali-kali berurusan dengan polisi tetapi untuk perkara-perkara kelas teri. la tinggal dengan Diana Whates di Selsdon, Surrey. Walaupun tidak menikah resmi mereka mempunyai tiga orang anak. Mereka hidup agak lebih mewah daripada yang wajar bisa mereka peroleh. Tetapi Smalls selalu mempunyai alasan yang masuk di akal. Bukankah ia mempunyai klub di Paddington dan ia juga mengaku mempunyai usaha-usaha lain.

Bulan Agustus 1970 Ny. Smalls membawa anak-anaknya berlibur ke Bournemouth. Ia mengaku bernama Ny. Johns. Ia disertai dua orang pria, Danny Allpress yang memakai nama samaran Teale dan Donald Barrett. Allpress ini seorang penjual mobil berumur 20-an. Rumah dan mobilnya jauh lebih bagus daripada milik pemuda-pemuda sebaya.

Beberapa hari kemudian Bertie Smalls menyusul. Mereka piknik ke mana-mana, tetapi juga menemui seorang perampok aktif yang dikenal polisi, Robert King.

Tanggal 2 Februari 1971 pria bertopeng merampok Lloyds Bank di Pool Hill. Salah satu senjata penjahat meletus terlalu dini sehingga mereka cuma keburu menyambar 2.226 ponsterling. Mereka bisa kabur. Tetapi mobil yang mereka tinggalkan menuntun polisi ke alamat Ny. Smalls. Ia ditahan dengan tuduhan berkomplot melakukan perampokan. Daniel Teale (Allpress) tidak bisa ditemukan, sedangkan Smalls dijumpai sedang tenang-tenang berada di rumahnya di Selsdon. Ia menyangkal pergi ke Bournemouth dan polisi tidak bisa membuktikannya. Dua perampok lain: Barrett dan King, berhasil diseret ke pengadilan. Barrett dijatuhi hukuman 12 tahun penjara. King dan Ny. Smalls lolos dari hukuman. Mereka dinyatakan tidak bersalah.

Sementara itu perampokan bank terus terjadi dengan selang waktu yang singkat. Polisi seakan-akan mengejar bayangan yang tidak bisa disentuh. Padahal banyak di antara polisi ini yang jujur dan bekerja keras.

Tahun 1972 Scotland Yard menyimpulkan bahwa komplotan perampok bank ini mempunyai dua atau empat pemimpin. Mereka tidak membentuk grup tetap, biasanya beroperasi dengan bantuan orang dalam. Sebelum melakukan perampokan, mereka mengadakan pengamatan dulu selama berminggu-minggu.

Diketahui juga bahwa beberapa hari sebelum perampokan mereka akan mencuri dulu beberapa mobil: pick-up tertutup untuk melakukan perampokan dan sedan untuk melarikan diri. Hasil rampokan ditaruh dulu di satu tempat milik teman lain bersama senjata-senjata dan baru dibagi kalau keadaan sudah aman.

Scotland Yard mengawasi langganan-langganan polisi yang tiba-tiba jadi kaya atau mudah mengeluarkan uang banyak. Tetapi awal tahun 70-an itu kredit mudah didapat, uang “murah”, sehingga banyak orang bisa hidup lebih mewah daripada penghasilannya berkat pinjaman dari bank.

Selain itu diketahui pula perampok tidak mau memilih teman kelas teri yang mudah disuap polisi. Mereka mencari teman yang bisa diandalkan dan yang terlibat penuh. Orang yang tidak memenuhi standar tidak akan dipakai lagi dan ia diperingatkan agar jangan buka mulut. Kalau buka mulut tahu sendiri akibatnya.

 

Perampok dikira pemain film

Tanggal 22 Mei 1972, sesaat sebelum perampokan Westminster Bank di Palmers Green, Ny. Irene Harrington kembali ke kantornya setelah makan siang. Di Lightcliffe Road, ia melihat sebuah Ford diparkir. Empat penumpangnya berkacamata hitam dan berpakaian santai. Karena merasa aneh melihat empat penumpang berkacamata itu, ia mengira mereka sedang main film. Waktu ia melewati mobil itu seorang pria menyeberangi jalan dan membungkuk ke jendela mobil untuk berbicara dengan pengemudi.

Baru saja Ny. Harrington masuk ke kantornya, ia mendengar alarm berbunyi sehingga ia berlari lagi keluar. Di muka bank dilihatnya sebuah mobil kosong. Mobil itu Ford yang tadi dilihatnya di Lightcliffe Road. la melapor kepada polisi bahwa ia ingat wajah orang yang datang ke mobil untuk berbicara dengan pengemudi. Polisi mengundang Ny. Harrington ke Scotland Yard untuk melihat beberapa foto. Ia langsung menunjuk pada foto Derek Crichton Smalls.

Tiga hari sebelumnya seorang detektif pelabuhan udara melewati bank di Palmers Green. la melihat sebuah Jaguar merah berhenti. Dua penumpangnya masuk ke bank, keluar lagi lalu pergi dengan mobilnya. la curiga dan melaporkan peristiwa ini ke polisi. Dari nomor mobil diketahui bahwa Jaguar ini milik Smalls.

Tanggal 26 Mei 1972 Detektif Inspektur Fitzgerald datang ke rumah Smalls. Kata Ny. Smalls suaminya tidak ada di rumah. Rumah itu digeladah. Tidak ditemukan bukti yang bisa menunjukkan bahwa Smalls terlibat perampokan di Palmers Green.

Tiga hari kemudian Smalls menelepon polisi untuk bertanya mengapa polisi ingin bertemu dengannya. Polisi menjawab mereka ingin meminta bantuan Smalls dalam penyelidikan mengenai perampokan di Palmers Green. Smalls berjanji akan datang keesokan harinya dengan pengacaranya. Tetapi ia tidak muncul. Ia juga tidak pulang ke rumahnya. Istrinya menjawab ia tidak tahu suaminya pergi ke mana. Mungkin meninggalkan dia untuk selama-lamanya, katanya. Polisi menganggap ini tidak mungkin karena suami-istri ini dianggap saling menyayangi walaupun tidak menikah secara hukum. Lagi pula Smalls termasuk orang yang senang berada dekat keluarganya.

 

Polisi ganti taktik

Tanggal 10 Agustus 1972 Barclays Bank dirampok. 123.000 ponsterling uang kontan amblas. 

Scotland Yard mengadakan rapat. Semua chief superintendent (inspektur kepala) dan pimpinan-pimpinan dipanggil. Dalam dua tahun terakhir ini terjadi 58 kali perampokan besar yang menyebabkan kehilangan uang lebih dari 3 juta ponsterling, tetapi polisi cuma berhasil menahan setengah lusin pelaku penting.

Memang betul mereka sering menemukan orang yang dicurigai, tetapi orang-orang ini harus dilepaskan kembali karena tidak cukup bukti. Pokoknya Scotland Yard menghadapi kegagalan. Kini perampokan Barclays Bank di Wembley harus menjadi perampokan yang terakhir! Mereka mengganti sistem yang mereka pakai. Kini mereka membuat daftar nama bekas langganan polisi yang saat ini ada di luar penjara dan berpotensi melakukan kejahatan jenis ini.

Di antara nama-nama yang dianggap mempunyai potensi itu terdapat: 

Terkaan Scotland Yard benar. Brian Turner dan Bruce Brown termasuk perampok-perampok yang ikut menguras Barclays Bank di Wembley. Yang lain ialah: Bertie Smalls, Danny Allpress, Lenny Jones, Jimmy Wilkinson dan Brian Reynolds. Mereka dibantu karyawan bank itu, bernama Tony Holt.

Hasil rampokan mereka taruh dulu di rumah seorang wanita Jamaika bernama Maria Mercedes Dadd, yaitu pacar seorang teman mereka, Philip Morris, yang juga perampok.

Polisi memilih Brain Turner, Bruce Brown dan Bertie Smalls sebagai orang-orang yang mereka amat-amati. Mereka datang ke rumah Smalls di Selsdon ternyata Smalls belum kembali. Tetangga-tetangga sudah berbulan-bulan tidak melihatnya.

Turner didatangi di Heston. Kata orang-orang di sekitar tempat tinggalnya, ia sedang berlibur sendirian di Spanyol. Anak istrinya tidak diajak.

 

Gara-gara dua kunci yang tidak cocok 

Rumah Bruce Brown di Radlett didatangi juga. Tanggal 20 Agustus ia diketahui main golf. Brown ketua perkumpulan golf setempat. Suratnya kepada sekretaris perkumpulan diposkan di Heston tanggal 23 Agustus. Mobilnya juga ada di garasi. Tetapi rumahnya sepi. Kata tetangganya Ny. Brown dan anak-anaknya pergi berlibur ke Wales. Menurut Ny. Brown sebelum berangkat, suaminya akan menyusul beberapa hari lagi.

Polisi mengamat-amati rumah Brown yang terawat dan bagus. Detektif Inspektur Wilding merasa curiga. Tanggal 30 Agustus polisi mengepung tempat itu. Dengan membawa surat perintah penggeledahan, Wilding mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Ia meminta seorang tetangga menjadi saksi, lalu ia menjebol jendela belakang. Di dalam tidak ada orang. Tetapi ia belum puas. Polisi memeriksa juga loteng rumah. Bruce Brown ditemukan di belakang tangki air, memakai piama dan tampak gugup.

Ia menyangkal semua tuduhan. Rumah itu digeladah. Tidak ditemukan hal yang mencurigakan, kecuali di rencengan kuncinya terdapat dua kunci yang tidak cocok dengan lubang kunci manapun di rumah itu. Brown mengaku sudah lupa kunci apa ini. Memang banyak orang yang tidak segera membuang kunci-kunci yang sudah tidak berguna lagi. Tetapi Wilding masih penasaran. la ingat Brown ini ketua perkumpulan golf setempat. Jadi ia pergi ke gedung perkumpulan. Sebuah kunci cocok dengan kotak tempat Brown menyimpan alat-alat golfnya. Di dasar tas golfnya ditemukan sebuah kunci lain yang memakai label: “safe deposit”.

Di London Safe Deposit Company, Wilding membuka kotak deposit Brown. Di dalamnya ada uang kontan 14.940 ponsterling. Di antaranya ada yang diberi tanda oleh kasir-kasir Barclays Bank.

Scotland Yard jadi terbangkit semangatnya. Tetapi ini baru langkah permulaan. Tidak diketahui apakah Brown ini organisator perampokan ataukah salah seorang kakapnya atau mungkin cuma teri saja. Sesuai dengan saran pengacaranya, Brown tutup mulut.

 

Mercedes mengaku ikut merampok 

Polisi menyusun “Wembley Bank Squad”, pasukan yang terdiri dari 30 orang. Mereka mempelajari kembali setiap perampokan yang terjadi pada tahun terakhir. Mereka memperhatikan kesamaan gaya, lokasi, acara perampokan dan sebagainya. Setiap penjahat yang dicurigai kini diawasi. Mereka juga mendapat peralatan modern: helikopter dan teropong yang kuat. Mereka mempergunakan foto-foto dan alat perekam suara.

Kecurigaan polisi jatuh pada Maria Mercedes Dadd. Ia pernah tampak bersama salah seorang tersangka. Ketika apartemennya digeledah, ditemukan kantong uang seperti yang dipergunakan waktu merampok, gelang-gelang karet pengikat uang dan sebuah radio mahal yang gelombangnya disetel polisi pada gelombang radio.

Maria Mercedes Dadd mengaku ikut ambil bagian dalam perampokan tetapi tidak mau menyebut nama kawan-kawannya. Sementara itu ipar Bruce Brown sudah ditangkap karena menyimpan barang rampokan.

Forensik mengungkapkan lebih banyak bukti. Debu dan sampel lain dari rumah Bruce Brown ternyata cocok dengan yang didapat dari pick up yang dipakai merampok dan juga dengan debu dan sampel lain yang didapat di bank pada tanggal 10 Agustus 1972.

Turner dan Smalls dicari dengan bantuan Interpol. Diduga mereka kabur ke luar negeri. Bertie Smalls yang tadinya dianggap kurang penting kini diperkirakan sedikitnya sudah ikut dalam enam perampokan.

Koran-koran membuat foto Turner dan berita tentang dirinya. Ternyata seperti Brown, ia juga dianggap orang baik-baik oleh tetangga-tetangganya.

Empat bulan berlalu. Kedua buruan ini belum berhasil diketahui jejaknya. Diduga sudah kembali ke Inggis dan memakai nama palsu.

 

Ia baru turun dari ranjang 

Polisi menghubungi siapa saja yang kira-kira tahu tentang Smalls. Smalls pernah mempunyai pengasuh anak-anak. Gadis ini berhasil dicari polisi. Sudah bertahun-tahun ia tidak bertemu Smalls. Tetapi ia mendengar dari temannya dan temannya itu mendengar dari teman pula, bahwa Smalls kini menyembunyikan diri di rumah saudaranya, Kelvin Smalls di Rushden, Northamptonshire.

Tanggal 23 Desember 1972 pagi polisi setempat dan beberapa detektif dari Scotland Yard mengurung rumah Kevin Smalls. Dari jendela tampak pohon Natal dan ruangan yang sudah dihias. Bertie Smalls ditemukan baru turun dari ranjang. Mula-mula ia mengaku bernama Bluff. Tetapi polisi tidak berhasil dikibuli.

Dalam perjalanan ke London, Smalls menawarkan kesediaannya membantu polisi dengan memberi keterangan lengkap mengenai perampok-perampok bank. Tetapi sebagai imbalan ia minta dibebaskan. Polisi memperingatkan: ia bisa dibunuh komplotan perampok. Tetapi Smalls menjawab: “Saya akan pergi tanpa mereka bisa mencari jejak saya.”

Polisi jadi bingung. Kalau menerima tawaran Smalls, maka mereka akan bisa menggulung komplotan yang sulit sekali dibongkar ini. Tetapi apakah Smalls pantas dibiarkan bebas? Akhirnya polisi menerima tawaran Smalls, demi kepentingan umum. Tetapi dengan syarat: kalau Smalls ternyata ketahuan pernah membunuh, ia tidak jadi dibebaskan. Kontrak ditandatangani bulan Maret 1973.

Smalls memberi keterangan lengkap. Tentu tidak semua keterangannya dipercaya polisi begitu saja, tetapi dicek dulu. Ternyata hasil keterangan ini menakjubkan. Polisi pun bergerak dengan cepat sekali. Dalam waktu singkat 17 perampok kelas tinggi disekap di penjara Brixton di Lambeth. Sembilan lagi dikenakan tahanan luar dengan uang jaminan. Tetapi penjara itu kurang ketat penjagaannya.

 

Sipir ditodong pisau sabun

Tanggal 30 Mei 1973 dua mobil Ford Escort sewaan diparkir ± 1,5 km dari penjara. Keduanya ditinggalkan dengan kunci tetap tertancap dan tanki bensin penuh. Setirnya ditutupi dengan koran supaya mudah dikenali.

Pukul 10 pagi sebuah Ford Transit sewaan ditinggal di Lyham Road, tidak jauh dari gerbang penjara. Pukul 10.30 sebuah truk sampah seperti biasa diperkenankan masuk dari pintu belakang penjara lalu petugas-petugasnya mulai melakukan pekerjaan mereka. Pukul 10.50 seorang sipir ditodong sehingga menyerahkan kunci kepada Bruce Brown, Philip Marris dan seorang lain. Padahal pistol yang dipakai menodong dibuat dari sabun, dihitamkan dengan semir sepatu dan diberi kertas timah. Bukan cuma perampok-perampok yang kabur tetapi juga banyak penghuni lain. Mereka berebut naik ke truk sampah yang direbut perampok dari petugas kebersihan. Truk itu ditubrukkan ke gerbang kayu sampai terbuka. Sementara itu alarm meraung-raung. Mereka dikejar penjaga-penjaga penjara ketika berlari meninggalkan truk ke Lyham Road. Terjadi baku hantam. Brown dan teman-temannya kabur ke arah mobil yang disediakan oleh teman-teman mereka. Mereka dikejar polisi dengan anjing dan helikopter. Akhirnya semua tertangkap kembali, kecuali dua orang (yang tidak termasuk komplotan mereka). 12 penjaga penjara luka-luka dan Brown masuk ke rumah sakit karena diperkirakan tengkoraknya retak. Polisi merahasiakan nama rumah sakit itu karena khawatir teman-temannya akan menyerbu ke sana.

Tanggal 29 Juni 1973 Maria Mercedes Dadd dijatuhi hukuman 12 bulan penjara di Old Bailey. Tanggal 12 Juli Bertie Smalls muncul sebentar di Old Bailey untuk dinyatakan bebas. la dikata-katai dan diteriaki serta diancam 26 perampok bank yang hari itu digiring ke sana.

Penjagaan terhadap Smalls ketat. Inspektur-inspektur dikuntit oleh kawan-kawan penjahat untuk mengetahui di mana Smalls tinggal. Mereka juga dicoba untuk disuap dengan jumlah uang besar sekali dan bahkan diancam. Tetapi iman mereka teguh.

 

Teman main bridge yang kampungan 

Interpol masih belum berhasil menemukan jejak Brian Turner yang merupakan salah seorang pemimpin perampok. Ketika itu di dekat Malaga di Spanyol, ada istri seorang perwira purnawirawan Inggris yang senang sekali bermain bridge di klub El Candado. Pada bulan-bulan terakhir ini pasangan mainnya seorang pria bernama Barry Thomas yang berumur 30-an. Pakaian pria ini kampungan dan aksennya pun menunjukkan ia bukan berasal dari sekolah yang baik. Tetapi ia pemain bridge kelas satu dan partner main yang menyenangkan. Artinya yang tidak marah-marah kalau kalah.

Wanita itu, Ny. Jean Mathers agak heran juga mengetahui pria itu tidak bekerja. Ia terlalu muda untuk menjadi pensiunan. Suatu kali, dalam percakapan pria itu menyebut “Folly Close”, dua kata yang mengingatkan Ny. Mathers pada berita-berita di koran awal tahun ini, yaitu mengenai pria yang sedang dicari-cari Scotland Yard. Keesokan harinya ia menelpon Scotland Yard di Inggris.

Kebetulan ada dua petugas CID dari Scotland Yard yang sedang berada di Malaga. Mereka sedang membujuk petugas-petugas Spanyol untuk mengekstradisi seorang lain yang melakukan kejahatan di Inggris.

Kedua petugas ini ditelepon Scotland Yard dari Inggris. Mereka diminta menghubungi Ny. Mathers. Malam itu petugas-petugas ini datang ke El Candado ditemani 3 polisi Spanyol yang bersenjata. Mereka bersembunyi. Pemilik klub diminta menutup pintu-pintu belakang. Barry Thomas datang membawa seorang wanita muda. la ditahan. Ia memakai paspor Australia palsu.

Gembong lain, Tony Edlin, tertangkap di Glasgow. Di kota ini ia hidup sebagai orang baik-baik dengan nama samaran Weaver. Ia bertetangga dengan kepala polisi kota itu.

Sementara itu Bertie Smalls hidup berpindah-pindah untuk menghindari balas dendam dari rekan-rekan yang ia khianati. Ia digaji 25 pon seminggu oleh polisi. Anak-anaknya bersekolah dengan dikawal polisi. Diana Smalls hampir tidak tahan hidup dalam ketegangan.

 

Prestise Scotland Yard naik 

Pada saat itu jumlah perampok bank yang sudah ditahan ternyata lebih dari 150 orang. Selain Brown, Turner dan Edlin juga Wilkinson, Allpress, Reynolds, Holt, Morris, Jeffrey, Green, Richards, Jones, King, Dark dan perantara penadah permata bernama Kozak.

Bertie Smalls muncul sebagai saksi di pengadilan. Bruce Brown dan Brian Turner mendapat hukuman 21 tahun penjara. Philips Morris mendapat 20 tahun ditambah 17 tahun karena menyebabkan kematian seorang tukang susu. Jimmy Wilkinson dan Daniel Allpress mendapat 16 tahun penjara (Allpress masih mendapat tambahan lagi), Brian Reynolds 13 tahun, Anthony Holt (karyawan bank Barclays) 5 tahun. Sisanya juga mendapat hukuman sesuai dengan kesalahan masing-masing.

Bertie Smalls yang mungkin mempunyai simpanan di luar negeri kemudian menghilang bersama keluarganya. Polisi menduga, sebagai orang yang tidak pernah bekerja lurus tetapi biasa hidup enak tentu uang simpanannya akan habis. Setelah itu apa yang akan dilakukannya? Mereka khawatir ia akan kembali lagi ke jalan yang lama.

Kini Scotland Yard memiliki pasukan khusus untuk memerangi perampokan bank. Anggotanya 200 orang, paling besar di Eropa. Mereka dilengkapi dengan teknik modern.

Di London dan daerah sekitarnya perampokan bank melonjak sampai 65 kali dalam tahun 1972 saja. Pada tahun 1976 merosot menjadi 28 kali. Prestise Scotland Yard naik lagi.

(Great Cases of Scotland Yard)

Baca Juga: Horor di Mount Vernon

 

" ["url"]=> string(72) "https://plus.intisari.grid.id/read/553725983/perampok-dikira-pemain-film" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1680808873000) } } [2]=> object(stdClass)#105 (6) { ["_index"]=> string(7) "article" ["_type"]=> string(4) "data" ["_id"]=> string(7) "3457056" ["_score"]=> NULL ["_source"]=> object(stdClass)#106 (9) { ["thumb_url"]=> string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2022/09/05/gelang-emas-berinisial-h_ajit-si-20220905032943.jpg" ["author"]=> array(1) { [0]=> object(stdClass)#107 (7) { ["twitter"]=> string(0) "" ["profile"]=> string(0) "" ["facebook"]=> string(0) "" ["name"]=> string(13) "Intisari Plus" ["photo"]=> string(0) "" ["id"]=> int(9347) ["email"]=> string(22) "plusintisari@gmail.com" } } ["description"]=> string(150) "Saat berada bersama istrinya, dua orang muncul dari semak-semak dan membunuh Robert. Saksi mata hanya sang istri. Namun polisi merasa ada kejanggalan." ["section"]=> object(stdClass)#108 (7) { ["parent"]=> NULL ["name"]=> string(8) "Kriminal" ["description"]=> string(0) "" ["alias"]=> string(5) "crime" ["id"]=> int(1369) ["keyword"]=> string(0) "" ["title"]=> string(24) "Intisari Plus - Kriminal" } ["photo_url"]=> string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2022/09/05/gelang-emas-berinisial-h_ajit-si-20220905032943.jpg" ["title"]=> string(24) "Gelang Emas Berinisial H" ["published_date"]=> string(19) "2022-09-05 15:30:01" ["content"]=> string(24771) "

Intisari Plus - Saat berada di hutan bersama istrinya, dua orang muncul dari semak-semak dan membunuh Robert. Saksi mata hanya sang istri. Namun polisi merasa ada kejanggalan dari kesaksiannya.

-------------------

Tanggal 5 September 1992 malam, pasangan setengah baya Robert dan Sandra Wignall bergandengan mesra menuju Hutan Sayes, dekat rumah mereka di Addlestone, Surrey, pinggiran Kota London. Sebagai penderita asma kronis yang tak mampu memenuhi kebutuhan seksual istrinya, Robert berusaha menunjukkan perhatian lebih terhadap Sandra, dengan mengajaknya melakukan hal-hal romantis bersama-sama. Seperti malam itu, mereka bersama-sama memberi makan anak serigala di hutan.

Pikir Robert, Sandra pasti juga menikmati suasana romantis itu. la sama sekali tak tahu, segenap perhatian dan kebaikan itu terasa membosankan bagi sang istri. Yang dirindukan Sandra hanyalah dekapan lelaki sejati dan hubungan intim “normal” layaknya suami-istri, bukannya memberi makan anak serigala. Tapi apa boleh buat, malam itu Sandra rela pura-pura bergembira. la tetap setia menemani suami yang baru dinikahinya sembilan bulan silam.

Ketika “hasrat” itu datang, ia lantas menghampiri Robert dan melakukan pelayanan oral seks terhadap Bob - panggilan akrab Robert. Dibuai kenikmatan, kewaspadaan Bob berkurang. Ia sama sekali tak menyadari ketika tiba-tiba muncul dua orang dari balik semak-semak, yang tanpa alasan jelas tiba-tiba menyerangnya.

Tanpa belas kasihan, mereka menghantam kepala Bob. Bob yang sempat limbung masih mencoba memberikan perlawanan, menghasilkan pergumulan hebat. Tapi apalah daya Bob, pertarungan tak seimbang itu akhirnya terhenti setelah lelaki paruh baya itu menerima tiga tusukan, dua di antaranya di jantung. Malam itu juga, Bob Wignall tewas. Dalam pergumulan, salah seorang penyerang sempat kehilangan gelang emasnya.

Sandra Wignall kemudian menelepon polisi. Sambil menangis histeris, ia menceritakan peristiwa yang baru saja terjadi. Polisi yang tiba di lokasi tak lama kemudian berusaha menenangkan Sandra, sambil mengumpulkan informasi tentang para penyerang. “Jumlah mereka tiga orang,” sebut Sandra, meski belakangan ia mengaku tak terlalu yakin jumlahnya segitu. Maklum, malam begitu gelap.

Siapa orang asing yang tega menghabisi nyawa Bob? Setelah mengumpulkan fakta seputar peristiwa pembunuhan dan latar belakang korban berikut istrinya, untuk sementara polisi menduga motifnya mungkin saja dilatarbelakangi rasa cemburu! Rasa cemburu mantan pacar Sandra misalnya.

 

Sayang untuk dilepaskan 

Sebuah asumsi yang masuk akal. Bukankah sebelum memutuskan menerima pinangan Bob (suami pertama Sandra meninggal pada 1985), Sandra masih punya pacar? Lebih “meyakinkan”, pacarnya ternyata seorang mantan narapidana yang pernah melakukan pembunuhan pada 1971, dan telah menjalani hukuman penjara selama 11 tahun. Sebelum bertemu Bob, teman pria inilah tempat Sandra berbagi kegembiraan dan berbagi hati.

Kekasih berusia enam tahun lebih muda itu berprofesi sebagai sopir, tinggal di Ruislip, London Barat. Bertubuh pendek, gemuk, botak, dan berkacamata, Terence Bewley (42) - begitu namanya, sukses membuat Sandra termehek-mehek. Mereka sama-sama maniak seks yang senang bercinta di sembarang tempat. Sandra bahkan pernah diminta datang menemui Terrence - biasa dipanggil Terry - tanpa mengenakan apa-apa kecuali mantel bulu.

Sebelum bertemu Terry, Sandra pernah memiliki beberapa orang kekasih. Namun entah mengapa, secara seksual ia sangat terobsesi pada Terry. Barangkali karena pria ini tahu benar apa yang diinginkan Sandra di ranjang. Masih berstatus pacaran dengan Terry, Sandra bertemu Robert Wignall, pelukis sekaligus dekorator pada 1990. Bob sendiri saat itu berusia 55 tahun dan masih dalam suasana berduka atas kematian Rose, istrinya yang meninggal karena kanker setahun silam.

Bob yang hobi mengajak jalan-jalan anjingnya di hutan dekat rumahnya di Addlestone pada suatu hari bertemu Sandra Quartermaine, yang juga sedang melatih anjingnya di tempat yang sama. Di usia 40- an, penampilan Sandra masih tampak menarik. Dari saling pandang, mereka kemudian saling sapa, kemudian mengobrol. Pertemuan-pertemuan berikutnya membuat cinta di antara mereka kian bersemi.

Saat itu, Sandra masih bekerja sebagai pelayan bar di Virginia Water. Kepada seorang rekan pelayan, Sandra pernah curhat soal birahinya pada Terry. Sandra bahkan tak sungkan-sungkan memperlihatkan foto-foto dirinya dalam keadaan setengah telanjang yang diambil Terry di mobil Rolls-Roycenya. Namun di kesempatan lain, Sandra juga menyinggung soal Bob Wignall yang ingin menikahinya. Saat si teman menggugat, “Kalau kamu menikah dengan Bob, bagaimana dengan Terry?” Sandra hanya menjawab enteng, “Aku tetap mencintainya, tetapi rasanya terlalu sayang untuk melepaskan (kesempatan menikahi) Bob.” 

Itu sebabnya, setelah hubungannya dengan Terry bermasalah, mungkin karena kecewa, Sandra menemui Bob di rumahnya. Di rumah Bob, mereka melakukan hubungan intim. Di situlah Sandra tahu, kegarangan Bob yang penderita asma tak sebanding dengan sepak terjang Terry di atas ranjang. Namun Sandra telah merancang siasat agar Bob jatuh ke dalam pelukannya. Alasannya sederhana, Bob punya uang dan bisa memberikan jaminan masa depan.

Pada Agustus 1991, setahun lebih sedikit setelah pertemuan pertama mereka, Robert Wignall akhirnya pindah ke rumah Sandra di Rowhurst Avenue, Addlestone. Meski sudah dikaruniai tiga anak dan lima cucu dari istri pertamanya, rasa kesepian Bob rupanya tetap tak berpenawar. Persis pada malam Natal 1991, ia resmi menikahi Sandra.

Sayangnya, hanya sembilan hari setelah pernikahan itu, Terry Bewley tiba-tiba nongol lagi dalam kehidupan Sandra. Cinta (terlarang) mereka bersemi kembali. Seorang teman Sandra sempat menasehatinya agar menghormati Bob sebagai suami, dan berhenti menemui Terry. Tapi lagi-lagi dengan enteng Sandra menukas, “Aku tidak bisa. Betul-betul tidak bisa.” Sandra yang telah diperbudak birahi tidak pernah bisa jauh dari Terry.

 

Muncul di televisi

Anehnya, reka peristiwa pembunuhan Bob yang dijabarkan Sandra kepada polisi maupun awam berbeda dengan versi aslinya. Kepada polisi, Sandra menuturkan, ia dan suaminya sedang memberi makan anak serigala di hutan. Ketika tiba-tiba datang tiga orang pemuda, menanyakan apakah keduanya melihat seekor anjing boxer yang tersesat. Namun, tanpa alasan jelas, para pemuda itu tiba-tiba berbalik dan menyerang Bob. Salah seorang di antaranya memegang pisau.

Masih menurut Sandra, Bob berteriak padanya agar lari dan bersembunyi. Sandra yang ketakutan menuruti. Di tempat persembunyian itulah ia mendengar teriakan kesakitan Bob. Saat mencoba kembali ke lokasi suaminya, ia berpapasan dengan tiga pemuda (dia tidak yakin, apakah sama dengan tiga pemuda yang menyerang suaminya). Sandra bertanya apakah mereka membunuh suaminya, yang dijawab tegas, “Tidak!” Tiga pemuda itu, kata Sandra, yang kemudian membantunya mengurus mayat Bob.

Hari demi hari berlalu, misteri terbunuhnya Bob belum jua menemui titik terang. Di bulan yang sama, Sandra muncul di acara “Crime Monthly” di sebuah stasiun televisi. Disaksikan ribuan pemirsa, kasus terbunuhnya Bob diceritakan ulang oleh sang janda. Dengan nada memelas, Sandra yang diwawancarai mewakili korban, memohon para saksi mata yang sempat melihat pembunuhan suaminya muncul, agar pembunuh brutal itu dapat segera ditangkap.

Beberapa lama, cerita versi Sandra itu menjadi “cerita resmi” kasus terbunuhnya Bob. Cerita itu pula yang dipercaya para detektif, meski para penyidik mencatat beberapa ketidakkonsistenan di dalamnya. Misalnya, mengapa korban ditemukan dengan ritsleting celana terbuka? Atau, mengapa para pembunuh misterius itu tidak sekalian menyerang Sandra? Para pembunuh itu bahkan sama sekali tak merampoknya. Agak aneh bin ajaib.

Hingga detik ini, polisi masih berpegang teguh pada asumsi: para pembunuh adalah pria-pria dari masa lalu Sandra yang termotivasi rasa cemburu. Keyakinan itu makin menguat ketika mereka mulai menggali latar belakang mantan kekasih Sandra, dan ketika mereka menemukan nama Terence Bewley di dalamnya, mereka tahu ada di jalur yang benar.

Adalah fakta, Terry mantan pembunuh. Terry juga sudah bercerai dan terjerat utang dalam jumlah besar. Ia sudah menganggur selama tujuh bulan, dan memiliki tunggakan gadaian sebesar £ 15.000. Jumlah total utangnya hampir mencapai £ 90.000. Berdasarkan informasi yang diterima polisi, untuk meringankan beban kekasihnya itu, Sandra Wignall konon pernah meminjaminya £ 4.000. Lebih gila lagi, Sandra bahkan pernah mempertimbangkan menjual rumahnya agar Terry selamat dari masalah finansial.

Polisi makin curiga, karena masih basah kuburan Bob, persisnya dua hari setelah pembunuhan terjadi, Sandra Wignall sudah menghubungi pihak asuransi suaminya. la minta pembayaran hak atas kematian Bob sebesar £ 21.000 disegerakan.

Fakta lain, tiga orang pemuda yang diklaim Sandra Wignall ditemuinya di hutan ternyata memang benar-benar ada. Tapi ketiganya punya keterangan meyakinkan atas ketidakterlibatan mereka. Yang menarik, mereka punya informasi tambahan: saat itu mereka melihat keberadaan dua orang pria lain, yang tingkahnya mencurigakan di sekitar lokasi pembunuhan. Ketika dipergoki, keduanya langsung menghilang.

Petunjuk lain ditemukan di pakaian Bob Wignall. Di dalam pakaian korban ditemukan gelang emas berinsial “H”. Ketika kasus ini ditayangkan di acara “Crime Monthly”, dengan rekonstruksi kejadian disajikan secara lengkap, para pemirsa diminta untuk menelepon jika mempunyai informasi terkait. Nah, dari sinilah fakta-fakta baru yang mengejutkan bermunculan.

 

Pisau dapur hilang

Info paling penting datang dari seorang penelepon misterius - sebut saja Mr. X - yang menegaskan, polisi hanya perlu mencari dua orang penyerang, bukan tiga seperti dibilang Sandra. Mr. X juga mengisyaratkan keterlibatan Ny. Wignall dalam pembunuhan suaminya. Inspektur Pat Crossan yang menangani kasus pembunuhan ini kemudian menindaklanjuti keterangan Mr. X, yang ternyata kenal baik dengan Terry.

Pat Crossan, dengan rasa ingin tahu yang sangat besar, terus menggali informasi dari Mr. X yang tinggal di Ruislip itu. Terungkap, pada 4 September Mr. X merayakan pesta ulang tahunnya yang ke-21. Di antara para tamu yang hadir tampak seorang pria asing, konon teman Terry saat di penjara dulu. Orang itu bertato dan bicaranya kasar. Malam itu Mr. X sempat mendengar omongan si lelaki bertato yang hendak mencelakai Bob Wignall. Sebilah pisau bahkan hilang dari dapur.

“Masih ingat namanya?” tanya Crossan. 

“Seperti Harry, apa ya?” Mr. X agak lupa. 

Harry? Bukankah inisial yang ada di gelang emas itu “H”? Ada hubungannyakah? Pat bertanya dalam hati. Pat bertindak cepat dengan mengamati lebih teliti teman-teman Terry, sampai akhirnya ia menemukan satu nama yang cocok: Harry Moult (42 tahun) asal Ladywood, Birmingham.

Sementara itu, Sandra Wignall yang ditanyai sekali lagi perihal pembunuhan suaminya terus membuat bingung para detektif. Sangat sulit untuk mendapatkan fakta yang bisa dipercaya, karena cerita Sandra kerap berubah-ubah dan kadang saling bertentangan. Misalnya ia mengaku kehilangan kontak dengan Terry dan tidak pernah bertemu dengannya lagi sejak Maret 1991. Padahal penelusuran terhadap nomor telepon keduanya menunjukkan, banyak bukti komunikasi tercatat di bulan sebelum kematian Wignall.

Beruntung, Pat Crossan bukanlah polisi bau kencur. Aksi cuci tangan Sandra di televisi tak membuat lelaki lulusan FBI Academy yang sudah menghabiskan waktu lebih dari 20 tahun di Kepolisian Surrey itu silau. Pat menduga, sepanjang hidupnya, Sandra Wignall telah memanfaatkan banyak pria untuk mengisi kebutuhan seksnya. Hal itu yang membuat jalan hidupnya rumit. 

Pat mencium kemungkinan Sandra berbohong dan memanfaatkan acara teve untuk cuci tangan, mengesankan dirinya tidak bersalah. Pat juga percaya, Sandralah otak di balik semua ini. la telah merencanakan semuanya. Motifnya mudah ditebak, ia melakukan semua itu demi uang asuransi jiwa, dan demi pacar gelapnya yang tengah terjerat utang.

Puzzle pembunuhan Bob masih harus dilengkapi dengan bukti-bukti yang menguatkan. Namun Pat yakin, Sandralah sebenarnya si pembunuh berdarah dingin, yang penuh perhitungan, dan tanpa belas kasihan itu.

 

Sekadar iseng-iseng 

Untuk kesekian kali, Sandra dibawa ke kantor polisi untuk diinterogasi. Kali ini sebagai calon tersangka. Kedatangannya tidak sendiri. Terry dan Harry pun ikut diciduk. Untuk sesaat, ketiganya mencoba tutup mulut, menolak untuk menjawab pertanyaan apa pun. Sampai suatu ketika, mungkin lantaran tak tahan menahan tekanan, Harry minta waktu bertemu dengan detektif Pat Crossan. 

“Aku ingin melepaskan sesuatu dari dadaku. Anda tahu catatan kejahatanku, aku seorang pencuri, bukan seorang yang kejam,” suara Moult tertatih-tatih.

Harry mengaku, ia memang direkrut oleh Terry untuk ikut ambil bagian dalam aksi penyerangan terhadap Bob. Namun ia mendapat bagian pekerjaan paling “mudah”, yakni hanya menakut-nakuti Bob Wignall. Segalanya sudah dirancang oleh Terry dan Sandra. Sandra Wignall misalnya, bertugas memastikan korban jalan-jalan ke hutan malam itu. Sandra juga yang menyorotkan lampu senter sebagai isyarat buat Terry dan Harry maju menyerang.

Sialnya, saat diserang Bob malah menyerang balik, bahkan Bob sempat menggigit Terry. Harry mengaku, dalam keadaan panik, mungkin ia telah menikam Bob Wignall. Tapi ia menegaskan lagi: mungkin. Setelah peristiwa itu, Harry kembali ke Birmingham. Untuk menghilangkan jejak, ia membakar pakaiannya dan membuang pisau yang digunakan untuk menusuk Bob ke kanal di dekat situ. Harry tetap bersikeras, mereka hanya berniat menakut-nakuti Wignall, dan tidak pernah merencanakan pembunuhan. Harry mengucapkan itu sambil menangis.

Pat segera menelepon polisi di West Midlands. Mereka dimintai tolong menjaring benda-benda yang tercebur di kanal dekat TKP. Hasilnya, diperoleh dua peti besi, belasan troli pasar swalayan, dan pisau yang digunakan untuk membunuh Bob. Bukti-bukti baru itu membuat cerita sebenarnya di balik terbunuhnya Bob sedikit terkuak. Polisi pun mulai waspada ketika tahu Sandra berusaha menangguk untung lebih dari £ 21.000 dari asuransi jiwa suaminya. Ketika rumah Bob dijual, ia juga mewarisi sampai £ 100.000.

Sedangkan Terry akhirnya buka kartu, ia sebenarnya tidak pernah mencintai Sandra, yang digambarkannya sebagai mantan “cewek peliharaannya”. Ia juga tidak bermaksud menjalin hubungan permanen dengan Sandra. Versi Terry, hubungan asmara mereka yang “putus-sambung” itu levelnya tak lebih dari sekadar iseng-iseng. 

Di antara ketiga tersangka, Harry Moult-lah yang paling banyak bicara. Ia menggambarkan pembunuhan itu secara detail. Mulai saat Terry mengantarkannya ke hutan, sampai ketika mereka bersama-sama menghabisi Bob Wignall. “Terry mengatakan sesuatu pada Bob, dan hal berikutnya yang saya ketahui hanyalah mereka berkelahi. Saya ikut bergabung. Saya juga ikut memukuli Bob. Terry pun memukulinya. Saya kira saya memukul kepalanya dengan sepotong kayu,” lanjut Moult. 

“Mereka baku hantam di tanah. Lalu saya melihat sebilah pisau, tapi saya tidak yakin. Saya mengambil pisau itu. Bob menghampiri saya. Mungkin saya telah menusuknya. Tetapi saya tak yakin. Saya mendengar ia mengatakan, ‘Jangan tusuk saya’. Waktu rasanya berjalan sangat lama, walaupun sebenarnya cuma beberapa detik.”

 

Seks adalah segalanya 

Akhirnya, Sandra, Terry, dan Harry diajukan ke meja hijau. Pengadilan terhadap ketiga tertuduh digelar di Court Six di - Old Bailey, pada 26 Oktober 1993. Dalam dakwaannya, Jaksa Penuntut Timothy Langdale QG bilang, kasus ini melambangkan nafsu dan ketamakan. Korbannya adalah Robert Wignall, seorang pria yang di lingkungannya dikenal sebagai orang jujur, sederhana, sopan, baik hati, dan memiliki sense of humor.

Sandra Wignall berusaha memberi kesan pada semua orang bahwa perkawinannya bahagia. Namun kepada seorang teman, Sandra mengeluhkan kegundahannya sang suami ternyata kurang ngejoss dalam soal seks, lantaran penyakit asma kronisnya. “Cerita Sandra bahwa suaminya dibunuh oleh tiga orang pemuda jelas fiktif belaka. Sandra Wignall telah menjebak suaminya, dan dengan sengaja membuat Bob tidak waspada dengan melakukan oral seks,” sambung Timothy.

Jaksa menggambarkan kematian Bob Wignall sebagai sebuah tragedi, karena Bob tidak pernah tahu hati Sandra Wignall yang sebenarnya. Ia tidak tahu Sandra hidup dalam kepura-puraan. Juga tidak tahu bahwa istrinya begitu terobsesi pada seks dan Terry. “Walaupun ada indikasi di akhir hidupnya Bob mulai mencium sesuatu yang mencurigakan,” tegas Timothy.

