array(4) {
  [0]=>
  object(stdClass)#61 (6) {
    ["_index"]=>
    string(7) "article"
    ["_type"]=>
    string(4) "data"
    ["_id"]=>
    string(7) "3641226"
    ["_score"]=>
    NULL
    ["_source"]=>
    object(stdClass)#62 (9) {
      ["thumb_url"]=>
      string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2023/01/05/petunjuknya-sehelai-rambut-ok_ro-20230105041037.jpg"
      ["author"]=>
      array(1) {
        [0]=>
        object(stdClass)#63 (7) {
          ["twitter"]=>
          string(0) ""
          ["profile"]=>
          string(0) ""
          ["facebook"]=>
          string(0) ""
          ["name"]=>
          string(13) "Intisari Plus"
          ["photo"]=>
          string(0) ""
          ["id"]=>
          int(9347)
          ["email"]=>
          string(22) "plusintisari@gmail.com"
        }
      }
      ["description"]=>
      string(134) "Seorang ibu menemukan putrinya tewas di apartemen seperti menjadi korban pemerkosaan. Namun pernyataan para saksi saling bertentangan."
      ["section"]=>
      object(stdClass)#64 (8) {
        ["parent"]=>
        NULL
        ["name"]=>
        string(8) "Kriminal"
        ["show"]=>
        int(1)
        ["alias"]=>
        string(5) "crime"
        ["description"]=>
        string(0) ""
        ["id"]=>
        int(1369)
        ["keyword"]=>
        string(0) ""
        ["title"]=>
        string(24) "Intisari Plus - Kriminal"
      }
      ["photo_url"]=>
      string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2023/01/05/petunjuknya-sehelai-rambut-ok_ro-20230105041037.jpg"
      ["title"]=>
      string(26) "Petunjuknya Sehelai Rambut"
      ["published_date"]=>
      string(19) "2023-01-05 16:10:55"
      ["content"]=>
      string(32627) "

Intisari Plus - Seorang ibu menemukan putrinya tewas di apartemen seperti menjadi korban pemerkosaan. Namun pernyataan para saksi saling bertentangan.

--------------------

Hari Senin malam, 22 Maret 1982, seorang wanita gemuk berwajah tak menarik terlihat menaiki tangga Residence fle de France, sebuah flat yang berlokasi di 35 rue Guy de Maupassant di Kota Rouen, Prancis. 

Dialah Ny. Thérèse Rangée (38), seorang karyawati sebuah perusahaan asuransi yang habis pulang belanja. Kini ia akan mempersiapkan makan malam untuk dirinya sendiri dan putrinya, Roselyne, yang berusia 13 tahun. Saat itu pukul 19.45.

Roselyne tidak membukakan pintu, ketika ibunya menekan bel. Ny. Rangée menurunkan tas belanjaannya dan membuka sendiri pintu dengan kunci yang dibawanya. Bagi Rangée, bukan sesuatu yang mengherankan kalau Roselyne tidak ada di rumah. Maklum, putrinya bukanlah gadis yang betah tinggal sendirian di rumah, apalagi sejak suaminya pergi dari situ setelah bercerai dua tahun yang lalu.

Setelah meletakkan tas belanjaannya di dapur, Ny. Rangée segera mencari putrinya di kamarnya. Berdasarkan pengalaman, setiap kali pergi keluar rumah, pasti kamar Roselyne berantakan dan ia merasa perlu menegur putrinya jika kembali.

Tetapi astaga! Ketika membuka kamar Roselyne, ia dihadapkan pada pemandangan yang mengerikan. Kamar putrinya berantakan dan di tengah-tengah kamar, di lantai dekat ranjangnya, tergeletak Roselyne. Blus rajutan yang dipakainya terbuka sampai ke pinggang, sehingga payudaranya yang tak disangga oleh BH terlihat dengan nyata. Roknya yang pendek juga tersingkap sampai di sekitar pinggang, sehingga dari pusar ke bawah ia benar-benar bugil. Sementara itu celana dalam nilon putih tergeletak di sampingnya. Dada dan perutnya dipenuhi oleh darah kering yang berwarna kecoklatan.

Terhuyung-huyung Thérèse Rangée keluar sambil memegangi pelipisnya dan membuang muka karena tidak bisa menahan kesedihan. la menjerit panjang dengan suara seperti lolongan seekor serigala.

Tetangga sebelahnya, Ny. Paulette Garaud, baru saja memulai makan malamnya ketika mendengar jeritan itu. la sempat menahan sendok yang baru akan disuapkan ke mulutnya. Walaupun itu tidak keras, tetapi sama seperti banyak bangunan modern lain yang tidak dilengkapi dengan perangkat akustik (kedap suara), jeritan itu cukup mengganggu orang yang mendengar.

Semula Ny. Garaud mengira, mungkin seseorang meninggalkan seekor anjing di koridor. Karena ia pencinta binatang, Ny. Garaud meninggalkan meja makan dan keluar melihat apa yang terjadi. Dilihatnya pintu yang berdempetan terbuka dan Ny. Rangée keluar sambil terhuyung-huyung, tergagap, dan berteriak, “Roselyne mati! Roselyne mati!”

Meski tidak kenal keluarga Rangée secara dekat, Ny. Garaud tahu, Roselyne adalah putri Ny. Rangée. Ketika Ny. Rangée yang sedang histeris itu semaput menabrak dinding koridor, Ny. Garaud cepat-cepat membawanya ke dalam. Setelah memeriksa dua pintu, ia menemukan kamar Roselyne.

Ketika melihat mayat Roselyne, Ny. Garaud justru lebih kaget dibandingkan dengan Ny. Rangée.

Ketika berlari kembali ke flatnya sendiri; Ny. Garaud segera memutar nomor telepon ambulans, polisi, dan pemadam kebakaran.