Hidup Bob kian terjepit, karena Sandra adalah perempuan yang menganggap seks sebagai segala-galanya. “Ia memiliki lima orang kekasih sebelum bertemu dengan Terry, walaupun akhirnya hanya ada satu pria yang mampu memuaskan Sandra, Terence ‘Terry’ Bewley.” Terry benar-benar mengontrol kehidupan seksual Sandra, bahkan atas perintah Terry, Sandra rela berhubungan seksual dengan pria-pria lain di depan mata kekasihnya itu.

Digambarkan, sembilan hari setelah pernikahannya dengan Bob Wignall, Terry muncul kembali dalam kehidupan Sandra. Hubungan asmara mereka berlanjut saat itu juga. Sandra menganggap pernikahannya dengan Bob merupakan sebuah kesalahan. Ia merasa perkawinan itu membuatnya terjerumus ke dalam kesedihan dan kesengsaraan. Hal itu dijadikannya pembenaran dalam menjalani perselingkuhan.

Ajakan selingkuh Sandra tentu saja disambut baik Terry. Lelaki yang sebelumnya menolak memberi tahu di mana tempat tinggalnya itu, kini mengizinkan Sandra datang ke rumahnya di Ruislip. Kadang-kadang Sandra menyelinap ke sana hanya untuk menikmati saat-saat gila bersama Terry. Memadu cinta di garasi atau di bagian belakang mobil, setelah Sandra mengantarkan suaminya ke kantor. Terry dan Sandra terus melakukan pertemuan secara rahasia, sekurang-kurangnya dua kali seminggu.

Menutup dakwaannya, Timothy menguraikan, “Sandra Wignall berulang-ulang mengubah ceritanya di hadapan polisi, tetapi akhirnya mengaku telah merancang pembunuhan terhadap suaminya dalam percakapan dengan dua orang saudaranya, setelah ia dinyatakan sebagai terdakwa!”

 

Gila sensasi 

Duduk di mimbar pengadilan dengan mengenakan gaun merah, dengan rambut pirang menyapu bagian belakang tubuhnya, Sandra Wignall tampak tegar dan siap menghadapi segala kemungkinan. Ia membaca catatan yang dibuatnya sekali-kali dan melempar guyonan kepada petugas penjara yang duduk di sebelahnya.

Pasangan selingkuhnya, Terry, duduk beberapa meter dari Sandra. Namun selama proses pengadilan pasangan ini tidak pernah mau saling melihat satu sama lain. Hanya kepada Harry, Terry sesekali terlihat bertukar cakap.

Satu demi satu saksi menyampaikan kesaksiannya. Tiga pemuda yang saat itu kebetulan berada di tempat kejadian perkara, Hutan Sayes, kembali menekankan keberadaan dua orang lelaki di tempat Bob roboh. Sedangkan salah seorang tetangga Sandra menyampaikan hasil “ngobrasnya” dengan janda Bob itu, yang makin menguatkan julukan “gila seks” buat Terry dan Sandra. Misalnya cerita Sandra tentang sensasi yang mereka temukan saat berhubungan intim di garasi dan di bagian belakang Rolls Royce, atau sekadar memamerkan foto-foto setengah telanjang Sandra yang diambil oleh Terry.

Kepada si tetangga, Sandra bahkan pernah menceritakan sebuah “pengalaman menarik”, saat ia diundang Terry dan seorang teman. “Sandra pikir mereka akan pergi untuk minum-minum,” jelas saksi. Tetapi ternyata Sandra diajak ke rumah pria yang kemudian diketahui bernama Bill itu di Fulham. Mereka minum-minum, sampai akhirnya Bill menanggalkan blus yang dikenakan Sandra dan mengajaknya berhubungan seksual, di depan mata Terry.

Tak lama kemudian, saat Terry pergi ke luar negeri, Bill mengundang Sandra mengulang kembali adegan yang sama. Mereka kembali berhubungan intim, tanpa disaksikan Terry. Entah mengapa, kali ini Terry marah-marah. Sebagai “hukumannya”, Terry menyambangi Sandra, menutup matanya dan mengikatnya ke ranjang, kemudian membawa masuk seorang pria untuk bercinta dengan Sandra, lagi-lagi di depan mata Terry. Pria itu sama sekali tak dikenal Sandra. Kejadian seperti itu terulang sampai dua kali, dengan dua pria berbeda.

Juri menyatakan ketiga terdakwa bersalah. Hakim Neil Denison menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada mereka tanpa komentar apa pun. Biasanya, di akhir persidangan seorang hakim akan melontarkan sedikit komentar perihal terpidana yang baru saja divonis. Tapi dalam kasus ini sang hakim mungkin menganggap tak ada gunanya berkomentar.

Baik Sandra Wignall maupun Terry Bewley tak tampak menunjukkan rasa penyesalan. Hasil tes psikologi menunjukkan, nimfomania (dorongan seksual yang kuat) pada Sandra bisa saja menunjukkan ketidakbahagiaan yang dipicu oleh rasa tidak aman, yang membuatnya merasa membutuhkan seks seperti minum obat. Seperti pencarian tanpa akhir untuk sesuatu yang tak pernah ada: cinta sejati.

Sebelum bertemu Bob, Sandra telah menikah dua kali, tetapi seorang pria tak pernah cukup baginya. Menurut seorang teman, Sandra Wignall berusaha mencari pria-pria muda ketika Bob pergi dan mengajak mereka ke rumah untuk memadu cinta. (Brian Marinerr)





" ["url"]=> string(69) "https://plus.intisari.grid.id/read/553457056/gelang-emas-berinisial-h" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1662391801000) } } [3]=> object(stdClass)#109 (6) { ["_index"]=> string(7) "article" ["_type"]=> string(4) "data" ["_id"]=> string(7) "3400896" ["_score"]=> NULL ["_source"]=> object(stdClass)#110 (9) { ["thumb_url"]=> string(105) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2022/08/03/ok-ok_jonathan-kemperjpg-20220803014931.jpg" ["author"]=> array(1) { [0]=> object(stdClass)#111 (7) { ["twitter"]=> string(0) "" ["profile"]=> string(0) "" ["facebook"]=> string(0) "" ["name"]=> string(13) "Intisari Plus" ["photo"]=> string(0) "" ["id"]=> int(9347) ["email"]=> string(22) "plusintisari@gmail.com" } } ["description"]=> string(145) "Oscar dan Oliver sudah tinggal bersama selama 6 tahun. Agar bisa lepas dari Oliver dan hidup bersama tukang kebunnya, ia merencanakan pembunuhan." ["section"]=> object(stdClass)#112 (7) { ["parent"]=> NULL ["name"]=> string(8) "Kriminal" ["description"]=> string(0) "" ["alias"]=> string(5) "crime" ["id"]=> int(1369) ["keyword"]=> string(0) "" ["title"]=> string(24) "Intisari Plus - Kriminal" } ["photo_url"]=> string(105) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2022/08/03/ok-ok_jonathan-kemperjpg-20220803014931.jpg" ["title"]=> string(7) "OK & OK" ["published_date"]=> string(19) "2022-08-03 13:49:52" ["content"]=> string(34885) "

Intisari Plus - Oscar dan Oliver sudah tinggal bersama selama 6 tahun. Agar bisa lepas dari Oliver dan hidup bersama tukang kebunnya, ia merencanakan pembunuhan.

-------------------

“Kamu ‘kan akan pulang lebih awal sore ini, Yang?” tanya Oscar ketika Oliver hendak meninggalkan rumah Kamis pagi itu. “Hari ini ‘kan ulang tahun keenam kebersamaan kita,” Oscar mengingatkan.

Teman hidupnya yang sama-sama pria juga tersenyum. 

“Tentu! Jangan lupa memesan tempat di restoran untuk pukul 20.30.”

Oscar pun melambaikan tangan kirinya yang dililit gelang rantai emas 22 karat. Gelang itu hadiah ulang tahun “perkawinan” dari Oliver. Harganya mahal.

la mengawasi Oliver naik ke mobil dan menunggu sampai teman hidupnya itu lenyap dari pandangan. Kalau rencana Oscar berjalan lancar, inilah terakhir kalinya ia melihat Oliver dalam keadaan hidup.

 

Asmara di dalam bus

Enam tahun sebelumnya, Oscar bertemu dengan Oliver di dalam bus tingkat nomor 14 yang sedang lewat di depan Toserba Harrods di London. Dua atau mungkin tiga menit setelah dilirik-lirik Oscar, Oliver baru sadar ia ditaksir. Ia balas melirik dan Oscar pun pindah duduk ke sebelahnya.

Ketika bus melewati Hyde Park Corner, mereka sudah bertukar nomor telepon dan menyadari bahwa inisial mereka sama. Oliver Knight dan Oscar Knudsen. OK.

“Aduh, dasar jodoh!” pikir Oscar. Oliver-lah yang menelepon duluan malam itu. Keesokan harinya, sesuai dengan janji, mereka bertemu di sebuah restoran Italia di South Kensington, tidak jauh dari flat yang ditempati Oliver. Oscar menempati kamar yang jauh lebih sederhana di West Kensington. 

Dalam pertemuan itu Oscar mengetahui, Oliver berumur 32 tahun, jadi 6 tahun lebih tua. Oliver menyatakan belum bisa melupakan kepahitan pernikahannya yang gagal. Namun, dalam mencari nafkah ia beruntung karena pada usia semuda itu ia sudah menjadi salah seorang direktur Suntravel, sebuah biro perjalanan di London. 

Oscar memberi tahu teman barunya bahwa ia keturunan Denmark, walaupun dilahirkan dan dibesarkan di Inggris. Ia bekerja di bagian promosi sebuah majalah. Gajinya kecil sehingga ia tidak senang bekerja di situ.

Seminggu kemudian Oscar pindah ke flat Oliver dan sejak itu mereka hidup bersama. Dua tahun lalu, Oliver mendapat warisan £ 100.000 dari neneknya sehingga bisa membeli sebuah rumah yang memiliki kebun, Maple Cottage, ± 7,5 km dari Dorking. Oscar ikut pindah. Waktu itu ia sudah lama berhenti bekerja. Ia mengurus rumah seperti layaknya seorang ibu rumah tangga.

Tampaknya mereka pasangan yang cukup serasi. Cuma saja Oscar sangat pencemburu, walaupun keduanya diam-diam suka menyeleweng. Oscar menemui pria lain kalau Oliver sedang bekerja. Oliver mencari pria lain sepulang bekerja. Kalau terlambat pulang, ia memberi alasan lembur kepada teman hidupnya.

Sejak beberapa minggu terakhir ini, dua kali seminggu datanglah tukang kebun yang masih muda dan ganteng untuk merawat taman Maple Cottage. Oliver belum pernah melihat rupa tukang kebun itu. Kalau ia bertanya kepada Oscar, teman hidupnya itu berkomentar, “Orangnya bau pupuk kandang. Untung ia tidak bekerja di dalam rumah!”

Padahal, sejak bertemu dengan Keith Offingham yang gagah dan tampan itu, siang malam kepala Oscar selalu dipenuhi angan-angan mesra bersama si KO. Api asmara mendorong Oscar untuk mengajak si KO bersekongkol menyingkirkan Oliver dari muka bumi.

 

Warisan cuma kaus bekas

Menurut perhitungan Oscar, hari Kamis itu paling lambat pukul 11.00 Keith sudah selesai melaksanakan rencana jahat mereka. Ceritanya Keith akan mengenakan wig berwarna gelap untuk menyembunyikan rambutnya yang pirang. Ia juga akan mengenakan kumis palsu. Ia akan menunggu Oliver di tepi jalan yang biasa dilewati direktur Suntravel itu dalam perjalanan ke kantornya di London, dan akan menyetop mobil Oliver. Lalu, ia berpura-pura meminta tumpangan.

Supaya penampilannya meyakinkan sebagai penebeng kendaraan sejati, ia akan membawa ransel dan mengenakan sepatu bot. Oliver memang senang memberi tumpangan kepada para penebeng semacam itu.

Kalau mereka tiba di jalan yang sepi, Keith akan pura-pura kebelet dan pada saat itulah pria berperawakan kekar itu akan mencekik Oliver yang semampai. Mayat Oliver akan diletakkan di bangku belakang dan ditutupi dengan selimut, lalu Keith akan mengendarai mobil korbannya sejauh ± 10 km, yaitu ke tempat bekas tambang batu. Tambang yang sudah ditinggalkan itu kini penuh genangan air. Mayat Oliver akan dibuang ke dalamnya. Mobil Oliver akan ditinggalkannya di tempat lain, yaitu tempat ia sudah menaruh sepedanya. Dari situ ia akan menggenjot sepeda ke tempat mobilnya sendiri diparkir. Setelah itu ia akan melapor kepada Oscar.

Sambil menunggu Keith di Maple Cottage, Oscar mengurus rumah seperti biasa. Cuma saja hatinya betul-betul gelisah. Ia tak henti-hentinya merokok dan mereguk kopi.

Terbayang olehnya Keith yang muda, tampan, dan perkasa. Si KO belum lama keluar dari penjara setelah menjalani hukuman karena melakukan tindak kekerasan. Tidak sulit membujuknya untuk membunuh, asal imbalannya cukup besar. Karena itulah, Oscar tidak ayal memberi tahu Keith bahwa dulu ia bersama-sama membuat surat wasiat dengan Oliver. Oliver mewariskannya seluruh harta bendanya kepada Oscar dan Oscar mewariskan seluruh miliknya kepada Oliver. “Tapi kalau saya mati duluan sih yang dia dapat hanya beberapa baju kaus bekas,” gurau Oscar.

Oscar meyakinkan Keith, kalau warisan Oliver sudah diperolehnya, hidup mereka berdua pasti terjamin.

 

Semua OK

Oscar tidak tahan menunggu. Jadi pukul 10.30, ia menelepon sekretaris Oliver yang memang dikenalnya.

“Ruth, boleh saya berbicara sebentar saja dengan Oliver?” 

“Pak Knight tidak masuk, Pak Knudsen,” jawab Ruth.

Oliver nyengir kegirangan. Katanya kemudian, “Macet di perjalanan barangkali. Setiap hari lalu lintas bertambah padat saja.”

“Beliau memang tidak akan masuk hari ini,” jawab Ruth. 

“Tidak akan masuk?” tanya Oscar dengan suara bergetar.

“Tidak. Beliau cuti mulai kemarin dan baru akan bekerja lagi Senin depan.” 

Oscar terhenyak. Oliver tidak pernah bercerita ia akan cuti! Setelah menggumamkan beberapa kata, ia menaruh gagang telepon.

Kalau Oliver tidak masuk sejak kemarin, ke mana saja dia? Bukankah ia meninggalkan rumah seperti biasa dan pulang seperti biasa pula? Kecemburuan Oscar bangkit. Namun, kekhawatiran yang besar berhasil mengalahkannya. Kalau Oliver tidak pergi ke kantornya di London, apakah ia lewat di jalan tempat Keith menunggu? Apakah saat ini Keith masih sia-sia menunggu di sana?

“Ah,” pikir Oscar kemudian. “Kalau Oliver tidak lewat di situ ‘kan mestinya Keith sudah melapor lewat telepon.”

Dua setengah jam setelah Oliver berangkat, Keith belum juga memberi kabar. Tiba-tiba saja Oscar yang sedang senewen itu jadi naik pitam kepada Oliver. Hm! Teman hidupnya itu rupanya diam-diam punya pacar!

Waktu berlalu dengan lambatnya. Baik Keith maupun Oliver tidak muncul juga. “Aduh bagaimana kalau malah Keith yang tewas di tangan Oliver?” pikir Oscar. “Atau bagaimana kalau Keith terpikat pada Oliver dan bersekongkol meninggalkannya?”

Pada saat Oscar hampir histeris, sebuah mobil berhenti di depan rumah. Keith keluar dari dalamnya. Oscar berlari membukakan pintu. 

“Semuanya OK?” tanya Oscar dengan tegang. Keith mengangguk.

“Ya, ampun! Saya sudah ketakutan setengah mati!” 

Begitu menutup pintu Oscar merangkul Keith erat-erat. Keith menerima pelukan itu tanpa semangat. Memang ia bukan orang yang biasa memperlihatkan emosi. Kelebihannya adalah kekuatan fisiknya.

“Semua rencana berjalan mulus?” tanya Oscar ketika sudah berada di dapur. 

“Pokoknya rapi.” 

“Di mana Oliver sekarang?” 

“Sepuluh meter di bawah permukaan air kotor.” 

“Mobilnya?” 

“Di tempat yang kita rencanakan.” 

“Kamu tidak mendapat kesulitan men... menanganinya?” 

“Tidak.”

“Apa yang kalian percakapkan di mobil?” tanya Oscar dengan bawelnya. 

“Dia cuma bertanya, saya dari mana dan mau ke mana.” 

“Ia tidak berusaha memacari kamu?” tanya Oscar genit tapi senewen. 

“Ya, enggaklah ‘kan baru pukul 08.00? Dia tidak seperti kamu.” 

“Kamu tidak mengalami kesulitan mencopot penyamaranmu dan menyingkirkan ranselmu?” 

Keith mengangguk. “Sudah saya bilang, semuanya beres.”

“Oliver menceritakan ke mana ia akan pergi?” 

“Katanya sih, ke London.” 

“Ke Londonnya ke mana?” Keith menggeleng. “Pokoknya ke mana pun ia berniat pergi ‘kan sekarang sudah tidak bisa lagi.” 

Keith mereguk seluruh isi cangkirnya dan beranjak pergi.

 “Tidak beristirahat ke kamar dulu?” tanya Oscar penuh harap.

“Saya ke sini ‘kan untuk mengurusi kebun. Tetanggamu yang usil akan bertanya-tanya apa saja yang saya lakukan kalau lama-lama di dalam.”

“Ah, dia tidak ada di rumah.” 

Namun Keith keluar juga setelah mengedipkan sebelah matanya kepada Oscar. Jantung Oscar berdebar-debar dibuatnya.

Keesokan paginya, begitu biro perjalanan Suntravel buka pintu, mereka ditelepon Oscar. 

“Saya khawatir Ruth, Oliver tidak pulang,” kata Oscar. “Dia juga tidak menelepon,” sambungnya. “Kamu tahu ke mana dia pergi?”

“Saya tidak tahu, Pak Knudsen. Seperti sudah saya katakan kemarin, beliau cuti sampai hari Senin.” 

“Ia tidak memberi tahu ke mana akan pergi?”

“Tidak! Katanya, ada urusan pribadi.” 

“Di mana ya, dia?” tanya Oscar dengan nada dicemas-cemaskan. “Padahal menurut rencana, semalam kami akan makan di restoran untuk merayakan peristiwa penting. Saya khawatir ia mengalami kecelakaan.” 

“Memang aneh, ya?” kata Ruth. “Coba saya tanyakan kepada orang-orang di kantor. Barangkali ada direktur lain yang tahu. Saya akan menelepon Anda beberapa menit lagi.”

“Terima kasih Ruth. Saya cemas sekali, nih!” 

Sepuluh menit kemudian Ruth menelepon.

“Saya sudah bertanya kepada Pak Parker maupun Bu Satcheel tapi tampaknya Pak Knight tidak memberi tahu mereka ke mana ia pergi. Pak Parker menyarankan agar Anda melapor saja ke polisi kalau besok belum ada kabar juga. Beliau juga berpesan agar jangan ragu-ragu menelepon beliau di rumah pada akhir minggu kalau perlu.”

“Tolong disampaikan kepada beliau, saya akan segera menghubungi polisi. Saya tidak sabar menunggu sampai 24 jam lagi. Siapa tahu terjadi hal yang tidak diinginkan ...” kata Oscar lirih.

Oscar memang menelepon polisi. Polisi mencatat ciri-ciri Oliver, nomor kendaraannya dan berjanji akan menghubungi Oscar begitu mereka tahu sesuatu tentang Oliver.

Malam itu ketika hari sudah gelap, Keith menjemput Oscar. Oscar menyesali Keith karena mereka bertemu dengan bersembunyi-sembunyi begitu....

“Kita ‘kan tidak boleh mengambil risiko. Jangan sampai orang melihat kita berduaan sebelum semuanya beres,” kata Keith.

“Senin saya akan ke pengacara agar ia cepat-cepat bertindak.” 

“Ia tidak bisa apa-apa sebelum mayat ditemukan.” 

“Pasti polisi sudah mulai mengaduk-aduk kolam dan danau di daerah ini,” kata Oscar. Lalu ia merebahkan kepalanya di bahu Keith. “Bilang dong, kamu mencintai saya. 

“Ah, jangan ngomong yang bukan-bukan!” 

“Apa sih maksudmu?” tanya Oscar tersinggung. 

“Kalau saya tidak menyukai kamu, mana mau saya bersusah-susah membunuh orang kemarin.”

“Tapi kamu mencintai saya ‘kan? Bukan cuma menyukai?” 

“Astaga! Cukup! Cukup!” 

Oscar merajuk tapi berseri-seri lagi ketika Keith menyatakan akan datang mengurusi kebun pada hari Sabtu.

Sore itu Keith membongkar sepetak tanaman dan Oscar pura-pura mencabuti rumput dekatnya, sementara matanya tidak pernah lepas dari otot-otot Keith yang kekar.

“Telepon berbunyi,” kata Keith. 

Dengan enggan ia beranjak dari sisi pujaannya. 

“Pak Knudsen?” suara seorang pria dari ujung kabel. 

“Ya, betul.” 

“Ini Sersan Detektif Claymore. Anda menelepon saya kemarin, melaporkan Pak Knight hilang. Kata Anda, ia tinggal di alamat yang sama dengan Anda.” 

“Betul.” 

“Kami menemukan mobilnya tapi orangnya tidak ada.”

“Di mana mobilnya?” 

“Di hutan Effingham, mobil itu terkunci dan tampaknya tidak pernah dijamah orang sejak ditinggalkan.” 

“Tasnya ada di mobil?” 

“Tidak ada! Rupanya ia bawa. Ini memperkuat dugaan bahwa ia masih hidup dan dalam keadaan sehat walafiat. Kalau ia ingin bunuh diri untuk apa ia membawa tasnya? Pokoknya, tidak ada tanda-tanda bahwa ia meninggal.”

“Jadi, ke mana dong dia?” tanya Osar dengan putus asa. 

“Anda mestinya lebih tahu daripada saya. Anda ‘kan kenal dia, saya tidak.” 

“Saya yakin ia mengalami hal yang tidak diinginkan. Ia meninggalkan rumah untuk berangkat ke tempat kerja. Ia tidak pernah tiba dan mobilnya ditemukan bukan di rute yang biasa dilaluinya. Ia orang yang sistematis, teratur.”

Sersan polisi tetap tidak mau percaya bahwa Oliver mengalami malapetaka dan tidak mau mengadakan pencarian. 

Ketika kembali ke kebun Oscar bertanya kepada Keith, “Kamu apakan tasnya?”

“Saya masukkan batu dan lempar ke dalam air.” 

“Lebih baik kamu tinggalkan di mobil. Lebih baik lagi kalau kamu tinggalkan tanda-tanda pergulatan.” 

“Percuma saja memberi saran yang terlambat,” jawab Keith dengan nada tidak bersahabat.

“Saya bukan mencela,” kata Oscar buru-buru. “Tapi, kita mesti bisa mendorong polisi untuk menemukan mayat Oliver. Sekarang sih polisi cuma mengira Oliver meninggalkan saya.” 

“Pergi sana, buatkan aku teh,” perintah Keith. 

Hari Minggu merupakan saat yang membosankan bagi Oscar. la cuma bisa menenggak kopi kental. Makin lama ia makin tegang. Saat itu, Keith sedang mengunjungi neneknya yang membesarkan dia. Oscar sebenarnya ingin ikut tetapi Keith tidak mau dibuntuti. Terpaksa Oscar harus puas dengan janji ditelepon.

Pukul 20.00, pada saat Oscar sudah hampir menjerit histeris, Keith menelepon. Oscar memintanya datang. Dengan enggan Keith muncul juga pada malam hari.

Keesokan paginya, Oscar menelepon pengacara. Bukan pengacara Oliver melainkan pengacara kenalannya. 

“Peter saya ingin minta nasihat,” katanya. “Saya risau sekali karena Oliver lenyap. Ia pergi bekerja seperti biasa hari Kamis lalu tapi tidak pernah tiba di kantor dan tidak ada kabar beritanya lagi. Polisi menemukan mobilnya tapi Oliver tidak ketahuan ke mana. Saya takut ia mengalami hal yang tidak diinginkan.”

“Maksudmu, kamu takut dia tewas?” 

“Ya,” kata Oscar. 

“Polisi sudah mencari?” 

“Belum, karena kata mereka tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan.” 

“Nasihat apa yang kamu inginkan dari saya?”

“Berapa lama Oliver baru bisa dinyatakan meninggal?” 

“Tujuh tahun. Kalau ia meninggal, mayatnya ‘kan mestinya ditemukan. Kalau tidak ditemukan, setelah ia lenyap selama 7 tahun baru kamu bisa meminta agar ia dinyatakan sudah meninggal.”

Oscar tertegun dan gemetar. Tujuh tahun? Satu-satunya jalan hanyalah membantu polisi menemukan mayat Oliver. 

Oscar lantas memberanikan diri menelepon Sersan Claymore yang ganteng dan langsing itu.

“Sudah ada berita baru tentang Oliver Knight?” tanyanya. 

“Menyesal sekali tidak ada.” 

“Saya ingat, saya belum memberi tahu Anda bahwa ia tidak masuk kantor sejak hari Rabu.” 

“Saya sudah diberi tahu direktur lain di kantornya.”

“Oh, saya kira Anda belum menghubungi kantornya.” 

“Tentu saja sudah, untuk pengecekan rutin.” 

“Saya lupa bilang, akhir-akhir ini ia tampak tertekan. Karena itulah saya khawatir ia .. melakukan sesuatu yang drastis.” 

“Bunuh diri maksud Anda?”

“Ya, itulah yang saya khawatirkan.” 

“Orang bunuh diri ‘kan tidak perlu paspor.” 

“Paspor?” 

“Ya. Kata salah seorang rekan direkturnya, ketika meninggalkan kantor pada hari Selasa, ia membawa paspornya yang biasa disimpan di laci meja tulisnya.” 

“Aneh!” kata Oscar yang merasa hatinya seperti akan copot. 

“Aneh ataupun tidak, hal itu tidak menunjukkan ia bermaksud bunuh diri. Tampaknya ia merencanakan akan bepergian ke luar negeri. Ia tidak pernah menceritakannya kepada Anda?”

“Tidak,” jawab Oscar yang ingin sekali mengakhiri percakapan. Namun, Sersan Claymore masih terus mengoceh. 

“Saya sudah menghubungi pengacaranya. Ternyata, Pak Knight baru saja mengubah surat wasiatnya. Anda masih di situ, Pak Knudsen?”

“Ya, masih,” jawab Oscar dengan kepala seperti melayang-layang. 

“Anda tidak tahu?” 

“Tidak!” 

“Hal itu menyebabkan kami menganggap Pak Knight berada entah di mana dalam keadaan sehat walafiat. Jadi, Anda tidak perlu merisaukannya. Mungkin saya akan segera menghubungi Anda lagi.”

Oscar merasa kepalanya seperti dipukul. “Ada apa sih!” tanya Keith ketika malam-malam muncul. Mulut Oscar laksana senapan mesin ketika memberondongkan pengalamannya hari ini. 

Keith menenggak minuman keras. “Kamu tidak pernah tahu ia mengubah surat wasiatnya?”

“Mana saya tahu!” 

“Sayang, kamu tidak memikirkan kemungkinan itu sebelumnya. Satu hal harus dijaga: jangan sampai polisi menemukan mayatnya.” 

“Justru harus ditemukan!” 

“Ketahuan dong dia dibunuh. Gila kamu!”

“Tapi ‘kan tidak ada yang bisa mengaitkan kita dengan pembunuhannya. Lagipula bisa saja ia dikira bunuh diri.” 

“Bunuh diri? Dengan tanda bekas cekikan di leher dan saku diberati batu?”

“Bisa saja saya bilang kepada polisi bahwa ia pernah bilang ingin menenggelamkan diri.” 

“Polisi akan mencekik dan menyiksamu.” 

“Saya tidak akan mengaku.” 

“Enak saja! Mereka ‘kan ahli menekan orang. Paling-paling kamu akan menumpahkan kesalahan kepada saya.”

Oscar menjerit genit. “Mana mungkin! Yang saya ingin ‘kan cuma satu: hidup bersamamu sampai mati!” 

Mereka terus berbantah-bantahan. Oscar tidak bisa tidur. Baru sekitar pukul 05.00 matanya terpejam. Tiba-tiba didengarnya dering bel rumah. Setelah menyisir rambutnya dan mengenakan kimono dengan tergesa-gesa, ia membukakan pintu. Saat itu sudah pukul 10.00. Di hadapannya berdiri Sersan Detektif Claymore yang tampan.

“Saya datang untuk bertanya, Pak Knudsen. Mengapa Anda begitu yakin Pak Knight sudah meninggal?”

Oscar kaget juga. “Oh. Kalau orang yang selama 6 tahun hidup bersama Anda tiba-tiba lenyap, Anda akan menyangka yang terburuk. Saya masih tidak percaya ia pergi tanpa pamit seperti itu.”

“Apakah bukan karena Anda ikut berperan dalam peristiwa lenyapnya Pak Knight?” 

“Ikut berperan? Saya ... saya tidak mengerti maksud Anda,” kata Oscar.

“Maksud saya, Anda merencanakan kematiannya.” 

“Jangan main-main!” kata Oscar. “Saya mencintai Oliver. Anda mungkin tidak bisa memahaminya tetapi saya ingin meyakinkan Anda bahwa orang-orang gay mampu mencintai, sama seperti pasangan suami istri.”

“Juga pasti sama mampunya untuk bertengkar dan saling mengelabui,” jawab Claymore. 

“Oliver dan saya tidak pernah bertengkar!”

“Sekarang kita kembali ke persoalan semula. Mengapa Anda begitu gigih untuk meyakinkan saya bahwa teman Anda sudah meninggal?” 

“Cuma karena saya berfirasat buruk.”

“Dari Anda berdua, tentunya dia yang memiliki lebih banyak uang?” 

“Ya.” 

“Kabarnya ia memelihara Anda.” 

“Sama seperti ia memelihara istri.” 

“Apa yang Anda anggap terjadi padanya?”

“Seperti sudah saya katakan di telepon, akhir-akhir ini ia merasa tertekan.” 

“Jadi, ia bunuh diri?” Oscar mengangguk. 

“Menurut dugaan Anda, bagaimana caranya?” 

“Dia pernah bilang, paling gampang sih menenggelamkan diri.” 

“Ia berangkat Kamis pagi seperti biasa, meninggalkan mobilnya di Hutan Effingham dan mencari tempat yang tepat untuk membenamkan diri?” 

Oscar mengangguk. 

“Coba kita kesampingkan dulu kemungkinan bunuh diri. Peristiwa apa lagi yang mungkin menimpanya?” 

“Mungkin saja ia dibunuh,” kata Oscar sambil bergidik.

“Bagaimana ia bisa dibunuh?”

“Dia biasa mengajak orang-orang muda yang ingin menumpang di kendaraannya. Saya sudah bilang berulang kali: perbuatan itu berbahaya. Bisa saja mereka menyerangnya dan mencuri dompetnya. Tapi, ia bandel. Katanya, orang-orang muda itu menarik untuk diajak bercakap-cakap, lebih menarik daripada mendengarkan radio.”

“Anda duga ia dibunuh penebeng kendaraan?” 

Oscar mengangguk. 

“Apabila Anda menduga ia memberi tumpangan, lalu entah mengapa mobil dihentikan di suatu tempat sepi dan si penebeng membunuh Pak Knight dan membuang mayatnya dan mengambil uangnya ..”

“Oliver tak pernah membawa kurang dari £ 200 di dompetnya,” kata Oscar. 

“Tapi ada alternatif lain,” sambung Claymore seraya memandang tajam pada Oscar. “Anda ikut berperan dalam melenyapkannya.... Maksud saya, dalam membunuhnya.”

Oscar menggenggam lengan kursi dan memandang seakan tidak percaya pada Claymore. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. 

“Polisi tidak sebodoh yang diduga sebagian orang.” Sersan Claymmore melanjutkan, “Kami tidak percaya begitu saja pada apa yang disodorkan kepada kami. Kami mengusut, kami menyidik ke sana kemari.”

“Anda menuduh,” kata Oscar akhirnya. “Alasan apa yang bisa menyebabkan saya membunuh Oliver?” 

“Anda ‘kan sudah bilang,” kata Claymore seraya matanya menyapu benda-benda di sekeliling mereka. “Anda mewarisi semua ini dan masih banyak lagi.”

“Mana mungkin. Saya tinggal di rumah sepanjang hari.”

“Saya tidak berkata Anda membunuh Pak Knight. Saya yakin bukan Anda yang melakukannya tetapi Anda ikut memegang peranan. Peran besar. Peran utama.”

Oscar tidak sanggup berpura-pura lagi. Ia panik. “Dalam bahasa hukum, Anda bersekongkol membunuh Pak Knight,” ujar Claymore. 

“Bersekongkol? Bersekongkol dengan siapa?”

“Anda betul-betul ingin jawabannya? Kami sudah menangkap Keith Offingham semalam ketika ia meninggalkan rumah ini. Kami sudah bercakap-cakap lama dengannya dan ia sudah mengakui semuanya.”

“Saya tidak percaya. Bisa saja ‘kan dia berbohong.” 

“Itu hak juri untuk memutuskannya, Pak Knudsen.” 

Oscar menutupi wajahnya dengan tangan dan menangis tersedu-sedu. Ia mengamuk ketika Keith melemparkan tanggung jawab kepadanya dan menjadi saksi yang memberatkan dirinya.

Pada masa itulah Oscar menerima surat berstempel pos Florence. Bunyinya sebagai berikut: 

Untuk Oscar, 

Kamu betul, Keith itu bau pupuk kandang. Saya segera menyadarinya begitu ia masuk ke mobil. Sebagai kekasih mungkin ia hebat, tetapi sebagai calon pembunuh, ia payah. Sebentar saja saya sudah memegang semua kartunya. Ia menyadari betapa gawat situasi yang dihadapinya sehingga ia bersedia menerima rencana tandingan yang tidak menguntungkanmu. Saya akan “lenyap” sebentar, sementara ia berpura-pura telah menjalankan tugasnya. 

Sebenarnya sudah sejak beberapa minggu yang lalu saya menyadari bahwa ia lebih daripada sekadar pencangkul tanah bagimu. Otahmu ‘kan selalu meragukan, Oscar. Tapi sekali ini kamu tambah dengan kenaifan. Rencana rumitmu itu kekurangan detil. Memang kau selalu sembrono. Sebelum saya akhiri, perlu saya beri tahu bahwa kematian saya tidak akan mendatangkan keuntungan apa-apa bagimu. Saya baru saja membuat surat wasiat baru yang tidak menyebut-nyebut namamu. Saya akan kembali ke Inggris sebelum kamu disidangkan. 

Saya yang masih hidup.

OK.

(Michael Underwood)





" ["url"]=> string(50) "https://plus.intisari.grid.id/read/553400896/ok-ok" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1659534592000) } } [4]=> object(stdClass)#113 (6) { ["_index"]=> string(7) "article" ["_type"]=> string(4) "data" ["_id"]=> string(7) "3355935" ["_score"]=> NULL ["_source"]=> object(stdClass)#114 (9) { ["thumb_url"]=> string(110) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2022/07/01/buruh-pelabuhan-yang-kotorjpg-20220701063610.jpg" ["author"]=> array(1) { [0]=> object(stdClass)#115 (7) { ["twitter"]=> string(0) "" ["profile"]=> string(0) "" ["facebook"]=> string(0) "" ["name"]=> string(13) "Intisari Plus" ["photo"]=> string(0) "" ["id"]=> int(9347) ["email"]=> string(22) "plusintisari@gmail.com" } } ["description"]=> string(140) "Seorang pilot Jerman harus menghadapi berbagai lika-liku dalam pelariannya, namun pengalamannya sebagai prajurit selalu menyelamatkannya. " ["section"]=> object(stdClass)#116 (7) { ["parent"]=> NULL ["name"]=> string(7) "Histori" ["description"]=> string(0) "" ["alias"]=> string(7) "history" ["id"]=> int(1367) ["keyword"]=> string(0) "" ["title"]=> string(23) "Intisari Plus - Histori" } ["photo_url"]=> string(110) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2022/07/01/buruh-pelabuhan-yang-kotorjpg-20220701063610.jpg" ["title"]=> string(26) "Buruh Pelabuhan yang Kotor" ["published_date"]=> string(19) "2022-07-01 18:36:22" ["content"]=> string(27026) "

Intisari Plus - Seorang pilot Jerman yang selalu tampil rapi selama Perang Dunia I di Inggris, harus rela menyamar sebagai buruh pelabuhan kumal yang putus asa berharap bisa mandi. Berbagai lika-liku pelarian kemudian harus dihadapinya, namun pengalamannya sebagai prajurit selalu menyelamatkannya.

-----------------

Jika saja para penjaga penjara Donington Hall mengetahui lebih banyak tentang Kapitänleutnant Gunther Plüschow, mereka pasti akan lebih mengawasi dirinya. Bagi orang yang melihatnya, ia adalah seorang yang ramah, berpenampilan rapi, dan fasih berbicara Inggris. 

Ia memiliki senyuman yang ramah, dan pandai bermain hoki (ia selalu main setiap kali punya kesempatan untuk main). Pendek kata, ia cukup menawan.

Kalau mau menggunakannya, ia tidak akan lama tinggal di penjara Donington.

Latar belakang Plüschow sangat cemerlang. Sejak berusia 10 tahun ia telah menjadi seorang kadet di sekolah militer Munich yang menguasai apa pun yang ia kerjakan. Setelah kariernya yang gemilang sebagai anggota korps Angkatan Laut Kerajaan Jerman, ia menjadi sukarelawan pilot dari Angkatan Udara pertama Jerman. 

Setelah belajar terbang, ia dikirim ke Tsingtao di negeri tirai bambu, yang merupakan koloni Jerman pada saat itu. Ketika Perang Dunia I meletus pada 1914, Tsingtao diserang tentara Inggris dan Jepang. 

Masa itu, Plüschow mendapat predikat penerbang nekad. Ketika di Tiongkok, ia mempunyai tato naga (dragon) di lengan kirinya, sehingga anak buah nya memanggilnya dengan sebutan "The Dragon Master".

Pada waktu Tsingtao sepertinya akan runtuh, Plüschow diperintahkan kembali ke Jerman. Ia ditangkap oleh pasukan Tiongkok, tapi berhasil lolos dan kabur ke San Francisco, Amerika Serikat, dengan menumpang kapal dari Shanghai. 

Setelah berhasil mencapai New York, ia naik kapal ke Italia. Sayangnya, kapal tersebut dihentikan di Gibraltar, sebuah pelabuhan Inggris di Lautan Mediterania. Plüschow ditahan sebagai tahanan perang, dan dibawa ke Inggris.

la dibawa ke penjara Donington Hall, sebuah bangunan kuno yang dijadikan kamp tahanan.

Hidup di sana sebenarnya agak menyenangkan. Plüschow yang tiba dengan bagasi-bagasinya, diizinkan menerima surat dan paket paket dari keluarganya. Ia juga dapat menghabiskan waktunya bercakap-cakap dengan penjaga penjara dan berolahraga.

Rutinitas di penjara cukup santai. Ada kegiatan memeriksa seluruh tahanan dua kali seminggu. Juga ada ketentuan bahwa setiap orang harus melakukan jalan keliling satu kali di siang hari dan satu kali di malam hari. Jalan keliling siang hari lebih banyak dilakukan di dekat bangunan, termasuk di taman yang dibatasi dengan pagar listrik. 

Selama siang hari, setiap tahanan dibebaskan berjalan-jalan di sana. Namun, pada malam harinya, para tahanan hanya diperbolehkan berada di sekitar pondok mereka, itulah yang disebut jalan keliling di malam hari.

*

Salah seorang teman Plüschow bernama Oberleutnant Trefftz. Sama seperti Plüschow, ia juga fasih berbahasa Inggris. la bahkan mengenal seluk beluk Inggris dengan baik, karena sudah beberapa kali berkunjung ke Inggris. 

Lantaran sudah menjadi teman karib, Plüschow mengajaknya kabur bersama. Trefftz setuju, lalu keduanya mulai merencanakan pelarian mereka.

Mereka berdua tahu bahwa keluar dari kamp adalah hal yang mudah, tapi apa yang akan dihadapi selanjutnya merupakan kesulitan besar. Donington dekat dengan kota Derby yang terletak beberapa mil di utara. 

Dari sana mereka bisa naik kereta menuju London, lalu berlayar ke Belanda, negara netral yang memudahkan mereka melanjutkan perjalanan ke Jerman.

Plüschow dan Trefftz memiliki rencana sederhana, tapi jenius, yang disusun berdasarkan pengetahuan mereka akan rutinitas penjaga. Mereka juga minta bantuan tahanan lainnya meminjamkan uang pada mereka untuk membeli makanan dan membiayai perjalanan mereka. 

Pada 4 Juli 1915, keduanya mengaku sakit, sehingga dokter di kamp mencantumkan nama mereka di daftar orang sakit. Ini artinya mereka diizinkan untuk tidak menjalani rutinitas pemeriksaan.

Jam empat sorenya, setelah seharian beristirahat, mereka bangun dan mengenakan pakaian penduduk biasa. Plüschow mengenakan pakaian yang telah dibelinya di Tiongkok, baju hangat biru dan jas abu-abu. Para tahanan diwajibkan mengenakan seragam penjara, jadi mereka harus mengenakan pakaian orang biasa, lengkap dengan topi dan jas hujan.

Selesai berpakaian, mereka mengambil semua kue gulung yang ada di pondok. Padahal seharusnya itu merupakan makanan ringan buat tahanan di sore hari. Bisa jadi, mereka baru bisa makan lagi dalam beberapa hari kemudian. 

Mereka bersiap-siap untuk pergi, meskipun di luar hujan deras sekali. Biasanya mereka akan mengutuk cuaca seperti ini yang sering terjadi di Inggris, tapi seperti apa yang dikatakan Plüschow, cuaca seperti inilah yang paling sempurna untuk pelarian mereka.

"Trefftz, sobatku," katanya, "Yang Maha Kuasa berada di pihak kita. Para penjaga akan menggigil dan berteduh di pos penjagaan yang sempit. Mereka tidak akan terlalu memperhatikan kita!"

"Pos penjagaan adalah tempat paling sempurna untuk menghabiskan empat jam ke depan, daripada melakukan apa yang kita rencanakan," kata Trefftz yang tidak ingin menghancurkan tulangnya.

Keduanya berjalan keluar dari pondok. Mereka seenaknya dan agak berat karena mengenakan beberapa lapis pakaian, dan segera tiba di taman. Di sana, dekat pagar listrik itu, terdapat kursi-kursi dek. Setelah memastikan tidak ada yang melihat, keduanya berhenti dan sembunyi di kursi-kursi tersebut. 

Satu jam kemudian hujan reda. Di tempat persembunyiannya, Plüschow dan Trefftz menggigil sambil mengumpat. Keduanya mulai merasa khawatir dengan aksi kabur yang mereka lakukan, dan masa penantian ini membuat jantung mereka berdebar kencang.

Jam di kamp berbunyi enam kali, dan para tahanan keluar dari pondok untuk berjalan keliling malam.

"Tahap satu," kata Plüschow. "Jika ini gagal, berharaplah untuk melihat kelakuan buruk para penjaga dengan bayonetnya, menyodok-nyodok tanah."

Keduanya keluar dari tempat persembunyian dan bergabung dengan tahanan lainnya. Ritual jalan keliling malam diarahkan ke seberang taman. Setiap tahanan menyahut saat namanya dipanggil. Tentu saja tidak ada yang menjawab ketika nama Plüschow dan Trefftz dipanggil, karena mereka dilaporkan sedang sakit. 

Setelah pemeriksaan selesai, dua orang penjaga yang telah berkomplot dengan Plüschow dan Trefftz bergegas pergi ke tempat tidur mereka. Jadi, ketika penjaga lainnya memeriksa Plüschow dan Trefftz, ia akan melihat bentuk orang tidur, dan berasumsi bahwa itu adalah kedua tahanan tersebut.

Sementara itu Plüschow dan Trefftz menunggu bunyi alarm atau teriakan penjaga, yang mengartikan rencana mereka gagal berantakan. Namun, sepertinya semua berjalan sesuai rencana.

*

Setelah pemeriksaan malam, rutinitas selanjutnya jalan keliling siang hari, lalu jalan keliling malam. Jadi, yang harus dilakukan Plüschow dan Trefftz sekarang hanyalah memanjat pagar listrik yang tidak dijaga. Tetapi, ada satu masalah rutinitas dalam kamp yang harus diatasi.

Malam musim panas menyelimuti Donington Hall perlahan-lahan, lalu malam gelap tanpa sinar bulan tiba. Saat istirahat malam, seorang sipir memeriksa setiap tempat tidur, dan sekali lagi petugas penjara komplotan Plüschow akan membantu mereka. 

Karena semua tahanan sudah hapal rutinitas para sipir, mereka tahu persis urutan pondok yang akan diperiksa. Dua orang dari pondok yang selalu diperiksa pertama kali, menyelinap ke tempat tidur Plüschow dan Trefftz.

Lagi-lagi, dari tempat bersembunyi yang sempit, lembab dan basah, dua orang tahanan yang melarikan diri ini terdiam. menanti sebuah tanda kalau-kalau mereka ketahuan melarikan diri. Tapi, rutinitas Donington Hall yang tidak ketat sepertinya tidak berubah sama sekali.

"Sejauh ini lancar-lancar saja," kata Plüschow. "Ayo jalan!"

"Demi Tuhan, jangan pikir segalanya sudah selesai," kata Trefftz sambil menahan senyum. "Satu suara saja, maka kita akan digonggong anjing dan alarm akan berbunyi, habislah kita."

Layaknya bayangan gelap, keduanya bangkit dari kursi-kursi dan berjalan menuju pagar.

"Hati-hati dengan garis yang keempat," kata Plüschow. "Itu ada listriknya. Jika tersentuh, otomatis alarm di kamp akan menyala."

"Bagaimana kau tahu?" tanya Trefftz.

"Aku menguping!" kata Plüschow. "Aku tak sengaja mendengar percakapan penjaga mengenai pagar ini."

Perlahan-lahan, satu demi satu, keduanya memanjat pagar tersebut. Kalau mereka hati-hati dan memperhatikan agar pakaian mereka tidak terbelit di pagar, mereka bisa keluar dengan mudah. Tetapi, celana Plüschow sobek ketika ia melakukan loncatan ke tanah.

*

Jauh dari pagar, di dalam hutan yang berada di pinggir jalan, mereka mengubur pakaian dan topi mereka di bawah dedaunan dan ranting-ranting.

"Sekarang, mana jalan menuju Derby?" tanya Trefftz. Ketika ia berbicara, pada saat yang bersamaan seorang prajurit muncul dari kegelapan dan berjalan ke arah mereka. Plüschow segera menarik Trefftz dan memeluknya erat-erat, lalu menciumnya!

Trefftz terlalu kaget untuk melakukan sesuatu, selain daripada menuruti "kesenangan" itu. Saat sang prajurit yang lewat di depan mereka sudah menyingkir karena merasa malu, Trefftz harus menggigit giginya untuk menahan tawanya.

Bahaya telah berlalu, Plüschow melepaskan pelukannya sambil menyeringai.

"Perbuatan yang tidak pantas bagi seorang perwira dan seorang pria," ledek Trefftz.

Mereka berjalan cepat-cepat, menghindar sejauh mungkin dari penjara atau dari orang yang dapat mengenali mereka. Kira-kira satu jam kemudian, mereka tiba di jalan besar.

Sebuah rambu berdiri di depan mereka, tapi malam terlalu gelap sehingga tulisannya tidak terbaca. Plüschow memanjati rambu itu dan meraba tiap huruf dengan tangannya.

"D... E... R... B..." "

"Derby Ya, benar. Ayo jalan!"

*

Mereka berjalan sepanjang malam, dengan pemikiran bahwa begitu mereka ketahuan kabur, stasiun adalah tempat pertama yang dituju polisi dan tentara.

Pagi harinya, mereka berhenti untuk merapikan diri. Plüschow membetulkan celananya dengan jarum dan benang yang selalu dibawanya. Keduanya mencukur kumis dan janggut menggunakan ludah mereka sebagai ganti busa untuk bercukur. Sedikit banyak hal tersebut menjijikkan, tapi segala kemungkinan yang akan memberikan petunjuk pada polisi bahwa mereka adalah buronan, harus dihindari bagaimanapun caranya.

Tak lama kemudian, mereka tiba di stasiun kereta dan membeli tiket ke London. Berdiri di pelataran bersama-sama dengan orang-orang yang berangkat kerja membuat Plüschow merasa tidak enak.

"Begini teman," katanya pada Trefftz, "Kalau berdua, kita terlalu ketahuan. Kita berpisah dulu. Aku akan menemuimu di London, di tangga Katedral St. Paul, jam tujuh malam ini."

Trefftz bisa merasakan sesuatu dalam saran Plüschow. la mengedip pada temannya itu, lalu berjalan menuju sisi lain pelataran.

Kereta tiba. Keduanya pun naik ke dalam. Selama perjalanan, Plüschow tertidur. Setibanya di London, ia segera pergi ke Katedral St. Paul, tapi Trefftz tidak muncul. Plüschow menunggu selama sejam, lalu pergi menuju Taman Hyde, tempat yang ia pikir bisa untuk tidur dan sembunyi.

Sayangnya, taman sudah ditutup, jadi Plüschow meringkuk di bawah semak-semak di sebuah rumah dekat taman, dan bersembunyi di sana. Tidak seperti musim panas sebelumnya, musim panas kali ini kering dan hangat, hingga membuat Plüschow mengantuk dan tertidur. Kemudian suara bising membangunkannya.

Rumah tersebut sedang mengadakan sebuah pesta. Beberapa orang tamu keluar untuk menikmati angin malam. Plüschow terdiam di balik semak-semak, bahkan menahan napasnya. 

Beberapa meter darinya, para pria dan wanita anggun yang mengenakan gaun panjang bercakap-cakap. Begitu Plüschow terbiasa dengan situasi tersebut, ia mendengar mereka bergosip atau mengeluh tentang pelayan-pelayan mereka.

Ketika ia mulai santai kembali, suara piano dan merdunya suara nyanyian seorang biduanita terdengar dari jendela bergaya Prancis. Para tamu masuk kembali ke dalam untuk menikmati hiburan tersebut, kemudian Plüschow pun tertidur lagi, dininabobokan alunan musik yang lembut.

Waktu berlalu, dan suara langkah kaki membangunkannya kembali. Kali ini ia mendengar suara sepasang polisi yang sedang patroli di sisi lain tembok. Fajar menyingsing, dan Plüschow memutuskan taman ini bukan tempat yang untuk bersembunyi. Kemudian ia kembali ke Hyde yang sudah dibuka di pagi hari.

Di sana, ia menemukan bangku taman untuk berbaring, lalu tidur sampai jam sembilan. Selanjutnya ia pergi ke Kesington untuk sarapan. Sambil makan roti lapis daging dan telur, ia merasa rencana pelariannya berjalan cukup lancar. Tetapi ia mendengar sebuah jeritan yang membuat darahnya membeku.

"Bacalaaaaaahhh!" teriak tukang koran.

"Seorang tahanan Jerman kabur dari kamp!" Di samping tukang koran itu, ada poster besar yang memuat berita tentang pelariannya.

Plüschow membeli sebuah koran dan beringsut ke bawah tanah untuk membacanya. Trefftz berhasil ditangkap sehari sebelumnya, jadi polisi berkonsentrasi mengerahkan segala daya untuk menemukan Plüschow sekarang. Gambaran yang diberikan bahkan membuatnya lebih tidak nyaman:

"Orang ini sangat pintar dan terlihat cukup rapi, memiliki gigi yang bagus yang selalu terlihat ketika berbicara atau tersenyum, sangat fasih berbahasa Inggris, dan cukup baik mengenali negara ini."

Dalam keadaan biasa, ia akan merasa tersanjung dengan pujian-pujian tersebut, tapi semuanya terlalu akurat. Sadar bahwa dirinya mudah dikenali membuat Plüschow sangat gugup. Ia harus segera mengganti penampilannya.

*

Pertama-tama, jas hujannya. Plüschow sangat menyukainya sehingga ia merasa sayang membuangnya. Jadi, ia pergi ke tempat penggantungan jasa dan baju di stasiun Blackfriars. Sang pelayan menanyakan namanya ketika ia menyerahkan jasnya. Waktu itu ia benar-benar kebingungan dan takut ditangkap. Saat ia sudah lebih tenang, ia menjawab dalam bahasa Jerman.

"Meinen?" (Nama saya?)

"Oh, ya," kata pelayan salah dengar. "Tuan Mine. M.I.N.E. Baiklah," katanya sambil menyerahkan tanda terima.

Dua orang polisi di dekatnya melirik ke arahnya, mereka merasa heran mengapa pemuda modis itu terlihat begitu ketakutan. Plüschow berjalan ke pintu keluar dan pergi menuju Thames. Berjalan di sepanjang trotoar pinggir sungai, ia melepaskan topi, ban leher, dasi, dan menjatuhkan semuanya ke sungai.

Selanjutnya ia mampir di toko dan membeli vaseline dan semir sepatu hitam. Lalu, ia pergi ke toko topi membeli sebuah topi pekerja. Di sebuah lorong yang sepi, ia mencampur vaseline dan semir sepatu hitam tadi dengan abu batubara yang ia temukan di jalan, lalu mengoleskannya pada rambut pirangnya. Kemudian ia mengotori baju, sepatu, dan topi barunya.

Setelah mengenakan topi, ia berkaca di jendela. Kapitän Gunther Plüschow telah lenyap. Di hadapannya berdiri George Mine, seorang buruh pelabuhan yang membutuhkan mandi. Plüschow tertawa melihat dirinya sendiri, tapi masih terlihat gagah seperti prajurit. Ia pikir kelakuannya harus agak berandal. 

la memasukan tangannya ke dalam sakunya, lalu meludah seperti yang dilakukan oleh buruh pelabuhan dalam bayangannya. Penyamarannya sempurna. Kemudian ia pun kembali ke Taman Hyde, sambil berusaha keras menghilangkan kesan gagah ala prajurit yang sudah menjadi hidupnya selama bertahun-tahun sebelumnya.

Plüschow punya cukup banyak waktu untuk menemukan tempat persembunyian yang aman sebelum Taman Hyde ditutup. Keesokan harinya, di dalam bus, ia mendengar dua orang pedagang membicarakan kapal bernama Mecklenburg yang berlayar dari Pelabuhan Tilbury menuju Belanda setiap hari jam 8 malam. 

Ia segera naik kereta menuju Tilbury yang terletak di luar kota London. Hampir dapat dipastikan, itu dia—sebuah kapal ferry yang berlayar setiap hari dari London ke Belanda. Plüschow segera bersembunyi di kapal tersebut dan menunggu sampai malam datang. Ia mencoba tidur untuk mengumpulkan energinya. Berlayar bukanlah hal yang mudah. 

Sekitar jam sepuluh, malam itu Plüschow pergi ke sungai. Sayangnya, ia tercebur ke dalam lumpur sampai sepinggang. la berusaha menyelamatkan dirinya, keluar dari lumpur tersebut. Setelah berjuang keras keluar dari lumpur, ia tidak mempunyai tenaga lagi untuk berjalan mencapai kapal. Plüschow membersihkan noda lumpur yang ada di pakaiannya, lalu duduk di tepi sungai, menggigil dalam kegelapan. 

Keesokan harinya, pagi-pagi benar, Mecklenburg berlayar tanpa dirinya. Tak dapat tidur karena kedinginan, Plüschow melihat bayangan kapal tersebut menghilang di kejauhan. Sepanjang hidupnya tak pernah merasa begitu menderita seperti saat itu.

Hari selanjutnya benar-benar panas, bahkan bajunya cepat kering terkena sinar matahari pagi. Pakaiannya mengeluarkan bau busuk yang luar biasa. Plüschow memberi selamat dirinya sendiri karena penyamarannya sebagai buruh pelabuhan kotor jadi semakin sempurna! 

Kemudian ia ke kota untuk membeli roti isi sosis dan secangkir teh manis. Duduk di bawah sinar matahari sambil menikmati sarapannya, ia merasa dipenuhi harapan kembali. Hari ini, katanya pada diri sendiri, ia akan meninggalkan Inggris selamanya.

Malam itu Plüschow berusaha naik ke Mecklenburg lagi. Dalam perjalanannya ke sungai, ia melihat sebuah perahu kecil dengan dayungnya tertinggal tanpa pengawasan. Saat malam tiba, ia menyusup ke tepi sungai dan mendorong perahu ke sungai. Tetapi masalahnya belum berakhir. Baru setengah jalan menuju Mecklenburg, perahu kecilnya tenggelam karena penuh dengan air. 

Saat itu ia mendengar suara orang yang sedang mengumpat kasar. Lalu ia melepaskan jaketnya dan berenang ke arah kapal. Keberuntungan ada di pihaknya, arus sungai searah dengannya. Seorang pria yang tidak atletis pasti sudah tenggelam dalam aksi ini, untunglah olahraga hoki di penjara tetap menjaga kondisinya tetap prima.

la mencapai kapal ferry dalam sepuluh menit, dan berpegangan pada rantai jangkar untuk mengatur napasnya kembali. Lalu, dengan sisa tenaga yang ada, ia naik ke atas kapal. 

Dewi fortuna masih di pihaknya. Tidak ada yang melihatnya naik ke kapal. Plüschow segera menyelinap ke kapal penyelamat yang ditutupi kain kanvas. Ketika pakaiannya kering, malam yang hangat membuatnya tertidur,

"Tuuuuuuuttt!!!"

Plüschow tersentak. Apakah itu bunyi peluit polisi? Apakah mereka sudah berhasil menemukannya? Lalu terdengar sekali lagi.

"Tuuuuuuuuttt!!!"

Oh, bukan, itu suara kapal. Ia mengintip keluar dan melihat Mecklenburg sudah hampir mencapai pelabuhan Rotterdam, Belanda. Ia berhasil!

Karena merasa terlalu senang, Plüschow mengeluarkan pisaunya dan memotong kain kanvas di atas kepalanya, kemudian keluar perlahan, dan menampakkan dirinya. Herannya, tak seorang pun yang memperhatikannya. Para awak kapal terlalu sibuk bekerja di dek, sementara para penumpang berlalu-lalang dengan barang bawaan mereka. 

Mungkin ini adalah hal yang baik. Penampilan Plüschow yang sangat dekil pasti mudah membangkitkan rasa curiga orang-orang. Kalau saja mereka tidak terlalu sibuk, mungkin saja ia sudah ditangkap dan dikirim kembali ke Inggris.

Merasa bodoh dengan tindakannya, Plüschow menyelinap kembali ke dalam kain kanvas, dan menunggu sampai penumpang terakhir turun dari kapal. Ia membaur dengan mereka supaya orang mengira ia adalah salah satu awak kapal yang kotor. Sesampai di dermaga, ia langsung menuju pintu bertanda 'Dilarang lewat'. Selanjutnya, ia bebas.

Di dalam kota, ia memesan sebuah kamar hotel, mandi sepuas-puasnya dan melahap makanan yang porsinya cukup untuk tiga orang. Besoknya, ia naik kereta pulang ke Jerman. Sembilan bulan lamanya terhitung sejak ia lolos dari Tiongkok, Gunther Plüschow siap berjuang kembali untuk negaranya.

 

Setelah Pelarian

Plüschow tampak seperti pahlawan yang ada di dalam buku komik, dan anehnya beberapa tahun kemudian ia memang mati seperti pahlawan. Setibanya dari Inggris, ia mendapat medali Iron Cross karena keberaniannya, yang diberikan secara pribadi oleh Kaiser Wilhelm II. 

Ia selamat dari perang dan menulis kisah yang dialaminya di Inggris dalam sebuah buku berjudul My Escape from Donington Hall (Pelarianku dari Donington Hall) yang banyak memberikan informasi dalam penulisan cerita ini.

Setelah perang, ia melakukan petualangan lagi. Semasa kecilnya, ia terpesona oleh Tierra del Fuego (The Land of Fire) di Amerika Selatan. Alamnya yang liar dan daratan yang bertebing-tebing menjadikannya sebagai salah satu bagian bumi yang belum dijelajahi.

Plüschow adalah orang pertama yang terbang melintasinya dan melanjutkan penjelajahannya di daerah tersebut, serta membuat dokumentasinya dalam bentuk foto dan film hingga Januari 1931.

Di bulan yang sama ia dan kopilotnya, Ernest Dreblow, terpaksa melakukan pendaratan darurat di sebuah danau yang dikelilingi gletser. Pendaratan yang buruk itu merusak salah satu pelampung yang diperlukan untuk mendarat. Di tengah tengah kondisi yang sangat dingin dan menakutkan itu, Plüschow dan Dreblow berjuang selama tiga hari untuk memperbaiki pelampung itu. 

Mereka memang bisa terbang lagi, tapi tak lama kemudian sayap pesawat patah. Plüschow loncat dengan parasut, sayangnya parasutnya tidak bisa mengembang. Ia jatuh dan tewas. Pesawatnya jatuh ke danau yang lainnya. Derblow tidak kehilangan nyawanya dalam kecelakaan itu, namun ia tewas ketika berenang ke tepian. Buku harian Plüschow yang ditemukan di tubuhnya menceritakan pengalaman seru mereka untuk bertahan hidup selama kejadian tragis tersebut. (Nukilan dari buku: TRUE ESCAPE STORIES Oleh Paul Dowswell)

 

" ["url"]=> string(71) "https://plus.intisari.grid.id/read/553355935/buruh-pelabuhan-yang-kotor" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1656700582000) } } [5]=> object(stdClass)#117 (6) { ["_index"]=> string(7) "article" ["_type"]=> string(4) "data" ["_id"]=> string(7) "3350728" ["_score"]=> NULL ["_source"]=> object(stdClass)#118 (9) { ["thumb_url"]=> string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2022/06/29/ajal-di-awal-tahun_randy-laybour-20220629073050.jpg" ["author"]=> array(1) { [0]=> object(stdClass)#119 (7) { ["twitter"]=> string(0) "" ["profile"]=> string(0) "" ["facebook"]=> string(0) "" ["name"]=> string(13) "Intisari Plus" ["photo"]=> string(0) "" ["id"]=> int(9347) ["email"]=> string(22) "plusintisari@gmail.com" } } ["description"]=> string(146) "Station Hotel kedatangan tamu sepasang suami istri yang ingin menginap. Beberapa hari kemudian, si Wanita ditemukan tidak bernyawa di dalam kamar." ["section"]=> object(stdClass)#120 (7) { ["parent"]=> NULL ["name"]=> string(8) "Kriminal" ["description"]=> string(0) "" ["alias"]=> string(5) "crime" ["id"]=> int(1369) ["keyword"]=> string(0) "" ["title"]=> string(24) "Intisari Plus - Kriminal" } ["photo_url"]=> string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2022/06/29/ajal-di-awal-tahun_randy-laybour-20220629073050.jpg" ["title"]=> string(18) "Ajal di Awal Tahun" ["published_date"]=> string(19) "2022-06-29 19:31:09" ["content"]=> string(26553) "

Intisari Plus - Di penghujung tahun, Station Hotel kedatangan tamu sepasang suami istri yang ingin menginap. Sempat curiga, kedua tamu itu diterima oleh sang Manajer. Namun beberapa hari kemudian, si Wanita ditemukan tidak bernyawa di dalam kamar.

------------------

Sabtu sore, 31 Desember 1938, Richard Jones, manajer Station Hotel yang letaknya dekat Waterloo Station di Kota London kedatangan dua tamu. Seorang pria dan seorang wanita muda belia memasuki ruangan depan hotel. Si pria berusia 30 tahunan, sedangkan si wanita jauh lebih muda, 20 tahun lebih, berambut pirang, cantik, dan air mukanya terang. Keduanya berpakaian rapi. 

Sebelum kedua tamu itu sempat berbicara, Jones masih sempat melihat bahwa koper satu-satunya yang mereka bawa (dijinjing oleh si pria) paling banyak hanya dapat memuat satu setel pakaian pria dan wanita.

Ketika mendekati meja manajer, si pria, yang berambut hitam dan berhidung mancung sekali - terlampau mancung hingga di Eropa pun menarik perhatian - berkata, "Sebuah kamar untuk istri saya dan saya sendiri, please?" 

"Kami baru dari Kent dan ingin menginap semalam saja - untuk melihat London di hari tahun baru."

Manajer Jones berpikir secepat kilat. Terima atau tidak? Apakah ada sesuatu yang mencurigakan? Memang malam itu malam menjelang tahun baru. Bila mereka betul dari Kent dengan kereta api, memang wajar menginap di hotel ini yang letaknya dekat Waterloo Selatan.

"Ya, masih ada satu kamar kosong." la lalu melirik ke koper kecil yang dipegang si pria. "Tapi Anda harus membayar lebih dahulu. Lima belas shilling, please." 

Setelah membayar, si pria mengisi buku tamu: Tuan dan Ny. Thomas King Tonbridge, Kent. Setelah diberi kunci kamar, mereka segera menuju ke kamar no. 6 di tingkat pertama.

 

Pelayan hotel terbirit-birit

Malam itu selanjutnya pasangan tersebut tak tampak lagi. Keesokan paginya, Minggu 1 Januari 1939, setelah makan pagi dengan istrinya di ruangan makan hotel, si pria mendekati Ny. Coote, pemilik hotel, dan mengatakan bahwa ia dan istrinya ingin tinggal semalam lagi. Lalu dibayarnya 15 shilling lagi. 

Sepanjang hari Minggu itu kembali pasangan itu tak keluar dari kamar. Baru sorenya, pukul 18.00, Ny. Coote melihat mereka makan malam. 

Senin pagi, pukul 10.00, Cathleen, pelayan hotel mengetuk pintu kamar no. 6. Karena tak ada jawaban dan mengira kamar itu kosong, maka dibukanya pintu dengan kunci pasnya. 

Ternyata di tempat tidur berbaring seorang wanita muda tanpa pakaian. Cathleen mengucapkan kata maaf, dan ingin keluar lagi. Tapi wanita di ranjang itu tak bereaksi apa-apa. Cathleen merasa heran dan mendekati ranjang. Apa yang dilihatnya membuat dia lari terbirit-birit ke lobi hotel.

"Wanita di kamar no. 6," katanya dengan napas terputus-putus kepada Ny. Coote. "Ada sesuatu yang menyumbat mulutnya. Tampaknya ia sudah tak bernyawa lagi." 

Setelah menyaksikan sendiri keadaan di kamar itu, Ny. Coote memanggil polisi. Dalam waktu setengah jam Detektif Inspektur John Wheatley dan William Fury dari Scotland Yard sudah berada di kamar maut.

Pakaian korban dalam keadaan terlipat rapi terletak di atas kursi. Sepatunya di bawah ranjang. Kopernya dalam keadaan terbuka, hanya memuat pakaian dalam dan alat kecantikan. Di sekitar lehernya tampak bagian lecet yang hitam warnanya dan mulutnya disumbat dengan gumpalan saputangan dan ujung seprai. Di meja sebelah ranjang ada botol sampanye yang sudah kosong, bersama dua gelas. 

Dokter forensik Douglas Cowburn dan ahli-ahli forensik Scotland Yard dipanggil. Kepala polisi Kent diminta mencari tahu tentang seorang penduduk kota itu yang bernama Thomas King. "Istrinya baru saja ditemukan terbunuh dalam kamar sebuah hotel di London. Beri kabar secepat mungkin," kata Fury per telepon.

Sementara itu Detektif Wheatley tak berhasil menemukan dompet wanita yang tewas itu. 

"Heran," kata Wheatley kepada rekannya, "Mungkinkah korban dirampok?

 

Kartu Natal memberi petunjuk

Ketika pertanyaan ini belum memperoleh jawaban, datanglah dr. Corburn dan dr. Keith Simpson. Kesimpulannya: "Mati dicekik. Terjadi kira-kira 12 -14 jam berselang. Tak lama sebelum tewas korban ini masih dengan sukarela melakukan hubungan seksual." 

Para ahli Scotland Yard lain memeriksa seluruh kamar, tapi tak menemukan sesuatu yang dapat menolong mereka. Terutama tak adanya sidik jari di botol dan gelas sampanye menimbulkan dugaan bahwa pembunuhan itu dilakukan dengan teliti.

Lewat tengah hari datang berita dari Kota Kent. Menurut kepala polisi dan kantor pos di sana, tak ada orang yang bernama Thomas King, "Baik bujangan maupun yang sudah beristri. Tampaknya nama palsu."

Tapi sedikit dari misteri sekitar pembunuhan terbuka ketika mayat wanita itu diangkut ke rumah sakit, dan di bawah bantal kepala ditemukan tas wanita yang berisi uang yang lumayan, dan beberapa kartu Natal yang semua dialamatkan kepada "Miss Peggy Pentecost, Elm Grove, Brighton, Sussex."

"Cerita lama. Belum menikah. Selama akhir pekan keluar kota secara gelap dan inilah kesudahannya. Lebih baik kita hubungi polisi Brighton," kata Wheatley. 

Pada pukul 13.30, setelah mengadakan pembicaraan telepon dengan polisi di Brighton, kota di pantai laut, jauhnya 50 mil dari London, datang kabar bahwa keluarga Peggy Pentecost telah ditemukan, dan ayahnya, Edwin Pentecost, pemilik sebuah perusahaan transportasi, akan tiba dengan kereta api ekspres di Waterloo Station, London, pukul 15.30.

Selagi menantikan kedatangan kereta api itu, Detektif Wheatley dan Fury memeriksa para pegawai hotel mengenai penghuni kamar no. 6. Informan yang paling penting ternyata manajer hotel, Richard Jones yang menerima tamu itu, dan berdinas baik malam Minggu maupun malam Senin. la dibangunkan dari tidurnya.

Jones menceritakan tentang perawakan Thomas King. Setelah makan malam di hari Minggu itu, mereka kembali ke kamar sambil membawa bungkusan, yang ditilik dari bentuknya mungkin berisi botol. la meminta pembuka botol dan dua gelas dibawa ke kamar no. 6. 

"Thomas King meninggalkan hotel malam Senin itu juga, beberapa menit lewat pukul 22.00," kata Richard Jones, "tapi kebetulan beberapa menit kemudian saya bertemu lagi dengan dia, tapi dalam keadaan yang berlainan."

Kira-kira pukul 22.30 malam itu, setelah duduk berjam-jam di belakang meja, Jones ingin mengaso sebentar dan minum di Kafe Black Dog, dekat Westminster Bridge Road. Di situ Jones melihat Thomas King dalam waktu singkat menghabiskan tiga gelas minuman keras. King masih di kafe itu ketika Jones meninggalkannya.

 

Dikira anak baik

Detektif Wheatley dan Fury segera mengunjungi Black Dog dan mewawancarai McEvoy, pemiliknya. 

"Seorang pria berhidung mancung sekali dalam mantel hujan gabardin?" Setelah berpikir sebentar McEvoy mengaku memang ada orang seperti itu yang menjadi tamunya. la minum minuman keras agak banyak lalu sebentar-sebentar melirik ke arah wanita-wanita yang ada di bar ini. 

"Sebetulnya saya mau meminta dia untuk meninggalkan tempat ini, tapi syukur dia sendiri berbuat demikian. la berkenalan dengan seorang wanita berambut merah dan agak sering ke sini, lalu menghilang bersamanya, saling berangkulan."

McEvoy tak tahu nama dan alamat wanita itu. "Bila Anda menaruh perhatian sebaiknya biarkan seorang petugas menunggu di sini. Mungkin besok lusa ia akan datang lagi." 

Seorang polisi berpakaian sipil ditinggalkan di kafe itu, sedangkan Wheatley dan Fury menuju Waterloo Station menantikan kedatangan Edwin Pentecost pada pukul 15.36.

Kereta api tiba tepat waktu. Edwin dibawa ke rumah sakit, dan mengenali korban pencekikan itu sebagai putrinya. Di markas besar Scotland Yard Edwin memberikan keterangan lebih jauh. Peggy Pentecost baru berusia 20 tahun. 

Ketika para detektif menceritakan bahwa Peggy berakhir pekan di sebuah hotel di London dengan seorang pria yang bertindak sebagai suaminya, dan menanyakan kepada dia apakah dia kenal laki-laki itu, Edwin terkejut dan menggeleng-gelengkan kepalanya. 

la tak tahu bahwa putrinya mempunyai kekasih. Keluarganya tak kenal pula pria yang mirip dengan Thomas King. la dan istrinya senantiasa yakin bahwa putrinya tidak pernah menyeleweng. Maka itu, ia dan istrinya tidak merasa curiga, ketika Sabtu sore itu putrinya meninggalkan rumah untuk bekerja.

"Kalau begitu putri Anda bekerja?" tanya Wheatley. 

"Ya," angguk Pentecost, "di sebuah sekolah di Tonbridge, Kent." 

Sekolah yang dimaksud adalah Harwich Academy dan Peggy bekerja sebagai tenaga administrasi.

"Ia suka pada pekerjaannya dan sering lembur Sabtu sore. Sabtu terakhir, menjelang tahun baru, ia mendapat telepon. Katanya, dari kepala sekolah, yang meminta ia kembali secepat mungkin ke tempat kerjanya untuk membereskan sesuatu sebelum beberapa hari lagi para muridnya masuk sekolah." 

Wheatley dan Fury menerima informasi ini dengan penuh perhatian. Atas pertanyaan mereka, Edwin Pentecost menjawab bahwa panggilan telepon itu datang kira-kira pukul 15.00 dan Peggy sendiri yang menerimanya. Sehabis makan siang Edwin mengantar putrinya ke stasiun kereta api, untuk ke Tonbridge. "Tapi sekarang saya mengerti, bahwa ia akhirnya tukar kereta dan pergi ke London," aku Edwin dengan suara sedih. 

 

Ternyata sekolah putri 

Meskipun sudah sore, para detektif itu segera bermobil ke Tonbridge. Sejam kemudian mereka tiba di Harwich Academy. Dari pihak pengurus sekolah diperoleh keterangan yang membenarkan dugaan para detektif: Peggy tidak pernah diminta bekerja lembur pada Sabtu sore itu, menjelang tahun baru. Kalau begitu yang menelepon Peggy adalah kekasihnya? pikir para detektif itu.

Dalam pemeriksaan itu diketahui, kepada para karyawan lain di sekolah itu Peggy memang pernah membanggakan bahwa tidak lama lagi ia akan menikah dengan seorang ‘master’. Artinya, bukan pegawai administrasi, melainkan seorang guru. Apakah seorang guru dari sekolah ini, Harwich Academy? Bukan! 

Meskipun Peggy tak pernah menyebut nama calon suaminya, tapi sudah jelas bahwa ia bukanlah guru dari Harwich Academy, melainkan dari sekolah di mana Peggy dahulu pernah bekerja. 

Jadi sebelum di Harwich Academy, Peggy sudah pernah bekerja pula. Ini tidak pernah diterangkan oleh ayah Peggy. Ketika arsip Harwich Academy diperiksa, ternyata dalam surat lamarannya Peggy menyatakan bahwa ia sebelumnya bekerja di Sussex Hall, sebuah sekolah di Seaford. 

Karena menurut perasaan para detektif, kekasih Peggy ada hubungannya dengan sekolah Sussex Hall, mereka memutuskan untuk segera ke sekolah itu.

Setelah makan malam di Seaford, malam itu juga mereka mengunjungi sekolah tersebut. Pengurusnya membenarkan bahwa Peggy pernah bekerja di sana. Apakah di antara para gurunya ada yang mirip dengan Thomas King? Pertanyaan para detektif ini mengherankan pengurus sekolah. 

"Sekolah ini sekolah putri. Gurunya semua wanita, tidak ada lelaki satu pun. Ini sudah begitu sejak sekolah ini didirikan 40 tahun yang lampau." 

"Tapi tak jauh dari sini ada Bydown School for Boys, mungkin di sana Anda bisa tertolong," kata pihak pengurus sekolah. Kali ini mereka menghadap sang direktur. Ternyata dulu Peggy memang pernah mengenal beberapa pegawai pria dari sekolah Bydown itu. 

Wheatley dan Fury segera ke sana. Dalam hari itu untuk ketiga kalinya mereka berbicara dengan pengurus sebuah sekolah. Direktur Bydown School for Boys tak dapat mengatakan bahwa di antara staf gurunya ada yang berniat menikah dalam waktu dekat. Hanya beberapa orang saja yang diketahui apa kegiatannya selama akhir pekan yang baru lewat. Yang lain sedang berlibur di luaran. 

Tetapi keesokan harinya sekolah akan mulai lagi. Semua guru akan datang. Pukul 15.00 kebetulan akan diadakan rapat staf guru. "Datanglah besok. Nanti Anda dapat memeriksa mereka sendiri," kata direktur sekolah itu.

Namun, para detektif itu tak dapat menunggu terlalu lama. Mereka sebut nama Thomas King dan menjelaskan usia dan wajahnya. Direksi sekolah tak mengenal nama itu. Tapi di antara pegawainya memang ada yang cocok dengan gambaran yang diberikan polisi. Namanya Albert Highsom. Tapi ternyata ia tak ada di kompleks sekolah. 

la memang bujangan dan sejak Sabtu sore telah meninggalkan kompleks sekolah. Katanya, untuk merayakan tahun baru dengan seorang kawan. "Tapi ke mana perginya, tak dapat saya katakan," kata direksi sekolah.

 

Kantor telepon ikut membantu

Meskipun sudah jauh malam, para detektif mengunjungi kantor telepon untuk menentukan siapa yang meminta hubungan telepon pada Sabtu sore kira-kira pukul 15.00 dengan rumah keluarga Pentecost di Brighton. Malam itu pemeriksaan belum dapat dilakukan, baru keesokan harinya. Pengurus kantor telepon berjanji akan memberi kabar secepat mungkin.

Baru lewat tengah malam Inspektur Wheatley dan Fury tiba di London. Meskipun begitu, mereka tak dapat beristirahat. Mereka harus mengunjungi dulu Kafe Black Dog, tempat seorang rekan mereka berdinas. 

la masih ada, tapi belum berjumpa dengan wanita berambut merah. Wheatley dan Fury turut menunggu sejam, sampai kafe itu ditutup. Si Rambut Merah tak juga datang. Dengan tangan kosong ketiga polisi itu pulang.

Keesokan harinya, Selasa, 3 Januari, pukul 14.00 ada perkembangan baru. Saat itu datang kabar baru dari pengurus kantor telepon Seaford. Inspektur Fury dan Wheatley meloncat ke dalam mobil dan langsung menuju ke Seaford, yang letaknya 50 mil. Setiba di sana kantor telepon memberikan keterangan, "Memang pada Sabtu sore pada pukul 15.07 menjelang tahun baru ada hubungan telepon dengan nomor telepon keluarga Pentecost di Brighton. Sambungan itu diminta dari sebuah kafe yang bernama Prince Edward di pusat Kota Seaford." 

Keterangan ini menarik perhatian, karena menurut direksi sekolah tempat Albert Highsom bekerja, ia meninggalkan kompleks sekolah pada hari Sabtu itu kira-kira sebelum pukul 15.07.

Sementara itu waktu sudah menunjukkan pukul 15.00. Mereka teringat pada keterangan direksi Bydown School for Boys, bahwa pada waktu itu semua guru akan rapat. Maka Wheatley dan Fury melanjutkan perjalanan ke sana. 

Setiba di sekolah ternyata rapat sedang berlangsung. Dengan tenang kedua detektif itu memasuki ruangan rapat dan memperhatikan wajah setiap hadirin. Hanya seorang yang mirip dengan pria yang malam menjelang tahun baru itu menginap di kamar no. 6 di Station Hotel di London. Memang Albert Highsom.

Tanpa banyak heboh ia kemudian diminta datang ke ruang direksi, di mana Wheatley dan Fury tanpa saksi lain dengan tenang berbicara dengan Albert Highsom. 

Dengan tegas ia menyangkal pernah mengenal Peggy Pentecost. Suaranya penuh keyakinan. "Memang benar akhir pekan ini saya di London, tapi saya menginap di tempat kawan-kawan saya di Primrose Hill." Lalu disebutnya nama kawan-kawannya itu. la pun menerangkan dengan tegas dan jelas apa yang dilakukannya selama hari Sabtu, Minggu, Senin, sampai Selasa hari itu. Albert Highsom pun menyangkal keras bahwa ia pernah menelepon dari Kafe Prince Edward di Seaford sebelum pergi ke London. 

 

Si Rambut Merah muncul juga

Kedua detektif kita mengunjungi Prince Edward. Tapi pemiliknya tak dapat memberi keterangan. "Jangan lupa, Tuan-tuan, sore itu Sabtu dan menjelang Tahun Baru. Kafe saya ini penuh sesak. Saya tak ingat siapa-siapa saja yang memakai telepon saya." 

Wheatley dan Fury berunding sebentar dan memutuskan seperti berikut: Fury akan kembali ke London, bertemu dengan setiap orang yang melewati malam tahun baru bersama dengan Highsom. Kalau perlu Fury pun ke Kafe Black Dog. Barangkali wanita berambut merah itu sudah muncul. 

Sementara itu Wheatley akan tetap di Seaford, melanjutkan penyelidikan bersama polisi setempat.

Setiba di London Inspektur Fury mengunjungi orang-orang yang menurut Albert Highsom merayakan malam tahun baru bersama dengan dia. Ternyata keterangan Highsom, guru dari sekolah Bydown itu, benar. la tak mungkin mempunyai sangkut paut dengan pembunuhan di kamar no. 6 di Station Hotel. 

Lalu Fury mengunjungi Kafe Black Dog di mana rekannya dalam pakaian sipil masih tetap menunggu dan memperhatikan setiap tamu yang keluar masuk. Fury turut memasang mata. Sampai beberapa menit sebelum pukul 24.00 tak terjadi apa-apa. 

Akhirnya, datanglah orang yang sudah lama dinanti-nantikan itu: seorang wanita berambut merah dan caranya ia melirik dan menilai kaum pria yang berada di kafe itu meyakinkan Fury dan rekannya, bahwa jerih payah mereka tidak sia-sia kini. Apalagi setelah ada kedipan mata yang diberikan pemilik kafe, McEvoy segera menyusul.

Perlahan-lahan kedua petugas Scotland Yard itu mendekati si Rambut Merah dan membawanya ke kantor polisi terdekat. Namanya ternyata Rose Kirby. Ketika mendengar bahwa pria yang dijumpainya di Black Dog mungkin telah mencekik seorang wanita lain kurang lebih sejam sebelum terjadinya pertemuan itu, Rose terkejut. 

Mungkin karena ini maka ia menuturkan secara terus terang apa yang dialaminya kemudian dengan pembunuh itu sesudah keluar dari kafe tadi. Dengan taksi mereka ke sebuah hotel di Paddington dan keesokan paginya berpisah.

"Tidak, baik sebelumnya maupun sesudahnya saya tak pernah bertemu lagi dengannya."

"Namanya?" la hanya mengatakan nama kecilnya "Harry", tapi nama keluarganya mulai dengan huruf A. Pada lengannya ada tato gambar hati tertusuk panah yang mengandung dua pasang huruf: M.B. dan H.A.

"Ketika saya tanyakan siapa M.B. itu, ia marah. 'Jangan campur urusan saya,' jawabnya." Fury mengucapkan terima kasih kepada Rose dan meminta dia untuk tidak pergi ke luar kota. 

Fury menarik kesimpulan, bahwa Thomas King itu sebenarnya adalah Harry A. Tapi terutama kenyataan bahwa lengan si pembunuh itu dihiasi tato membuka suatu kemungkinan yang berarti sekali. Scotland Yard bukan saja menyimpan sidik jari para penjahat, tapi juga cacat pada tubuh mereka, bekas luka, tato, dll.

 

Langganan polisi 

Meskipun waktu itu sudah jauh malam ia pergi juga dahulu ke Scotland Yard dan menyerahkan keterangan tentang Thomas King, dengan permintaan memperoleh jawaban keesokan paginya. Lalu Fury pergi tidur. la sangat lelah.