Dalam waktu sekejap telepon Ny. Garaud mendapat sambutan. Meskipun populasi warga Rouen di bawah 120.000 jiwa, penduduk yang hanya berjarak 90 mil ke arah barat daya Paris itu makmur dan semua layanan masyarakat umumnya sangat baik.

Ny. Garaud hampir tidak punya waktu meletakkan kembali telepon untuk melihat apa yang bisa dilakukannya untuk menolong Ny. Rangée, ketika sebuah mobil patroli tiba di depan bangunan itu.

Ketika Ny. Garaud memberikan nomor flat saat melapor, polisi segera memasuki flat tersebut dan langsung keluar lagi untuk mengonfirmasikan laporan pembunuhan melalui telepon Ny. Garaud.

Pada saat ini pula ambulans tiba dan seorang dokter segera berlari naik, diikuti oleh dua orang pembawa tandu.

Sementara pembawa tandu menunggu, dokter masuk ke kamar didampingi oleh seorang perwira polisi. Beberapa menit kemudian mereka keluar lagi. Menurut dokter tersebut, korban sudah meninggal beberapa waktu yang lalu.

Karena tidak ada yang harus dikerjakan, kru ambulans segera kembali ke pangkalan mereka.

Pada waktu itu, di kantor pusat kepolisian, laporan tersebut diteruskan ke bagian penyelidikan kriminal dan regu penyidik pembunuhan di malam hari sedang bersiap-siap meninggalkan tempat itu.

Regu tersebut terdiri atas Inspektur Detektif Rene Savarois, yang bertubuh ramping, berambut ikal kemerahan, dan bermata biru yang menampakkan kecerdasan. Tampangnya kelihatan lebih muda daripada usia yang sebenarnya. Selain itu ada Maurice Depetry, dokter kepala, yang bertubuh gemuk pendek, berambut, berkumis, dan beralis serba hitam. Ia terlihat seperti penjahat kelas teri di dalam suatu melodrama. Anggota ketiga adalah Sersan Detektif Julien Barente, yang kebetulan sedang tidak ada di kantor saat laporan tersebut diterima.

Mereka siap siaga, tetapi belum akan bertindak sampai dilengkapi dengan seorang ahli sidik jari, fotografer dari kepolisian, dan seorang ahli senjata dari laboratorium kepolisian.

 

Celana dalam habis dicuci

Di blok sekitar flat tersebut, regu penyidik pembunuhan tidak menemukan orang lain, kecuali dua orang perwira yang tak berseragam dari mobil patroli. Ny. Garaud sudah membawa Ny. Rangée ke flatnya, di mana ia memberinya segelas brendi. Minuman itu segera memberi Ny. Rangée rasa tenang.

Sementara dokter memeriksa mayat Roselyne, Inspektur berjalan mengeliling flat, melihat segalanya, tanpa menyentuh sesuatu. Inspektur tidak mencari sesuatu yang umum, tetapi pengalaman telah menunjukkan penyelidikan seperti itu kadang-kadang memberikan keuntungan yang tak terduga di kemudian hari.

Karena flat itu kecil, dalam waktu singkat Inspektur Rene Savarois telah selesai melakukan penyelidikan. Ia berdiri mengamati dokter yang baru saja selesai menentukan apa yang jadi penyebab kematian itu dan mengalihkan perhatiannya kepada aspek seksual dalam kasus ini.

“Tampaknya korban tidak diperkosa,” komentar Dokter tersebut. “Selaput daranya robek, tapi bukan baru-baru saja dan aku tidak melihat ada tanda-tanda bekas tusukan atau bekas sperma, baik pada kemaluan ataupun pada tubuhnya.”

“Impoten atau ketakutan,” kata Inspektur.

“Mungkin tidak,” jawab Dokter. “Ada yang janggal bagiku. Kita mungkin harus mencari motif lain.”

“Waktu dan penyebab kematian?” tanya Inspektur.

“Tidak lebih dari delapan jam,” jawab Dokter. “Mungkin lebih. Kalau baru saja pasti terjadi perdarahan di dalam, meskipun beberapa organ vital itu juga sama-sama rusak. Aku tidak melihat sesuatu yang berguna bagi Anda.”

“Saya harap tidak,” kata Inspektur. “Menurut Anda, apakah pisau yang tergeletak di lantai itu senjata yang digunakan si pembunuh?”

“Sangat mungkin,” jawab Dokter. “Hei! Apa ini?”

Dokter mengangkat rambut hitam panjang yang menutupi muka korban, lalu menggeraikannya ke belakang. Pada kulit yang putih di dahi terdapat goresan merah luka bekas perkelahian, yang tampak seperti beberapa tulisan pendek yang eksotis.

“Apakah itu suatu tulisan?” tanya inspektur sambil membungkuk untuk mengamati. 

“Tak ada bentuk tulisan yang bisa dikenali,” kata Dokter. “Mungkin ini suatu pembunuhan untuk upacara ritual atau sebagainya.”

Pernyataan ini membuat Sersan melongokkan mukanya yang panjang dan pipih itu ke pintu seraya berkata, “Anda bilang pembunuhan ritual?”

“Mungkin,” kata Inspektur. “Hubungi kantor pusat dan katakan kita perlu tim penyelidik. Kita tak akan bisa memecahkan kasus ini hanya dengan memandangi sang korban.”

Pada keesokan harinya, para ahli dan petugas sudah berkumpul di flat tersebut. Namun, apa yang mereka temukan sangat membingungkan. Semua petunjuk menunjukkan kontradiksi.

Aspek seksual tindak kriminal ini pasti palsu. Kesimpulan laboratorium, darah di dada dan daerah kemaluan korban mungkin sengaja dioleskan oleh seseorang yang yakin bahwa korban masih perawan. Dengan demikian darah pada daerah kemaluan itu akan dianggap bukti percobaan perkosaan.

Yang kedua, blus gadis tersebut tidak terbuka karena dirobek, tetapi dibuka kancingnya setelah ia ditikam. Ada robekan di dalamnya, di mana pisau menembus dada sebelah kiri. 