Ketika pukul 09.00 ia tiba di kantor Scotland Yard di mejanya sudah ada potret seorang pria berambut hitam, berhidung mancung dan namanya Harry Amstrong. Riwayat hidupnya? Langganan polisi!

Dari dokumentasi polisi itu ternyata antara lain bahwa dalam tahun 1925 Harry Amstrong (lahir 1901) diperiksa polisi, karena pada malam 20 Maret tahun itu polisi menemukan seorang wanita dalam keadaan luka parah di sebuah rumah di Surrey. la pingsan, tapi setelah sadar lagi di rumah sakit ia menceritakan bahwa namanya Mabel Brown (singkatan M.B.) dan bekerja di dapur sebuah rumah perkumpulan. 

la ditikam oleh Harry Amstrong yang juga bekerja di dapur itu. Kata Mabel, Amstrong dikeluarkan dari pekerjaannya karena menghamili Mabel. Mabel memberitahukan keadaannya kepada majikan mereka, agar Harry mau bertanggung jawab. Mabel merasa sangat sakit hati, karena ketika melihatnya bertubuh dua, Harry meninggalkan dia dan bergaul dengan wanita lain.

Malam itu juga (tahun 1925) Harry Amstrong ditahan dan kemudian dijatuhi hukuman penjara 15 bulan karena telah menganiaya Mabel Brown. Kemudian Harry keluar masuk penjara sampai tahun 1935. (Tanda rajah M.B. dan H.A. pada lengan laki-laki itu rupanya berasal dari masa ketika hubungan mereka masih baik). 

Dengan potret Harry Amstrong dalam kantongnya Detektif Fury mengunjungi Station Hotel, Kafe Black Dog, dan rumah Rose Kirby. Di mana-mana Fury mendapat penjelasan: orang di foto itulah yang menginap di hotel di mana Peggy dibunuh.

Lalu Fury menelepon Wheatley yang waktu itu masih menunggu di Seaford: "Cari orang yang bernama Harry Amstrong. Pekerjaannya bukan guru. Lebih baik cari di salah satu restoran atau tempat yang ada hubungannya dengan makanan." 

Fury buru-buru ke Seaford dan ketika memasuki kantor polisi setempat disambut oleh Wheatley yang sangat letih, tapi puas. "Sudah tertangkap," kata Wheatley. "Tapi tebak di mana dia kami temukan? Di sekolah Bydown! la sudah tentu bukan anggota staf guru. Seperti kau bisikkan: ia salah satu pelayan dapur sekolah!"

 

Cuma pelayan

Wheatley menerangkan lebih jauh, bahwa ketika membongkar kamar Harry Amstrong di sekolah itu, ia menemukan sejumlah surat yang berasal dari Peggy Pentecost. Isi surat itu membuka sedikit tabir rahasia pembunuhan Peggy. Seperti halnya dengan Mabel Brown (M.B.) yang malang itu, Peggy telah jatuh cinta pada Harry dan percaya omongan lelaki itu bahwa mereka akan segera menikah. Tapi sebenarnya Harry sama sekali tak bermaksud seperti itu. Sejak awal hubungan mereka dirahasiakan dengan alasan:

Harry akan mendapat promosi kalau tetap bujangan, maka itu hubungan mereka harus dirahasiakan. Rupanya Peggy percaya pada isapan jempol ini. 

Namun, dari surat-surat Peggy yang ditemukan di kamar Harry itu terungkap, bahwa lama-kelamaan Peggy tak sabar lagi. la mendesak agar mereka menikah, kalau tidak ia akan meminta bantuan ayahnya dan kepala sekolah Bydown.

Hal ini tampak paralel dengan peristiwa Mabel Brown: Harry khawatir rahasianya bocor hingga ia akan diberhentikan dari pekerjaannya di Bydown maka ia memutuskan untuk mengajak Peggy ke London dengan maksud menghabisi nyawa wanita muda itu. 

Pada tanggal 1 Maret 1939 di hadapan hakim, Harry Amstrong menerangkan, bahwa ia berdusta terhadap Peggy mengenai pekerjaannya, karena khawatir kalau Peggy tahu bahwa ia hanya seorang pelayan, hubungan mereka akan putus. Maksudnya mengajak Peggy ke London ialah untuk melarikan diri bersama wanita itu. Malam Senin itu Peggy ditinggalkannya sendirian di kamar hotel. Rupanya selama sendirian itulah seorang yang tidak dikenal memasuki kamar itu, lalu membunuh Peggy. Affair-nya dengan Rose Kirby diterangkannya sebagai salah satu kelemahannya terhadap wanita dan minuman keras.

Namun, juri tidak percaya. Setelah berunding selama 37 menit juri memutuskan Harry Amstrong bersalah melakukan pembunuhan yang sudah direncanakan. Pada tanggal 21 Maret 1939 Harry Amstrong meninggal di tiang gantungan.

" ["url"]=> string(63) "https://plus.intisari.grid.id/read/553350728/ajal-di-awal-tahun" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1656531069000) } } [6]=> object(stdClass)#121 (6) { ["_index"]=> string(7) "article" ["_type"]=> string(4) "data" ["_id"]=> string(7) "3350334" ["_score"]=> NULL ["_source"]=> object(stdClass)#122 (9) { ["thumb_url"]=> string(112) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2022/06/29/mayat-di-perahu_pedro-kummeljpg-20220629070618.jpg" ["author"]=> array(1) { [0]=> object(stdClass)#123 (7) { ["twitter"]=> string(0) "" ["profile"]=> string(0) "" ["facebook"]=> string(0) "" ["name"]=> string(13) "Intisari Plus" ["photo"]=> string(0) "" ["id"]=> int(9347) ["email"]=> string(22) "plusintisari@gmail.com" } } ["description"]=> string(125) "Setelah diantar Chris, Julia ditemukan tewas di perahu. Sebagai orang yang terakhir bertemu, semua bukti mengarah pada Chris." ["section"]=> object(stdClass)#124 (7) { ["parent"]=> NULL ["name"]=> string(8) "Kriminal" ["description"]=> string(0) "" ["alias"]=> string(5) "crime" ["id"]=> int(1369) ["keyword"]=> string(0) "" ["title"]=> string(24) "Intisari Plus - Kriminal" } ["photo_url"]=> string(112) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2022/06/29/mayat-di-perahu_pedro-kummeljpg-20220629070618.jpg" ["title"]=> string(15) "Mayat di Perahu" ["published_date"]=> string(19) "2022-06-29 19:06:34" ["content"]=> string(33928) "

Intisari Plus - Setelah diantar Chris, Julia ditemukan tewas di perahu. Sebagai orang yang terakhir bertemu, semua bukti mengarah pada Chris. Benarkah ia pelaku pembunuhan itu dan apa motifnya?

------------------

ami-istri Donald dan Helen Mitchell terbangun mendengar dering bel di Minggu pagi itu. Hari belum pukul 06.00 dan jalan-jalan di Kota Stansfield masih sepi, tetapi teman mereka, Christopher Wade, sudah bertamu dalam keadaan mabuk.

Buru-buru Helen membuatkan kopi kental dan membantu Chris yang beberapa belas tahun lebih muda untuk meminumnya. 

"Mana Julia?" tanya Helen. Julia adalah janda abang Donald yang akhir Minggu itu sedang menginap di rumah Donald. 

Semalam diketahui Julia dari rumah suami istri Short dengan diantar oleh Chris Wade. Ketika sampai larut malam Julia tidak muncul juga, Helen dan Donald beberapa kali menelepon ke rumah Chris, tetapi telepon tidak diangkat. Tahu-tahu pagi ini Chris muncul tanpa Julia dan dalam keadaan mabuk.

"Saya tidak sengaja," begitu jawab Chris selalu ketika Helen berulang-ulang menanyakan Julia.

"Apa maksudmu tidak sengaja?" tanya Donald yang sudah 26 tahun menjadi suami Helen.

"Dia yang menyebabkan saya berbuat demikian. Kami pergi ke kafe," jawab pria yang mabuk itu. Helen dan Donald berpandangan.

"Apa dia ada di sini?" tanya Chris tiba-tiba sambil mencoba bangkit dari sofa.

"Tidak ada." 

Julia yang cantik, pirang, dan berumur 30-an. Saat itu baru tujuh minggu kematian suaminya, Charles Mitchell. Charles yang umurnya dua kali umur istrinya meninggal akibat serangan jantung yang ketiga kalinya.

 

Baru kenal

Donald memandang ke luar jendela. Dengan matanya yang awas ia melihat mobil-mobil polisi di kejauhan, di jalan yang memisahkan hutan lama dengan hutan baru. Dilihatnya polisi berseragam melompat masuk ke hutan lama yang memayungi kafe terapung di tepi danau. Ketika Helen ikut memandang ke luar, istrinya itu kaget. Apalagi ketika dua mobil di antaranya meluncur menuju ke rumah mereka.

"Chris telah melakukan sesuatu, Donald," bisik Helen. Saat itu pengaruh kopi sudah mulai menyadarkan Chris walaupun tidak sepenuhnya. Tak lama kemudian bel rumah berbunyi. Donald dan Helen pergi ke ruang depan untuk membukakan pintu. 

"Saya Inspektur Lloyd dari bagian penyidikan pembunuhan di Stanfield," tamunya memperkenalkan diri. "Apakah Julia Mitchell kerabat Anda?" Setelah dibenarkan Lloyd berkata, ia harus menyampaikan kabar buruk. Julia ditemukan tewas. Dalam tas di sebelah mayat didapati alamat mereka.

"Apakah Anda mengenal Christopher Wade?" tanya Inspektur Lloyd pula. 

"Ya, saya kenal," jawab Donald cukup keras, sehingga Chris di ruang belakang mendengarnya. Rupanya ia memberi kesempatan kepada Chris untuk kabur.

"Kami mendapat keterangan bahwa ia dan Ny. Mitchell semalam berada di kafe perahu. Anda tahu di mana Pak Wade sekarang?”

"Tidak!" jawab Helen tegas dan keras. Dengan sempoyongan Chris pun melarikan diri lewat pintu belakang.

Lloyd menanyakan hubungan suami-istri itu dengan Julia Mitchell dan apakah Julia tinggal bersama mereka. Donald menjelaskan bahwa Julia mempunyai rumah sendiri di London. Pada akhir Minggu ini ia menginap di rumah Donald karena perlu mengurus warisan suaminya. Sejumlah harta tak bergerak milik Charles Mitchell berada di bawah pengawasan Donald, seorang ahli hukum perdata. 

"Pak Wade itu teman Anda?” Mereka mengiakan.

"Ia kenalan baik Ny. Mitchell?" 

"Bukan, mereka baru bertemu semalam." Donald menerangkan, "Julia berniat menjual tanah, toko, danau, dsb. warisan suaminya. Jadi, semalam saya mengantarnya ke rumah seorang agen real estate, Martin Short, yang tidak lain daripada abang ipar Chris Wade. Ketika mereka datang, Chris sedang bertamu ke rumah kakaknya. Di sanalah Julia dan Chris bertemu untuk pertama kalinya.”

Lloyd meminta Donald menceritakan urutan kejadian semalam. Kata Donald, ia mengantar Julia ke rumah keluarga Short dengan berjalan kaki. Karena Julia ingin mengecek sesuatu di kafe terapung, mereka singgah dulu ke tempat itu.

Ketika melanjutkan perjalanan ke rumah Short, mereka bertengkar soal danau. Setahu Donald, kakaknya ingin menghibahkan danau itu pada pemerintah daerah, sedangkan Julia ngotot ingin menjualnya. Di rumah Short, Julia masih tetap marah-marah. la bersikeras ingin pulang sendiri. Donald yang sudah naik pitam membiarkannya. Lantas Chris Wade menawarkan diri untuk mengantarkan Julia dengan mobil. 

Malamnya Donald dan Helen heran sebab Julia tidak pulang. Tapi karena Julia bukan anak kecil lagi, mereka anggap ia pantas menginap di mana saja.

Lloyd mengucapkan terima kasih untuk keterangan itu dan menanyakan siapa kerabat terdekat Julia Mitchell. 

"Ayahnya," jawab Donald. "Setahu saya saat ini ia sedang berlibur di Spanyol." Jadi, Lloyd meminta agar Donald saja yang mengidentifikasi mayat. Sebuah mobil akan dikirim untuk menjemput.

Sebelum meninggalkan suami-istri itu, ia sempat memperhatikan Helen Mitchell. Wanita yang sudah tidak muda lagi itu, menurut seorang anak buah Lloyd, adalah kekasih Christopher Wade.

 

Sama-sama serong

Inspektur Lloyd dan seorang polwan, Sersan Judy Hill, pergi ke perahu yang sebagian berfungsi sebagai kafe terapung di danau. Di sanalah mayat Julia Mitchell ditemukan dalam keadaan telanjang bulat. Kematiannya disebabkan karena jeratan pada leher. Alat penjeratnya itu tidak ditemukan. Dokter tidak pula menemukan tanda-tanda perkosaan maupun hubungan seksual sukarela.

Dari sana Inspektur Lloyd berkunjung ke rumah suami-istri Martin dan Elaine Short. Elaine, kakak Chris Wade, sulit percaya bahwa Julia tewas dibunuh. Lloyd meminta ia menceritakan kejadian semalam. Kata mereka, Julia datang bersama Donald. 

Sejak di luar rumah keduanya sudah bertengkar hebat soal danau yang ada kafe terapungnya. Baru kira-kira dua menit masuk ke rumah, Julia sudah bersikeras ingin pulang. Chris menawarkan diri untuk mengantarnya dengan mobil. 

Mula-mula Julia menolak. la ingin pulang sendiri ke rumah Donald dengan berjalan kaki. Elaine membantu Chris membujuk Julia agar mau diantarkan, sebab hari sudah hampir pukul 20.30.

Lloyd pun meminta keterangan tentang Chris Wade. Adik Elaine itu mengusahakan bengkel mobil. la menjadi duda dua tahun yang lalu, karena istrinya tewas dalam kecelakaan mobil. Chris merasa bersalah sebab dialah yang mengemudikan mobil. 

Untuk melupakan kesedihannya, ia lantas sering minum-minum. Pada saat Elaine belum pindah ke Stansfield, Donald dan Helen Mitchell-lah yang sering menghibur Chris.

Ketika Lloyd menunjukkan kecurigaan pada Chris Wade, Elaine marah sekali. Tak mungkin adiknya membunuh Julia, katanya. "Coba Anda tanya, ke mana saja Helen Mitchell pergi malam itu? Beberapa kali suaminya menelepon ke rumah dari sini, dua kali telepon tidak diangkat-angkat. 'Kan suaminya yang biasa tidur dengan Julia!" 

Bagaimana Ny. Short bisa tahu Julia itu kekasih Donald? Ny. Short pun memaksa suaminya untuk menceritakan peristiwa tiga minggu yang lalu. Dengan enggan Martin Short terpaksa juga buka mulut. 

Tiga minggu yang lalu, katanya, karena ada urusan di London, ia menginap di sebuah hotel kecil. Di situ ia melihat Donald dan Julia keluar dari sebuah kamar pagi-pagi. Short yang mengenal Donald pura-pura tidak melihat. Pasangan itu tampaknya tidak melihatnya.

Lloyd menanyakan pukul berapa Donald pulang semalam. "Hujan deras turun tak lama setelah Chris dan Julia pergi. Jadi, Donald terpaksa tinggal bersama kami sampai hujan reda, kira-kira pukul 23.00 lewat."

 

Dipergoki remaja yang pacaran 

Sementara itu di Hutan Thorpe polisi sudah menemukan pakaian korban, yang terdiri atas rok, blus, dan jas dari kain denim. Ketiganya digulung dan menyangkut di semak-semak. Sepatu korban ditemukan dekat tempat itu juga. Yang sebelah terpisah dari yang lain. Pakaian dalamnya tak ada. 

Donald sudah menjalani kewajibannya mengenali jenazah. Betul, wanita itu Julia Mitchell. 

Setiba di rumah, Donald memberi tahu Helen bahwa besok ia perlu ke London untuk mengambil foto Julia di rumahnya karena polisi membutuhkannya. Helen diam saja. Sejak Charles masih hidup, Donald sering mencari alasan untuk pergi ke rumah abangnya di London. 

Lama-lama Helen curiga, karena beberapa kali ketahuan bahwa saat Donald ke rumah abangnya, Charles sedang tak ada di rumah. Selama 26 tahun menikah ini entah sudah berapa kali suaminya berganti-ganti kekasih. Helen tidak pernah berpikir untuk membalas, tetapi sejak beberapa waktu ini Chris yang jauh lebih muda perlahan-lahan mengisi hidupnya.

Sementara itu Inspektur Lloyd dan rekannya, Sersan Judy Hill, mengunjungi Paul Sklodowski. Anak remaja itu semalam membawa pacarnya, Diane MacPherson, ke hutan yang gelap. Pukul 20.30 sebuah mobil datang ke dekat tempat mereka berpacaran. 

Seorang pria turun membuka pintu gerbang menuju ke kafe terapung. Ketika mobil memasuki gerbang, cahaya lampu mobil menyempatkan mereka melihat wajah seorang wanita pirang berumur 30-an di dalam mobil itu. Wanita cantik itu tampak ketakutan, kata Diane MacPherson yang ditanyai terpisah. 

Ketika mobil meninggalkan gerbang pukul 21.02, cuma si pria yang berada di mobil. Wajahnya tidak kelihatan. Mereka ingat betul pukul berapa mobil itu datang dan pergi, karena Diane berulang-ulang melihat arloji. la takut dimarahi ayahnya kalau pulang kemalaman.

Karena curiga, Paul mencatat nomor mobil tersebut yang ternyata cocok dengan nomor mobil Christopher Wade. Paul kemudian melapor ke polisi, sehingga polisi memeriksa perahu dan menemukan mayat. Christopher Wade dicari di rumahnya, tetapi tidak ditemukan. Bengkelnya pun tutup.

 

Ketiban warisan

Senin pagi, ketika sarapan, Donald berkata kepada istrinya. "Helen, kau pasti tidak tahu. Aku tahu karena kebetulan menjadi pelaksana ketentuan-ketentuan yang ditulis dalam surat wasiat Charles. Kita sekarang kaya, Helen." 

"Karena Julia meninggal?" tanya Helen tidak bersemangat, sebab ia sedang memikirkan nasib Chris. Donald mengangguk.

Suaminya menjelaskan bahwa Charles meninggalkan uang banyak sekali dan sejumlah harta tak bergerak untuk Julia. Kini uang milik Julia itu akan jatuh ke tangan ayahnya, tetapi harta tak bergeraknya akan jatuh ke tangan Donald. Sebab demikian: Lima tahun yang lalu, ketika Charles menikahi Julia karena Julia bilang ia hamil, Charles sebenarnya tidak bermaksud menikah. 

Tetapi ia ingin sekali mempunyai anak yang bisa mewarisi hartanya yang banyak. Jadi, dalam surat warisan yang dibuat sesaat setelah menikah, ia mewariskan harta bendanya yang berupa tanah, rumah, dsb. kepada anak-anaknya yang akan lahir. 

Kalau tidak ada anak, harta itu harus ditaruh dalam bentuk dana perwalian. Julia tidak bisa menjualnya tanpa persetujuan para wali, yaitu pengacara dan bank. Kalau Julia meninggal, harta itu jatuh kepada Donald, tidak dalam bentuk dana perwalian.

Ketika Charles membuat surat wasiat itu, kemungkinannya kecil sekali bagi kita untuk mewarisi harta Charles, sebab Charles yakin Julia hamil, padahal ternyata tidak. la mengikursertakan namaku hanya karena tidak ingin hartanya jatuh ke tangan bukan keluarga," Donald menjelaskan.

Mereka terdiam. Donald, mesti mengakui bahwa ketiban warisan itu enak, tapi sebetulnya ada hal lain yang lebih penting baginya selain harta, yaitu Maria. Selama ini ia selalu berganti-ganti pacar, tetapi Maria tampaknya wanita yang paling cocok di hatinya. Rasanya kini tiba saatnya mengakhiri hubungan dengan Helen. 

Akhirnya, bisa juga Donald mengungkapkan kepada Helen bahwa pernikahan mereka yang sudah berlangsung 26 tahun itu tampaknya tidak ada gunanya untuk dipertahankan lagi.

"Bukankah kau juga sudah mempunyai Chris?" katanya. "Sekarang dengan adanya warisan, kita bisa hidup sendiri-sendiri tanpa dialangi oleh keuangan." Setengah dari warisan akan diserahkan Donald kepada Helen. 

"Semaumu," jawab istrinya tidak bersemangat.

 

Sidik jari Julia tak ada di mobil

Menurut laporan autopsi, Julia Mitchell meninggal antara pukul 19.30 - 20.45. Tidak mungkin ia meninggal lebih malam dari itu. Lehernya dicekik dengan kaus nilon atau semacam itu. Bagian bawah mata kirinya tergores dalam dan memperlihatkan tanda-tanda bekas cat meja. Kemungkinan goresan itu disebabkan oleh benturan dengan meja pada saat ia jatuh. 

Perdarahan yang sedikit menunjukkan luka itu terjadi tidak lama sebelum ia meninggal. Darah di meja cocok dengan darah mayat dan cat meja cocok dengan serpihan cat dalam luka. Isi perutnya cocok dengan makanan yang disantap sebelum berangkat.

Sidik jari di kafe diperiksa. Cocok dengan sidik jari mayat. Ditemukan pula sidik jari Christopher Wade seperti yang dijumpai di setir mobilnya. Anehnya, sidik jari Julia tidak ditemukan di mobil Wade!

"Bisa saja terjadi, kalau Wade yang membukakan dan menutupkan pintu baginya," kata Lloyd kepada Judy. Semua orang yakin Chris-lah pembunuh Julia, kecuali kakak Wade, Elaine Short, dan ... Judy! 

Donald dipanggil ke kantor poIisi untuk diambil sidik harinya, sedangkan Helen didatangi Judy untuk ditanyai ke mana saja ia pergi pada Sabtu malam yang naas itu. Kata Helen, ia mengantar temannya dengan mobil ke stasiun, tak lama setelah Donald menelepon dari rumah Elaine Short, untuk menanyakan apakah Julia sudah datang. 

Donald ingin meminta maaf kepada Julia karena mereka bertengkar. Teman Helen berangkat dengan kereta pukul 20.50. Helen cuma beberapa menit saja di stasiun setelah kereta berangkat, lalu pulang. la tiba kira-kira pukul 21.30 atau mungkin pukul 21.35 di rumahnya.

"Mengapa Anda memerlukan waktu sekian lama untuk tiba di rumah?" tanya Judy. 

"Hujan turun lebat sekali ketika saya tiba di Hutan Thorpe, sehingga saya tidak bisa melihat jalan. Terpaksa saya parkir di tempat perhentian untuk menunggu hujan reda," jawab Helen. 

"Jadi, Anda berada di tempat perhentian itu kira-kira pukul 21.05 atau malah lebih awal?" 

"Ya, begitulah." 

"Jadi, Anda juga melihat mobil Pak Wade atau mobil lain lewat?"

Leher Helen mengejang. Mula-mula ia menyangkal melihat mobil Chris. Katanya, ia cuma melihat sebuah mobil berkap terbuka yang basah kuyup. Namun, akhirnya terpaksa juga ia mengaku melihat mobil Wade lewat. 

"Dengan siapa Pak Wade di dalamnya?" 

"Mestinya dengan Julia, karena setahu saya ia mengantar Julia," jawab Helen. Menurut pendapat Helen, mestinya Chris Wade tidak sadar melewati mobil Helen. Setiba ia di rumah, kata Helen, Donald menelepon lagi dari rumah keluarga Short, menanyakan Julia. Helen menjawab mungkin Julia pergi lagi dengan Chris ketika mendapati rumah kosong.

 

Bedeng bekas kuli bangunan

Sementara istrinya diwawancarai Sersan Judy Hill, Donald pergi ke rumah almarhum abangnya di London, yang mirip istana. la meminta foto kepada Maria, bekas pengurus rumah tangga keluarga Charles Mitchell.

"Tidak ada lagi fotonya yang lain?" tanyanya sambil mengernyitkan kening ketika melihat foto yang buram itu. 

"Tidak ada," jawab wanita yang sudah lama bekerja di situ itu. Helen selalu menyangka Donald berpacaran dengan Julia, padahal ia pacaran dengan Maria. 

"Saya sudah memberi tahu Helen," kata Donald seraya memeluk Maria. 

"Saya kira setelah kau mendapat uang, malah saya yang dipensiun," goda wanita cantik itu. 

"Saya memberi tahu dia bahwa ia akan mendapat setengah dari warisan," sambung Donald.

"Setengahnya? Terlalu banyak," sahut wanita itu. 

"Ah, buat kita 'kan sudah jauh dari cukup. Lagi pula kasihan 'kan dia, entah bagaimana nasib Chris." 

"Kelihatannya berat benar kau meninggalkan dia." 

"Memang berat. Kalau bukan demi kau, tidak bakal kulakukan."

Donald bilang, mereka harus berpisah dulu sekarang. Maria memberinya alamat ayah Julia yang ingin dihubungi polisi. 

Sebelum pergi meninggalkan rumah, Donald bertanya lagi, "Kau yakin tidak ada fotonya yang lain?" 

"Tidak ada. Dia bukan jenis orang yang senang dipotret. Itu pun kubesarkan dari foto pernikahannya.”

Sementara itu polisi sudah berhasil menemukan Chris Wade, di bedeng kecil bekas kuli bangunan yang sudah lama terlupakan di hutan baru. Di sanalah Chris biasa berpacaran dengan Helen. Sebelah pergelangan kakinya keseleo berat. la dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan. Tak seorang pun boleh menemuinya.

Menurut Chris Wade, Sabtu malam itu ia bersikeras mengantarkan Julia pulang, meskipun wanita yang baru dikenalnya itu menolak. Soalnya, hari sudah malam dan hujan hampir turun. Di Hutan Thorpe, Julia memaksa berhenti. Katanya, bolpennya tertinggal di kafe terapung. la meminta Chris meninggalkannya di sana. Chris memaksa juga mengantar.

"Kalau saya pikir-pikir, kok bodoh sekali saya memaksa mengantarnya," kata Chris. "Mungkin ia ingin bunuh diri di sana. Mati karena apa sih dia?" 

"Ah, Anda 'kan tahu," jawab Lloyd, "tapi coba teruskan dulu cerita Anda." 

Kata Chris, di dekat kafe Julia kelihatan takut. (Cocok dengan keterangan Diane MacPherson). "Julia bilang ia tidak usah diantar. la cuma mau masuk sebentar." 

"Siapa yang membuka pintu?" tanya Lloyd. 

"Dia dong. 'Kan dia yang memiliki kuncinya." 

"Maksud saya pintu mobil." 

"Oh, saya," jawab Chris. 

"Terus?"

"Dia cuma masuk sebentar lalu keluar lagi, memberi tahu lampu tidak bisa dinyalakan. Saya disuruh meninggalkannya di sana. Saya menolak. Saya ambil lampu senter. la mencegah. Saya memaksa juga masuk. Julia bilang bolpennya tidak hilang. Saya tidak perlu mencari pakai senter segala. la cuma tidak mau pulang ke rumah keluarga Mitchell sebelum tenang. Jadi saya bilang, tunggu saja sambil duduk-duduk. la kelihatan ketakutan." 

"Ketakutan?"

"Ya. Duduk ataupun berdiri, di dalam maupun di perahu ia terus mendekap tangannya. Kemudian ia berkata Donald mengetahui hubungan kami dan ia mengata-ngatai Helen, sehingga saya naik pitam. Tampaknya ia pandai sekali membangkitkan kemarahan orang. Saya dorong dia sampai terhuyung-huyung.”

"Wajahnya membentur meja?" sela Lloyd.

"Tidak. la cuma sempoyongan. Sungguh mati saya tidak membunuhnya. Bisa saja orang lain yang datang kemudian. Saya tidak heran kalau ia dibunuh orang. Mulutnya kotor."

"Kok aneh sih, Anda memaksa orang yang jelas menolak diantar." 

Chris akhirnya terpaksa mengaku bahwa ia memaksa mengantar Julia bukan karena ia naksir, tapi karena ingin bertemu Helen.

 

Betul Julia

Betapapun ia diinterogasi, Chris tetap pada keterangannya. Julia ditinggalkannya dalam keadaan tidak luka sedikit pun dan masih hidup. Setelah didorong, Julia mengancam akan memanggil polisi. la mengangkat telepon. Jadi, Chris buru-buru pergi dari sana. 

"Mengangkat telepon tanpa meninggalkan sidik jarinya?" tanya Judy. Soalnya, pemeriksaan pada telepon menghasilkan sejumlah sidik jari, tapi tidak ada sidik jari Julia. Memang ada bagian-bagian yang tampaknya sengaja dihapus. Chris bersikeras Julia mengangkat telepon.

Setelah diusir Julia, kata Chris Wade, ia pulang ke bengkelnya dan minum-minum sampai mabuk. Paginya ia ke rumah Helen tetapi tidak bisa mengingat banyak tentang hal itu. la bersembunyi karena pada saat pikirannya kalut ia mendengar polisi berkata Julia Mitchell tewas di perahu dan ia dicari. 

"Orang bilang Donald Mitchell berpacaran dengan Julia? Benar atau bohong?"

"Helen sih mengira demikian, tetapi yang dipacari Donald sebetulnya bukan Julia melainkan pengurus rumah tangganya, eh ... bekas pengurus rumah tangganya. Saya lupa namanya. Pokoknya, tidak mungkin Helen membunuh karena cemburu, sebab sejak dulu Donald itu hidung belang." 

Namun, bukti-bukti menunjukkan bahwa orang yang mempunyai kesempatan membunuh Julia hanya dua: Chris atau Helen. Kalau betul Chris meninggalkan Julia dalam keadaan hidup, kemungkinan Helen yang menghabisi wanita itu sebab bukankah ia memergoki Chris pergi dengan Julia?

Pemilik mobil kap terbuka yang dilihat Helen sudah berhasil ditemui. la dibebaskan dari kecurigaan karena tak ada bukti yang menunjukkan ia tersangkut pembunuhan atas Julia Mitchell.

Lloyd merasa aneh. Di telepon extention ada satu sidik jari yang samar-samar cocok dengan satu set sidik jari segar pada dasbor mobil Chris. 

"Ya jelas, dong, 'kan Julia menumpang mobil saya," kata Chris. 

"Tapi itu bukan sidik jari Julia. Sidik jarinya tidak ditemukan di mobil Anda!"

"Ha, ha, ha! Saya bisa ingkar dong, bahwa ia pernah menumpang mobil saya." 

"Tidak bisa. Di pakaiannya ditemukan serat-serat yang sama seperti yang didapati di mobil Anda. Coba Anda ingat-ingat, siapa yang dalam waktu beberapa hari ini menumpang mobil Anda."

Chris berpikir-pikir dan ingat hari Sabtu itu memberi tumpangan pada seorang gadis pelanggan bengkelnya yang ingin membeli bensin. "Tapi mana mungkin gadis itu memakai telepon pribadi di perahu?" pikir Lloyd.

"Anda yakin mayat di perahu itu mayat Julia Mitchell?" tanya Chris. Lloyd tidak menjawab. la melompat ke luar kamar tahanan. Donald Mitchell secara positif mengenali mayat itu sebagai iparnya. 

Wajah mayat itu juga cocok dengan fotonya walaupun agak kabur. Keadaan giginya sama dengan kartu keterangan dokter gigi yang dijumpai dalam tasnya. (Apa-apaan ia membawa kartu dokter gigi segala? pikir Judy). Bahkan ketika keesokan harinya ayah Julia datang, ia juga mengenali jenazah itu sebagai putrinya.

Di dalam selnya Chris mengurut-urut peristiwa hari Sabtu. la ingat ketika hampir mencapai Hutan Thorpe, ketika ada kelinci melintas ia terpaksa mengerem, sehingga Julia terhenyak ke depan. Untung wanita itu sempat berpegangan pada dasbor sehingga tidak terbentur. Begitu mengingat peristiwa itu ia melompat bangun dan menggedor-gedor pintu kamar tahanan.

"Bilang kepada Inspektur, itu bukan mayat Julia Mitchell!" teriaknya pada penjaga. "Periksa lagi! Jelas yang naik mobil saya bukan Julia Mitchell. Pantas tak ada sidik jarinya di mobil saya." 

Namun, apa boleh buat. Mayat dalam perahu memang betul Julia Mitchell.

 

Betul dia!

Sersan Judy Hill termangu-mangu. la yakin Chris Wade tidak berdusta. 

"Buat apa Donald dan Julia menginap diam-diam di hotel kecil di London, padahal Julia Mitchell mempunyai istana dan suaminya sudah meninggal?" tanya Judy kepada Lloyd.

Lloyd merasa bawahannya itu benar juga. Buru-buru Short ditelepon untuk ditanyai di hotel mana ia memergoki Donald dan Julia menginap. Kemudian Lloyd pergi ke hotel itu. Mula-mula ia meminta daftar tamu hari Sabtu. Ternyata penginap cuma sedikit. Di antaranya ada seorang tamu pria yang ongkos menginapnya akan dibayar Mitchell Engineering. 

Ada lagi seorang tamu wanita yang menginap sendirian dan mengaku sebagai Ny. Williams dari Oxford, la membayar tunai. Ketika dilacak oleh polisi, alamatnya palsu. Lloyd meminta kamar Ny. Williams dan kamar pria dari Mitchell Engineering diperiksa. Kebetulan kedua kamar itu belum dibersihkan. Jadi, ahli sidik jari cepat-cepat didatangkan.

Short ditelepon lagi, ditanyai kapan tepatnya ia melihat Donald dan Julia di hotel itu. Kebetulan ia ingat. Hari Sabtu tiga minggu yang lalu, katanya. 

"Berapa kali Anda pernah bertemu Ny. Mitchell?" tanya Lloyd. 

"Tiga kali. Sekali hari Sabtu yang lalu di rumah kami. Sekali lagi tiga minggu yang lalu di hotel itu. Pertama kali saya bertemu dia di rumahnya di London, tidak lama setelah Charles Mitchell meninggal. Saat itu saya diajak Donald ke sana, karena Ny. Mitchell ingin menjual peninggalan suaminya.”

Pelayan hotel bernama Gina yang bertugas hari Sabtu yang naas itu sedang cuti. Ketika didatangi ke rumah, ia bercerita bahwa ia ingat betul pada Ny. Williams, wanita cantik yang pirang dan berumur kira-kira 30-an itu. 

Nyonya itu menginap sendirian saja. Sabtu malam itu ada panggilan telepon untuk Ny. Williams kira-kira beberapa menit sebelum pukul 20.00. Ny. Williams pergi meninggalkan hotel dan baru kembali lagi pukul 21.00 lewat.

 

Alasan berpeluk tangan

Dari Mitchell Engineering, Lloyd tahu bahwa semua pembicaraan telepon dari kafe bisa dilacak. Telepon itu dipakai terakhir kali pada pukul 19.57. Seingat Lloyd, Donald berada di sana bersama Julia saat itu. Mengapa Donald tidak menceritakan bahwa ia atau Julia menelepon? Mengapa sidik jari mereka tidak ada di sana, padahal salah seorang dari mereka pasti menelepon? Apakah mereka menghapusnya? Mengapa?

Lloyd lalu menelepon ke rumah Julia Mitchell di London. Begitu telepon dijawab oleh seorang wanita, ia menaruhnya lagi. Diperintahkannya anaknya buahnya menjemput bekas pengurus rumah tangga Julia Mitchell, Maria. 

Ketika Maria Fraser yang pirang dan berumur 30-an itu tiba di kantor polisi, Gina (pelayan hotel) dan Diane (gadis yang berpacaran di hutan) sudah menunggu. Gina mengenali Maria sebagai Ny. Williams yang menginap hari Sabtu. 

Diane mengenalinya sebagai wanita yang berada di mobil pada hari Sabtu, pukul 20.30. Sidik jari Maria cocok dengan sidik jari di dasbor mobil Chris Wade, dengan sidik jari samar-samar di telepon extention maupun dengan sidik jari di kamar Ny. Williams.

Donald segera dijemput dari rumahnya untuk dibawa ke kantor polisi. Ipar Julia Mitchell itu akhirnya mengaku. Hari Sabtu Sabtu, pukul 19.30, ia berangkat dari rumahnya dengan Julia Mitchell menuju rumah Short. Julia diajak singgah ke kafe terapung dulu, yang lampunya sudah ia rusakkan.

Di sana Julia dibunuh dengan dijerat memakai kaus kaki. Benda itu lalu dibakar Donald. Lalu dari kafe perahu ia menelepon Maria di hotel. Maria datang dan mengenakan pakaian Julia. Bersama-sama mereka ke keluarga Short sambil pura-pura bertengkar. 

Rencananya Maria akan segera meninggalkan tempat itu dengan berjalan kaki menuju ke kafe, berganti pakaian dan membuang pakaian Julia, lalu menghilang. Celakanya, Chris Wade memaksa mengantarkannya.

Katanya, Donald dan Maria merencanakan pembunuhan itu setelah Maria diberhentikan sebagai pengurus rumah tangga, tidak lama setelah Charles Mitchell meninggal. Maria yang saat itu sudah berpacaran lama dengan Donald terpaksa menyewa kamar dan merasa tidak betah hidup sengsara.

Suatu kali, saat Julia sedang tidak ada di rumah, Donald sengaja mendatangkan Short untuk bertemu Maria yang menyamar sebagai Julia. Maria bisa bebas keluar-masuk rumah itu, sebab ia mempunyai kunci palsu.

Maria tidak cermat menyeka sidik jarinya di telepon, karena ia pikir tidak akan berarti apa-apa bagi polisi. Ia lupa bahwa pada saat Chris Wade mengerem agak keras, ia berpegangan pada dasbor mobil Chris. Padahal selama dalam mobil ia selalu berpeluk tangan agar tidak menyentuh sesuatu.

Mereka sengaja memberi foto Julia yang buram kepada polisi supaya perbedaannya dengan Maria tidak begitu kentara. Foto-foto lain dibakar sampai tidak tersisa sebuah pun.

"Mengapa Anda membuka juga pakaian dalam Julia dan menyembunyikannya di tempat lain?" tanya Judy ingin tahu. 

"Saya pikir lebih meyakinkan daripada kalau ia dibiarkan memakai pakaian dalam," jawab Donald. (Jill McGown)








" ["url"]=> string(60) "https://plus.intisari.grid.id/read/553350334/mayat-di-perahu" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1656529594000) } } [7]=> object(stdClass)#125 (6) { ["_index"]=> string(7) "article" ["_type"]=> string(4) "data" ["_id"]=> string(7) "3350054" ["_score"]=> NULL ["_source"]=> object(stdClass)#126 (9) { ["thumb_url"]=> string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2022/06/28/untung-andy-menemukan-karung_vin-20220628020020.jpg" ["author"]=> array(1) { [0]=> object(stdClass)#127 (7) { ["twitter"]=> string(0) "" ["profile"]=> string(0) "" ["facebook"]=> string(0) "" ["name"]=> string(13) "Intisari Plus" ["photo"]=> string(0) "" ["id"]=> int(9347) ["email"]=> string(22) "plusintisari@gmail.com" } } ["description"]=> string(146) "Selama 1,5 tahun polisi berkutat dengan beberapa kasus perampokan bersenjata. Suatu hari seorang anak remaja dan menjadi titik terang bagi polisi." ["section"]=> object(stdClass)#128 (7) { ["parent"]=> NULL ["name"]=> string(8) "Kriminal" ["description"]=> string(0) "" ["alias"]=> string(5) "crime" ["id"]=> int(1369) ["keyword"]=> string(0) "" ["title"]=> string(24) "Intisari Plus - Kriminal" } ["photo_url"]=> string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2022/06/28/untung-andy-menemukan-karung_vin-20220628020020.jpg" ["title"]=> string(29) "Untung, Andy Menemukan Karung" ["published_date"]=> string(19) "2022-06-28 14:00:42" ["content"]=> string(26388) "

Intisari Plus - Selama 1,5 tahun polisi berkutat dengan beberapa kasus perampokan bersenjata. Hingga suatu hari seorang anak remaja menemukan karung dan tidak sengaja menonton episode Crimewatch. Temuannya itu pun menjadi titik terang bagi polisi untuk menangani kasus perampokan tersebut.

------------------

Sore itu, 16 November 1985, Andy (14) bermaksud menyetel kaset video musik Top of The Pops. Secara tak sengaja ia keliru memutar kaset lain. Yang dilihatnya di layar TV malah rekaman episode Crimewatch dari Stasiun BBC. 

Semacam program Wanted ini adalah pencarian buronan dengan cara menayangkan rekonstruksi sebuah peristiwa kejahatan, agar pemirsa mau melaporkan keberadaan si tersangka. Di situ tergambar perampokan bersenjata. Pelakunya mengikat sebuah kotak peledak berkendali jarak jauh di punggung seorang sandera. 

Tertarik dengan benda aneh di punggung itu, Andy me-rewind lagi pas adegan tersebut. Benar! Rasanya ia pernah melihat benda itu beberapa waktu lalu." 

Masih jelas dalam ingatannya, beberapa bulan lalu ketika bermain dengan teman-temannya ia menemukan karung sampan tergeletak di trotoar depan sebuah rumah di Broxbourne, Hertfordshire, London, tak jauh dari tempat tinggalnya. 

Isinya macam-macam: topeng, rambut palsu, lem, sebuah penerima radio kecil, dan perangkat elektronik rakitan tangan. Iseng-iseng beberapa isi karung itu dibawanya pulang. Andy tertarik dengan perangkat elektronik yang sepintas mirip dengan yang dirangkai di mobil balap mainannya. 

Malang, sang ibu keburu melihat temuan itu dan menyuruh Andy membuangnya. Benda inilah yang dilihatnya dalam rekaman Crimewatch tadi. 

Atas inisiatif ibunya, mereka menelepon polisi. Tanpa disengaja, temuan Andy memberi petunjuk berharga bagi polisi yang sudah 1,5 tahun berkutat menyelidiki kasus itu.

 

Modus operandi sama

Sepanjang tahun 1985 serangkaian perampokan bersenjata telah membuat polisi dari Flying Squad di London sangat sibuk. Sasarannya beragam: bank, perkantoran, mobil barang, dan kantor pos.

Jumat pagi, 13 September 1985, sekawanan perampok menyatroni Imperial Cold Stores, toko perlengkapan rumah tangga di Tottenham. Kebetulan toko itu masih sepi. Cuma ada beberapa staf dan Fred, satpamnya. Dua orang menyerbu masuk. 

Fred yang sedang membuat teh ditodong senjata. Mereka mengancam dan menyuruhnya duduk di meja dekat jendela menunggu datangnya mobil barang. Jantung Fred berdetak keras. Sejam kemudian mobil yang ditunggu tiba. 

Pengemudinya mengangguk pada Fred, yang kemudian cuma membalas dengan senyuman, tanpa bisa berbuat apa-apa di bawah ancaman senjata. Setelah petugas pengiriman barang itu masuk, mereka disergap. Seorang dari mereka dijadikan sandera dan punggungnya dipasangi bom yang dikendalikan dengan pengendali jarak jauh. 

Beberapa menit kemudian, direktur perusahaan itu tiba. Dia ditarik paksa dari mobilnya dan sebuah tembakan peringatan diletupkan tepat di sisinya. Perampok kabur dengan kendaraan majikan Fred setelah terlebih dulu melepas bom di punggung sandera. Mereka berhasil menyikat uang senilai Rp 315 juta.

Peristiwa ini serupa dengan tiga usaha perampokan lainnya di Hertfordshire dalam 6 bulan terakhir. Pada 24 April, di Enfield Crematorium, tiga orang bersenjata menyandera staf sebuah pabrik yang sedang menunggu mobil barang. Sial, karena ada perubahan jadwal pengiriman mereka terpaksa pergi dengan tangan hampa. 

Pada 3 Mei, di Cross & Herbert, Hodesdon, dua orang bersenjata menyandera pegawai pabrik yang tengah menunggu setoran uang dari penjualan barang. Pada saat itu awak kendaraan merasa waswas karena tempat yang didatangi terlalu sepi. 

Mereka pun tidak jadi melakukan penyetoran. Perampokan pun urung terjadi. Upaya mereka diulangi lagi tanggal 27 Juni di Amtico, Enfield, tapi juga gagal lantaran yang ditunggu tak jadi datang. 

Ada kesamaan modus operandi pada kejahatan-kejahatan di atas. Beraksi pada pagi hari, sasarannya selalu kendaraan barang, serta pelaku maupun senjata yang dipakai sama.

Menyusul perampokan Tottenham yang mendapat banyak perhatian media, pengelola program Crimewatch menelepon Detective Constable Kevin Shapland dari Flying Squad, menawarkan untuk memfilmkan rekonstruksi perampokan tersebut. 

Flying Squad adalah kelompok polisi elite yang khusus dibentuk pemerintah Inggris untuk penanganan tindak kriminal. Dengan empat kantor di seluruh kawasan London, anggotanya terdiri atas 140 petugas, hasil seleksi ketat dari 4.000 polisi pilihan di Inggris.

Film rekonstruksi perampokan di Tottenham akhirnya ditayangkan 14 November 1985. Namun jumlah penonton saat ditayangkan ternyata lebih sedikit daripada biasanya, akibat kontes Miss World ditayangkan pada saat yang sama di ITV. Orang yang menelepon ke studio pun cuma 60. Padahal biasanya rata-rata ada 150. Itu pun tidak ada yang memberikan informasi berarti.

Tak lama setelah Andy menelepon, Detektif Kevin Shapland datang menemuinya. Informasi Andy yang begitu detail tentang kotak bom dan isinya amat menarik perhatian Kevin. Nama rumah tempat barang bukti itu ditemukan Andy adalah Emerald. 

Tanpa banyak kesulitan identitas pemiliknya segera bisa diketahui, David dan Rita Croke. Ternyata mereka penghuni baru. Pemilik lamanya telah pindah ke rumah lain yang lebih besar, juga di Broxbourne. 

Mereka mengelola perusahaan elektronik dan bangunan di Highbury. Informasi ini membuat polisi mencurigai pemilik lama rumah itu. Polisi segera membentuk tim khusus untuk menguak kejadian ini.

Pada 11 Desember 1985, hampir 4 minggu setelah Crimewatch ditayangkan, terjadi perampokan lagi di Armaguard Security Depot, Essex. Menurut pengakuan para saksi, sehari sebelum kejadian, sekitar pukul 19.00, Joe, satpam Armaguard, disandera di rumahnya. 

Tiga penjahat bersarung kepala menyekap istri dan anaknya. Kepada Joe perampok menyatakan, "Anda tahu apa yang kami inginkan? Antarkan kami ke kantor Anda besok dan bukakan brankas." 

Para penjahat memperlihatkan kotak bom waktu dengan lampu merah yang dikendalikan dari jauh. Benda maut ini akan dipasang pada salah seorang anggota keluarga Joe. Jika keinginan mereka tak dituruti, bom akan diledakkan. 

Memang, tak ada jalan lain bagi Joe untuk membebaskan diri selain bekerja sama dengan kedua perampok yang menginap di rumahnya, sepanjang malam.

Esoknya, ketika mereka meninggalkan rumah pada pukul 05.30, bom telah dipasang di bawah jok mobil Joe. Istri dan anak perempuan Joe ditinggal dalam keadaan terikat agar tak bisa kabur. Joe mengendarai mobilnya ke kantor sementara perampok membuntutinya. 

Akhirnya, di bawah todongan senjata Joe terpaksa menyerahkan uang perusahaannya dari brankas kepada perampok nekat tersebut. Bahkan sebelum perampok kabur, Joe dan salah seorang teman sekantornya dimasukkan ke dalam ruang besi dan pintunya dikunci. Uang sekitar Rp 1,7 miliar raib seketika. 

Perampok meledek polisi dengan menyisihkan ‘hadiah’ sebuah bom yang masih menempel dalam mobil Joe. Ini merupakan kasus perampokan terbesar di wilayah Essex, London.

 

Giliran Shields jadi sasaran

Dua bulan kemudian, dalam perjalanan pulang Detektif Kevin Shapland lewat Emerald. Terlihat ada tiga mobil parkir di depannya, sebuah Audi GT, Porsche, dan Nissan Sunny Estate. Melihat pelat nomornya, dia tahu Nissan tersebut milik Dolly Ince, istri George Ince yang pernah dipenjara karena merampok. 

Ternyata mereka tinggal bersama. Kecurigaan polisi terhadap pemilik lama Emerald pun gugur. Kini, perhatian dialihkan ke penghuni sekarang, David dan Rita Croke.

Tujuh tahun lalu David Croke (43) pernah dihukum lantaran mencuri. Rita yang dua belas tahun lebih tua, dinikahinya sejak 15 tahun lalu. David yang drop-out sekolah pada usia 14 tahun tanpa kecakapan tertentu, iseng-iseng bekerja sebagai sopir. Saat itu dia tidak punya pekerjaan tetap. 

Sejak pertengahan April 1977 - Februari 1985, dia tinggal di flat pemerintah di Edmonton, London. Setelah itu ia pindah ke Emerald, yang dibelinya secara tunai sekitar Rp 300 juta. Transaksi inilah yang mengundang kecurigaan polisi. Bagaimana seorang pengangguran bisa beli rumah semahal itu. 

Akhir Juli, mobil Golf GTI hijau terlihat di jalan masuk Emerald. Pemiliknya diketahui bernama Donald Barret, mantan napi kambuhan yang tiga tahun lalu keluar dari bui.

Dalam penyelidikan kasus ini anggota tim polisi bertambah dengan masuknya Inspektur Detektif Duncan MacRae. Saat itu, polisi belum tahu apa yang hendak dikerjakan. Tapi seminggu kemudian, tanda-tanda aktivitas mereka mulai terlihat. 

Suatu sore Barret tiba di Emerald dengan Golf GTI hijaunya. Dia masuk sebentar, lalu keluar bersama David Croke. Keduanya masuk ke mobil Golf itu. Barret yang mengendarainya. 

Tim pengintai segera membuntuti, meluncur ke arah London melalui pusat kota dan menuju Battersea. Sasaran mereka kompleks industri. Polisi menunggu di luar kompleks. Mereka melihat mobil tadi dikendarai perlahan mengitari blok itu dan keluar lagi.

Di sana terdapat gudang milik perusahaan pengiriman uang dan surat berharga yang bernama Shields. Polisi curiga perusahaan ini bakal menjadi sasaran perampokan. Pengamatan dan pengintaian intelijen beberapa hari memastikan hal itu.

Seorang detektif yang bertugas mengamati gudang itu melihat mobil Golf hitam diparkir di pintu masuk depan. Mobil ini sebelumnya juga pernah berada di jalan masuk Emerald. 

Diketahui, pemiliknya bernama Alan Turner yang tinggal di Essex. Rupanya dia satpam Shields. Belum diketahui apa tugasnya. Begitu juga apakah dia bergabung dengan komplotan itu atau tidak.

Inspektur Duncan MacRae menggelar pertemuan mendadak untuk membicarakan strategi penggerebekan. Tugas pertama, menentukan pos pengintaian sekitar kompleks industri yang memungkinkan mereka melihat gerbang utama Shields.

 Titik utama yang menguntungkan adalah sebuah pub yang letaknya beberapa puluh meter dari gudang. Untuk melihat yang datang dan pergi, dipakailah sebuah pos polisi tua di persimpangan Battersea Road, satu-satunya jalan ke kawasan industri tersebut. 

Sebuah sekolah yang letaknya memungkinkan untuk melihat halaman utama gudang dijadikan pos observasi berikutnya. Kebetulan saat itu liburan sekolah. 

Sesuai dengan waktu yang diperkirakan, setiap orang harus siap di posisi masing-masing. Tahu-tahu terbetik kabar, Barret terbang ke Portugal bersama keluarganya. Alhasil, petugas polisi terlantar selama 2 hari. 

Minggu, 10 Agustus, Barret riba kembali di Heathrow, sendirian. Tim penyelidik membuntutinya ke Emerald, tempat dia bertemu David Croke. 

Mereka segera ke rumah Alan Turner di Essex. Diduga ini perundingan terakhir. Mereka berkumpul sampai pukul 22.00. Croke dan Barret kembali ke Emerald. Tapi hujan badai di Hertfordshire malam itu menyulitkan tim pengintai melihat gerak-gerik mereka.

Sementara itu, di stasiun polisi Lambeth, Detektif Kevin Shapland sudah menyelesaikan briefing terakhir kepada anggota tim. Operasi bersenjata akan dilancarkan sepanjang malam itu. 

Petugas Blue Berrets, unit senjata api taktis, ditempatkan di sekitar gudang, karena keterampilan mereka dalam penanganan sandera dan senjata api diperlukan. Para petugas terampil dalam pengintaian berkendaraan juga disiapkan. Total yang bertugas malam itu, 80 personel.

 

Serba tak menentu

Tanda-tanda bakal terjadi sesuatu terlihat pada pukul 04.20, ketika lampu luar Emerald menyala. Donald Barret dan David Croke keluar, masuk ke mobil menuju garasi terbuka. 

Dengan kendaraan yang tak biasa mereka pakai, yakni mobil barang Ford Escort biru, meluncur menuju Battersea. Keduanya mengenakan pakaian gelap, berdasi, dan membawa radio. 

"Saya berada di pos pemantauan jalan utama Battersea. Ketika melihat mereka dalam perjalanan, lambung saya mual. Adrenalin mulai terpompa, dan saya cuma berharap segala sesuatunya akan berjalan sesuai rencana," kenang Kevin Shapland.

Pukul 05.45 Alan Turner tiba di gudang dengan Golf-nya dan beberapa menit kemudian, dia ngobrol dengan temannya yang memarkir kendaraan di sebelahnya. Turner tampak gugup. Dia mondar-mandir dan merokok terus. 

Sepuluh menit kemudian, Ford Escort biru dengan Barret dan Croke di dalamnya tampak membuntuti sebuah mobil Vauxhall, berisi seorang pegawai Shields. Mereka melaju ke daerah sasaran.

Vauxhall berhenti di luar gerbang masuk. Pengemudinya keluar, disambut Turner dan temannya. Ford Escort biru perlahan menghampiri mereka. Inilah saatnya melakukan penyerbuan. Setiap orang siap siaga dan menunggu. Tapi mobil barang biru malah pergi. Atmosfer ketidakpastian menggelayut di pos-pos pengintaian polisi. 

Sementara itu Turner dan temannya telah masuk bersama pegawai Shields. Beberapa saat kemudian keluar lagi. Turner berjalan menuju mobil barang putih di dekat gerbang utama. 

Dia membawa sesuatu mirip kotak sepatu, dan dimasukkan dari pintu belakang mobil. Dia kemudian melompat ke ruang kemudi. Temannya menuju tempat duduk penumpang dan mereka menghidupkan mesin. 

Sampai di sini polisi masih belum bisa bertindak. Turner 'kan satpam perusahaan itu. Tak ada yang tahu persis apa yang terjadi. Perampokan atau bukan.

“Kami menghadapi persoalan nyata dan pelik. Ada sebuah kendaraan, mungkin berisi uang atau emas di dalamnya dan dua orang bersenjata. Tapi ada juga satpam. Kami belum bisa berbuat lebih Ianjut, selain harus membuntuti mereka," ungkap inspektur kepala Detektif Peter Gwynn. 

Detektif Kevin Shapland segera bergabung dengan unit pengintai di jalan utama. Ford biru, dengan Barret dan Croke di dalamnya, membuntuti mobil barang putih. 

"Kami di belakang pada jarak tertentu. Barret mengenakan wig dan kacamata. Saya tak tenang. Semuanya mungkin terjadi. Kami tahu mereka bersenjata, dan situasinya dapat berpotensi menjadi bahaya," aku Shapland. Konvoi ini mengitari Hyde Park Corner dan naik ke Edgware Road menuju jalan raya Ml. 

Pada saat bersamaan, helikopter polisi metropolitan juga telah disiapkan di pangkalan heli Battersea. Kalau perampok keluar area, helikopter dengan perlengkapan komunikasi canggih ini dapat diperintahkan membantu operasi.

 

Memberi selamat

Tiba-tiba mobil barang putih keluar menuju kawasan wisata, Newport Pagnell, Escort biru tetap mengikuti. Waktu menunjukkan pukul 07.45. Turner memarkir mobil barang, keluar, dan berjalan menuju restoran. 

Mobil-mobil polisi pengintai tetap mengawasi tersangka. Mereka dapat melihat Croke dan Barret berbincang dengan Turner di luar pintu masuknya. Kelihatannya pertemuan ini telah direncanakan. 

Saat Turner berjalan kembali menuju mobil barang, dia diikuti oleh Croke dan Barret. Nampaknya dalam detik-detik ini ‘aksi’ terjadi. Tapi karena teralang mobil barang, polisi tak bisa melihatnya. 

Lokasi juga menyulitkan tim pengintai, karena bila melakukan penyergapan di tempat terbuka akan membahayakan umum. Kenyataan bahwa para tersangka sebelumnya pernah menyandera, menembakkan senjata, dan menggunakan bom merupakan pertimbangan utama.

Tak berapa lama kemudian mobil barang putih terlihat meninggalkan tempat parkir. Namun sekarang, yang mengendarai David Croke, bukan lagi Alan Turner. Barret dengan mobil barang biru menguntit rapat di belakangnya. Nah, kelihatannya perampok telah beraksi. Polisi harus bertindak. 

Petugas tahu bahwa lokasi penyergapan terbaik adalah jalan kecil yang arahnya menjauhi jalan raya. Tapi waktunya terbatas. Konfrontasi di jalan utama dapat berakibat fatal, maka baru ketika kedua mobil barang bergerak menuju jalan raya, perintah penyergapan diberikan.

Kendaraan pengintai, yang diparkir di tempat tersembunyi, dipacu untuk menghadang mobil barang putih. Dalam sebuah baku tembak singkat, para penjahat bisa ditangkap. 

Dari mobil mereka ditemukan sebuah revolver 0.32, pisau lipat, dan kaleng gas CO. Di dalam kotak sepatu ditemukan batangan emas lantakan. Dalam hiruk pikuk itu, Barret mencoba melarikan diri dengan mobil barang biru, tapi dengan tangkas Detektif Shapland berhasil meringkusnya. 

Rupanya Barret masih mengenali para penangkapnya. Saat ditangkap dia malah memberikan ucapan selamat kepada petugas tersebut. 

Dua orang petugas satpam Shields terlihat menutupi kepalanya, wajahnya merunduk ke lantai mobil barang. Walaupun Turner jelas-jelas ikut dalam suatu ‘aksi perampokan’ bersama Barret dan Croke, polisi tetap belum tahu sampai seberapa jauh keterlibatan mereka. Keempatnya segera dibawa ke kantor polisi Milton Keynes. 

Siang harinya, pukul 14.00, petugas lain diperintahkan menggerebek Emerald dan menangkap Rita Croke. Dari wanita ini petugas berhasil menyita sebuah tas berisi senjata genggam Reck 0.65, beberapa butir peluru, peluru gas, kacamata, dan surat-surat berharga. Tas lainnya berisi sarung pistol, peluru, topi, dan pakaian.

 

Pengakuan mantan napi

Untuk mendapatkan pengakuan bahwa komplotan itu juga bertanggung jawab atas serangkaian perampokan sebelumnya, dalam proses penyidikannya, Flying Squad meminta bantuan Barret, si mantan napi tersebut. 

Dari catatan polisi, Barret ternyata pernah dijadikan informan polisi pada tahun 1980, setelah mendapat pengurangan hukuman penjara. Dari keterangan Barret diketahui, perampokan Shields sudah direncanakan dengan cermat dan dipersiapkan dalam waktu setahun. 

Bahkan kelompok ini membutuhkan waktu beberapa bulan untuk menetapkan tanggal beraksinya. Saat itu Alan Turner baru saja mulai bekerja di Shields. Waktu yang tepat adalah ketika Turner bertugas mengantar batangan emas dengan mobil barang. 

Padahal saat itu Barret berlibur bersama keluarganya. Karena rencana perampokan itu, Croke meminta Barret pulang untuk membantu aksi itu. Dari pengakuannya, nampak bahwa David Croke adalah otak kelompok ini. Namun, Croke tidak waspada. Barret rupanya masih terus diawasi polisi.

Dalam penyelidikan selanjutnya, Barret mengakui kelompoknya juga bertanggung jawab atas peristiwa perampokan Armaguard. 

"Sebelumnya mereka akan memilih satpam Bill untuk dipakai. Tapi belakangan, setelah menyelidiki Bill dan rumahnya, Croke menggantikannya dengan satpam lain, yakni Joe," jelas Barret. "Kotak plastik dengan sebuah sakelar lampu merah yang disebut-sebut sebagai bom itu sebenarnya cuma mainan," tambahnya. 

Dari hasil berbagai perampokan itu David Croke punya vila dan kapal di Malta. Bukti pendukung juga didapat dari data forensik. Selama perampokan Armaguard, kabel yang berhubungan dengan pagar di sekeliling gudang diputus. 

Ketika polisi menyelidiki Emerald, beberapa bulan kemudian mereka menemukan sebuah pemotong kabel. Juga sebuah sarung kepala ditinggal di TKP. Wig yang dikenakan Barret ketika ditangkap cocok dengan rambut yang ditemukan di sarung kepala.

 

Pakai nama samaran

Fakta demi fakta akhirnya terungkap dari interogasi terhadap Barret. Anggota ketiga komplotan ini adalah Glen Armsby. Dia tinggal dengan saudara perempuan Rita Croke. Dave dan Glen punya sejumlah rekening bank dan saham di building societies. 

Tapi sekembali dari Malta, Dave mentransfer uangnya ke bank di Irlandia dengan alasan bunganya lebih tinggi. Rekening David Croke di Bank of Ireland, Seven Sisters Road ini, terdaftar atas nama T. Moore. 

"Saya punya beberapa cek yang ditandatangani Croke dengan nama T. Moore," jelas Barret. Dari hasil perampokan Armarguard, Croke menerima bagian sekitar Rp.500 juta.

Pengakuan ini didukung temuan polisi, sebuah koper milik Croke di Emerald berisi surat berharga yang dibubuhi nama T. Moore. Ketika polisi mengecek di banknya, mereka melihat bukti tertulis dalam rekening, slip pembayaran dan cek, yang lagi-lagi membuktikan segala sesuatu yang diceritakan Barret.

Perampokan toko peralatan rumah tangga di Tottenham, juga melibatkan Glen Armsby dan David Croke. Dave-lah yang mengawal petugas pengirim barang, sementara Barret menangani direktur toko itu. 

Tiga karyawan yang hendak melawan dibereskan oleh Glen. Sedangkan yang memindahkan uang ke mobil Fred adalah Dave, lalu Glen yang mengendarainya. Sementara Barret dan Dave mengawal dari belakang untuk menghadang bila ada yang mengejar mereka. Dari hasil perampokan ini, masing-masing kebagian Rp 100 juta.

Total kejahatan yang telah mereka lakukan sebanyak 23 kali. Di antaranya ada yang sudah terjadi 3 tahun lalu. Barret diinterogasi setidaknya selama 9 bulan. Kasusnya dilimpahkan ke pengadilan pada April 1988. Di pengadilan, informan yang kambuh jadi perampok sejak usia 12 tahun ini berbicara dengan sangat lancar. 

Sebaliknya, David Croke menolak menjawab setiap pertanyaan mengenai tuduhan terhadapnya. Akhirnya, karena bukti-bukti amat kuat, dia dinyatakan bersalah telah melakukan 9 kali perampokan, termasuk di Tottenham, Armaguard, dan Shields. Dia dihukum 23 tahun.

Walaupun Glen Armsby mengakui terlibat dalam perampokan Tottenham, polisi memusatkan tuduhan pada kasus paling serius, perampokan Armaguard. Untuk ini, dia dihukum 15 tahun penjara. Alan Turner dihukum 7 tahun dan Rita Croke dikenai hukuman percobaan. 

Sementara itu Barret dinyatakan bersalah melakukan 23 tindak kejahatan. Setelah hakim mempertimbangkan hukuman selama 24 jam, esok paginya dia memberi Donald Barret hukuman 16 tahun penjara.

Ketika persidangan berakhir, 8 orang menerima hukuman penjara total 71 tahun. Bagi Detektif Kevin Shapland, ini merupakan sukses pribadi yang besar. "Semua ini terjadi karena sebuah laporan anak laki-laki 14 tahun yang, karena perjalanan nasib, telah melihat video Crimewatch. Tanpa informasinya kami takkan pernah melihat rumah di Broxbourne itu." (Liz Mills)



 

" ["url"]=> string(73) "https://plus.intisari.grid.id/read/553350054/untung-andy-menemukan-karung" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1656424842000) } } [8]=> object(stdClass)#129 (6) { ["_index"]=> string(7) "article" ["_type"]=> string(4) "data" ["_id"]=> string(7) "3304034" ["_score"]=> NULL ["_source"]=> object(stdClass)#130 (9) { ["thumb_url"]=> string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2022/06/03/sascha-wronsky-ingin-biola-strad-20220603014313.jpg" ["author"]=> array(1) { [0]=> object(stdClass)#131 (7) { ["twitter"]=> string(0) "" ["profile"]=> string(0) "" ["facebook"]=> string(0) "" ["name"]=> string(13) "Intisari Plus" ["photo"]=> string(0) "" ["id"]=> int(9347) ["email"]=> string(22) "plusintisari@gmail.com" } } ["description"]=> string(145) "Seorang pemain biola tidak sengaja melihat biola Stradivarius-nya itu di apotek. Ia menawarkan harga fantastis untuk biola pengamen tua tersebut." ["section"]=> object(stdClass)#132 (7) { ["parent"]=> NULL ["name"]=> string(8) "Kriminal" ["description"]=> string(0) "" ["alias"]=> string(5) "crime" ["id"]=> int(1369) ["keyword"]=> string(0) "" ["title"]=> string(24) "Intisari Plus - Kriminal" } ["photo_url"]=> string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2022/06/03/sascha-wronsky-ingin-biola-strad-20220603014313.jpg" ["title"]=> string(39) "Sascha Wronsky Ingin Biola Stradivarius" ["published_date"]=> string(19) "2022-06-03 19:06:30" ["content"]=> string(12798) "

Intisari Plus - Seorang pengamen tua mempertunjukkan kemampuannya setiap hari di depan sebuah apotek. Hingga suatu hari, seorang pemain biola tidak sengaja melihat biola Stradivarius-nya itu di apotek. Ia menawarkan harga fantastis untuk biola pengamen tua tersebut.

-------------------------

Di depan Apotek Saint George, London, yang terletak di sebuah jalan kecil di pusat kota itu, ada seorang pengamen. Pada waktu itu boleh hampir dikatakan belum ada musik di radio-radio, sehingga orang akan senang sekali bila ia lewat di jalan itu, karena sambil berjalan mereka dapat menikmati musik.

Demikianlah setiap siang para karyawan kantor, pedagang kelontong, dan wanita singgah di tempat di mana si tua memainkan biolanya. Mereka meletakkan uang sen ke dalam topinya di atas kursi lipat yang ada di sampingnya. Si tua itu dengan ramah menganggukkan kepalanya yang sudah dipenuhi uban dengan rasa terima kasih.

la mengenakan sebuah mantel panjang berwarna hitam dengan dasi yang terikat rapi pada kerah bajunya. Wajahnya yang jenaka selalu tercukur rapi dengan sedikit bedak di sekitar dagunya.

Sedikit pun tidak tampak bahwa ia seorang pengamen miskin, yang mengharapkan sedekah. Seakan-akan ia hanyalah seorang pemain biola yang ingin mempertunjukkan kemampuannya dan ingin sekadar menyemarakkan kota suram yang penuh pabrik itu.

Pemilik Apotek Saint George menikmati lagu-lagu yang dibawakan si tua dengan samar-samar melalui jendela toko. Dalam waktu singkat ia mulai menyukai lagu-lagu itu, bahkan mulai merasa kesepian bila si pengamen kebetulan tidak muncul.

Si pengamen ini merasa gembira dan menyambut dengan tangan terbuka ketika pemilik apotek menyatakan keinginannya untuk berkenalan.

Pada suatu saat si tua ini menerima hadiah dari Bala Keselamatan, yaitu selama seminggu ia boleh ikut makan siang di dapur umum. Karena itulah ia minta kepada pemilik apotek agar boleh menitipkan biola, topi, serta kursi lipatnya di apotek sampai ia kembali.

Si apoteker merasa gembira bila ia dapat berbuat sesuatu untuk sahabatnya ini, sehingga dengan senang hati ia mau menyimpankan peralatan sahabatnya ini selama ia sedang makan siang.

 

Sebuah Stradivarius 

Pada suatu hari datanglah seorang pria bersama wanita ke apotek itu. Sang laki-laki rapi dan bersikap sebagai orang baik-baik, tapi tampaknya sangat gugup. Ia minta obat penenang dan segelas air. Kawan wanitanya cantik, tampaknya khawatir akan keadaan laki-laki itu.

Waktu ia minum obat, terlihat olehnya biola yang terletak di belakang meja. Dengan aksen bahasa asing ia bertanya, "Mengapa alat ini berada di sini?" Si pemilik apotek itu pun tanpa berpikir apa-apa segera menceritakan tentang pengamen di apoteknya. 

Biola itu dipegangnya. Tentu saja tak ada alasan bagi si pemilik apotek untuk mencegahnya. Dengan sekali gesekan dapat diketahui bahwa orang asing itu pandai memainkannya. Pemilik apotek itu menyaksikan bagaimana wanita dan laki-laki itu saling berpandangan dengan terkejut setelah mendengar suara biola itu. 

Cepat-cepat ia membuka rompi serta topinya dan membenarkan letak biola di dagunya dan mulai memainkannya. Ia bermain double string dengan penuh gaya seni. Wajahnya memperlihatkan keseriusan. Pemilik apotek berdiri terpukau, sedangkan wanita itu memandang laki-laki kawannya dengan kagum. 

Para karyawan apotek itu terpukau dengan alunan musiknya. Setelah si pemusik mengakhiri permainannya ia melemparkan pandangannya ke arah sang wanita. Keduanya melihat ke dalam badan biola. Sambil mendekap biola tersebut di dadanya laki-laki itu bertanya,

"Di mana pemilik biola ini?" 

"Di Bala Keselamatan, ia boleh makan siang gratis di sana." 

"Saya harus memiliki biola ini! Orang itu harus mau menjualnya kepada saya. Ia tidak tahu betapa berharganya biola ini. Ia pasti tidak mengetahui hal ini, kalau tidak mana mau ia mengamen. Bagaimana mungkin? Sebuah Stradivarius Cremonensis tua! Suaranya lebih bagus dan lebih bersih daripada biola saya. Saya ingin membelinya. Bagaimana pendapat Anda? Apakah mungkin ia mau menjual biolanya kepada saya?!"

Si pemilik apotek mengangkat bahunya tinggi-tinggi.

"Saya akan membayar berapa saja sebanyak yang dimintanya." 

Tiba-tiba si wanita nyeletuk, "Hati-hati Sascha. Kalau dia tahu siapa kamu sebenarnya maka boleh jadi tuntutannya takkan kira-kira." 

Wanita itu pun menjelaskan pada orang-orang di sana siapa sebenarnya yang sudah mempersembahkan konser gratis itu. Sascha Wronsky. Esok malam ia akan bermain dalam konser di hadapan Duke of Wellington. Sebelum ia meneruskan ceritanya, laki-laki itu menyuruhnya diam. 

Dia tampaknya sudah menemukan ide bagaimana agar penjualan itu dapat berhasil. Si pemilik apoteklah yang harus membeli terlebih dahulu biola itu dari si pengamen. Itu usul yang dipandangnya sebagai satu-satunya jalan yang terbaik.

“Jangan sebut-sebut nama saya. Katakanlah saja saya ini seorang penggemar musik yang ingin membeli biolanya. Pemiliknya tak akan ditipu ataupun dipermainkan. Tentu saja saya akan membayarnya dengan harga yang fantastis. Atau boleh dikatakan harga yang hebat. Saya 'kan tidak ingin merugikan kawan yang miskin. Saya harap Anda percaya kepada saya atau…”

"Tidak! Tidak!" potong si pemilik apotek. “Tetapi sampai batas berapa penawaran Anda?" 

Si ahli musik berpikir sejenak. Diambilnya lagi biola itu dan ditimang-timangnya seakan ingin menyesuaikan berat dengan harga biola itu. "Sampai £ 250."

"Sebanyak itu?!" seru si pemilik apotek dengan terkejut. Direktur apotek itu juga terkejut. "Sampai £ 260 juga boleh! Yang penting jangan sampai penjualan ini gagal. Saudara akan memperoleh 10% dari penjualan ini."

Pemilik apotek menolak. "Tentu saja tak bisa. Saudara pikir saya ini apa? Saya seorang apoteker dan bukan pedagang barang antik!" 

"Saya rasa ini bukan hal yang dapat menyinggung harga diri," kata wanita itu. "Anda hanya menjadi perantara dalam pembelian biola ini, berilah harapan pada suami saya, si anak beruntung yang sudah biasa memperoleh apa saja yang diinginkannya." 

Wanita itu pun tertawa. "Selain itu Saudara akan menolong seorang kawan yang miskin, yang sangat membutuhkan uang. Ayo, terima saja."

 

"Kembalikan biola saya!"

Pemilik apotek ternyata setuju. la berjanji akan melakukan sedapat mungkin apa yang dapat dikerjakannya demi memperoleh biola tersebut dari orang tua itu. Kemudian mereka pun pergi. Sampai di pintu si ahli musik masih melemparkan pandangannya pada biola yang berharga itu.

Pemilik apotek menunggu kembalinya pengamen itu dan ia mengisyaratkan pegawainya agar membiarkan ia sendiri menyelesaikan persoalan itu. Betapa terkejutnya ia ketika ternyata pengemis itu menolak uang kertas yang akan diberikan kepadanya. 

Tidak, tidak, biola ini adalah segalanya, kawannya yang paling baik, yang menolong mencari sesuap nasi setiap hari dan juga merupakan anggota keluarganya. Tidak, tidak, uang bukan segalanya. Dengan jengkel pemilik apotek memaksa. "Dengan uang ini Saudara dapat membeli biola sebanyak yang Saudara kehendaki, ayolah mau apalagi?"

"Kembalikan biola saya, saya mau pergi!" Dengan agak keras pengamen ini meminta biolanya kembali. Biola itu pun dikempitnya, seakan ingin melindunginya dan bergegas ingin meninggalkan apotek itu.

"Dua ratus enam puluh," kata pemilik apotek itu. Sambil berjalan menuju pintu orang tua itu mengeluh, "Mengapa tidak Saudara biarkan saya membawa biola ini? Mengapa saya harus menukarkannya dengan uang? Apakah Saudara memiliki uang sebanyak itu? Apa yang Saudara kehendaki dari saya? Dengan biola inilah dulu kakek saya bermain di Zarskoje Selo di depan kaisar. Ayah saya di Petersburg, dan saya sendiri pertama kalinya menjadi dirigen delapan tahun yang lalu di Beograd." Ia terdiam dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

"£ 270," kata pemilik apotek itu dan yakin bahwa dengan jumlah ini penolakan makin mengendur. Orang tua itu duduk di atas kursi lipatnya. "£ 270, Saudara tak perlu lagi ngamen di jalan. Setiap hari dan di mana saja Saudara dapat makan kenyang seperti 'di dapur umum'. Baju baru, alat pemanas, kurang senangkah hidup demikian? Apakah Saudara tak gembira dapat bermain pada suatu orkes, memiliki kedudukan yang lebih terjamin?"

Si pengamen tua ini memandangnya. "Apakah Saudara yakin mereka mau menerima saya? Dengan umur saya yang sudah setua ini?"

"Jika Saudara mau, sekarang pun bisa. Saudara akan tampak sejajar dengan para pemain Pilharmoni. Ayolah, tandatangani kuitansi ini sebagai tanda bahwa telah menerima uang kontan £ 270 untuk biola ini. Bergembiralah dengan peristiwa tak terduga yang menggembirakan ini."

Pengamen itu menandatanganinya dengan nama Angelino Sky. Dengan hati-hati ia membeberkan uang kertas itu di mukanya dan menghitungnya.

 

Diusap-usap dulu 

Pemilik apotek menasihatinya agar sebaiknya ia masukkan saja uangnya itu ke bank, karena berbahaya membawa-bawa uang sebanyak itu. "Rekening koran di bank? Apakah Saudara yakin mereka mau memberikannya kepada saya?"

"Dengan uang orang dapat memperoleh semuanya, kawan." Pemilik apotek tertawa dan mengantar kepergian orang tua itu, yang sekali lagi mengambil biolanya, mengusap-usapnya seperti akan berpisah dengan seorang kawan lama tercinta dan tak akan bertemu lagi selamanya. Setelah itu ia meletakkannya kembali dengan sedih dan meninggalkan apotek itu.

Pemilik apotek menyimpan biola berharga itu dalam lemari besi dan meletakkan juga kuitansinya. Sambil menunggu diambil si ahli musik yang demikian keras keinginannya untuk memiliki biola itu.

Pemilik apotek itu menunggu berhari-hari, bahkan sampai beberapa lama lagi ia menunggu si ahli pemain biola Sascha Wronsky. Pencarian oleh polisi ternyata sia-sia saja. Biola itu hanya sebuah biola murahan belaka. Tidak ada konser untuk Duke of Wellington.

Tidak ada bank yang memberikan rekening koran atas nama Angelino Sky yang miskin dan Bala Keselamatan tak pernah mengundang seorang pengamen bernama begitu.

Penipuan semacam ini selanjutnya menjalar di seluruh Inggris. Mereka muncul di Selatan, mereka juga muncul di pantai utara dan kemudian ke Prancis. Mereka selalu lepas dari incaran dan tak pernah meninggalkan jejak, sehingga pencarian terlambat. 

Beberapa lama kemudian orang menduga bahwa para penipu ini dibekingi oleh badut musik "Romeo-Plump dan Julia". 

Tetapi grup ini sudah lama tidak mengadakan pertunjukan lagi dan kini sudah dilupakan orang. 

 

(Robert A. Stemmle)

" ["url"]=> string(84) "https://plus.intisari.grid.id/read/553304034/sascha-wronsky-ingin-biola-stradivarius" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1654283190000) } } [9]=> object(stdClass)#133 (6) { ["_index"]=> string(7) "article" ["_type"]=> string(4) "data" ["_id"]=> string(7) "3306273" ["_score"]=> NULL ["_source"]=> object(stdClass)#134 (9) { ["thumb_url"]=> string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2022/06/03/cemburu-buta-mantan-menteri_jose-20220603054710.jpg" ["author"]=> array(1) { [0]=> object(stdClass)#135 (7) { ["twitter"]=> string(0) "" ["profile"]=> string(0) "" ["facebook"]=> string(0) "" ["name"]=> string(13) "Intisari Plus" ["photo"]=> string(0) "" ["id"]=> int(9347) ["email"]=> string(22) "plusintisari@gmail.com" } } ["description"]=> string(143) "Mayat pria ditemukan terbungkus kain di sebuah lereng berumput. Kondisinya sangat mengenaskan dengan tubuh terikat dan penuh luka penganiayaan." ["section"]=> object(stdClass)#136 (7) { ["parent"]=> NULL ["name"]=> string(8) "Kriminal" ["description"]=> string(0) "" ["alias"]=> string(5) "crime" ["id"]=> int(1369) ["keyword"]=> string(0) "" ["title"]=> string(24) "Intisari Plus - Kriminal" } ["photo_url"]=> string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2022/06/03/cemburu-buta-mantan-menteri_jose-20220603054710.jpg" ["title"]=> string(27) "Cemburu Buta Mantan Menteri" ["published_date"]=> string(19) "2022-06-03 17:47:37" ["content"]=> string(50241) "

Intisari Plus - Sesosok mayat pria ditemukan terbungkus kain di sebuah lereng berumput oleh Walter Muda. Kondisinya sangat mengenaskan dengan tubuh terikat dan penuh luka penganiayaan. Polisi mendapati korban adalah seorang pengelola bar di sebuah hotel yang sempat dikabarkan menghilang.

-------------------------

Andaikata ia masih hidup, wajahnya halus, lumayan, tapi tidak terlalu mencolok. Saat-saat terakhirnya yang penuh siksaan membuat mukanya tampak beberapa tahun lebih tua, lebih kurus. Ajalnya penuh penderitaan. Ia diikat, dianiaya, dan tercekik perlahan-lahan sampai mati.

Kini ia tergeletak di bawah langit bebas, di daerah Surrey, di lereng sebuah tempat pengambilan padas. Daerah bersemak belukar dan berumput yang sepi itu di musim panas sering dikunjungi pasangan-pasangan yang sedang pacaran, tetapi kini rumput-rumputnya telah kering dan lembap. 

Hanya sekali-sekali ada penghuni setempat yang lalu lalang, yang menuju ke Desa Woldingham atau ke jalan raya menuju ke Croyden.

Mayat itu ditemukan oleh seorang anak muda bernama Walter Coombs, yang pada hari Sabtu, 30 November 1946 sedang dalam perjalanan pulang. Karena kepala mayat dibungkus dengan mantel dan setelah dalam lipatan, Coombs mengira badan itu kain-kain gombal yang digulung menjadi satu.

Awan mendung berkumpul di atas lembah yang sunyi itu. Hari seakan sudah mulai senja, padahal baru pukul 15.30. Coombs menghentikan langkahnya. Makin lama ia memandang gulungan kain itu, makin aneh rasanya baginya.

Sesampai di rumah, ia menceritakan hal itu kepada ayahnya. Mereka berdua berjalan kembali ke bekas penggalian padas itu dan mendekati bungkusan aneh tersebut. Mereka tak meragukan lagi apa isi bungkusan memanjang itu. Kaki mayat menyembul ke luar dari gulungan itu.

“Kita harus melaporkannya kepada polisi,” kata sang ayah.

 

Pelayan yang menghilang

Menurut laporan polisi, mantel mayat itu dibalikkan ke atas untuk membungkus kepala dan bahunya, kemudian dilipat beberapa kali dengan tali. Ujung tali itu diikatkan pada lengannya, sedangkan ujung tali yang lainnya terlepas dan ada di bawah bahunya. 

Ia tergeletak pada sisi kanannya. Ia mengenakan setelan jas biru tua bergaris-garis putih. Pakaiannya kotor dengan tanah dan lempung setempat, namun sepatu dan telapak sepatunya bersih.

Pada leher mayat terlihat tali melingkar setebal jari yang merupakan semacam jerat yang mudah digerakkan. Sebagian tali ini terbungkus dengan gumpalan lap berwarna hijau yang berbau minyak penggosok mobil. Agaknya tadinya digunakan sebagai penyumbat mulut, kemudian terlepas.

Seluruh tubuh jasad itu diikat kencang dengan tali panjang seperti lepat. Tali itu terpotong di dua tempat.

Sersan Detektif Ernest Cox dan Fred Shoobridge yang ditugasi untuk menangani perkara ini menemukan sebuah dompet di dalam kantung mantel korban. Isinya uang £ 28 dan sehelai kartu nama dengan nama John Mudie, Hill Hotel Reigate. Sementara itu ahli patologi Dr. Eric Gardner yang memeriksa mayat dapat menentukan bahwa kematian terjadi 48 jam yang lalu.

Keesokan harinya Sersan Cox berangkat menuju Reigate berdasarkan petunjuk kartu nama itu.

Kedatangan petugas kepolisian di Hotel Hill itu tidak menimbulkan kejutan. Pimpinan dan karyawan hotel itu hanya menanggapinya sebagai pembenaran kekhawatiran mereka. Baru saja Cox mengucapkan nama Mudie, orang sudah menyerbunya dengan berbagai pertanyaan. Apakah Mudie mendapat kecelakaan? Di mana dia sekarang?

John McMain Mudie yang bekerja di tempat itu sebagai pengelola bar, pada hari Kamis, 28 November, mendapat libur. Ia meninggalkan hotel sore hari dan tak kembali lagi.