Bahkan celana dalam nilon yang tergeletak di sebelah tubuh korban tidak disingkirkan oleh si pembunuh. Celana itu tampaknya baru diambil dari lemari yang memiliki banyak laci. Dari tes laboratorium diketahui, celana dalam itu belum pernah dikenakan sejak dicuci.

 

Korban melakukan perlawanan

Mayat Roselyne menutupi sebagian poster besar lama berwarna penyanyi rock Prands Johnny Hallyday. Poster itu dirobek dari dinding, di mana terpasang berbagai poster para penyanyi rock dan musisi lain.

Kamar tidur korban dilengkapi dengan sebuah tape, koleksi binatang mainan, sebuah raket tenis, buku, majalah, dan berbagai artikel pakaian. Pokoknya, khas kamar tidur seorang remaja putri.

Di atas poster Johnny Hallyday tergeletak sebilah pisau dapur bermata satu. Dari hasil tes diketahui pisau ini yang dipakai sebagai alat pembunuh. Ada darah yang masih menempel di pisau tersebut. Menurut Ny. Rangée, pisau itu berasal dari dapurnya sendiri.

Tanda-tanda aneh di dahi korban difoto dan hasilnya dikirimkan kepada para ahli bahasa di Universitas Sorbonne di Paris. Mereka tidak bisa mengenalinya, tetapi beberapa di antaranya mirip tanda-tanda okultisme yang digunakan oleh para pengikut ilmu hitam.

Tanda-tanda tersebut dibentuk dengan menggunakan alat pemecah es dari dapur, yang sudah dikembalikan ke tempat asalnya. Meskipun pegangan alat itu, seperti juga pisau, sudah dibersihkan dan sidik jari, tetap saja kelihatan ada bekas darah sedikit.

Para ahli menghadapi kesulitan untuk menginterpretasikan penemuan ini. Si pembunuh berusaha mengacaukan tindak kriminal itu, tetapi motifnya sama sekali tidak jelas.

Si pembunuh ingin mengesankan suatu tindak kejahatan seksual, tetapi anehnya tidak tertarik pada korban sama sekali. la hanya menyentuh tubuh korban seperlunya. Tidak ada petunjuk tindakan lebih lanjut.

Dan flat itu juga tidak ada barang yang hilang dan tidak ada tanda-tanda bahwa pelaku kejahatan memasuki tempat itu secara paksa. Pembunuh juga tidak melakukan suatu perampokan yang mengejutkan.

Bagaimanapun sulitnya, yang jadi masalah adalah pisau dan alat pemecah es. Pisau itu digunakan untuk membunuh, sedangkan alat pemecah es untuk membuat tanda di dahi korban. Bagian pegangan alat ini sudah dilap, jelas untuk menghilangkan sidik jari. Tetapi mengapa pisaunya sendiri secara mencolok masih dibiarkan berdarah? Juga mengapa alat pemecah es itu secara hati-hati dikembalikan ke tempatnya di dalam laci dapur, sementara pisau dibiarkan tergeletak di samping mayat?

Karena ketidakkonsistenan data itulah, laboratorium merujuk pada teori pembunuh gila. Meskipun demikian, mereka sendiri mengaku tidak merasa benar-benar yakin dengan kasus ini.

Sebagai contoh, apakah si pembunuh muncul dengan sengaja dan menunjukkan sikap tidak terkendali seperti umumnya seorang psikopat, karena pisau tersebut ditusukkan ke suatu daerah berbahaya.

Yang bisa disimpulkan, Roselyne dibunuh oleh seseorang yang mengenal flat itu secara cukup baik, sehingga tahu di mana tempat menyimpan pisau. Tapi itu pun belum pasti, karena seorang asing pun akan tahu bahwa pisau biasanya disimpan di dalam laci dapur.

Motif pembunuhan ini bukan seksual ataupun uang. Para ahli tidak bisa menduga hal lain lagi. Tampaknya gadis berusia 13 tahun ini memilih seorang musuh yang demikian benci kepadanya sehingga punya alasan untuk membunuhnya.

Hasil laporan autopsi pun tak cukup menolong. Kesimpulannya Roselyne tidak mengalami pemerkosaan dan penyebab kematiannya karena perdarahan sebagai akibat putusnya pembuluh darah utama dekat jantung. Jantungnya sendiri tak tersentuh apa-apa.

Menurut dr. Depetry, Roselyne berusaha mempertahankan hidupnya. Buktinya, dua jari tangan kanannya dan satu jari tangan kirinya patah, sementara tangan serta lengan bagian depannya memar.

 

Bukan gadis alim

Selain itu tangan kanan Roselyne dalam keadaan terkepal, dan ketika dibuka di kamar mayat, dokter menemukan sehelai rambut hitam panjang, yang semula dikira rambut Roselyne sendiri.

Dan penelitian mikroskopis diketahui bahwa rambut itu, meskipun mirip dengan rambut korban sendiri, bukanlah rambut Roselyne, tapi rambut orang lain yang lebih tua daripada korban.

Si pembunuh tampaknya memasuki tempat itu tidak lama setelah Ny. Rangée meninggalkan flat tersebut untuk pergi bekerja pada pukul 08.15.

Dalam keadaan normal, Roselyne akan meninggalkan flat itu setengah jam kemudian. la tercatat sebagai murid di Pasteur Technical School di Petit Couronne, daerah pinggiran sebelah barat daya kota tersebut, di mana Residence lie de France berada. Pelajaran pertamanya dimulai pukul 09.30.

Roselyne tidak mengikuti pelajaran tersebut. Jadi bisa dipastikan, waktu kematiannya antara pukul 08.15 dan 08.45 pada hari Senin tersebut. Hanya itulah yang dapat dipastikan secara akurat.