John, yang selalu bergembira jika dapat menambah penghasilannya dengan beberapa ponsterling, pada hari Kamis itu akan membantu penyelenggaraan suatu pesta di London. Seorang nyonya yang sudah beberapa kali terlihat dalam bar itu, akan mengadakan suatu pesta minum besar di London dan meminta bantuannya untuk mengatur dan menghidangkan minuman.

Sedikitnya ia tidak pernah merencanakan untuk pergi lebih dari beberapa jam saja, karena ia tak membawa apa-apa. Segala miliknya, dari koper sampai alat cukur, masih ada dalam kamarnya. Demikian pula piyamanya yang telah disiapkan untuk tidur.

Terhadap orang lain mungkin orang akan menduga adanya keterlibatan dalam suatu petualangan cinta, tetapi pada John agaknya hal ini tak terjadi. la tak pernah mempunyai affair cinta, tidak juga seperti dugaan Sersan Cox - terlibat dalam perdagangan di pasar gelap. Memang ada orang-orang cekatan seperti itu, tetapi nampaknya John terlalu bersih untuk terlibat dalam operasi-operasi gelap.

 

Surat berisi cek

John pemuda yang boleh dipercaya dan rajin bekerja, yang sudah mempunyai istri dan anak di Skotlandia. Sebelum bekerja pada Hotel Hill dalam bulan Juli tahun itu, ia bekerja pada rumah minum Dog and Fox sebagai pelayan. 

Surat keterangannya membuktikan bahwa ia seorang pekerja yang baik. Ia juga disenangi oleh para tamu dan rekan-rekan sekerjanya. Mustahil ia mempunyai musuh!

Tentang nyonya yang meminta bantuan John pada tanggal 28 November, Cox hanya memperoleh keterangan bahwa ia mempunyai mobil dengan sopir, tampaknya ia orang cukup berada.

Pemeriksaan teliti di kamar yang pernah ditempati oleh John Mudie di dalam hotel tidak menghasilkan sesuatu yang diharapkan. Dari berbagai dokumen dan surat-surat yang ditemukan ternyata Mudie dalam perang dunia yang lalu pernah bertugas pada kesatuan Desert Rats yang terkenal, pernah bertempur di Afrika dan setelah perang dibebastugaskan dengan pangkat sersan. 

Ia meninggalkan keluarganya di Skotlandia, lalu pergi ke London untuk bekerja, di mana ia mengharapkan bisa memperoleh uang lebih banyak. Istrinya masih muda dan menarik, anak laki-lakinya baru berumur 4 tahun, foto-foto mereka terletak di atas mejanya.

Di antara surat-surat peninggalan almarhum ada dua yang agak menarik perhatian dan menimbulkan pertanyaan, berasal dari kantor pengacara Dr. Fletcher dengan alamat Grays Inn Place, London.

Surat itu nampaknya penting, ditujukan kepada Mudie, berasal dari Connaught Properties Ltd. Surat yang bertanggal pertengahan Juli itu isinya meminta kepada Mudie agar meneruskan amplop yang terlampir berisi sepucuk surat dan tiga helai cek tunai kepada Ny. Brook. Bila Ny. Brook sudah pindah agar diposkan kembali kepada Ny. Brook di 5 Beaufort Gardens, London S.W. 14.

Sementara Cox meneliti isi kamar Mudie di Hotel Hill, jenazah John Mudie dibawa ke kamar mayat di Oxted. Yang ditugaskan melakukan bedah ialah Dr. Eric Gardner, didampingi oleh Dr. Keith Simpson, ahli patologi dari Kementerian Dalam Negeri.

Dr. Gardner menemukan adanya perdarahan hebat dalam tengkorak kepala, dalam lambung dan ususnya, lebih jauh cedera pada tulang pinggul dan belakang ke, pala, tulang rusuk patah serta lecet-lecet pada kulit. Agaknya pada saat-saat terakhir Mudie mengalami penganiayaan berat, mungkin kepalanya diketuk dan perutnya diinjak-injak.

Tali sisal yang mengikatnya meninggalkan bekas-bekas yang dalam. Perdarahan di bawah kulit wajah dan di dalam bola matanya, membuktikan bahwa Mudie masih hidup ketika jerat itu ditarik. Bekas tali terlihat melingkari lehernya dan di bawah telinga kiri ke atas. 

Kasus ini ternyata bukan penggantungan biasa di mana korban oleh berat tubuhnya ditarik dari ketinggian tertentu ke bawah. Pada kasus Mudie, jerat itu ditarik ke samping dengan agak mengarah ke atas. Ia tidak digantung, melainkan dijerat. 

Tetapi perbuatan keji ini tak terlaksana dengan cepat. Dari keadaan jantung dan paru-parunya dapat diketahui bahwa kematian terjadi oleh pencekikan perlahan-Iahan.

Mayat itu ditaruh di tepi tempat pengambilan padas sedikitnya sekitar sebelum tengah malam tanggal 28 November. Noda-noda kotoran pada pakaian menunjukkan bahwa sebelum diletakkan di tempat penemuan mayat itu diseret di atas tanah berkapur yang lembap dan agaknya ia ditarik pada kedua kakinya karena sepatunya tetap bersih.

 

Mobil misterius

Pada hari Senin koran-koran setempat sudah memuat berita penemuan mayat itu. Pada hari Selasa malam dua orang tukang kebun, Frederick Smith dan Cliford Tamplin, menghadap ke kantor polisi. Pada tanggal 27 November itu menjelang pukul 16.30 keduanya sedang berjalan di jalan dekat bekas tempat pengambilan padas. 

Di lereng terjal di seberang tempat pengambilan batu itu mereka melihat seorang laki-laki sedang berdiri. Yang menarik perhatian mereka karena sosok tubuhnya terlihat jelas pada suatu ketinggian dengan latar belakang langit berawan. Waktu melihat mereka, orang itu segera memalingkan badannya, lalu menuruni lereng itu dengan tergesa-gesa. 

Lereng terjal itu cukup licin dan sangat berbahaya, tetapi orang itu berhasil menuruninya dengan selamat, lalu segera naik ke sebuah mobil yang diparkir di dekat jalan setapak.

"Orang itu tampaknya dalam keadaan tegang," cerita Smith. "Ia mencoba berkali-kali menghidupkan mesin mobilnya, tetapi baru berhasil setelah keempat atau kelima kalinya. Lalu ia memutar dan kecepatannya kira-kira 20 km sejam ketika mendahului kami. 

“Menurut penglihatan saya, wajahnya kelihatan seperti terkejut, seakan-akan ia melihat sesuatu di atas bukit yang mengguncangkan hatinya. Orang yang berpikiran cerdas takkan menuruni lereng tersebut dengan cara sangat berbahaya itu.” 

“Waktu mobil itu melewati kami, saya memperhatikannya dengan saksama. Mobil itu sebuah Ford S berwarna hitam. Pengemudinya tak begitu jelas. Pelat nomor belakangnya berangka 101. Dia berjalan kira-kira 20 atau 30 m sebelum membelok. Huruf pada pelat itu saya tak tahu, tetapi angka nya pasti 101."

Tamplin memberikan keterangan serupa. Hanya ia menambahkan bahwa ia melihat profil orang itu dengan cukup jelas, sehingga ia sanggup untuk mengenalinya kembali. Mengenai mobilnya ia ragu-ragu antara sebuah Ford kecil atau sebuah Austin. 

Pelat nomor belakang dipasang di tengah-tengah. Hurufnya tak tercatat olehnya, tetapi angkanya ia ingat sebagai 101. Lampu belakangnya belum dinyalakan. Juga lampu-lampu lain tak dinyalakan, seakan agar tidak menarik perhatian.

Pertemuan ini memang sangat tidak biasa, tetapi dia dan rekannya Smith hanya mempercakapkan dengan beberapa patah kata. Tetapi selanjutnya mereka tidak memikirkan lebih jauh peristiwa itu. 

Baru setelah membaca berita di koran mereka teringat kembali. Seluruh tindak-tanduk orang tak dikenal itu menjadi sangat aneh dan mencurigakan.

Polisi tidak ragu bahwa keterangan kedua tukang kebun itu tepat. Orang yang tinggal di pedesaan mengalami begitu sedikit dalam hidup dan lingkungannya, sehingga bisa mereka mengamati dengan tajam dan mengingat apa saja yang menyimpang dari kebiasaan.

Tujuh puluh dua jam setelah penemuan mayat, bagian reskrim sudah dapat mengenali identitas mayat, waktu hilangnya, dan saat serta sifat kematiannya.

 

Pelacakan asal cek

Sekarang ditambah pula dengan keterangan penting bahwa pada hari terjadinya peristiwa itu terlihat seorang tak dikenal di sekitar tempat pengambilan batu padas. Meskipun kedua saksi tadi tak dapat mengingat dengan lengkap pelat nomor mobil itu, ada harapan untuk melacak pemiliknya.

Surat yang ditemukan di dalam kamar Mudie membawa petugas pengusutan ke kantor pengacara Dr. Fletcher di London. Di sana diperoleh keterangan bahwa surat itu ditulis atas permintaan The Honourable Thomas Ley, dengan alamat 5 Beaufort Gardens, London S.W. 14.

The Hon. Thomas Ley, mantan menteri kehakiman New South Wales (Australia) dan sejak tahun 1929 menetap di Inggris, bukan hanya direktur Connaught Properties Ltd., tetapi juga Capital Investments Ltd. dan Catford. Investments Ltd.

Apakah surat dan cek itu akan membawa polisi kepada jejak yang dicari masih harus ditunggu. Sersan Detektif Fred Shoobridge ditugaskan untuk menemui Thomas Ley untuk mengusut apakah perkara cek itu memang ada sangkut pautnya dengan soal Mudie.

Shoobridge melaporkan: "Pada tanggal 7 Desember 1946, pukul 10.30, setelah membuat saya menemui Tuan Thomas Ley di kediamannya di 5 Beaufort Gardens. Saya memperkenalkan diri, menunjukkan kartu identitas, dan menerangkan bahwa kedatangan saya merupakan bagian dari rutinitas polisi biasa.” 

“Kemudian saya keluarkan surat yang dialamatkan kepada Mudie dan menanyakan apakah ia bisa memberikan penjelasan lebih jauh. Ley menjawab, 'Ya, memang surat itu dibuat atas permintaan saya. Tetapi apa urusan polisi dengan surat ini? Apa artinya semua ini?’”

Pertanyaan Ley ini oleh Shoobridge dianggap wajar, karena sampai hari itu hanya koran-koran kecil di daerah yang memuat berita pembunuhan tersebut, pers London belum ada yang memuatnya.

"Saya memberi tahu Ley," demikian lanjutan laporan detektif itu, "bahwa John Mudie ditemukan mati di Woldingham sehingga saya ditugaskan untuk menelusuri asal usul surat ini. Thomas Ley memberikan keterangan sebagai berikut:

"Saya menjabat ketua dan direktur Connaught Properties Ltd. yang beralamat di King William Street. Seorang di antara dewan direktur ialah Ny. Brook, tinggal di West Cromwell Road, Kensington. Sekretaris firma ini Tuan Baker. Dalam bulan Juni akan dipakai uang untuk gaji dan berbagai biaya. Untuk itu dibutuhkan tanda
tangan Ny. Brook atas cek-cek itu, yang sudah ditandatangani oleh Tuan Baker dan nantinya masih perlu tanda tangan saya lagi."

"Ny. Brook waktu itu tinggal di rumah putrinya, Ny. Barron, yang baru menjalani operasi dan sedang memulihkan kesehatannya. Saya tak tahu apakah Ny. Brook menemani putrinya, tetapi saya dengar mereka telah keluar negeri.” 

“Ny. Barron kenal dengan seorang bernama John Mudie, yang tinggal dalam satu gedung (yang dibagi-bagi dalam beberapa apartemen, Red.). Juga Ny. Brook, menurut hemat saya, kenal baik dengan Mudie itu. Karena itu saya menulis surat kepada Ny. Brook dengan melampirkan tiga helai cek.” 

“Saya suruh kirimkan surat dengan cek itu ke alamat Mudie di 3 Homefield Road, Wimbledon bersama dengan surat kepada si alamat dengan permintaan agar disampaikan kepada Ny. Brook. Sekiranya Ny. Brook sudah berangkat, agar dikembali: kan ke alamat saya di 5 Beaufort Gardens, London. Kemudian saya mendapat kepastian bahwa Ny. Brook tidak keluar negeri, melainkan kembali ke alamat di West Cromwell Road.”

“Saya menanyakan kepadanya apakah ia telah menerima cek-cek tersebut. Ternyata ia belum menerimanya. Setelah itu saya menulis kepada kantor pengacara saya, Dr. Fletcher, agar meminta kembali cek-cek itu dari Mudie. Surat itu telah dikirimkan ke alamat di Wimbledon, dan beberapa hari kemudian saya mendapat kabar bahwa Mudie telah pindah ke Hotel Hill di Reigate. Saya menyuruh tulis lagi surat baru ke alamat ini, tetapi tidak ada jawabannya ...."

Permulaan bulan Agustus telah jelas bahwa Mudie sudah lama menyerahkan cek-cek itu kepada mertua laki-laki Ny. Barron dan dia telah mengembalikannya kepada Tuan Baker di kantor Connaught Properties dengan tanda terima.

Itulah akhir dari persoalan cek menurut Tuan Ley. Suatu peristiwa yang menjemukan, tetapi tak berarti. 

Shoobridge lalu minta diri. Penjelasan itu cukup memuaskan dan meskipun Ley menimbulkan kesan agak congkak dan tinggi hati, agaknya ia seorang yang boleh dipercaya.

Tetapi bagaimanapun seperti biasanya, keterangannya tetap dicek kembali. Ternyata keterangannya mengenai cek itu memang dibenarkan oleh beberapa orang saksi.

Pada tanggal 14 Desember koran-koran London memuat berita pertama mengenai pembunuhan yang telah terjadi dua minggu lalu. Biasanya berita-berita basi setempat tidak mendapat tempat dalam koran-koran London. 

Barangkali mereka memang diminta untuk memuat berita itu. Beberapa koran, di antaranya Dally Mail malah memasang foto almarhum.

Ternyata ini memang ada hasilnya. Pada tengah hari sudah muncul tiga serangkai aneh yaitu Ny. Lilian Bruce, John W. Buckingham Sr., dan John Buckingham jr. di kantor Scotland Yard untuk menceritakan kisah mereka yang lebih mengerikan daripada roman yang sadis.

John Buckingham Sr., sang ayah, menceritakan bahwa dia disuruh oleh Lawrence John Smith, seorang tukang mebel, dengan bantuan anaknya sendiri (John Jr.) dan Ny. Bruce, yang berpura-pura mengadakan pesta minum, membawa John Mudie ke rumah di 5 Beaufort Gardens. Di tempat itu ia membantu meringkus dan mengikat John Mudie.

Untuk pekerjaan itu ia diupah sebanyak £ 200 dan sampai di situ tugasnya selesai setelah ia menyerahkan Mudie kepada Thomas Ley dan pembantunya, Smith.

 

Anak pelayan

Thomas Ley adalah seorang setengah baya yang berambut kelabu dan berperawakan gendut. Bobotnya lebih dari 100 kg. Dagunya ganda tiga dan bibirnya menggantung seperti kantung. Betapapun bentuk badannya, ia selalu berusaha bersolek sebaik-baiknya. 

Jasnya dibuat oleh penjahit terbaik dan keseluruhannya memberikan kesan terpelihara sebagai orang yang berkedudukan. Dalam hal so pan santun pun dia tak ketinggalan bahwa itu sudah mendarah daging, karena ayahnya pernah menjadi seorang butler. Ibunya juga pernah menjadi anggota staf rumah tangga orang terkemuka. 

Waktu menikah dan memutuskan untuk berdikari, mereka harus berjuang cukup lama untuk mencukupi kehidupannya. Anak tunggal mereka ini dilahirkan di daerah miskin di Walcot di daerah Somerset, suatu fakta yang selalu diingkari mati-matian. Dia selalu menyebutkan kota peristirahatan Bath sebagai tempat kelahirannya.

Waktu anaknya berumur 10 tahun, dalam tahun 1890 keluarga Ley beremigrasi ke Sydney, Australia, tetapi di sana pun kehidupan mereka tidak menjadi lebih baik, Sejak sebagai anak kecil Thomas sudah tahu apa artinya kerja keras. 

la mengantarkan koran, menjadi pesuruh serba guna. Uang receh yang diterimanya diberikannya kepada ibunya. Makanan yang dihidangkan di rumah sangat sederhana, tetapi doanya tak berkeputusan. 

Bagaimana caranya memegang pisau dan garpu, bagaimana cara makan dan bergaul yang dianggap sopan di kalangan atas, semuanya sudah diketahui betul oleh anak butler ini. 

Di samping itu ia seorang anak laki-laki yang sangat cerdas, tetapi baginya kecerdasan itu tiada gunanya jika ia tak berhasil memasuki perguruan tinggi. Sudah tentu biaya yang dibutuhkan untuk itu tak mungkin disediakan oleh orang tuanya yang sederhana.

 

Berjuang untuk naik

Thomas muda akhirnya bekerja sebagai kacung pesuruh pada suatu perusahaan perdagangan. Upahnya 2 shilling seminggu, yang sebagian masih harus diberikan lagi kepada ibunya. Ia tidak sanggup untuk minum segelas bir atau mengajak seorang gadis ke pesta dansa, sebagaimana anak-anak muda lainnya. 

Ia membanting tulang di tempat kerjanya, di rumah ia masih harus membantu orang tuanya lagi. Santai dan hiburan tidak ada dalam acaranya. Tetapi ia sangat gila hormat, haus penghargaan. Ia bertekad untuk maju dengan usaha sendiri. 

Sekolahnya ialah perpustakaan umum di kotanya. Ia mempunyai kemauan sekeras baja untuk mencapai cita-citanya. Segala kesenangan kecil dikesampingkannya dan waktu luangnya dimanfaatkannya untuk membaca buku-buku tebal. Ia hidup menurut konsep yang ketat dan telah merencanakan jalan hidupnya dengan teliti. 

Uang yang dapat disimpan dengan susah payah ditanamkannya dalam suatu kursus steno. Dalam kursus itu ia bukan hanya berusaha untuk menyaingi murid-murid lainnya, tetapi ia bahkan hendak melebihi gurunya. Tujuannya ialah menjadi stenografer DPR dan itu kemudian berhasil. 

Dengan gaji yang diperolehnya ia dapat membiayai studinya di bidang ilmu hukum. Ia bergegas dari ruang sidang ke ruang lainnya, sehingga hampir tak ada kesempatan untuk beristirahat, untuk bersantai.

Segala hal yang pada waktu mudanya mungkin diam-diam diidamkannya, kemudian dicapnya sebagai godaan iblis: musik, kenikmatan minuman keras, permainan kartu, semuanya jalan yang menuju ke lembah kenistaan. 

Ley adalah seorang pengkotbah awam yang terkenal di negerinya. Tidak sulit baginya untuk mengutuk segala kenikmatan yang tak pernah dialaminya.

Tidak banyak orang yang mengalami kehidupan yang pahit, melakukan pekerjaan berat dan tiada henti-hentinya seperti pemuda Ley. Tetapi ia seorang pejuang yang fanatik dan fisiknya kuat dengan bentuk tubuh yang atletis.

 

Terjun ke politik

Karena bentuk tubuh dan wajahnya cukup tampan, ia beruntung dalam pergaulannya dengan wanita. Tetapi ia sengaja menghindari mereka sampai saatnya dianggap tepat.

Emily adalah seorang gadis dari keluarga baik-baik dan sangat kaya. Ia jatuh hati kepada pemuda Ley yang tiga tahun lebih muda daripadanya, seorang anak muda miskin dan bukan siapa-siapa. Akhirnya, mereka kawin walau mendapat tentangan kuat dari orang tua Emily. 

Secara finansial perkawinan ini tidak menguntungkan, sebab orang tua Emily tidak memberikan tunjangan sepeser pun. Tetapi di bidang pergaulan sosial pernikahan ini membuka prospek baru bagi Ley. Pintu-pintu kaum elite di Sydney kini terbuka baginya dan ia dapat mencari hubungan-hubungan yang menguntungkan.

Waktu lulus sebagai sarjana hukum dan mulai bekerja pada kantor pengacara, Ley sudah menjadi bapak dari tiga orang anak laki-laki. Untuk menjadi pengacara terkenal yang banyak langganannya memang prospek yang menarik, tetapi memakan waktu lama. 

Sebab itu ia harus mencari jalan pintas untuk mencapai kekayaan dan kedudukan terhormat. Ley memikirkan untuk memulai suatu karier politik.

Otaknya yang analitik, bakatnya dalam soal-soal keuangan membawanya maju dengan pesat. Ia mulai sebagai anggota Dewan Kotapraja di Kagorah, salah sebuah kota depan Sydney. 

Bahwa ia dibebastugaskan oleh kantor pengacara tempatnya bekerja, memang diharapkannya. Ia pindah bekerja ke kantor pengacara lain yang terutama mengelola urusan kontrak-kontrak tanah dan sebagai penasihat hukum suatu PT.

Jabatan Ley berikutnya yang penting ialah pada pemerintahan Kota Hurstville, tempat dia mengerjakan penilaian baru atas tanah-tanah kosong. Desas-desus bahwa dalam proyek itu ada tanah liat gemuk yang melekat pada jari-jarinya tersiar di kalangan lawannya, tetapi tidak merugikan kemajuan kariernya di bidang politik. 

Dia pun orang yang mudah ganti warna. Ia kemudian masuk ke dalam kelompok lawannya, Partai Progresif, dan bahkan berhasil memegang kemudinya. Dalam tahun 1917 ia sudah menjadi anggota DPR New South Wales dan pada akhir PD I ia mewakili Australia dalam konferensi ekonomi di Berlin Lama. 

Ia menjabat sebagai delegasi Australia pada Dewan Bangsa-bangsa sebelum pulang ke Sydney untuk kembali ke kancah kesibukan politik dalam negerinya.

Berbagai informasi yang diperolehnya sebagai politikus menguntungkan kantor pengacaranya, yang sementara itu telah mengangkatnya sebagai persero, sedangkan kekayaan yang didapatnya dari situ makin memperkuat kedudukan politiknya.

la memiliki sebuah rumah besar dengan 11 kamar tidur, anaka-naknya belajar pada sekolah-sekolah yang terkenal mahal. rumah cukup banyak uang sehingga Emily yang gemar jalan-jalan kembali melakukan perjalanan keliling dunia.

Ley menikmati keberhasilannya. Bahwa ada orang-orang di lingkungannya yang menganggapnya tidak simpatik tak dihiraukannya sama sekali. Yang pokok, kedudukannya kuat dan ia agaknya tak lama lagi akan menduduki kursi menteri. 

Di belakangnya ada orang yang menjulukinya sebagai si Limun Ley, karena ia tak minum minuman keras. Ia merasa senang bahwa namanya dikenal orang di seluruh New South Wales.

 

Bertemu pacar

Kini umurnya 41 tahun, sudah agak gemuk, tetapi tetap menarik, seorang yang mencapai kejayaan hidupnya. Waktu dalam tahun 1921 ia pergi ke Perth untuk berpidato dalam pertemuan-pertemuan politik, di antara panitia penyambutan ada seorang bernama Tuan Byron Brook, yang mengundang tamu terhormat ini ke rumahnya dan memperkenalkannya kepada istrinya, Maggie.

Maggie Brook memang manis juga, meskipun tak bisa dibilang cantik. Lagi pula ia sudah berumur 40, sehingga tak bisa dikatakan muda lagi. la mempunyai seorang putri, dan perkawinan mereka boleh dikatakan cukup bahagia.

Tetapi Ley telah jatuh hati kepada wanita itu sejak pertemuan pertama. Sebaliknya, Maggie Brook pun tidak menolak pendekatannya yang makin menggelora.

Ley hanya tinggal beberapa hari di Perth, tetapi dia sering datang lagi dan bila ada kesempatan dengan dalih apa pun ia mengadakan pertemuan rahasia dengan kekasihnya itu. Dia yang katanya selalu mengendalikan nafsu jasmaniahnya, sekarang menjadi budak berahinya yang tak terkendali.

Hubungan segi tiga yang gelap itu tak lama kemudian diketahui orang dan menjadi pokok pergunjingan di mana-mana. Masalahnya akan menjadi rumit, sekiranya tak terjadi sesuatu yang tiba-tiba mengubah keadaan.

Pada musim panas 1922 Byron Brook meninggal seketika akibat sengatan lebah dalam suatu piknik di hutan. Kini sang suami tidak menjadi pengalang lagi dan dari pihak Emily tidak usah dikhawatirkan apa-apa.

Jadi, secara mendadak Maggie menjadi janda dalam musim panas tahun itu. Untuk Ley tahun itu merupakan tahun penentuan, sebab bukan hanya kekasihnya bebas, dia sendiri mencapai puncak kariernya. Ia diangkat menjadi menteri kehakiman.

la memusatkan seluruh perhatian dengan energinya untuk melakukan tugasnya sebaik-baiknya. Namun di samping itu ia seorang ambisius yang tiada taranya. Apa yang tak bisa didapatnya lewat jalan lurus, ditempuhnya lewat jalan yang berliku-liku. 

Sejak dulu ia memang serakah akan harta dan menyuruh kantor pengacaranya melakukan berbagai manipulasi. Sekalipun jabatannya tinggi, ia tetap seperti dulu, menerima uang suap atau membagikan uang pelumas ke mana dianggap perlu.

 

Musuh-musuhnya lenyap

Pada pemilihan umum dengan Ley sebagai salah seorang calonnya, seorang lawannya tiba-tiba mengundurkan diri dan melakukan perjalanan jauh. Tak usah diragukan bahwa untuk ini ia mendapat imbalan yang tidak sedikit.

Ley menang dalam pemilihan, tetapi kasus bahwa lawan politiknya disuap olehnya makin santer, sehingga kalangan tertinggi DPR mengadakan suatu pengusutan. Tetapi hal itu kemudian harus dihentikan karena orang yang konon mendapat imbalan dari Ley itu menghilang tanpa jejak bagai ditelan bumi. 

Dikhawatirkan orang itu telah mengalami nasib yang sama seperti Tuan Goldstein yang malang, yang diduga telah disingkirkan oleh Ley secara diam-diam.

Goldstein adalah seorang di antara banyak persero usaha Ley yang merasa tertipu olehnya dan mengancam untuk membeberkan kecurangannya di hadapan umum. Tetapi belum sempat bertindak sejauh itu mayatnya sudah hancur di kaki jurang Coogie. 

Bunuh diri dinyatakan mustahil, dan bahwa Goldstein tergelincir lalu jatuh, juga kurang meyakinkan. Apakah para algojo suruhan Ley telah mencampakkannya ke jurang yang dalam itu? Paling tidak setelah kecelakaan itu Ley bisa bernapas lebih lega.

Ley merupakan tokoh parlemen Australia yang cukup berwibawa. Karena itu ia memperkirakan bahwa cepat atau lambat akhirnya ia akan mencapai puncak kedudukan dalam pemerintahan. Mungkin hal itu akan berhasil, kalau tidak dalam kerakusannya akan uang ia menawarkan beberapa proyek yang diragukan kebersihannya kepada beberapa rekan anggota kabinet. 

Beberapa orang yang tertipu memang menutup mulut, tetapi kebanyakan tidak dapat menahan diri untuk menyiarkan di kalangan umum bahwa Ley menipu mereka.

Tapi itu baru satu di antara banyak manipulasinya yang dilakukannya selama menduduki jabatan tinggi itu. Ia sendiri yakin bahwa segalanya bisa diselesaikan dengan uang.

Ley masih mempunyai ambisi yang lebih tinggi lagi. Ia ingin menjadi perdana menteri. Ketika pada suatu hari perdana menteri harus mengadakan perjalanan ke Eropa dalam waktu agak lama, Ley mengharapkan dia akan ditunjuk sebagai pejabat sementara.

Ternyata penunjukkan yang dianggap sebagai dengan sendirinya itu tak terjadi. Di kalangan politik tidak terjadi kejutan atau keheranan. Ley sudah terlalu banyak cacatnya sehingga tidak dianggap cukup berwibawa untuk itu. Masalahnya sekarang ialah bagaimana ia akan bereaksi terhadap itu.

Sebaliknya, Ley mengerti bahwa tindakan itu bukan saja merupakan suatu penolakan, melainkan merupakan peringatan yang jelas bahwa ia takkan bisa menanjak lagi. 

Bahkan mungkin orang akan menendangnya begitu ada kesempatan, Ley pun tidak membuat ilusi lebih jauh. Ia menyadari karier politiknya sudah tamat. Setelah jangka waktu tertentu ia mengundurkan diri dari kehidupan politik.

 

Beralih ke ekonomi

Kini dengan sepenuh tenaga ia mencurahkan seluruh energinya ke bidang lain, yaitu bidang ekonomi. Keburukan namanya hanya diketahui oleh kalangan tertentu, tetapi bahkan mereka yang tidak mempercayainya sepenuhnya, menganggapnya sebagai seorang jenius di bidang keuangan. 

Memang dia seorang jenius, tapi hanya untuk kantungnya sendiri. Dalam waktu dua tahun saja ia sudah mendirikan serentetan PT, di antaranya sebuah perusahaan fonofilm, suatu firma obat-obatan pelindung tanaman, dan perusahaan eksplorasi tambang minyak bumi.

Dalam tahun 1928 ia menghadapi dua proses pengadilan yang memeriksa soal penipuan maupun penggelapan, sehingga sejak itu dia tidak merasa betah lagi di tanah air keduanya. Ia meninggalkan keluarga di Sydney, lalu mengadakan lawatan ke Kanada dan Amerika. Maggie Brook menyertainya. 

Perjalanan penjajakan itu ternyata hasilnya mengecewakan, sehingga akhirnya ia memutuskan untuk mencoba peruntungannya di Eropa.

Maggie dan anak perempuannya kembali pulang, sedangkan Ley menuju ke London.

Di sana ia mulai bergerak di usaha yang baru sekali baginya. Ley yang selama hidupnya mengutuk permainan judi, bahkan permainan kartu biasa sebagai penemuan iblis, kini malah memberikan kesempatan berjudi kepada orang lain untuk memperkaya diri sendiri. 

Dia sendiri memang tidak pernah menyentuh kartu poker atau main rolet. Ia lebih menginginkan sesuatu yang pasti mendatangkan untung besar baginya. Padanya ukurannya selalu yang paling besar. Dia tidak senang main kecil-kecilan. Ia mendirikan suatu sindikat untuk mengeduk keuntungan dari kelemahan sesama manusia.

Permainan judi yang sangat populer, tetapi dilarang di Inggris, ialah sweepstake. Pada pacuan kuda besar seperti Derby, diberikan hadiah yang dikumpulkan dari uang para petaruh, sehingga pemenangnya menerima jumlah yang sangat besar. 

Organisasi yang menyelenggarakan permainan terlarang ini biasanya berpusat di Republik Irlandia, sehingga di luar jangkauan undang-undang Inggris. Mereka menyelenggarakan usahanya lewat pos.

Usaha sejenis yang didirikan oleh Ley bernama Brooks International Sweepstake Syndicate. Usaha ini tadinya berkedudukan di Liechtenstein, kemudian di Andorra (Spanyol).

 

Untung dari judi

Kemudian Ley memulai suatu proyek baru: suatu kasino super luks. Ia mendirikan markas besarnya di Zoppot (Polandia), lalu menyusuri pantai Laut Baltik sampai menemukan sebuah hotel yang lalu diperbarui dari bawah ke atas dan dirombak menjadi sebuah klub. 

Semboyannya ialah "eksklusivitas", yang jadi daya tarik utama bagi anggota yang berduit. Tetapi juga umum diperbolehkan masuk asal saja mereka bersedia mempertaruhkan uangnya di meja rolet atau bakarat. Berbagai folder semarak disebarkan ke seluruh penjuru dunia yang menyebutkan suatu "Monte Carlo kecil, tetapi lebih mewah".

Berdasarkan pengalamannya di bidang politik, Thomas Ley merupakan seorang ahli propaganda dan tukang kampanye yang tak kenal letih. Gelar mantan menteri kehakiman makin menambah gengsinya, sehingga ia diterima di kalangan atas di Jerman. 

Ia mengadakan berbagai pesta gemilang. Sekalipun ia sendiri tidak merokok atau minum, untuk para tamunya ia menyediakan anggur paling mahal dan makanan paling istimewa. Ia selalu membanggakan bahwa Ny. Emmy Goering termasuk di dalam kalangan sahabatnya.

Kasino hebat itu bangkrut dan berantakan. Tetapi anehnya, Ley tidak kehilangan uang. Ia malahan beroleh untung tidak sedikit. Dengan tambahan besar pada rekening banknya ia kembali ke Inggris.

Ia sudah memanggil Maggie Brook beserta anaknya ke London pada tahun 1931.


Cemburu sebab tak mampu

Hubungan yang sudah berjalan lebih dari sepuluh tahun itu hampir tak berbeda dengan suatu perkawinan. Maggie seorang wanita penurut yang dikendalikan sebagai seorang budak belian oleh Ley. Ia selamanya sangat pencemburu, tetapi sekarang nafsu pemilikan dan rasa curiganya telah melampaui batas kewajaran.

Alasannya sederhana saja: Ley menjadi impoten. Walau sudah tak mampu untuk melampiaskan nafsunya, ia tetap dihantui oleh khayalan-khayalan seks.

Ley pun menjadi gembrot, bobotnya lebih dari 100 kg. Tetapi ia tetap menjaga kekasihnya dengan ketat. Maggie, seorang wanita tenang yang sudah mencapai usia pertengahan lima puluhan. Ia tak memiliki keinginan lain selain melewatkan senja hidupnya dengan damai. 

Soal cinta baginya sudah tak berarti lagi. Yang menjadi perhatiannya di samping Ley hanyalah masa depan anaknya yang kini sudah dewasa.

Selama menetap di London, Ley menahan diri untuk tidak melibatkan diri dalam berbagai manipulasi keuangan. Masa PD II merupakan sesuatu yang menguntungkan baginya. Ia membangun bungker, perusahaannya yang lain membuat tegel dari bahan-bahan bekas. 

Ia menjadi anggota dari suatu klub terkemuka dan tinggal bersama Maggie dan putrinya di sebuah rumah mewah.

Pada permulaan tahun 1946 ia menyuruh merombak dan memperbarui rumahnya yang terletak di 5 Beaufort Gardens. Mandor pekerjaan bangunan itu bernama Lawrence John Smith. Gaji mingguannya £ 7, suatu imbalan yang cukup baik pada masa itu, tetapi tak pernah bersisa. 

Smith di masa perang pernah menjadi anggota angkatan udara. Setelah perang ia kembali lagi ke profesi lamanya, menjadi tukang kayu dan pembuat mebel.

Seluruh rumahnya diperbaiki. Ley tinggal di National Liberal Club. Pada permulaan bulan Mei rumah itu sudah selesai sebagian, sehingga ia bisa menempati beberapa kamar. Ny. Brook baru akan menyusul kalau semuanya sudah rapi. Untuk sementara ia menyewa sebuah kamar pension di West Cromwell Road. 

Setiap sore ia mengunjungi Ley untuk minum teh bersama. Malam harinya mereka pulang dan main kartu sampai pukul 23.00. Ini merupakan acara harian tetap, sampai akhir bulan Mei, ketika putri Ny. Brook yang sudah menikah, jatuh sakit dan harus dioperasi.

Putri Maggie dan suaminya, Arthur Barron, menempati sebuah apartemen di Wimbledon, sedang dirawat di rumah sakit di kota satelit ini. Ibunya yang khawatir setiap hari menengok dengan naik kereta bawah tanah dengan menempuh jarak yang cukup lumayan. 

Ley menyarankan agar Maggie pindah saja ke apartemen keluarga Barron, sehingga dekat dengan rumah sakit, sambil menemani menantu laki-lakinya dan membantu mengatur rumah tangganya.

Dengan demikian akhir Mei Maggie pindah ke Wimbledon di 3 Homefield Road. Rumah besar yang terbagi itu milik Ny. Blanche Evans, seorang janda yang juga memberikan les musik.

 

Curiga membabi buta

Di samping suami-istri Barron, yang menempati apartemen di situ masih ada Mayor Arthur Romer dan pelayan bar John Mudie yang menurut keterangan Ny. Evans kemudian, adalah seorang pemuda yang sopan, pendiam, dan menyenangkan dalam pergaulan.

Hari-hari pertama setelah. pindahnya Maggie Brook berlalu dengan tenang. Penyembuhan putrinya berjalan dengan lancar, sehingga tak lama lagi ia akan diperbolehkan pulang. Menurut rencana, dia akan ke luar negeri bersama suaminya, untuk memulihkan kesehatannya.

Dalam kesempatan mengobrol dengan santai bersama Ley, Maggie menceritakan semuanya kepadanya. Tentang keadaan rumah apartemen, para penghuninya, Ny. Evans yang rapi, dan betapa ia baru saja diperkenalkan dengan John Muddie, yang juga bertempat tinggal di situ. 

Maggie tidak menduga sama sekali akan akibatnya pada Ley. Baginya semuanya hal-hal kecil yang tak ada artinya.

Ley masih tetap menganggap Maggie yang setengah baya itu sebagai wanita yang menarik dan menggairahkan, karena ia sendiri tak mampu memenuhi keinginannya. Sudah 12 tahun lamanya hubungan mereka bersifat platonis. 

Ia tak pernah meragukan bahwa setiap laki-laki menginginkannya dan bisa, mendapatkannya. Ia sama sekali tak rela kalau ada orang lain menikmati harta miliknya itu, sedangkan dia sendiri tak dapat menikmatinya. 

Sejak Maggie tinggal di Wimbledon, ia hanya melihat pada malam hari saja, sehingga ia tak bisa mengawasinya lagi. Apa yang dikerjakan sepanjang hari? Kenapa dia begitu riang? Apa karena putrinya mulai sembuh atau karena dia mulai berpacaran?

Mula-mula Ley mencurigai Barron, menantu Maggie Brook sendiri. Kemudian cemburu buta itu beralih antara Mayor Romer dan John Mudie. Dengan pelbagai cara ia "menyelidiki duduk perkara yang sebenarnya". 

Ny. Blanche Evans, pemilik gedung di 3 Homefild Road kemudian menerangkan bahwa permulaan bulan Juli ia didatangi oleh seorang pria yang nampaknya seperti detektif lalu menanyakan keterangan tentang Mayor Romer. 

Sebelumnya, pada pertengahan bulan Juni, Ley pernah berkunjung kepadanya dengan alasan akan memberikan sumbangan kepada wisma tuna netra dan bertanya apakah Ny. Evans bersedia memberikan les piano atau memainkan musik untuk penghuni wisma itu.

Dalam kesempatan itu Ley menanyakan hal-hal yang terinci tentang para penghuni apartemen. Dalam kesempatan itu ia mengeluarkan kata-kata penuh kebencian tentang Arthur Barron, yang katanya bergaul seenaknya dengan mertuanya dan diam-diam memakai uangnya. 

Lusanya ia datang berkunjung lagi. Kini: kebenciannya ditumpahkan kepada Mayor Romer yang dicapnya sebagai pemburu perempuan. Ny. Evans membantah itu dengan mengatakan bahwa Ley sangat keliru, karena Mayor Romer seorang pria yang bahagia perkawinannya, ayah dari dua orang anak. 

Ia selalu mengharapkan tibanya akhir minggu, untuk bisa cepat-cepat berkumpul dengan keluarganya yang tinggal di luar kota. Kemudian ia bertanya tentang John Mudie, yang namanya sering disebut-sebut oleh Ny. Brook dengan lebih banyak simpati.

"Kalau saya tak melihat sendiri bahwa Tuan Ley itu sudah mendekati usia 70 dan teman wanitanya 65-an, saya akan menarik kesimpulan bahwa tamu ini pencemburu besar. Saya menerangkan kepadanya bahwa Mudie seorang anak muda terhormat yang tak pernah mempunyai pikiran lain, kecuali pekerjaannya. 'Ya, ya,' jawab Ley, ‘barangkali saya bisa membantu dia," demikian keterangan Ny. Evans tentang kunjungan Ley.

 

Dipancing

Setelah mendapat keterangan itu Ley agaknya membiarkan Mudie untuk sementara waktu dan mengarahkan perhatiannya kepada Arthur Barron. Ia berusaha untuk memancing Arthur Barron ke rumahnya dengan dalih untuk mengerjakan sesuatu bagi Ny. Brook.

 Barron menganggap panggilan itu agak kurang wajar, lalu membicarakannya dengan ayahnya yang menasihatinya agar jangan pergi.

Dengan kegagalan ini ia mencoba lagi memancing Mayor Romer, tetapi mungkin sebab perwira lni sudah mendengar kisah tetangganya ia menjawab, bahwa ia datang dengan senang hati, asalkan boleh ditemani dengan dua orang saudara laki-lakinya yang keduanya ahli tinju terlatih. 

Dengan kegagalan ini Ley kemudian memusatkan perhatian dan rencana iblisnya kepada John Mudie yang tidak tahu apa-apa.

Ia mula-mula berusaha memancingnya dengan cek-cek untuk Ny. Brook. Maksudnya, untuk mengetahui apakah Mudie sering mengadakan pertemuan rahasia dengan Ny. Brook. Ketika upaya ini gagal, ia masih mencoba lagi dengan cara memancing lain, tetapi kali ini perencanaan dan penyelenggaraannya diatur lebih baik. 

Belakangan dilakukan Smith dengan bantuan beberapa orang lain. Dengan demikian John Buckingham dan anaknya ikut memainkan perannya, dibantu oleh Ny. Lilian Bruce. Komplotan itu telah lengkap.

Pada tanggal 28 November Mudie diserahkan kepada Ley. Dua hari kemudian mayatnya ditemukan oleh Walter Coombs di tempat bekas penggalian batu padas.

Pengadilan Old Baily di London mulai mengadili perkara pembunuhan ini pada tanggal 19 Maret 1947. Ley dan Smith didakwa melakukan pembunuhan atas John Mudie, sedangkan John Buckingham dibebaskan dari tuduhan tetapi bertindak sebagai saksi utama. 