Yang jadi pertanyaan, mengapa Ny. Rangée mengeluarkan pernyataan ia tidak pernah berhubungan intim dengan seorang laki-laki pun sejak bercerai dan putrinya sendiri masih terlalu muda untuk melakukan hal itu.

Padahal itu ternyata tidak benar. Hasil autopsi menunjukkan bahwa Roselyne setidak-tidaknya pernah melakukan hubungan seksual sekali. Jadi ia sudah bukan perawan lagi dalam waktu cukup lama.

Menurut ibunya, Roselyne agak pemalu, penakut, dan pasti tidak akan pernah membiarkan orang asing masuk ke dalam flatnya, apalagi saat ia sendirian.

Tetapi menurut teman-teman sekolahnya kepada polisi, Roselyne bukanlah seorang pemalu dan penakut, terutama pada pria. Menurut beberapa orang di antaranya, Roselyne akan membiarkan setiap laki-laki masuk ke flatnya ketika ibunya pergi, asal laki-laki itu secara fisik benar-benar menarik.

“Tapi pada hari Senin, pukul 08.30?” tanya Sersan. “Gadis itu bukanlah pengidap kelainan seksual dan ia sudah siap untuk berangkat sekolah. Kalaupun ia mengizinkan seorang laki-laki masuk, pasti tidak ada hubungannya dengan masalah seksual.”

“Apakah kau sudah mengecek para petugas pelayanan masyarakat dan tukang pos?” kata Inspektur. “Hampir tak ada satu pun penghuni yang membiarkan orang lain masuk rumahnya sekali tak memiliki tanda pengenal.”

“Kita sudah mengecek petugas pelayanan masyarakat yang sesungguhnya dan tukang pos,” kata Sersan.

“Baiklah, mungkin saja ada,” kata Inspektur. “Kalau kita tidak tahu motivasinya, kita tidak tahu apakah dia orang asing atau bukan. Tetapi kita anggap saja demikian, ia ‘kan tidak tahu siapa yang tinggal di lantai tiga flat tersebut. Tentu ia akan memilih pintu secara acak untuk menemukan penghuni yang hanya seorang wanita. Itu suatu pola yang umum dalam tindak kriminal. Baiklah. Si pembunuh mulai dari tingkat atas ke bawah atau sebaliknya. Untuk alasan psikologi, biasanya dari tingkat atas ke bawah. Pada setiap kasus, kalau kita tidak benar-benar beruntung, si pembunuh akan memencet bel lain di bangunan tersebut antara pukul 08.00 dan 08.45. Jika kita menginterogasi semua penghuni, mungkin kita akan menemukan seorang saksi.”

 

Ada tiga saksi

Tampaknya, si pembunuh beraksi mulai dari tingkat atas ke bawah. Jadi Sersan Julien Barente mengawali penyelidikannya dari atas. Pada saat mencapai tingkat 3, ia sudah berhasil mengumpulkan tiga orang saksi. Dua di antaranya suami-istri yang tinggal di lantai 5. Menurut mereka, seorang lelaki muda bersuara serak dan berjanggut hitam membunyikan bel pintu mereka kira-kira pukul 08.15 dan menanyakan apakah Tuan Courtoux tinggal di situ.

Menurut sang istri yang membukakan pintu itu, ia tidak mengenal orang yang dicari, karena itu ia memanggil suaminya untuk menanyakan apakah si suami tahu ada orang bernama Tuan Courtoux yang tinggal di gedung tersebut. Ternyata si suami pun sama tidak tahunya. Laki-laki muda tersebut mengucapkan terima kasih dengan sopan dan pergi menuruni tangga.

Di lantai 4, laki-laki tersebut memencet bel flat Ny. Annie Trebuchon, seorang janda berusia akhir 60-an yang tinggal sendirian. Si pemilik flat yang masih ingat pada berbagai peristiwa pembunuhan dan perampokan yang menimpa sejumlah orang lanjut usia sudah melengkapi sistem kunci canggih pada pintunya. Ia hanya membuka sedikit dan membiarkan rantai tetap menempel di pintunya, untuk melihat siapa yang datang.

Lelaki muda itu mengajukan pertanyaan yang sama dan menurut Ny. Trebuchon, Tuan Courtoux tinggal di lantai dasar. Padahal ia mengaku pada polisi, ia belum pernah mendengar nama itu, tapi ia tidak bisa menjelaskan mengapa ia memberikan informasi bohong kepada laki-laki tersebut. Gambaran yang diberikan oleh Ny. Trebuchon sama seperti yang diperoleh dari pasangan suami-istri di lantai 5, dengan tambahan detail bahwa laki-laki itu memakai kemeja kotak-kotak dengan warna sangat mencolok.

“Baiklah,” kata Inspektur, “tapi siapakah orang itu?” 

“Mungkin seorang psikopat atau sebagainya,” kata Sersan. “Dalam hal lain, mengapa ia mendatangi flat itu secara acak per blok untuk membunuh seseorang?”

“Tanpa alasan sama sekali? Apakah hanya karena alasan senang membunuh semata?” kata Inspektur. “Minta bagian pendataan untuk mencari modus operandinya, tetapi aku belum pernah mendengar suatu kasus seperti ini. Dr. Depetry sangat yakin, seks bukanlah motif dalam kasus ini.”

“Sulit untuk mengatakan bentuk penyimpangan seksual bagaimana yang terjadi,” kata Depetry. “Aku tidak tahu apakah ada kasus lain yang mirip kasus ini. Boleh jadi pembunuhan itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan seksual. Atau mungkin juga perjuangan untuk mengatasi perlawanan gadis tersebut. Pembunuhan itu sendiri mungkin dilakukan secara tidak sengaja atau dengan tujuan untuk menghilangkan saksi.”

“Jika motifnya adalah kelainan seksual, tentu ia telah melakukannya sebelumnya, atau jika ini untuk pertama kalinya, bukankah ia akan mengulanginya lagi?” kata Inspektur. 

“Ya,” kata Dokter dengan kalem.