Thomas Ley dibela oleh tiga pengacara terkenal di bawah pimpinan Sir Walter Monckton. Penuntut umum ialah. Anthony Hawke dengan Henry Elam. Sidang itu dipimpin oleh tiga orang hakim dengan diketuai oleh Hakim Agung Lord Goddard.

Setelah persidangan yang memak.an waktu cukup lama, akhirnya terbukti bahwa Ley merupakan otak dan perencana, John Buckingham pembantu, dan Smith pelaksana serta algojo penyingkiran John Mudie, Juri menyatakan Ley dan Smith bersalah melakukan pembunuhan, dan hakim menjatuhkan hukuman mati kepada tertuduh.

Para pembela naik banding. Dalam penjara Ley diperiksa tiga orang dokter jiwa, kemudian dinyatakan berpenyakit jiwa, lalu dikurung di Broadmoor. 

Di situ seorang terhukum boleh mempunyai kamar tersendiri, asalkan ia mampu membayar, bahkan bisa menggaji seorang pembantu, jika ada orang hukuman yang bersedia. Konon Ley sampai saat itu merupakan orang terkaya yang pernah menghuni Penjara Broadmoor.

Sebab Ley berhasil diselamatkan dari tiang gantungan, tentunya kurang adil untuk menggantung Smith. Akhirnya, ia diberi grasi dan hukuman matinya diubah menjadi seumur hidup. Ley sendiri hanya sempat menjalani hukuman penjaranya selama tiga bulan, karena ia mati oleh serangan beroerte.

(Joe Lederer)

" ["url"]=> string(72) "https://plus.intisari.grid.id/read/553306273/cemburu-buta-mantan-menteri" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1654278457000) } } [10]=> object(stdClass)#137 (6) { ["_index"]=> string(7) "article" ["_type"]=> string(4) "data" ["_id"]=> string(7) "3305937" ["_score"]=> NULL ["_source"]=> object(stdClass)#138 (9) { ["thumb_url"]=> string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2022/06/03/korban-mengenali-pemerkosanya_ry-20220603022335.jpg" ["author"]=> array(1) { [0]=> object(stdClass)#139 (7) { ["twitter"]=> string(0) "" ["profile"]=> string(0) "" ["facebook"]=> string(0) "" ["name"]=> string(13) "Intisari Plus" ["photo"]=> string(0) "" ["id"]=> int(9347) ["email"]=> string(22) "plusintisari@gmail.com" } } ["description"]=> string(144) "Gadis cantik berambut pirang, tak kembali seselesainya dari kegiatan pramuka. Ia dicari sampai akhirnya gadis-gadis lain juga dilaporkan hilang." ["section"]=> object(stdClass)#140 (7) { ["parent"]=> NULL ["name"]=> string(8) "Kriminal" ["description"]=> string(0) "" ["alias"]=> string(5) "crime" ["id"]=> int(1369) ["keyword"]=> string(0) "" ["title"]=> string(24) "Intisari Plus - Kriminal" } ["photo_url"]=> string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2022/06/03/korban-mengenali-pemerkosanya_ry-20220603022335.jpg" ["title"]=> string(29) "Korban Mengenali Pemerkosanya" ["published_date"]=> string(19) "2022-06-03 14:24:07" ["content"]=> string(31354) "

Intisari Plus - Brenda, gadis cantik berambut pirang, tak kunjung kembali seselesainya ia dari kegiatan pramuka. Ia dicari sampai akhirnya gadis-gadis lain juga dilaporkan hilang satu per satu. Polisi akhirnya menemukan pelakunya dari keterangan korban yang mengenal pemerkosanya.

-------------------------

Sampai hari Jumat 28 Oktober 1960, Desa Heston di pinggiran Kota London, hanya dikenal karena ada lapangan terbang dan Cranford Park-nya, yaitu suatu taman berhutan yang luasnya sekitar 90 ha. 

Sudah hampir seminggu hujan turun terus. Khas cuaca musim gugur di Inggris. Di Bleriot Road yang letaknya di pinggir taman itu, tinggal beberapa jendela rumah saja yang masih kelihatan terang. Saat itu sudah pukul 22.00. Kabut mulai menebal. 

Tiga anak perempuan yang umurnya hampir sebaya berjalan bersama-sama. Pamela Dyer, Glynis Blight, dan Brenda Nash pulang dari pertemuan pramuka. Kemudian mereka berpisah. Pamela dan Glynis pulang lewat jalan besar, sedangkan Brenda berbelok ke Bleriot Road. Rumahnya tidak sampai seperempat kilometer dari ujung jalan. 

Tapi Brenda Nash tidak pernah sampai di rumah. Orang tuanya menunggu dengan cemas sampai larut malam. Mereka bertanya-tanya pada para tetangga. Di tengah malam buta mereka mengetuk pintu rumah orang tua teman sekolah Brenda, tetapi tidak memperoleh petunjuk. 

James Nash, seorang buruh pelabuhan yang berumur 38 tahun, serta istrinya Florence, semakin panik. Akhirnya, mereka melapor pada polisi. Selama tiga hari berikutnya polisi dengan dibantu pasukan tentara mencari-cari di Cranford Park. Segala sudut taman yang luas itu didatangi, tapi tidak ditemukan jejak Brenda Nash di situ. 

Tak pernah terlintas oleh ibu Brenda kalau anaknya itu menjadi korban kejahatan seksual. Ny. Nash yakin Brenda pasti diculik orang. Ternyata kasih sayang ibu lebih kuat daripada akal sehat. Karena mana mungkin ada orang berniat memeras keluarga buruh pelabuhan yang pasti tidak kaya? Tetapi Ny. Nash tetap yakin, Brenda diculik penjahat untuk meminta uang tebusan. 

Brenda berumur 12 tahun. Parasnya cantik sekali, tapi bentuk tubuhnya masih sangat kekanak-kanakan. Rambutnya pirang. Sewaktu lenyap, ia memakai pakaian seragam pramuka.

 

Diperkosa "polisi" 

Polisi menerima laporan Frederick Holloway. Ia mengatakan, pada malam kejadian itu sekitar pukul 22.00 melihat seorang anak perempuan berambut pirang dan memakai topi baret pramuka berdiri di pinggir jalan yang menuju ke Cranford Park. 

Kebetulan saat itu Holloway lewat dengan mobil. la melihat anak perempuan itu sedang bercakap-cakap dengan seorang laki-laki, di samping sebuah mobil Vauxhall berwarna hitam. Laki-laki itu umurnya sekitar 40 tahun, tidak memakai topi, warna rambutnya mungkin coklat muda. Frederick Holloway tidak bisa memastikannya, karena hanya melihat sepintas saja. 

Orang tua Brenda masih terus berharap, anak mereka bisa pulang dalam keadaan selamat. Tapi Scotland Yard yang sementara itu telah dilibatkan, semakin giat melancarkan usaha mencari seorang pelaku kejahatan seksual yang sudah dicari sejak tanggal 9 September. 

Pada tanggal itu, yang juga jatuh pada hari Jumat, di Twickenham yang letaknya tidak jauh dari Heston, seorang anak perempuan berumur 11 tahun menjadi korban perkosaan. Sekitar pukul 21.30 Barbara pulang naik sepeda seorang diri. la baru saja menghadiri pertemuan pramuka. Tiba-tiba seorang laki-laki keluar dari sebuah mobil yang dihentikan di pinggir jalan. 

Laki-laki itu mengangkat tangannya, menyuruh Barbara berhenti. Barbara menuruti perintahnya. Laki-laki itu mengatakan ia petugas polisi, sambil menunjukkan tanda pengenalnya. "Sebuah lencana terbuat dari logam yang terpasang pada semacam dompet kulit selebar tangan," kata Barbara kemudian. 

"Kami sedang menyelidiki kasus pencurian sepeda," kata laki-laki itu menjelaskan kepadanya. "Kami memerlukan informasi dari anak-anak sekolah. Kau harus ikut ke kantor polisi. Tinggalkan saja sepedamu di sini, nanti kau kuantarkan lagi kemari!" 

Barbara naik ke mobil orang itu, dan langsung berangkat. Di tengah jalan orang itu menunjukkan sebuah revolver sambil berkata, "Ini buktinya aku polisi! Kami semua bersenjata api!" 

Ketika mobil berhenti sebentar di suatu persimpangan jalan, laki-laki. itu menyodorkan permen yang dibungkus. Barbara mengulum permen itu, sedangkan kertas pembungkusnya dimasukkan ke dalam kantung. Pramuka selalu rapi, tidak membuang sampah sembarangan! 

Orang yang mengaku polisi itu mengarahkan mobilnya ke luar dari Twickenham, menuju Staines. 

"Revolverku berisi peluru," katanya. Barbara mulai ketakutan. Setelah berjalan sekitar 20 mil, akhirnya mobil berbelok ke jalan kecil yang menuju ke hutan. 

Di tempat itu Barbara diperkosa dua kali. Sebelumnya mukanya dipukul dan dicekik, karena mencoba melawan. Selesai diperkosa anak malang itu berusaha melarikan diri. Tetapi gagal. Ia didorong masuk ke mobil. 

Kemudian ia diantarkan kembali ke Twickenham. Laki-laki yang telah menodainya menanyakan alamat rumahnya. Barbara disuruhnya duduk membungkuk dalam mobil, supaya tidak kelihatan dari luar. 

"Apakah kau bisa mengenali aku kembali lain kali?" tanya laki- laki itu tiba-tiba. 

"Tidak, saya takkan bisa mengenali Anda lagi," jawab Barbara dengan cepat. Mungkin jawabannya itu yang menyelamatkan nyawanya. 

Padahal daya pengamatan Barbara sangat tajam. Diterangi cahaya samar-samar yang terpantul dari dasbor, tampak olehnya di pipi lelaki itu ada bekas luka yang agak aneh. Pada pipi yang tembem dan coklat terbakar sinar matahari itu tampak ada tanda seperti bintang laut. 

Barbara juga sempat memperhatikan bentuk tubuh yang kekar, gelang arloji tangan yang terbuat dari logam putih, serta tanda pengenal yang ditunjukkan orang itu padanya. Barbara juga mengenali merek mobil yang dipakai, karena itu memang hobinya. 

"Mobil Vauxhall hitam, model tujuh atau delapan tahun yang lalu!" katanya tegas. 

Dalam kantungnya masih ada kertas pembungkus permen pemberian orang itu. Pada roknya menempel beberapa lembar benang wol. Warnanya mencolok, hijau kekuningan. Ketika diperkosa untuk kedua kalinya dalam hutan, Barbara digeletakkan di atas selembar selimut wol yang diambil dari bagasi mobil. 

Jadi, kini polisi telah mengenali ciri-ciri pelaku tak dikenal itu. Juga ada seorang saksi yang mampu mengenalinya, apabila ia berhasil ditangkap. 

Tapi mula-mula orang itu harus ditemukan dulu. Jalan satu-satunya ialah melalui mobilnya. Tugas itu bisa ditanggulangi, namun memakan waktu lama. Ada sekitar 199.000 mobil Vauxhall yang terdaftar antara tahun 1951 dan 1954; 44.000 di antaranya berwarna hitam. Menanyakan alibi 44.000 pemilik mobil untuk tanggal 9 September bukan merupakan tugas enteng.

 

Anggota pramuka lenyap 

Sementara penyelidikan masih berlangsung, pada tanggal 28 Oktober Brenda Nash lenyap! Murid sekolah yang anggota pramuka ini terakhir kali terlihat berdiri di pinggir jalan bersama seorang laki-laki bertubuh tinggi kekar, di samping mobil Vauxhall berwarna hitam. 

Pihak Scotland Yard merasa yakin, laki-laki itu pasti orang yang memperkosanya. Mereka juga yakin Brenda pasti sudah mati. Pelaku yang dicurigai mengendarai mobil. Jadi, mayat anak itu bisa diangkut ke tempat yang jauh, lalu dibuang di sana. 

Sementara itu penyelidikan yang merepotkan tapi dilakukan secara sistematis berjalan terus. Pencarian mobil Vauxhall hitam sudah sampai di Hounslow, suatu daerah pinggiran Kota London. 

Tanggal 24 November, Sersan Detektif Walter Nicholson mengetuk pintu depan sebuah rumah 1939 Ely Road. Nicholson membawa daftar nama pemilik mobil Vauxhall di daerah itu. Yang didatangi itu tempat kediaman Arthur Albert Jones dengan keluarganya. 

Jones berumur 43 tahun, seorang tukang las logam. Orangnya tinggi besar, bermuka tembem, berbibir tipis. Pandangan matanya menusuk dan di pipinya ada bekas luka berbentuk bintang. Kelihatan seperti bintang laut yang menempel! 

Kenyataan itu diakuinya sendiri. Katanya, bekas luka itu menyebabkan ia terus-menerus diganggu kawan-kawan kerjanya di pabrik. Kata mereka, pasti ia penjahat yang dicari. 

Tapi menurut keterangannya sendiri, ia sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan kejahatan itu. Kehidupan keluarganya berbahagia. Anak-anaknya baik semua. Ia mempunyai penghasilan tetap dan tidak berutang sedikit pun. 

Ia juga mempunyai alibi yang teguh, untuk tanggal 9 September dan 28 Oktober. Jones tidak segan-segan memaparkannya. 

"Pada kedua malam itu kebetulan saya pergi dengan istri serta anak laki-laki kami ke rumah saudara istri saya, Ny. Eldridge di Beckenham," katanya. "Kami sangat jarang keluar rumah, dan kalau pergi pun paling-paling ke rumah saudara. Karena itulah saya ingat sekali pada kedua kunjungan itu." 

Sersan Detektif Nicholson memeriksa mobil Vauxhall milik Jones. Di bangku depan ada selimut wol dengan motif kotak-kotak, sedangkan di bangku belakang ada lagi selembar. Selimut itu berwarna kehijau-hijauan. Setelah itu dikatakannya pada Jones bahwa polisi akan mengecek alibinya. Ia diminta agar untuk sementara agar jangan menghubungi iparnya, karena nanti "bisa timbul penafsiran yang negatif".

 

Bersekongkol 

Keesokan paginya Nicholson pergi ke Beckenham, mendatangi Ny. Eldridge. Wanita yang sudah ubanan itu membenarkan seluruh keterangan Jones mengenai kedua kunjungannya tanggal 9 September dan 28 Oktober. Alibi itu benar-benar sempurna. Terlalu sempurna, menurut pendapat Scotland Yard. 

Sebelum itu sudah masuk pula informasi tentang berbagai pria yang mempunyai bekas luka di pipi, atau memiliki mobil Vauxhall. Tapi baru pada Arthur Jones ada bekas luka di pipi dan memiliki Vauxhall buatan tahun yang diperkirakan. Kecuali itu masih ada satu lagi yang memperbesar kecurigaan terhadap dirinya: tempat tinggalnya hanya 2 mil dari Twickenham, sedangkan Heston 5 mil. Scotland Yard melanjutkan penyidikan dengan lebih saksama lagi. 

Ternyata tahun 1939 Jones pernah melakukan pelanggaran susila dengan mengganggu seorang gadis di suatu jalan kecil. Untuk itu ia dihukum penjara tiga bulan. Kecuali itu ia juga pernah dua kali dihukum karena mencuri. Dalam file mengenai dirinya ditemukan informasi bahwa Arthur Jones selalu mengantungi permen, sebagai penawar sakit perut yang sering dideritanya. 

Sementara itu Ny. Nash masih selalu berharap bahwa pada suatu saat Brenda pasti akan kembali. Pada malam hari menjelang tanggal 11 Desember, ia terpaksa diangkut ke klinik penyakit saraf. Harapan bahwa anaknya pasti kembali, akhirnya terkabul. Tetapi Brenda ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa lagi. 

Anak malang itu ditemukan di tepi lapangan Desa Yateley di daerah Hampshire, 20 mil dari Heston. Ia masih mengenakan mantel dan pakaian seragam pramuka yang dipakai ketika lenyap 40 hari sebelumnya. 

Di bawah kepalanya ditemukan potongan kalung perak yang putus. Pada sepatu sebelah kanan serta roknya menempel beberapa lembar benang wol berwarna hijau kekuningan. Mirip dengan benang wol yang ditemukan pada rok Barbara. 

Kesamaan antara kedua kasus itu nampak jelas. Scotland Yard sedikit pun tidak ragu lagi. Pelakunya pasti Arthur Albert Jones. 

Tapi orang itu mempunyai alibi yang kokoh! Bagaimana caranya bisa membuktikan bahwa ia bersekongkol dengan istri, anak laki-laki, serta iparnya untuk memberikan kesaksian palsu? 

Scotland Yard hanya bisa menunggu, mudah-mudahan ada petunjuk baru yang bisa dijadikan bukti.

 

Berbohong demi saudara 

Senin berikutnya koran-koran memasang kepala berita yang besar-besar, disertai berita Panjang lebar mengenai kejadian ditemukannya mayat Brenda. Kemudian menyusul sesuatu yang benar-benar tak terduga sebelumnya: malam itu juga alibi Arthur Jones ambruk! 

Seorang gadis cantik rupawan berumur 17 tahun mendatangi kantor polisi kota besar London di Hampstead. Namanya Lesley Carruther. Ia seorang manikuris, pemotong kuku yang bisa ditemui di salon-salon penata rambut kelas tinggi. 

Lesley bercerita bahwa pada musim gugur yang lalu ia bekerja di sebuah salon yang mentereng di daerah kelas tinggi Mayfair. Di situ ia berkenalan dengan seorang rekan bernama Christine Eldridge. Awal minggu pertama bulan November - ia ingat benar saat itu, karena ia minta berhenti tepat pada waktu itu - Christine mengatakan padanya bahwa ia memprihatinkan ibunya. 

Menurut Christine, secara kebetulan ia mendengar pembicaran antara ibunya dan Tante Grace dan suaminya, Arthur Jones. Kedua orang itu mendesak ibunya agar mau mendukung alibi Arthur untuk suatu hari Jumat di bulan September, begitu pula hari Jumat di akhir bulan Oktober.

 "Ia (Jones) sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan kedua anak perempuan itu - ini hanya untuk berjaga-jaga jangan sampai dipergunjingkan para tetangga," demikian kata Tante Grace menurut cerita Christine pada Lesley. Christine merasa ibunya pasti terseret dalam suatu persoalan yang tidak enak. 

Demikian keterangan Lesley Carruther. Justru itulah yang ditunggu-tunggu Scotland Yard. Kini ada sesuatu yang bisa dijadikan pegangan untuk menangkap Arthur Jones. 

Keesokan paginya, tanggal 13 Desember, ipar Arthur Jones dipanggil lagi. Polisi langsung mengatakan bahwa keterangannya yang lalu bohong semua, dari A sampai Z. 

Sambil menangis tersedu-sedu Ny. Eldridge mengakui bahwa berbuat begitu karena ingin menolong saudaranya, Grace Jones. Ternyata Jones beserta istrinya tanggal 11 September mendatanginya, untuk mengatur alibi bagi Jones untuk tanggal 9 September. Ny. Eldridge tidak bisa menolak. 

Ia pun menurut saja, ketika kedua orang itu kemudian muncul lagi guna mengatur alibi untuk tanggal 28 Oktober. Tanggal 24 November Arthur Jones datang sendiri untuk memberitahukan bahwa sebentar lagi polisi akan datang melakukan interogasi.

 

"Itu orangnya!" 

Tanggal 28 Desember Arthur Albert Jones dijemput polisi dari pabrik tempat ia bekerja dan dibawa ke kantor polisi. Sementara itu rumahnya digeledah. Di situ ditemukan sebuah dompet sebesar telapak tangan, terbuat dari kulit tiruan. Di bagian depannya terpasang semacam lencana dari logam. 

Di dalam mobil ditemukan permen, tapi lain dari yang dimakan Barbara. Polisi menemukan pula sebuah kotak kardus di dalam rumah berisi peluru senjata api. Sedangkan arloji tangan dengan gelang terbuat dari logam putih disita sebagai barang bukti. 

Jones ternyata senang bertukang. Dalam sebuah gubuk yang dijadikan tempat kerja banyak sekali ditemukan kawat tua, jam yang sudah rusak, potongan-potongan kulit, sekrup-sekrup, dan macam-macam lagi, disimpan dalam kotak dan laci-laci. 

Di antara sekian banyak rombengan itu ditemukan bagian-bagian dari kalung perak yang putus. Kalung itu pola buatannya sama dengan potongan kalung yang ditemukan di bawah kepala Brenda. Tapi kemudian ternyata bahwa bagian-bagian kalung itu terbuat dari bahan yang berbeda-beda. 

Tanggal 30 Desember diadakan peragaan identitas di Kantor Polisi Twickenham. Barbara diminta meneliti 12 orang laki-laki yang disuruh berdiri berjejer. Di antara mereka terdapat Arthur Jones. Kedua belas laki-laki itu berpotongan tubuh sama. 

Lima di antaranya mempunyai bekas luka di pipi kanan. Tapi semuanya diberi plester di tempat itu, sehingga Barbara tidak bisa mengetahui mana yang benar-benar mempunyai tanda khas seperti yang disebutkan olehnya. Walaupun demikian, tanpa ragu sedikit pun anak itu menuding Arthur Albert Jones. 

"Itu orangnya!" 

Polisi tidak ragu lagi bahwa laki-laki itu bukan saja memperkosa Barbara, tapi juga Brenda yang kemudian dibunuh. Tapi bukti-bukti yang diajukan pihak kejaksaan, dinyatakan tidak cukup. Karenanya tuntutan hukum terhadap Jones hanya mengenai perkosaan seorang anak di bawah umur. Persidangan pengadilan dimulai tanggal 8 Maret 1961. Arthur tetap bersikeras, menyatakan dirinya tidak bersalah. 

Barbara tampil sebagai saksi pertama. Selama 1,5 jam anak itu bercerita dengan suara pelan dan terputus-putus. la menuturkan penderitaannya pada tanggal 9 September serta menjawab serentetan pertanyaan yang diajukan. 

Kemudian dipanggil Ny. Ivy Eldridge, ipar terdakwa. Wanita setengah umur itu mengakui bahwa sebelumnya ia memberikan keterangan palsu, yaitu ketika mendukung alibi yang diajukan terdakwa. 

Menurut pernyataannya; ia hanya ingin menolong saudara perempuannya, istri terdakwa. Sedangkan pada kenyataannya, - pada tanggal itu Jones tidak datang ke rumahnya. Pengakuan ini sangat menyulitkan posisi terdakwa.

 

Menyusun alibi palsu 

Di tempat tahanan, Arthur Jones kemudian membuat pernyataan tertulis. Ia menyatakan bahwa ia kini akan berterus terang, tidak menyembunyikan apa-apa lagi. Alibi palsu disusunnya karena merasa takut, mengingat ciri-ciri pelaku yang dicari banyak persamaannya dengan dirinya. 

Sebenarnya tanggal 9 September ia pergi ke London, untuk suatu urusan yang apabila diketahui umum pasti akan membuat malu dirinya serta keluarganya. 

Dalam tanya-jawab dengan pembelanya di depan pengadilan, Arthur Jones mengantakan bahwa pada malam naas itu ia minum-minum sampai pukul 21.30 di Henekey-Pub di Hounslow. Itu merupakan kebiasaannya setiap Jumat malam. Setelah itu ia pergi dengan mobil ke London, lalu minum-minum lagi di sebuah bar. 

Sekitar pukul 22.00 ia meninggalkan tempat itu. Di pinggir jalan antara Holland Park dan Nottinghill Gate ia disapa seorang wanita keturunan campuran, yang ternyata pelacur. Jones tidur dengan wanita itu. Sekitar pukul 23.00 ia pergi lagi, lalu mencari makan. Setelah itu ia pulang. 

Sesampai di rumah, istrinya yang belum tidur tidak mau percaya ketika Jones mengatakan ia pulang larut malam karena habis minum dengan kawan-kawannya. Bahkan keesokan paginya, istrinya masih tetap mendiamkannya, sampai Minggu pagi. 

Tapi ketika sedang sarapan, tiba-tiba istrinya menyodorkan koran yang sedang dibaca ke depan hidung Arthur Jones. Di halaman depan tertulis dengan huruf-huruf tebal: "Pengendara Mobil Bersenjata Menculik Anak 11 tahun". Disusul dengan keterangan mengenai ciri-ciri pelaku, yang cocok sekali dengan diri Jones. 

Jones merasa panik, karena untuk saat yang menentukan itu ia tidak mempunyai saksi jelas. Pelacur yang tidur dengan dia, apabila bisa ditemukan kembali, pasti akan mungkir karena takut ketahuan bahwa ia pelacur. Lagi pula istrinya mengatakan, apabila orang lain sampai tahu bahwa Jones bergaul dengan pelacur, ia takkan berani lagi pergi ke luar rumah. Karena itu Jones lantas mengambil keputusan untuk menyusun alibi palsu saja. 

Kesaksian terdakwa itu didukung oleh istri dan anak laki-lakinya. Namun dari alibi baru itu, hanya satu keterangan yang bisa dibuktikan kebenarannya. Pada tanggal 9 September, Jones memang benar minum-minum di Henekey-Pub, sampai pukul 20.30. Tapi sejak saat itu, yaitu sejak ia pergi dengan mobil dalam keadaan setengah mabuk, yang ada hanya kesaksian terdakwa sendiri mengenai ke mana saja ia pergi. Tidak ada saksi lain yang bisa ditemukan. 

Sedangkan para anggota juri sudah mendengar sendiri keterangan dari Barbara mengenai penderitaan yang dialaminya. Di antara para anggota juri terdapat sejumlah bapak, yang membayangkan anak perempuan mereka sendiri menjadi korban laki-laki yang kini menjadi terdakwa. 

Meski dalam sidang pengadilan itu sama sekali tak pernah disebut-sebut nama Brenda Nash, tapi bayangan kematiannya yang mengerikan menghantui proses itu. Bayangan anak malang itu seolah-olah berdiri di pengadilan, menuding terdakwa. 

Kecuali itu, walaupun tidak ada paragraf tertentu dalam undang-undang pidana Inggris, tapi berdasarkan pandangan yuridis yang sudah tradisional, "Upaya menyusun alibi palsu yang kemudian ketahuan sangat memberatkan posisi terdakwa, karena pembelaan diri secara itu dinilai sebagai pengakuan tidak langsung bahwa ia bersalah."

 

Keterangan para saksi seragam 

Alibi palsu yang kemudian baru dicabut kembali oleh Jones setelah posisinya sangat terdesak, semakin menyulitkan posisinya. Sebab hanya satu keterangan dari alibinya yang baru itu bisa dibuktikan kebenarannya. Itu pun dengan selisih waktu satu jam! 

Dewan juri berembuk selama hampir tiga jam. Hasil keputusan yang diambil: Arthur Albert Jones dinyatakan bersalah telah memperkosa seorang anak di bawah umur. Oleh hakim, Jones dijatuhi hukuman terberat yang bisa diberikan menurut undang-undang, yaitu 14 tahun penjara. 

Pengambilan keputusan itu terasa dipengaruhi oleh kasus Brenda Nash. Juri seolah-olah mempertimbangkan, walau kemudian ternyata tidak berhasil ditemukan bukti lebih lanjut mengenai kasus itu, Arthur Jones tetap akan baru bisa bebas lagi apabila sudah kakek-kakek. 

Tapi ternyata kemudian muncul bukti-bukti baru. Bukti-bukti mana apabila ditilik satu-persatu mungkin tidak cukup kokoh, tapi bila digabungkan sangat memberatkan Jones. 

Selama persidangan berlangsung foto-foto Jones 3 dimuat dalam koran. Sebagai reaksi muncul lagi laki-laki bernama Frederick Holloway, yang pada tanggal 28 Oktober ketika sedang naik mobil melihat Brenda berbicara dengan seorang laki-laki di tepi jalan, di samping mobil Vauxhall berwarna hitam. 

"Laki-laki yang saya lihat waktu itu, pasti Jones," kata Holloway dalam keterangan susulannya. Dulu ia mengatakan bahwa laki-laki teman bicara Brenda "mungkin rambutnya berwarna coklat muda". Kini ia mengatakan keliru melihat. Tapi Jones dikenalinya kembali dari foto-foto dalam koran. 

Seorang penerbang bernama Cuthbert Wakefield pada malam hari tanggal 28 Oktober itu berkunjung ke rumah seorang temannya. Sekitar pukul 21.40 ia pulang, diantarkan temannya itu sampai ke jalan. 

Mereka berdua melihat seorang laki-laki - yang berdasarkan foto dalam koran dikenali sebagai Arthur Albert Jones. Laki-laki itu muncul dari suatu gang, masuk ke dalam mobil Vauxhall yang diparkir di pinggir jalan, lalu mengendarainya menuju Cranford Lane. 

Masih ada lagi tiga orang saksi, yaitu Ny. Barker, putranya Colin yang berumur 10 tahun, serta Ny. Fahey. Ny. Barker dan Colin pada malam hari tanggal 28 Oktober berkunjung ke rumah Ny. Fahey. Ketiganya melihat, sekitar pukul 21.45 ada mobil Vauxhall hitam membelok dari Cranford Lane ke Armitage Road dan berhenti di situ.

 "Mobil itu mirip mobil suaminya," kata Ny. Fahey waktu itu pada Ny. Barker. 

"Itu memang Vauxhall," kata Collin, "tapi spatbor mobil itu lain bentuknya. Mobil itu bumpernya dilapisi krom." 

Sedangkan bumper mobil Arthur Jones memang dilapisi krom! Ada lima orang saksi melihat dan memperhatikan mobil Vauxhall hitam pada saat dan lokasi yang sama. Dua dari mereka juga melihat pengendaranya. Belum lagi Frederick Holloway, yang sekaligus melihat mobil tersebut, Jones, dan juga Brenda Nash. 

Pada kesempatan peragaan identitas, Jones dikenali oleh Holloway, Wakefield, serta temannya, sebagai laki-laki yang mereka lihat pada malam naas itu. Identifikasi yang dilakukan setelah para saksi melihat foto tersangka, sebetulnya merupakan prosedur yang meragukan. Tapi keseragaman keterangan ketiga saksi itu mengenai lokasi dan waktu, menyebabkan tidak adanya keraguan lagi mengenai keterangan yang berhubungan dengan diri tersangka.

 

Dihajar sampai babak belur 

Bukti lain berupa benang wol yang menempel di pakaian Brenda ternyata identik dengan benang dari selimut yang ada dalam mobil Arthur Jones. Kecuali itu ada pula potongan kalung yang ditemukan di bawah kepala Brenda. 

Ketika dicocokkan, ternyata pas dengan kedua bagian kalung yang ditemukan di rumah Jones. Tanggal 13 Juni 1961 Arthur Jones diajukan kembali ke pengadilan. Kali ini dengan tuduhan membunuh. Prosesnya seakan-akan merupakan pengulangan suatu pertunjukan teater yang mengalami perubahan di sana-sini. 

Jones menyatakan dirinya tidak bersalah. Sebagai pembelaan ia kembali menuturkan alibi yang pernah diajukannya dalam kasus Barbara, tetapi dengan beberapa perubahan kecil. 

Kali ini ia tidak tidur dengan pelacur keturunan campuran, tapi wanita kulit putih. Tempatnya minum-minum di London juga lain, disusul dengan makan di restoran Cina. Sedangkan dalam kasus Barbara, ia mengaku makan di restoran yang hidangannya khusus ayam panggang. 

Sedangkan keterangan selebihnya persis sama seperti dalam kasus Barbara. Baik sambutan dingin istrinya ketika ia pulang larut malam, maupun kedatangannya ke tempat iparnya untuk menyusun alibi palsu. 

Jaksa mengetengahkan adanya kesamaan antara kedua keterangan yang diberikan Jones pada juri. 

Dewan juri kemudian hanya memerlukan waktu berembuk selama 7 menit, untuk mengambil keputusan bahwa Arthur Albert Jones dinyatakan bersalah. Dalam pengumuman keputusan, hakim ketua pengadilan menyatakan, "Sudah selayaknya, mengingat kejinya perbuatan terdakwa, maka terdakwa mula-mula harus menjalani hukuman penjara selama 14 tahun yang telah dikenakan dalam kasus terdahulu, sebelum hukuman penjara seumur hidup yang dijatuhkan sekarang terhadapnya mulai berlaku!" 

Sebetulnya Arthur Albert Jones masih mujur. Apabila perbuatan laknatnya dilakukan sebelum tahun 1957, ia pasti akan dijatuhi hukuman mati. Perundang-undangan baru menyelamatkan dirinya dari tiang gantungan. Tapi walaupun begitu, nasibnya tidak bisa dikatakan enak. Pemerkosa anak-anak dan pembunuh karena alasan seksual selalu diperlakukan dengan kejam oleh sesama narapidana. 

Di Penjara Wandsworth ia diserang seorang narapidana lain yang hendak menikamnya dengan paku runcing sepanjang 15 cm. Nyawa Jones diselamatkan seorang penjaga yang kebetulan melihat lalu cepat-cepat bertindak. 

Setelah itu Jones dipindahkan ke Penjara Pentonville. Tapi di situ pun keselamatannya tidak terjamin. Ia dikeroyok oleh tiga orang sampai babak belur. Akhirnya, ia dipindahkan ke Penjara Dartmoor. 

Arthur Albert Jones ditempatkan dalam suatu blok khusus, di mana para penghuninya dimasukkan dalam sel-sel tersendiri. Di situ Jones hidup terpisah sama sekali dari lingkungannya. Ia makan dan tidur sendiri, bekerja sendiri, dan berjalan-jalan di pekarangan dalam penjara pun sendiri. 

Ia tidak bisa bercakap-cakap dengan orang lain, apalagi anak-anak perempuan yang terancam keselamatannya selama ia masih berkeliaran di alam bebas.

 

" ["url"]=> string(74) "https://plus.intisari.grid.id/read/553305937/korban-mengenali-pemerkosanya" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1654266247000) } } [11]=> object(stdClass)#141 (6) { ["_index"]=> string(7) "article" ["_type"]=> string(4) "data" ["_id"]=> string(7) "3304495" ["_score"]=> NULL ["_source"]=> object(stdClass)#142 (9) { ["thumb_url"]=> string(112) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2022/06/03/mayat-terpotong-potong-di-bawah-20220603021055.jpg" ["author"]=> array(1) { [0]=> object(stdClass)#143 (7) { ["twitter"]=> string(0) "" ["profile"]=> string(0) "" ["facebook"]=> string(0) "" ["name"]=> string(13) "Intisari Plus" ["photo"]=> string(0) "" ["id"]=> int(9347) ["email"]=> string(22) "plusintisari@gmail.com" } } ["description"]=> string(142) "Sekelompok pekerja menemukan sisa-sisa jenazah di gedung yang terkena bom saat Perang Dunia Kedua, namun jenazah itu bukan korban bom perang. " ["section"]=> object(stdClass)#144 (7) { ["parent"]=> NULL ["name"]=> string(8) "Kriminal" ["description"]=> string(0) "" ["alias"]=> string(5) "crime" ["id"]=> int(1369) ["keyword"]=> string(0) "" ["title"]=> string(24) "Intisari Plus - Kriminal" } ["photo_url"]=> string(112) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2022/06/03/mayat-terpotong-potong-di-bawah-20220603021055.jpg" ["title"]=> string(38) "Mayat Terpotong-potong di Bawah Gereja" ["published_date"]=> string(19) "2022-06-03 14:11:17" ["content"]=> string(40154) "

Intisari Plus - Sekelompok pekerja menemukan sisa-sisa jenazah di gedung yang terkena bom saat Perang Dunia Kedua. Tulang-tulang itu pun diperiksa dan hasilnya menunjukkan bahwa jenazah itu bukan korban bom perang.

-------------------------

Hari Jumat, 17 Juli 1942, sewaktu PD II sedang berkecamuk, sekelompok pekerja bekerja keras di bawah sinar matahari musim panas yang terik, membersihkan gedung yang kena bom di Kennington Lane 302, London.

Salah seorang di antara mereka mencungkil sebuah batu hampar dengan beliungnya dan di situ, di bawah batu itu, tergeletak sisa-sisa sebuah jenazah. Pekerja itu tidak terkejut sama sekali. 

Kerangka itu disangkanya hanya jenazah seorang korban serangan udara lama atau kerangka dari pemakaman tua itu. Mereka sedang bekerja di ruang bawah tanah yang berdampingan dengan pekuburan lama.

Ia tidak membuat ribut-ribut, ia hanya membungkuk untuk memunguti tulang-tulang berserakan itu: bagian-bagian lengan dan kaki sudah tak ada, tengkorak kepala menggelinding waktu dipindahkan. 

Ia menaruh sisa itu pada suatu sisi selama ia dan rekan-rekannya menyelesaikan pekerjaan membersihkan tanah sekitarnya. Kemudian mereka minum-minum di rumah minum, sehingga baru pada sore harinya mandor mereka melaporkan penemuan itu kepada pemeriksa mayat.

 

Korban serangan udara

Keesokan harinya petugas kantor pemeriksa mayat itu menelepon dr. Keith Simpson, ahli patologi terkemuka di London. "Ada tugas autopsi untuk Anda, Pak. Masih ada beberapa kerat tulang belulang tua, sisa-sisa korban serangan udara lama. Pemeriksa mayat ingin Anda melihatnya sebentar setelah autposi itu, meskipun agaknya bukan apa-apa." Waktu itu hari Sabtu.

Waktu Keith Simpson tiba, mayat yang harus dibedah sudah siap. West, petugas kamar mayat, berdiri di dekat meja samping. Ia mencoba untuk memperbaiki keadaan sebuah bungkusan besar kertas coklat yang sangat tidak rapi. 

"Apa itu, West, tulang-tulang tua itu?" 

"Ya, Pak. Tulang-tulang tua, nampaknya agak mencurigakan, saya kira." 

"Akan saya tengok sebentar, tetapi marilah kita selesaikan autopsi ini dulu."

Baru saja autopsi itu selesai, datanglah Inspektur Detektif Hatton, diikuti oleh Inspektur Detektif Keeling. Harton yang bertubuh tinggi besar dan wajah bundar selalu menuntut ‘fakta-fakta nyata’. Pada waktu itu ia sedang menangani masalah perdagangan gelap dan pernah mengatakan bahwa ia berharap setumpuk tulang tua itu milik seorang korban serangan udara atau jenazah lama dari pemakaman. Ia mengatakannya dengan terus terang. 

Keeling tak memberikan komentar apa-apa. Keeling seorang yang tekun, tenang, dan dengan penuh minat ia memperhatikan Simpson melepaskan ikatan bungkusan kertas berwarna coklat itu ....

Jenazah itu ... kalau orang boleh menyebutnya sebagai jenazah, sebenarnya tak lebih dari kerangka yang tak lengkap dengan sedikit jaringan kering yang masih melekat. Tengkorak sudah lepas dari tubuhnya. 

Pada pemeriksaan pertama itu dr. Simpson tak bisa menyimpulkan lain kecuali jenazah itu merupakan sisa-sisa dari seorang yang meninggal sejak 12 - 18 bulan lalu, berkelamin wanita, sebab masih ada sisa-sisa rahimnya. Tubuhnya begitu kecil, sehingga ia menambahkan bahwa mungkin jenazah seorang gadis atau wanita muda. 

Ia minta agar jenazah itu boleh dibawa ke Guy's Hospital, agar bisa dikerjakan dalam waktu luangnya, karena usaha untuk merekonstruksikannya akan memakan waktu cukup lama. West membawanya ke tempat yang diminta.

 

Menghilangkan identitas

Senin berikutnya Simpson mulai menggarapnya. Simpson melepaskan tali pengikat bungkusan dan semua yang hadir memandangi benda yang telah kering dan mengerut itu. 

Mayat jika diperiksa dengan cara-cara ilmiah modern bisa ‘berbicara’, bahkan berbicara banyak, tetapi tampaknya seakan-akan memerlukan suatu mukjizat mengorek keterangan sedikit dari yang satu ini.

Yang pertama dilakukan ahli patologi itu ialah menukar bungkusan kertas dengan sehelai kain putih. Sambil mengerjakan itu ia berkata, "Kemungkinannya memang tidak lain dari seorang korban serangan udara, tetapi bagaimanapun ia akan memberikan saya suatu usaha untuk menarik rekonstruksi dan pekerjaan waktu luang yang menyenangkan.”

Senin petang itu, waktu para karyawan lain pulang, Simpson masih sibuk membersihkan tulang-tulang itu dengan cabikan kain. Keesokan harinya rupanya sudah jauh lebih baik, setelah dibersihkan dari tanah dan sisa-sisa jaringan, kelihatannya lebih mungkin mengungkapkan sesuatu. 

Dr. Simpson mengatakan bahwa kerangka itu agaknya bukan korban serangan udara biasa. Misalnya tengkorak sengaja dipisahkan dari tubuhnya dengan rapi. Rahang bawahnya tak ada, tetapi tak ada jaringan kulit kepala yang melekat, kecuali secarik kecil di belakang kepala. 

Ledakan bom tidak membuat kulit kepala terkelupas seperti itu. Tak ada sedikit pun jaringan wajah yang tertinggal. Bagian bawah lengan dan kaki hilang. Pemotongan itu tidak sesuai dengan cacat yang disebabkan oleh kejatuhan puing; ujung kaki atau lengan bisa saja terpotong, tetapi tidak diceraiberaikan. 

Akhirnya, masih ada tanda bekas terbakar pada kepala yang menurun ke sisi kiri tubuh dan pada kedua lutut.

Apakah ini sisa korban pembunuhan dengan usaha untuk melenyapkan mayat, di samping untuk menghilangkan identitas korban, dengan memancung kepalanya, melepaskan semua jaringan wajah dan kulit kepala, membuang rahang bawah, memotong tangan dan kaki, lalu kemudian membakarnya? 

Kalau begitu, pekerjaan itu dilakukan secara sembrono, sebab mayat merupakan barang yang sulit dipotong-potong oleh orang yang tak berpengalaman.

 

Penderita tumor 

Keith bertekad untuk berusaha sekuatnya mengetahui sampai seberapa sisa itu bisa mengungkapkan identitasnya. la mulai dengan menentukan tinggi wanita itu sewaktu masih hidup dengan rumus Pearson: sebuah rumus matematika yang diterapkan pada salah sebuah tulang panjang tubuh. 

Tulang satu-satunya yang terpakai di sini ialah humerus, tulang lengan atas. Menurut perhitungan itu almarhumah sewaktu hidup tingginya sekitar 151 cm.