 

Teman di malam hari 

Munculnya berbagai kemungkinan tersebut membuat kasus ini terasa begitu pelik. Apalagi selama 10 tahun terakhir tidak pernah terjadi pembunuhan serupa di tempat tersebut. 

“Mudah-mudahan Depetry benar bahwa hal itu hanya suatu kecelakaan atau tindakan untuk menghilangkan saksi,” kata Inspektur. “Aku kira tidak akan ada laporan mengenai seorang laki-laki berjanggut hitam.”

Ternyata yang masuk bukan hanya satu, tetapi beberapa laporan. Para hippy yang berpenampilan seperti itu cukup banyak, tetapi memelihara janggut dianggap bukan sesuatu yang umum. Karena itu sangat mungkin bagi Sersan Detektif untuk memperoleh masukan dari saksi yang melihat orang memiliki potensi untuk dicurigai di jalan.

“Pembunuh itu berdarah dingin,” kata Sersan. “Ia menghabisi nyawa seorang gadis di bawah umur beberapa menit sebelumnya. Setelah itu ia sempat meluangkan waktu dua jam duduk-duduk di kedai minum kopi, memakan croissants, dan membaca koran.”

“Dari pukul berapa sampai berapa?” tanya Inspektur. 

“Kira-kira pukul 09.30 - 11.30,” kata Sersan. “Tak seorang pun yang tahu waktunya secara persis.”

“Aku tak menyukainya,” kata Inspektur. “Itu bukanlah kebiasaan yang bisa aku bayangkan. Pasti ada sesuatu yang lebih dari itu atau teman laki-laki Ny. Rangée.” 

Pengakuan Thérèse Rangée tidak sepenuhnya benar bahwa ia tidak memiliki teman laki-laki. Nyatanya, ia memiliki beberapa orang, semuanya merupakan teman sekantor, di mana ia bekerja sebagai operator panel kontrol. Beberapa orang rekannya menggambarkan mereka sebagai “teman-teman di malam hari”.

Inspektur tidak merasa terlalu dipersulit dengan ketidakjujuran ini. Banyak ibu cerai yang memiliki anak gadis remaja berpura-pura menjadi lebih bermoral, misalnya.

Yang mengkhawatirkan Inspektur adalah kemungkinan bahwa Roselyne mengenal salah seorang teman laki-laki ibunya, atau ia tahu bagaimana akrabnya laki-laki itu, sehingga ia membiarkannya masuk ke dalam flat.

Sudah jelas bahwa Ny. Rangée tidak mencurigai salah seorang dari temannya, tetapi Inspektur mempunyai lebih banyak alasan. Penyelidikannya menunjukkan bahwa seorang laki-laki, sekurang-kurangnya, bisa bekerja atau tidak pagi itu. Bagaimanapun, Senin merupakan hari di mana orang absen cukup banyak. 

Sersan mengonsentrasikan diri pada laki-laki muda berjanggut, yang dilaporkan memiliki rambut panjang seperti yang ditemukan ada dalam genggaman Roselyne dan Sersan mengalami kemajuan. 

Kemudian diketahui nama laki-laki muda itu adalah Robert Courtoux dan tinggal di suatu tempat di sebelah utara kota itu.

Robert seorang mahasiswa di Centre Universitaire. 

“Nama yang ditanyakan di Residence He de France,” kata Sersan dengan perasaan puas. “Aku pikir kita telah mendapatkannya. Kita punya tiga saksi dari flat itu. Jika mereka memilih dia ....”

“Baiklah, akan kita coba,” kata Inspektur. “Aku setuju, kelihatannya memuaskan, tetapi, bagaimanapun aku tak menyukai hal ini.”

Sersan menangkap Robert Courtoux, meskipun pemuda itu tanpa ragu-ragu mengakui bahwa dia berada di Residence lie de France pada pagi hari pembunuhan itu.

“Aku mencari pamanku,” katanya. “Aku tahu ia tinggal di gedung itu, tetapi aku tidak tahu di lantai berapa. Aku pikir dia di lantai 5, tetapi penghuni di lantai itu tidak mengenalnya. Seorang wanita di lantai 4 mengatakan dia tinggal di lantai dasar.”

Paman Robert Courtoux menerima keponakannya hari Senin pagi itu pukul 08.30 kurang sedikit dan duduk mengobrol sampai pukul 09.00, saat ia harus berangkat kerja. Ketika pamannya tidak menawarkan apa-apa lagi selain secangkir kopi, Courtoux pergi ke kafe terdekat untuk sarapan dengan santai. 

“Tetapi wanita tua di lantai 4 mengatakan ia tidak pernah mendengar nama Courtoux!” kata Sersan. “Bagaimana hal ini bisa terjadi secara kebetulan?”

“Itu bukan suatu kebetulan,” kata Inspektur. “Wanita itu sudah pernah mendengar nama tersebut, tetapi ia tidak ingat. Hal serupa juga terjadi pada kita semua. Bagimu, kau mulai dari bagian atas rumah itu dan berhenti, ketika mencapai lantai 3. Jika kau mulai dari bawah, kau pasti sudah bertemu dengan nama itu.”

 

Anak lawan ibu

Penyelidikan itu dihentikan tanpa ada orang yang dicurigai lagi kecuali Pierre-Louis Massegrain, teman laki-laki Thérèse Rangée yang tidak bekerja pada hari Senin itu, tetapi ia pun tidak banyak memberikan harapan. Karena itu Inspektur kembali lagi pada rencana semula yang pemah dicobanya, meskipun kadang-kadang sukses, kadang-kadang gagal. 

Segala hal yang sudah diketahui dalam kasus ini telah dicatat. Inspektur dan Sersan duduk di kantor dan membaca seluruh file itu bagian demi bagian secara bergantian sambil mencari “lubang” dari apa yang sudah mereka baca.

Seperti biasa, hal ini menghasilkan berbagai ketidakkonsistenan. Banyak hal yang tak berguna untuk penyelidikan itu. Tapi ada satu hal yang berguna yaitu mengenai kesehatan jiwa Roselyne Rangée sendiri.

Menurut ibunya, Roselyne selalu mandi pagi sebelum pergi ke sekolah. Tapi laporan hasil autopsi mengungkapkan, banyak kotoran ditemukan di tubuh korban, juga pada dengkul kirinya, seperti ia habis jatuh di suatu tempat di luar rumah.

Jika pagi itu ia tidak keluar rumah, berarti kotoran itu berasal dari hari sebelumnya. Jadi ia tidak mandi, meskipun sudah berpakaian. 

“Mengapa?” tanya Inspektur.

Thérèse Rangée ditanyai. Menurutnya, Roselyne mandi seperti biasa pagi itu.

“Kemudian, ia pergi setelah ibunya berangkat dan kembali lagi,” kata Inspektur. “Beri tahu Depetry kita butuh waktu kematian yang lebih pasti.”

Menurut Depetry, ia hanya bisa memberikan waktu kematian yang tepat dengan melakukan suatu analisis organ bagian dalam tubuh. Ia akan mencobanya setelah bagian-bagian itu diawetkan secara terpisah.

Pada keesokan harinya, seorang dokter menelepon Inspektur untuk minta maaf. Ia menginformasikan bahwa Roselyne Rangée bukan dibunuh pada hari Senin pagi, tetapi pada Minggu malam, antara pukul 22.00 dan 23.00.

Sekarang hanya ada satu kesimpulan yang bisa diambil. Thérèse Rangée dikenai tahanan secara formal dengan tuduhan membunuh putrinya.

Tapi Thérèse menyangkal hal itu, mengakui, kemudian menyangkal lagi. “Aku tidak mungkin membunuh Roselyne,” katanya sambil menangis. “Ia ‘kan putriku sendiri!”

Meskipun Thérèse Rangée bersikeras ia tidak tahu mengapa ia benar-benar melakukan tindak kriminal itu. Para psikiater bisa merekonstruksikan, bahwa pembunuhan itu dilakukan pada malam hari.

Baik Ny. Rangée maupun putrinya, tampaknya, agak aktif terhadap lawan jenisnya dan keduanya saling menyalahkan satu sama lain. Roselyne menganggap ibunya terlalu tua untuk hal itu, sementara Thérèse menganggap putrinya terlalu muda.

Kerap kali terjadi pertengkaran dan pada malam itu mereka terlibat perkelahian fisik. Ibu dan putrinya berkelahi seperti yang terjadi di dalam bar antara seorang wanita dewasa melawan seorang gadis berusia 13 tahun yang menghunus pisau untuk mempertahankan dirinya.

Thérèse berhasil merebut pisau itu dan secara tidak sengaja atau bagaimana, ia menikamkan pisau itu ke tubuh putrinya sehingga menemui ajalnya. Rambut di dalam genggaman tangan Roselyne adalah rambut ibunya. 

Pengadilan cenderung menerima pembelaan Thérèse bahwa ia tidak berniat membunuh putrinya. Tetapi hal yang memberatkan Thérèse adalah ia mencoba menyesatkan penyelidikan dan kenyataannya ia menghabiskan malam setelah pembunuhan itu di flat tersebut bersama-sama mayat putrinya. Pada tanggal 4 Mei 1984 ia dijatuhi hukuman 20 tahun penjara. (John Dunning)

Baca Juga: Ancaman Itu Jadi Kenyataan

 

" ["url"]=> string(71) "https://plus.intisari.grid.id/read/553641226/petunjuknya-sehelai-rambut" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1672935055000) } } [1]=> object(stdClass)#65 (6) { ["_index"]=> string(7) "article" ["_type"]=> string(4) "data" ["_id"]=> string(7) "3350139" ["_score"]=> NULL ["_source"]=> object(stdClass)#66 (9) { ["thumb_url"]=> string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2022/06/28/pelakunya-bergolongan-darah-b_ka-20220628020527.jpg" ["author"]=> array(1) { [0]=> object(stdClass)#67 (7) { ["twitter"]=> string(0) "" ["profile"]=> string(0) "" ["facebook"]=> string(0) "" ["name"]=> string(13) "Intisari Plus" ["photo"]=> string(0) "" ["id"]=> int(9347) ["email"]=> string(22) "plusintisari@gmail.com" } } ["description"]=> string(142) "Serangkaian pemerkosaan dan pembunuhan terjadi dalam waktu yang berdekatan. Pelakunya tidak meninggalkan jejak apa pun kecuali golongan darah." ["section"]=> object(stdClass)#68 (7) { ["parent"]=> NULL ["name"]=> string(8) "Kriminal" ["description"]=> string(0) "" ["alias"]=> string(5) "crime" ["id"]=> int(1369) ["keyword"]=> string(0) "" ["title"]=> string(24) "Intisari Plus - Kriminal" } ["photo_url"]=> string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2022/06/28/pelakunya-bergolongan-darah-b_ka-20220628020527.jpg" ["title"]=> string(29) "Pelakunya Bergolongan Darah B" ["published_date"]=> string(19) "2022-06-28 14:05:49" ["content"]=> string(28882) "

Intisari Plus - Serangkaian pemerkosaan dan pembunuhan terjadi dalam waktu yang berdekatan. Pelakunya tidak meninggalkan jejak apa pun kecuali golongan darah yang tertinggal pada korban. Ini membuat pihak kepolisian hampir menyerah untuk menemukan siapa pelaku kasus bengis ini.

------------------

Gabriele Roesner, seorang gadis Jerman berusia 23 tahun, sepulang dari bekerja merasa ingin berjalan-jalan mencari angin di hutan dekat Langen, ± 7 km di selatan Frankfurt. Sejak itu ia tidak kembali ke rumah. Tentu saja, orang tuanya cemas dan melapor kepada polisi. Polisi pun segera mengadakan pencarian.