Berikutnya adalah mengetahui umurnya. Ini dilakukan dengan membuat foto sinar X dari sambungan-sambungan tulang. Sambungan tulang pada langit-langit menentukan, umur wanita itu antara 40 - 50 tahun.

Pemeriksaan atas sekerat kecil kulit kepala yang masih menempel pada bagian belakang kepala menunjukkan bahwa ia mempunyai rambut coklat tua yang mulai beruban. Sedangkan pemeriksaan atas sisa rahim menunjukkan ia menderita tumor fibroma. 

Jadi, sekarang diketahui bahwa kerangka itu merupakan sisa jasad seorang wanita berumur antara 40 - 50 tahun, tingginya sekitar 151 cm, berambut coklat tua yang beruban, dan menderita tumor fibroma pada rahim. Dia sudah meninggal antara 12 - 18 bulan lalu.

Sementara itu Inspektur Keeling mengetahui bahwa istri seorang bekas penjaga kebakaran bernama Harry Dobkin, beralamat di Kennington Lane 302, persil tempat ditemukan kerangka itu, telah hilang selama 15 bulan. Keeling mempunyai firasat bahwa kerangka yang berada di Gordon Museum itu Ny. Dobkin.

Dr. Simpson menguraikan perincian tinggi badan, umur, dan sebagainya kepada Inspektur Keeling dan mengungkapkan dugaannya sendiri bahwa kerangka itu memang mungkin korban kejahatan. 

Keeling tak berani berharap terlalu banyak, tetapi bagaimanapun ia bergegas untuk berusaha mengecek fakta-fakta itu dengan identitas sebenarnya Ny. Dobkin yang dinyatakan hilang. Ia segera menemui adik Ny. Dobkin, yang 15 bulan lalu melaporkan hilangnya sang kakak kepada polisi.

Dengan berusaha menekan rasa tegangnya, dr. Simpson menyatakan kepada pembantunya, "Andaikata ia betul Ny. Dobkin dan kita berhasil merekonstruksikannya, ini akan menjadi kasus klasik, kasus yang muncul hanya sekali dalam hidup kita. Tetapi agaknya kita berharap terlalu banyak. Barangkali juga ia tak lebih daripada korban serangan udara ...."

 

Ny. Dobkin menghilang

Sementara itu Keeling memperoleh keterangan bahwa Ny. Dobkin menghilang 15 bulan yang lalu, tinggi badannya sekitar 152,5 cm, berumur 47 tahun, rambutnya coklat tua yang mulai menguban. 

Ia pernah dirawat di RS London karena tumor rahim, tetapi menolak untuk dioperasi. Semua keterangan itu cocok dengan data yang didapat Simpson dari pemeriksaan atas sisa kerangka itu.

Kennington Lane 302 adalah rumah tak dihuni, yang sebagian disewakan untuk toko kertas dan di situ Harry Dobkin pernah bekerja sebagai penjaga kebakaran. No. 304 yang terletak di sebelahnya adalah sebuah gereja Baptis yang rusak kejatuhan bom dan kerangka itu ditemukan di dalam ruang bawah tanah di belakang gereja itu.

Gereja kecil itu merupakan tempat yang cukup mengerikan, dirusakkan oleh ledakan dan kebakaran. Ruang bawah tanah itu tadinya tertimbun oleh ruang gereja yang runtuh, tetapi puing-puing itu telah dibersihkan, sehingga ruang bawah tanah itu kini ada di udara terbuka. 

Tak ada apa-apa di ruang itu, kecuali batu hampar yang menutupi tempat penemuan kerangka dan sebuah peti kayu lapuk, yang mungkin merupakan tempat menyembunyikan jenazah sementara.

Adik Ny. Dobkin, Nn. Dubinski, melaporkan kepada polisi bahwa kakaknya tinggal terpisah dari suaminya, Harry Dobkin. la selalu harus mendesak suaminya agar membayar kekurangan uang tunjangan bulanan yang diberikan. 

Tanggal 11 April 1941 Ny. Dobkin mengatakan kepada adiknya bahwa ia akan menemui Dobkin lagi, diduga untuk menagih kekurangan itu lagi. Setelah makan siang dengan ibu dan adiknya di flat mereka, Ny. Dobkin keluar dan tak pernah terlihat lagi oleh mereka. 

Tetapi pada sore itu, pukul 18.30, ia terlihat sedang minum teh dengan Dobkin di sebuah kafe di Dalston. Mereka meninggalkan kafe itu bersama-sama. Setelah itu tak ada yang bertemu lagi dengannya.

Keesokan harinya, 12 April, tasnya ditemukan orang di Kantor Pos Guilford. Tas itu berisi KTP, buku-buku jatah makanan, buku sewa. 

Kehilangan itu sangat berarti baginya, tetapi dia tak pernah berusaha untuk mengambil kembali tas itu. Waktu itu polisi berpendapat bahwa Dobkin sendiri yang menaruh tas itu di kantor pos dalam usaha mengelabui polisi.

 

Kebakaran di gereja 

Pada pukul 17.00 hari itu Nn. Dubinski melaporkan kehilangan kakaknya kepada polisi di pos Commercial Road. Ia bersikeras bahwa kakaknya menderita sesuatu akibat perbuatan jahat Dobkin. 

Di masa lalu Ny. Dobkin sering diperlakukan dengan kekerasan oleh suaminya. Dobkin diwawancarai oleh bagian reskrim pada tanggal 16 April. Ia membuat pernyataan bahwa ia menemui istrinya pada tanggal 11 April. Katanya, setelah meninggalkan kafe di Dalston, istrinya naik bus ke arah timur dan sejak itu tak pernah muncul lagi. 

Ia mengira wanita itu kehilangan ingatannya, lalu tersesat. Ia menambahkan bahwa sekalipun istrinya tahu alamatnya di Kennington Lane, tempat ia bekerja sebagai penjaga kebakaran, istrinya tak pernah menjenguknya di situ.

Empat malam setelah Ny. Dobkin menghilang secara misterius, pada malam tanggal 15 - 16 April terjadi kebakaran di ruang bawah tanah gereja Baptis. Malam itu tak ada serangan udara, maka bom bakar harus dikesampingkan, lagi pula tak ada bahan yang mudah terbakar dalam ruang itu.

Menurut Dobkin, kebakaran mulai pada pukul 01.30, tetapi ia tak memanggil pemadam kebakaran. Ia juga tak berusaha memadamkan api. Pukul 03.23, seorang agen polisi lewat melihat api, lalu memanggil barisan pemadam kebakaran. 

Dobkin ada di situ, sangat kebingungan. Waktu itu apinya besar, meskipun tak ada keraguan bahwa Dobkinlah pencetusnya, kebakaran itu agaknya menjadi jauh lebih besar daripada yang dikehendakinya. 

Pemadam kebakaran tidak memeriksa persil itu sewaktu mereka memadamkan kebakaran.

 

Pak pendeta curiga

Pada pukul 05.00 pendeta gereja, Burgess, tiba. la turun ke ruang bawah tanah, tempat api mulai berkobar. Dobkin sudah bebas tugas dan pendeta itu menemukan sisa-sisa kasur jerami dalam ruang yang terbakar itu. 

Padahal tadinya di sana tak ada kasur apa pun. Lagi pula tampaknya kasur itu dicabikkan dan jerami pengisinya ditebarkan dalam timbunan kecil-kecil di lantai ruang itu. Pendeta Burgess melaporkan hal itu kepada pemadam kebakaran.

Pukul 14.00 ia kembali mengunjungi tempat kebakaran. Selama waktu antara kedua kunjungan itu tampaknya ada orang lain turun ke ruang bawah tanah. Ceceran jerami telah dirapikan dan sebuah garpu kebun ditinggalkan di tempat itu. 

Sekarang karena merasa sangat curiga, Burgess datang lagi pukul 19.00 untuk bercakap-cakap dengan Dobkin, yang pada waktu itu sudah bertugas lagi. Dobkin tak memberikan laporan jelas tentang terjadinya kebakaran itu. Ia juga tampak mudah terkejut. 

Ia menasihati Burgess agar tidak turun ke bawah, sebab berbahaya. Dia sendiri pernah turun ke situ dan keadaannya cukup gawat. Burgess merasa sama sekali tidak puas dengan percakapan itu dan mencurigai Dobkin sendiri yang menimbulkan kebakaran itu. Ia hanya menuliskan kecurigaannya dalam catatan hariannya.

Ciri-ciri wanita yang hilang itu diedarkan dalam Police Gazette beserta fotonya. Nn. Dubinski sendiri mengirim sebuah foto dan lukisan diri kakaknya kepada Surat Kabar New of the World sampai tiga kali, tetapi sia-sia belaka. 

Sementara itu Inspektur Davis dan Sersan Dawes memeriksa gereja itu sampai tiga kali. Mereka menemukan sesuatu yang menarik. Di ruang bawah tanah itu mereka menemukan sebuah lubang yang baru digali, seperti liang kubur dangkal, tetapi lubang itu kosong. Apakah lubang itu tadinya pernah dimaksudkan untuk mengubur Ny Dobkin?

Sersan Dawes memeriksa tempat itu sambil merangkak sampai lutut celananya rusak, tetapi ia tak menemukan apa yang dicarinya. Dobkin minta berhenti sebagai penjaga kebakaran pada tanggal 20 Mei. 

Polisi yang tak berhasil menemukan sesuatu, dengan segan menghentikan pengusutan dan perkara tersebut dilupakan sampai hari Jumat yang terang pada musim panas itu, ketika para pekerja mencungkil batu hampar itu. 

Kemudian polisi memeriksa secara intensif tempat penemuan kerangka itu atas saran dr. Simpson. Gagasan Simpson adalah sebagai berikut: para pekerja pada hari mereka menemukan jenazah itu memindahkan puing dari ruang bawah tanah, lalu menimbunnya di kuburan lama. 

Mungkin saja timbunan besar itu masih mengandung bagian-bagian tubuh lain; berbagai petunjuk identitas yang penting, seperti rahang bawah yang tak ditemukan pada tengkorak, tulang tangan atau kaki. Maka puing sebanyak 3 ton itu harus disaring.

 

Rekonstruksi wajah Ny. Dobkin

Sayang sekali jerih payah para petugas itu mengecewakan hasilnya. Yang muncul dalam penyaringan itu sejumlah besar tulang domba, kelinci, tumit sepatu dari logam, kancing logam tua, jepit rambut, gerabah bekas pot bunga, dan tak ada apa-apa lagi.

Pada saat itu hanya ada sedikit keraguan bahwa Dobkin membunuh istrinya dan menyembunyikan jenazahnya di bawah batu hampar di ruang bawah tanah gereja Baptis itu. Sebelumnya ia memotong dan menyayat bagian-bagian tertentu, lalu mencoba menghilangkan jejak dengan membakarnya. 

Polisi belum mempunyai bukti cukup kuat untuk menyeretnya ke pengadilan dengan tuduhan membunuh. Identitas sisa jasad itu harus dipastikan dan sebab kematian harus ditentukan. Dobkin membunuh istrinya, tetapi bagaimana? Tampaknya untuk membuktikan hal itu akan mustahil.

Belakangan Keeling menelepon kantor dr. Simpson untuk mengatakan bahwa ia mempunyai potret Ny. Dobkin. Dinilai dari foto itu nyonya tersebut memang agak loyo, lesu, tak bersemangat. Tapi bagaimanapun untuk foto di masa liburan ini dia berhasil memperlihatkan senyum hambar. Dr. Simpson senang memperoleh potret itu.

Sebuah foto tengkorak itu diambil dari depan dan di atasnya, dicetaknya foto almarhumah semasa hidup itu, ternyata keduanya cocok.

Bukti tambahan itu tidak cukup untuk memastikan identitas secara tak terbantah. Pembuktian final terletak pada rahang atas. Inspektur Keeling berusaha melacak dokter gigi yang pernah merawat gigi Ny. Dobkin. Akhirnya, ia berhasil menemui drg. Barnet Kopkin dari Crouch End. 

Mujurnya, ia menyimpan catatan lengkap terperinci mengenai perawatan gigi Ny. Dobkin. Ia bisa menggambar diagram rahang atasnya sebagaimana keadaannya sewaktu dirawat, kemudian Keeling membawanya ke Guy's Hospital untuk membandingkan diagram itu dengan rahang kerangka.

Kopkin memegang tengkorak Ny. Dobkin dengan kedua tangannya, lalu mengatakan tanpa keraguan sedikit pun dengan nada paduan antara kemenangan dan keheranan, "Ini rahang atas Ny. Dobkin. Rahang ini pernah saya rawat dan itu tambalan-tambalan saya." Diagram yang digambarnya sesuai sekali dengan rahang yang sebenarnya.

Suatu bukti lanjutan memastikan rahang itu sebagai milik Ny. Dobkin secara lebih meyakinkan lagi. Kartu catatan Kopkin menyebutkan bahwa pada pencabutan dua gigi pada sisi kiri rahang atas dalam bulan April 1941, ada bagian-bagian akar gigi yang tertinggal di dalam rahang, suatu kejadian yang tidak langka. 

Sir William Kelsey Fry, ahli bedah mulut dari Guy's membuat foto sinar X pada sisi rahang tersebut dan ternyata pecahan-pecahan itu masih di tempatnya.

Sekarang polisi beranggapan bahwa identitas kerangka itu bisa ditetapkan tanpa keraguan. Mereka bisa menuntut Harry Dobkin dengan tuduhan membunuh istrinya, kalau mereka bisa mengetahui bagaimana cara membunuhnya.

 

Sebab kematiannya

Dr. Simpson mengerahkan segala kemampuannya untuk menunaikan tugas ini. Ternyata Dobkin sendiri ikut membantunya. 

Dalam usahanya untuk memusnahkan jenazah itu, Dobkin menaburkan kapur mati, terutama di daerah leher. Sialnya, kapur tidak merusak, bahkan mengawetkan. Dalam hal ini kapur mengawetkan cedera pada leher, terutama kotak suara dan cedera itu ‘menceritakan’ segalanya kepada dr. Simpson.

Di ruang kerjanya dr. Simpson menunjukkan hasil kerjanya. Tulang-tulang kotak suara yang kecil-kecil masih terletak dengan cermat di atas kertas pengisap. Simpson mengambil sebuah alat peraba sebagai penunjuk.

Ada suatu gumpalan darah mengering sekitar ‘puncak’ atas dari sayap kanan kotak suara. Gumpalan darah itu menunjukkan memar dan berarti ada tekanan berat pada leher ketika Ny. Dobkin masih hidup. 

Di bawah memar ini terdapat fraktur pada ‘puncak’ atas sayap. Ini sangat penting karena fraktur itu tak pernah terjadi, kecuali dalam kasus pencekikan. Tak perlu diragukan lagi, Ny. Dobkin dicekik dengan tangan.

Masih ada cedera lain pada belakang kepala, tempat ditemukan lagi gumpalan darah lain, menunjukkan memar berat. Ini menandakan Ny. Dobkin mungkin jatuh ke belakang, ke tanah, karena berat badan penyerangnya atau kepalanya dibenturkan oleh orang yang mencengkeram lehernya dengan tangan kalap.

Setelah semua pihak bekerja keras, tibalah saat yang menentukan. Selama tiga bulan rahasia penemuan jenazah Ny. Dobkin itu dijaga baik-baik. Tak ada sepatah kata pun yang bocor, apalagi ke kalangan pers. Sisa-sisa kerangka itu ditemukan dalam bulan Juli, dalam bulan Oktober sudah tiba waktunya untuk menangkap Harry Dobkin.

 

Polisi diremehkan

Sebagaimana banyak pembunuh, bisa dipastikan Dobkin yakin ia berhasil mengelabui polisi. la telah membunuh istrinya - apakah dalam keadaan kalap serta marah atau setelah dipikirkannya masak-masak - kita tak akan mengetahuinya. 

Ia mengakui, pada pertemuan terakhir tanggal 11 April 1941 itu istrinya berkata, “Kalau kau tak mau berdamai denganku, aku akan menyusahkanmu." 

Karena dia sudah dua kali membuatnya masuk penjara sebab tidak membayar, jelas Dobkin mempunyai alasan cukup untuk menginginkannya tersingkir dari jalan hidupnya. Sebab itu dengan tenang atau dengan geram ia menyingkirkannya dengan membunuhnya. 

Lalu dengan tekad bulat ia berusaha membuang jenazahnya dengan cukup licik: memotong, membuang kulit kepala, membuang wajah, memotong rahang bawah. Akhirnya setelah empat malam melakukan pekerjaan berdarah itu, ia berusaha membakar sisanya. Ketika kurang berhasil, ia menaburi jenazah itu dengan kapur mati dan menguburkannya di bawah sebuah batu hampar.

Juga tidak diragukan sekali-kali ia mengunjungi ruang bawah tanah dan mungkin mengintip tubuh yang membusuk itu. Keadaannya meyakinkan dia bahwa bila sekiranya ditemukan, sisa-sisa itu takkan bisa dikenali sebagai Ny. Dobkin. 

Para pejabat yang berwenang akan menganggapnya sebagai korban serangan udara lama. Ia yakin akan lolos dari tuntutan membunuh. 

Juga diketahui secara pasti bahwa salah satu kunjungannya ke Kennington Lane dilakukannya pada tanggal 8 Agustus 1941, dua setengah minggu setelah penemuan kerangka. (Mungkin ia mendengar desas-desus bahwa para pekerja menemukan beberapa potong tulang tua di situ). 

Bagaimanapun seorang anggota polisi yang kebetulan lewat melihat Dobkin masuk ke persil 302 Kennington Lane, sedang ia tak beralasan untuk memasuki tempat itu, sebab ia sudah tidak bertugas lagi sebagai penjaga kebakaran di situ. Ia terlihat membuka sebuah jendela, lalu melihat ke luar.

Dobkin yang meninjau bekas gereja itu tentunya melihat bahwa para pekerja telah membersihkan dan merapikan ruang bawah tanah dari semua puing sehingga menjadi terbuka dan mereka telah memindahkan batu hampar itu dari tempatnya yang lama. Jelas, jenazah itu telah ditemukan.

Apakah ia tiba-tiba ketakutan dan lemas? Atau apakah keyakinannya begitu besar, sehingga ia tak merasakan kekecutan sedikit pun? Barangkali yang belakangan itulah yang benar. Sebagaimana kebanyakan orang, ia tak tahu sama sekali seberapa jauh polisi memanfaatkan ilmu pengetahuan modern dalam pengusutan perkara.

Ia tak pernah sejenak pun memimpikan jenazah itu dibawa ke sebuah laboratorium mutakhir dan diperiksa oleh seorang ahli patologi, seorang analis, dan seorang ahli bedah mulut, yang semuanya ahli-ahli terkemuka di bidangnya masing-masing. 

Kerangka itu juga difoto dengan sinar X, dipreteli, dan disusun kembali seperti permainan jigsaw. Akhirnya, Dobkin juga terlalu merendahkan kecerdasan bagian penyidik kriminal polisi. Para detektif bukan lagi bertampang anjing pelacak yang ke sana-sini sambil menghitung jari untuk mendapatkan hasil dua tambah dua sama dengan empat.

 

Menjebak diri sendiri 

Dalam bulan Oktober Harry Dobkin berkenalan dengan bagian penyidikan kriminal dan cara kerjanya. Hatton menyuruh membawa Dobkin ke Kantor Polisi Southwark, ke kantornya yang memiliki jendela tinggi-tinggi, penuh arsip, dan meja-mejanya yang penuh timbunan kertas. 

"Untuk adilnya saya sekarang mengatakan kepada Anda bahwa sisa jasad manusia ditemukan di ruang bawah tanah gereja di sebelah tempat Anda bertugas sebagai pengawas kebakaran pada bulan April 1941 dan kami yakin itu jenazah istri Anda," kata Hatton kepada Dobkin.

Dobkin seorang penggertak alami. Ia langsung ‘menyalak’, "Saya tak tahu apa yang Anda katakan. Saya tak tahu apa-apa tentang ruang bawah tanah dan tak pernah turun ke situ. Saya tak percaya itu jenazah istri saya, tetapi kalau Anda mengatakan begitu, saya harus menerimanya."

Waktu dikatakan bahwa seorang anggota polisi pernah melihatnya menengok ke luar jendela di rumah Kennington Lane 302, sambil meninjau gereja dan ruang bawah tanah yang telah dibersihkan pada awal Agustus, amarah Dobkin meledak-ledak. Sambil bangkit ia berseru, "Tunjukkan pada saya pembohong itu, tunjukkan pada saya!"

Polisi itu dibawa masuk, lalu ditanya apakah Dobkin orang yang dilihatnya di Kennington Lane. 

"Memang ini orangnya. Saya beberapa kali berbicara dengannya di Kennington Lane tentang lampunya yang menyorot ke luar. Saya kenal baik dia," katanya.

Dengan wajah merah padam karena marah, Dobkin berteriak, "Bohong! Saya belum pernah melihatnya, saya tak ada di tempat itu. Dia bohong! Dia bohong!"

Dalam tahanan Dobkin banyak menulis catatan dan pernyataan kepada polisi. Misalnya ia mengirimkan sebuah pernyataan sukarela yang panjang kepada Inspektur Kepala Davis (tetapi isinya tidak benar) pada permulaan pemeriksaan. 

Ia juga gemar menuliskan laporan tanpa diminta, di antaranya waktu di kantor Inspektur Hatton, ia mengambil sehelai bekas tanda terima toko, lalu menulis di belakangnya:

Inspektur Hatton Yth.,

"Mengenai apa yang Anda katakan bahwa istri saya ditemukan mati atau terbunuh dan bahwa Anda mengatakan saya mengetahui sesuatu yang tidak saya katakan kepada polisi...." Hatton tak menghiraukan isi surat selanjutnya, sebab kalimat pertama sudah cukup. 

"Mengenai apa yang Anda katakan bahwa istri saya ditemukan tewas atau terbunuh ...." Tak ada seorang pun yang pernah mengatakan kepada Dobkin bahwa istrinya terbunuh. Alangkah baiknya bagi dia sekiranya ia tak begitu gemar menulis pernyataan secara sukarela!

Tanpa banyak cincong lagi Hatton sekarang mendakwa Dobkin membunuh istrinya.

 

Dipojokkan

Pada pemeriksaan pendahuluan pengadilan polisi di Lambeth, Dobkin duduk di bangku tertuduh. Dengan nyaman ia meletakkan tangan di kedua lututnya. Wajahnya menunjukkan kepuasan. 

Sikap itu dibawanya terus sampai dr. Simpson mulai memberikan kesaksiannya. Kemudian secara bertahap terlihat perubahan yang menyeramkan di wajah Dobkin.

Keith Simpson berbicara dengan terang, perlahan, kalimat demi kalimat, mengemukakan berbagai fakta. Dobkin yang menyadari bahwa selubung yang menutupi rahasianya direnggutkan secara ajaib, mulai berpeluh. 

Ia mengeluarkan sapu tangannya, lalu menyeka dahi, belakang leher, dan telapak tangannya. Mukanya pucat pasi. Ia bergeser di kursinya, mencengkeram lututnya kuat-kuat sehingga buku jari tangannya berkilat.

Hari Selasa, 17 November 1942, Dobkin diadili di Old Bailey dengan Hakim Wrottesley. Byrne dan Herald Howard tampil sebagai penuntut umum, dan F.H. Lawton bertindak sebagai pembela.

Dobkin kelihatan amat nervous, tak sabar, sangat marah. la mengerlingkan pandangannya ke seluruh peserta sidang, terutama kepada dr. Simpson, sekretarisnya, dan Inspektur Keeling.

"Kalau pandangan bisa membunuh, kita sudah lama mati," kata Keeling.

Pengacara EH. Lawton melakukan pembelaan cemerlang dan gigih berjuang untuk kepentingan Dobkin, tetapi menghadapi bukti-bukti kuat dari pihak penuntut, ia tak bisa berbuat banyak. Apa yang berhasil dicapainya malah dirusak oleh Dobkin sendiri, ketika ia duduk di kursi saksi.

Kalau pada tahap-tahap permulaan Dobkin agak kacau, pada waktu dipanggil untuk menempati tempat duduk saksi, kemarahannya agak mereda, lebih kelihatan gelisah. 

Ia menghadapi Jaksa Byrne dan tak tahu apa yang akan dihadapinya. Mata Byrne bersinar, ketika ia memandang Dobkin dengan sorot mata dingin, lalu mengajukan pertanyaan pertamanya, "Apakah Anda menyukai istri Anda?" 

Dobkin terkejut, ragu-ragu, dan akhirnya menjawab, "Tidak."

 

Tak ingin bertemu lagi

Jaksa Byrne kemudian menanyainya tentang kekurangan pembayaran uang tunjangan untuk istrinya dan berapa lama hukuman penjara pernah dijatuhkan kepadanya karena keterlambatan membayar jaminan itu, lalu bertanya lagi, "Apakah istri Anda berkata bahwa jika Anda tidak berdamai, dia akan menyusahkan Anda?"

"Dia berkata, kalau saya tak berdamai dengannya, dia akan menyusahkan saya." 

"Anda akan merasa jauh lebih senang jika takkan melihat lagi istri Anda sesudah itu?" Dengan waspada Dobkin menjawab, "Saya akan lebih puas kalau ia menjauhkan diri."

Byrne menekan terus. "Anda tak mempunyai keinginan untuk bertemu dengan istri Anda pada waktu lain sesudah itu?"

"Tidak," jawab Dobkin. "Saya tak ingin bertemu lagi dengannya." 

"Setelah tanggal 11 April," tukas Byrne, "tak seorang pun melihat istri Anda lagi."

Dengan tergagap Dobkin terpaksa mengiakan. 

Itu adalah pembukaan tanya-jawab yang panjang, di mana Byrne sebagai seorang matador tangguh mempermainkan bantengnya. Persamaan itu lebih dari cocok. 

Dobkin yang mendengus penuh kecurigaan dengan moncongnya yang lebar menghadapi Byrne yang berambut hitam dan gesit, dalam sorotan lampu terang, dengan hadirin yang hampir kaku oleh ketegangan, dalam suasana padat dengan drama yang dibayangi oleh ancaman maut. 

Byrne dengan penguasaan diri penuh, memperdayakan Dobkin di sini, mendorong di sana, merangsang dia agar menyodok dengan kekuatan penuh, kemudian memaksanya berhenti secara tiba-tiba. 

Sedikit demi sedikit ia merongrong orang itu, sehingga menjadi seperti bangkai binatang besar yang terengah-engah. 

Pembelaan gigih yang dilakukan oleh Lawton akhirnya dihancurlumatkan dengan cepat. Dobkin menuduh semua saksi, kecuali saksi ahli, sebagai pembohong. Ia tetap bersikeras tak pernah menuruni ruang bawah tanah, tak pernah tahu adanya ruang itu, sekalipun dua orang saksi terpercaya menyatakan mereka pernah melihatnya turun ke tempat itu dan 

Pendeta Burgess malah pernah diperingatkan oleh Dobkin agar tidak turun ke ruang bawah tanah, sebab berbahaya.

 

Panik

Dalam keadaan panik Dobkin hampir tak tahu apa yang dikatakan. Ia berbohong, menggertak, menggelepar seperti ikan di darat, berkeringat dingin, dan bergemetaran. Ia memberikan citra ketakutan yang tak mudah dilupakan. 

Para anggota juri memandangnya dengan rasa jijik dan tertegun. Bukti-bukti tak langsung yang kuat, pembuktian ilmu kedokteran forensik yang mengagumkan, tentunya menjadi pertimbangan kuat. Ikhtisar yang diberikan hakim merupakan penyimpulan yang gamblang, tetapi tak diragukan lagi fakta tambahan yang menentukan nasib Dobkin, yaitu tingkah laku dan pembawaannya sendiri sebagai saksi.

Juri hanya memerlukan waktu 20 menit untuk memperoleh keputusannya. Ruang sidang penuh sesak dengan orang yang menantikan dengan napas tertahan pemberian pukulan yang mematikan, descabello, atau tusukan pedang yang mematikan banteng di arena adu banteng. 

Ketika juri menyatakan bahwa putusan telah diambil, Dobkin digiring lagi ke tempatnya semula. Ia berdiri di situ, pucat pasi, hidungnya tengadah seperti hendak mencium apa keputusan juri dan para anggota juri. Mereka memasuki ruang sidang tanpa berpaling kepada tertuduh (suatu pertanda buruk). 

"Para anggota juri!" seru seorang petugas pengadilan, "apakah Anda telah sepakat mengambil keputusan?" 

"Ya," jawab pemuka juri dengan suara perlahan. 

"Apakah Anda menganggap terdakwa Harry Dobkin bersalah atau tidak bersalah melakukan pembunuhan?" 

"Bersalah." 

"Anda sekalian menyatakan dia bersalah melakukan pembunuhan dan apakah itu keputusan Anda semuanya?" 

"Itu keputusan kami bersama."

Kini semua mata diarahkan kepada Dobkin. Waktu mendengar kata ‘bersalah’ itu mukanya yang pucat tiba-tiba berubah menjadi hijau.

Setelah hening sejenak petugas pengadilan kembali melanjutkan, "Tahanan pengadilan, Anda dijatuhi hukuman karena membunuh. Apakah Anda akan mengatakan sesuatu, sehingga pengadilan tak akan menjatuhkan hukuman mati menurut undang-undang?"

 

Dihukum gantung

Dobkin yang selalu siap untuk mengatakan sesuatu, pada saat yang paling sial dalam hidupnya masih mampu mengeluarkan secarik kertas, lalu membacakan pembelaan dirinya yang panjang dan berbelit-belit. 

la menuduh polisi membuat-buat perkara terhadapnya dan menuduh pula bahwa tidak semua saksi telah didengarkan. la mempunyai saksi-saksi yang bisa membuktikan, bisa membuktikan ..., tetapi pembicaraannya makin kacau, sehingga orang tak bisa mengikuti lagi apa yang bisa dibuktikan oleh para saksinya, karena kata-katanya kemudian tersangkut-sangkut seperti piringan hitam rusak, lalu makin menghilang. 

Akhirnya, ia membisu dan menutup pembelaannya dengan, "Mudah-mudahan saya tak mengatakan terlalu banyak."

Dobkin memandang Hakim Wrottesly dengan tak berdaya ketika sang hakim mulai berucap dengan sangat lambat, tapi sangat jelas.

"Harry Dobkin, setelah mendengarkan dengan penuh kesabaran para juri telah sampai pada kesimpulan yang saya kira tepat tentang masalah ini. Keputusannya ialah hukuman yang ditetapkan oleh undang-undang untuk kejahatan yang telah Anda lakukan, yaitu bahwa Anda akan dibawa dari tempat ini ke sebuah penjara, kemudian ke sebuah tempat pelaksanaan hukuman dan di situ Anda akan digantung sampai tewas. 

Setelah itu jenazah Anda akan dikuburkan di halaman penjara tempat Anda ditahan sebelumnya. Semoga Tuhan akan mengampuni arwah Anda.”

“Amin,” jawab pendeta. 

Pernyataan khidmat itu disusul oleh keheningan di ruang sidang. Kemudian Dobkin berbalik kemudian turun ke sel-sel di bawah gedung, sangat pucat, dengan kehampaan yang tiba-tiba menerpa dirinya, seakan-akan kekuatan dan kebesaran jasmaninya lenyap daripadanya sekali pukul.

(Molly Lefebure)

" ["url"]=> string(83) "https://plus.intisari.grid.id/read/553304495/mayat-terpotong-potong-di-bawah-gereja" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1654265477000) } } [12]=> object(stdClass)#145 (6) { ["_index"]=> string(7) "article" ["_type"]=> string(4) "data" ["_id"]=> string(7) "3167674" ["_score"]=> NULL ["_source"]=> object(stdClass)#146 (9) { ["thumb_url"]=> string(112) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2022/03/03/thumbnail-intisariplus-sejarah2-20220303012505.jpg" ["author"]=> array(1) { [0]=> object(stdClass)#147 (7) { ["twitter"]=> string(0) "" ["profile"]=> string(17) "

Journalist

" ["facebook"]=> string(0) "" ["name"]=> string(20) "T. Tjahjo Widyasmoro" ["photo"]=> string(0) "" ["id"]=> int(8509) ["email"]=> string(22) "dolananclash@gmail.com" } } ["description"]=> string(77) "Inilah cikal bakal pesta olahraga yang ditunggu-tunggu setiap 4 tahun sekali." ["section"]=> object(stdClass)#148 (7) { ["parent"]=> NULL ["name"]=> string(7) "Sejarah" ["description"]=> string(0) "" ["alias"]=> string(7) "history" ["id"]=> int(1367) ["keyword"]=> string(0) "" ["title"]=> string(23) "Intisari Plus - Sejarah" } ["photo_url"]=> string(112) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2022/03/03/thumbnail-intisariplus-sejarah2-20220303012505.jpg" ["title"]=> string(51) "Gara-gara Olimpiade London, Indonesia Menggelar PON" ["published_date"]=> string(19) "2022-03-03 13:25:34" ["content"]=> string(11089) "

Intisari Plus - 

Sejarah Pekan Olahraga Nasional dan Hari Olahraga Nasional, 9 September, tak lepas dari penyelenggaraan PON I di Solo, tahun 1948. Pesta olahraga yang serbadarurat itu jadi tonggak sejarah bagi sebuah negara yang baru saja berdaulat. 

------------------------------

 

Perang Dunia II baru saja usai. Negara-negara yang terlibat dalam perang yang memakan korban 62,5 juta jiwa di seluruh dunia itu, masih berbenah diri. Namun kondisi itu rupanya tidak menyurutkan keinginan International Olympic Committee (IOC) untuk menyelenggarakan Olimpiade musim panas di London, pada 1948.

Rencana itu memantik keinginan dari insan olahraga Indonesia untuk ikut serta. Selain sebagai ajang pembinaan prestasi olahraga, keikutsertaan dalam Olimpiade penting artinya bagi kedaulatan negara dan bangsa yang baru berusia seumur jagung. 

Sayangnya, permintaan ini ditolak IOC, karena Komite Olimpiade Republik Indonesia (KORI) belum menjadi anggota IOC. Delegasi Indonesia boleh datang namun hanya sebagai peninjau. Rencana kedua ini pun tidak terlaksana, lantaran terkendala aturan bahwa paspor yang diakui hanya paspor Belanda. 

Akan tetapi kenyataan pahit ini tidak membuat kecewa, justru membuat tokoh-tokoh nasional berpikir untuk membuat acara pekan olahraga sendiri di Indonesia. Acara sejenis itu sudah pernah dilakukan, antara lain oleh organisasi Indonesia Muda, sebelum Perang Dunia II. Pertandingan berbagai cabang olahraga yang khusus diikuti oleh bumiputera ini, sempat diadakan di berbagai tempat.

Saat ini kita sulit mengetahui pasti, siapa sebenarnya penggagas acara yang awalnya dinamai Pekan Olahraga (belum memakai Nasional) itu. Ada tiga nama yang dianggap penting, yakni Abdul Rachman Saleh, perwira Angkatan Udara yang juga pecinta olahraga. Kemudian Sumali Prawirosudirdjo, Wakil Ketua Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI), semacam KONI sekarang. Kemudian Sri Sultan Hamengkubuwono IX Ketua KORI.

Yang jelas, seperti ditulis Harian Kompas (8/10/1983) Sri Sultan hanya membenarkan, ide pekan olahraga muncul gara-gara Indonesia ditolak ikut Olimpiade. “Kalau begitu kita selenggarakan sendiri saja,” demikian ucapan Sri Sultan kala itu, sebagai reaksi dari penolakan. Sebuah ide yang berani dan nekat sebenarnya, karena kondisi negara masih belum menentu akibat revolusi kemerdekaan. 

Ide menyelenggarakan pekan olahraga itu terus bergulir hingga akhirnya diselenggarakan Konferensi Darurat  PORI, 2-3 Mei 1948, yang akhirnya memutuskan penyelenggaraan Pekan Olahraga pada tahun itu juga. Saat itu PORI masih berbentuk persatuan, bukan federasi seperti KONI sekarang. Induk-induk cabang olahraga belum terbentuk atau tidak aktif.

Selain waktu persiapan yang mepet, jangan lupa, situasi keamanan saat itu juga masih rawan. Militer Belanda menguasai sejumlah daerah seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Malang. Sementara adu kekuatan antara satuan-satuan di republik sendiri juga sedang memuncak. Bahkan hanya berjarak beberapa hari setelah PON, PKI berontak di Madiun.

Dalam kondisi serba darurat, Pekan Olahraga Nasional I akhirnya sukses digelar di Solo, 9-12 September 1948. Meski pada hari-hari jelang pelaksanan akhirnya acara itu ditambah kata “nasional”, sesungguhnya pertandingan cuma diikuti 13 Karesidenan dari Pulau Jawa saja. Komunikasi yang sulit serta blokade Belanda di sejumlah daerah membuat atlet di luar Jawa kesulitan untuk sampai ke Solo. 

 

Mirip invitasi 

PON I mempertandingkan 10 cabang olahraga yakni atletik, anggar, bola basket, bola keranjang, bulutangkis, panahan, pencak silat, renang, sepakbola dan tenis. Namun karena kondisi yang terbatas, tidak semua olahraga mampu diikuti oleh tim Karesidenan. Berbagai klub olahraga atau sekolah olahraga juga dilibatkan. 

Misalnya, pada bola basket, ada tim dari klub-klub basket lokal dari Yogyakarta dan Solo. Bahkan satu kota bisa mengirim lebih dari satu klub. Kalau dalam ukuran zaman sekarang, mirip invitasi. Nah, aturan yang unik lagi, kalau dalam satu kota ada dua klub yang bertanding, maka keduanya akan diadu terlebih dahulu. 

Aturan-aturan pertandingan juga belum sesuai standar internasional, melainkan disesuaikan dengan situasi setempat. Misalnya, pada cabang renang, tidak dipertandingkan nomor 100 m atau 200 m, tetapi 110 m dan 220 m!

Jadi ceritanya, pertandingan renang digelar di kolam renang Tirto Moyo yang panjangnya hanya 30 m lebih sedikit. Karena sulit untuk mencapai tepat 100 m, maka keputusan panitia, aturan dilonggarkan jadi 110 m dan 220 m. Beres. 

Fasilitas olahraga yang boleh dikata layak hanya tenis. Maklum saja, pertandingan berlangsung di lapangan pribadi milik GPH Suriohamidjojo yang tak lain Ketua Umum Panitia PON I. Lucunya, karena olahraga ini mungkin bersifat elit, maka yang diperebutkan bukan medali, melainkan piala!

 

Baju pakai wenter

Bukan hanya prasarana olahraga yang serbadarurat, para atlet juga tampil dengan kondisi seadanya. Bahkan kalau mau ditelusuri lebih dalam, mereka sebenarnya  para atlet yang mampu datang ke Solo atau kebetulan adalah pengungsi di sekitar Solo yang kemudian mewakili daerahnya.

Kondisi yang sangat terbatas membuat para atlet banyak yang tidak bersepatu. Jadi bisa dibayangkan pada cabang atletik, mereka harus berlari di lintasan yang berpasir. Rasanya, seperti tertusuk-tusuk. 

Begitu pula pakaian para atlet saat bertanding yang cukup memprihatinkan. Wajar jika mereka saling bertukar pinjam dengan rekan satu daerahnya. Pakaian yang masih basah keringat, berpindah badan. Warna-warni baju para atlet itu juga bukan asli, melainkan diwarnai dengan wenter.

Semangat para atlet juga ditingkahi oleh gemuruh penonton yang tidak kalah semangat. Sebagian penonton bahkan berasal dari laskar-laskar pejuang yang bermarkas di sekitar Solo. Tak heran, jika sesekali terdengar letusan senjata ke udara. Maklum, umumnya mereka anak-anak muda yang masih banyak aksi. 

Dengan persiapan dan sarana yang minim, PON I ternyata juga berhasil melahirkan atlet-atlet yang berprestasi. Terutama dari cabang atletik yang bisa jadi karena sifatnya terukur. 

Pada atlet putra, ada Arie Muladi, kelahiran Kupang yang mewakili Yogyakarta. Ia merebut tiga medali emas dari lompat jangkit (13,25 m), lompat jauh (6,59 m), dan estafet 4 x 100 m. Bahkan masih satu perak lagi untuk lompat tinggi (1,75 m).   

Sementara atlet putri, Anie Salamoen yang juga mewakili Yogya, merebut dua medali emas dari dua nomor berbeda, yakni 100 m (13,9 detik) dan lempar cakram (25,52 m). Masih di barisan putri, Titik Sudibyo, atlet muda berusia 13 tahun, pada nomor lompat tinggi, berhasil melakukan lompatan setinggi 1,30 m. Saat itu Titik, putri seorang dokter dari Jakarta yang mengungsi ke Kediri, beraksi di lapangan dengan bertelanjang kaki. 

Beberapa atlet juga berlatar belakang pejuang, seperti Soedarmodjo yang menjadi juara pada lompat tinggi dengan lompatan 1,80 m. Padahal ia tidak berlatih intensif, karena sehari-hari ikut dalam pertempuran. 

Ada pula kisah sedih Sutopo yang berhasil merebut medali emas di nomor 10.000 m dengan waktu 40 menit 41 detik. Beberapa hari kemudian, usai PON, ia gugur akibat pemberontakan PKI di kampung kelahirannya di Madiun. Begitu pula dengan sejumlah pesilat yang kabarnya juga ikut jadi korban. 

Sebagai Karesidenan dengan tim terbanyak, 150 orang, Solo akhirnya berhasil mendapatkan gelar Juara Umum. Tuan rumah berhasil menggondol 16 medali emas, 10 perak dan 10 perunggu. Pada urutan kedua, Karesidenan Yogyakarta, dan berikutnya adalah Priangan.

Mungkin PON I di Solo, akan menjadi satu-satunya PON yang menyimpan banyak cerita unik. Karena pada penyelenggaraan PON-PON berikutnya, semua menjadi lebih tertata dengan persiapan yang lebih baik.  

 

Fakta-fakta PON I 

 

Fakta-fakta Pekan Olahraga Nasional 

 

" ["url"]=> string(95) "https://plus.intisari.grid.id/read/553167674/gara-gara-olimpiade-london-indonesia-menggelar-pon" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1646313934000) } } }