Gabriele Roesner akhirnya ditemukan tak jauh dari jalan setapak di hutan itu. Namun, ia sudah menjadi mayat. Pakaiannya masih lengkap. Hanya gaunnya tersingkap dan pakaian dalamnya terkoyak. Menurut hasil autopsi, gadis itu tewas dicekik dan diperkosa oleh seseorang yang memiliki golongan darah B. Hanya itu.

Polisi tidak menemukan secuil pun identitas lain si pembunuh. Mereka juga tidak curiga kalau pembunuhan di Langen pada hari Kamis, 8 Mei 1980, itu akan merupakan awal dari suatu rangkaian pembunuhan. Mereka cuma bisa menduga, pembunuhan itu dilakukan oleh seorang penjahat seksual yang berasal dari kota besar.

Sebelum kematiannya, Gabriele diketahui sudah tidak gadis lagi. Namun, dari hasil autopsi juga diketahui bahwa dalam perkosaan itu ia sempat melawan, sebab pada pangkal pahanya ada luka memar.

Bagian penyelidikan kriminal Frankfurt tidak bisa berbuat banyak. Sersan Detektif Max Busch, yang bertugas menangani kasus-kasus pembunuhan yang terjadi di wilayah pinggiran Frankfurt bagian selatan itu, selain mendatangi tempat kejadian juga mengadakan wawancara dengan orang tua korban.

Sersan yang bertubuh gemuk dan lamban ini, wajahnya muram, semuram hasil-hasil penyelidikan yang diperolehnya. Menurut dugaannya, nama si pelaku tercatat dalam dokumen polisi, sebab pembunuhan itu mungkin bukan yang pertama kali dilakukannya. Sayangnya, tidak diperoleh cukup petunjuk tentang identitas si pembunuh.

Akhirnya, atasan Busch, Inspektur Detektif Karl Dorner, menilai kasus Gabriele itu sebagai yang ‘tak terlacak’. Berkas laporan itu kemudian disimpan bersama dengan dokumen lainnya.

 

Bunga liar bertebaran

Namun, dokumen tentang terbunuhnya Gabriele Roesner tak urung dibuka-buka lagi, ketika sebulan setelah tewasnya Gabriele, dilaporkan terjadi pembunuhan lagi. Korban kali ini pun seorang gadis yang ditemukan tewas, 1 km dari hutan Langen.

Peristiwanya tidak jauh berbeda dengan kasus Gabriele. Sabtu sore, 14 Juni, Regina Barthel (14), berjalan-jalan di hutan Heusenstamm. Sejak itu gadis yang masih duduk di bangku sekolah menengah itu pun tidak kembali ke rumah.

Orang tuanya, yang tinggal di Dietzenbach, tak jauh dari Langen, begitu yakin bahwa kasus Gabriele menimpa anak gadisnya pula. Mereka tidak hanya melapor ke polisi, tetapi segera pergi mencari anak mereka di hutan itu.

Bersama beberapa tetangga, kerabat, kawan-kawan, dan sepasukan polisi Dietzenbach - maklum Dietzenbach merupakan sebuah desa kecil - orang tua Regina menelusuri hutan itu.

Ternyata operasi pencarian itu tak memerlukan orang sebanyak itu. Regina dijumpai tergeletak tak bernyawa di tempat terbuka, dekat jalan kecil di hutan itu. Pakaiannya compang-camping. Di sekitar tempatnya terbaring, tampak bunga liar yang terlepas dari ikatannya, bertebaran di mana-mana. Regina juga diperkosa dan dibunuh.

Korban kali ini ditinggalkan dalam keadaan lebih parah daripada Gabriele Roesner. Selain mengalami perdarahan hebat di bagian bawah pusarnya, korban juga ditikam dengan, yang belakangan diketahui, pisau berburu.

"Ada luka bekas tikaman," kata Sersan ketika melaporkan informasi yang diperoleh dari polisi di Dietzenbach kepada Inspektur. "Mayat korban sedang dikirim kemari untuk autopsi.”

"Bagus," ujar Inspektur. "Agaknya kedua kasus ini punya unsur yang sama, baik tempat maupun waktu. Masing-masing korban sedang berekreasi." 

Sampai jatuhnya korban yang ketiga, Inspektur masih juga belum menyadari bahwa kasus pembunuhan beruntun sedang berlangsung.

 

Pelacur kaya

Peristiwa pembunuhan yang ketiga ini cuma diketahuinya dari berbagai surat kabar dan laporan yang terus mengalir ke mejanya. Pembunuhan itu terjadi di Offenbach, yang berbatasan dengan Frankfurt dan tak lebih dari 15 km dari Langen, dan Dietzenbach. Offenbach memiliki bagian yang menangani penyelidikan kasus-kasus kriminal sendiri.

Korban ketiga ini sama sekali berbeda dengan dua korban sebelumnya. Kedua korban di Langen dan di Dietzenbach sama-sama gadis terhormat. Sedangkan korban di Offenbach itu seorang pelacur. Namanya Annedore Ligeika (28).

Sama dengan kasus Gabriele Roesner, Ligeika pun tewas dicekik. Tidak di hutan, tetapi di ranjangnya sendiri. Namun, tidak dijumpai tanda-tanda perlawanan yang menunjukkan bahwa Ligeika diperkosa. 

Kasus yang menimpa Ligeika ternyata juga menyimpan teka-teki. Tidak ditemukan petunjuk apakah korban dirampok sebagaimana motif yang sering dijumpai dalam kasus pembunuhan terhadap pelacur. Untuk sementara, kasus Ligeika hanya dimasukkan dalam kategori pembunuhan terhadap pelacur yang memang sering terjadi di kawasan itu.

Dilihat dari daftar pelanggan yang rajin kencan dengannya, Ligeika adalah wanita yang terampil dan berbakat di bidangnya. Pantas kalau profesinya mampu mengeruk banyak uang dari kantung lelaki hidung belang. Belum lagi barang-barang yang memenuhi flat tempat tinggalnya.

Lagi-lagi si pelaku pergi tanpa meninggalkan petunjuk apa pun, kecuali bahwa ia memiliki golongan darah B.

 

Lagi-lagi golongan darah B

Di wilayah Frankfurt, hampir 140 ribu orang bergolongan darah B. Bagian Penyelidikan Kriminalitas Offenbach tak sanggup mengungkap tabir kematian Annedore Ligeika hanya dengan petunjuk yang minimal itu. Seperti kasus yang ditangani Inspektur Dorner, kasus yang menimpa pelacur itu pun dimasukkan dalam kategori ‘tak terlacak’.

Pembunuhan atas Annedore Ligeika tidak menunjukkan tanda-tanda yang mengarah kepada suatu seri pembunuhan. Tanda-tanda itu baru terlihat setelah tewasnya Fatima Sonnenberg pada tanggal 7 Februari 1981.

Akan tetapi hanya pembunuhan atas Ligeika dan Sonnenberg yang menunjukkan kemungkinan mereka dibunuh oleh orang yang sama. Belum ditemukan alasan, apakah kedua kasus pembunuhan terakhir itu juga punya hubungan dengan kasus Gabriele Roesner dan Regina Barthel.

Kasus Ligeika dan Sonnenberg itu serupa. Fatima Sonnenberg yang berdarah Algeria dan berusia 42 tahun, juga seorang pelacur. Bedanya cuma Fatima sedikit lebih kaya daripada Arinedore Ligeika.

Fatima juga melakukan hubungan intim dengan laki-laki berdarah B dan ditemukan tewas dicekik, diduga oleh lelaki itu juga, di ruang masuk flatnya di Rodgau, wilayah pinggiran Frankfurt. Tak ada uang atau barang yang hilang di tempat kejadian.

Karena kedua kasus pembunuhan pelacur itu memiliki persamaan, para detektif pun menyelidikinya sebagai dua insiden yang mungkin saling berkaitan.

Meski begitu toh misteri pembunuhan itu tidak berhasil diungkapkan, sebab dari kasus Sonnenberg memang tidak dijumpai petunjuk yang lebih daripada kasus Ligeika.

 

Dua Regina

Polisi berharap, bila korban berikutnya juga seorang WTS, maka teka-teki pembunuhan ini akan semakin terungkap. Ternyata perhitungan polisi meleset. Korban kali ini justru seorang gadis berusia 16 tahun, Beatrix Scheible. Beatrix, seperti Regina Barthel, adalah pelajar sekolah menengah. Lima hari menjelang Natal tahun 1981, ia berjalan-jalan di sebuah taman kota di Frankfurt, yang hampir seluas hutan Heusenstamm.

Orang tuanya segera melapor ke polisi, setelah anak gadisnya tak kunjung tampak batang hidungnya sampai waktu makan malam. Untungnya, sebelum berangkat Beatrix memberi tahu orang tuanya ke mana ia pergi, sehingga memudahkan operasi pencarian. Seperti Regina Barthel, Beatrix tewas akibat luka tikaman dan ia pun diperkosa.

Tentu saja, hasil olahan komputer segera mengundang perhatian para detektif, sebab antara kasus Beatrix dan Barthel serta Gabriele banyak dijumpai kesamaan. Beatrix dan Gabriele, keduanya ditemukan tewas di tempat yang serupa meski kejadiannya berselang dua tahun. Penyelidikannya pun sama-sama menemui jalan buntu. Bedanya cuma Beatrix lebih tua daripada Gabriele yang tewas lebih karena dicekik.

Seperti juga kasus Gabriele Roesner dan Regina Barthel, kasus Beatrix juga ditangani Inspektur Dorner, walaupun insiden itu terjadi di luar wilayah kerjanya.

Kasus Beatrix itu tampaknya tak banyak membantu Inspektur mengungkapkan misteri pembunuhan ini, meski kemungkinan seri pembunuhan itu kini tampak semakin jelas. Inspektur masih belum menemukan petunjuk identitas si pembunuh yang lebih daripada sebelumnya.

Tak pelak lagi, kasus-kasus pembunuhan itu jadi berita utama dalam berbagai media massa. Di satu surat kabar tertulis judul berita yang menyebutkan "Penderita Kelainan Seks yang Misterius Menebarkan Kepanikan di Wilayah Frankfurt".

Judul berita itu tidak mencerminkan kenyataan sebenarnya. Pembunuhan terhadap wanita bermotif seksual bukanlah barang baru dalam masyarakat modern. Kejadian semacam itu tidak lagi membangkitkan rasa panik pada sebagian besar masyarakat. Buktinya, hutan rekreasi dan taman kota masih juga dikunjungi banyak gadis dan wanita muda. Mungkin hanya beberapa yang merasa takut. Mereka justru lebih merasa ngeri bila harus menyeberangi jalan di tengah kota.

Begitu juga Regina Spielmann (17), putri seorang profesor di Offenbach. Hari Minggu pagi, 9 Mei 1982, ia pergi hiking di hutan Heusenstamm.

Andaikata Regina tahu bahwa sekitar dua tahun yang lalu terjadi pembunuhan terhadap seorang gadis yang namanya sama dengan dirinya, niscaya ia akan mengurungkan niatnya itu.

Namun, Regina Spielmann toh bernasib sama dengan Regina Barthel, yang dua tahun lebih muda daripadanya. Regina Spielmann ditemukan tewas, juga karena luka tikaman pisau berburu. 

 

Tidak menganiaya, tidak merampok

Inspektur Dorner kini yakin betul bahwa ia sedang berhadapan dengan kasus pembunuhan beruntun, walaupun belum diketahui persis, siapa saja korbannya.

Menurut dugaannya, korban-korban pembunuhan beruntun itu ialah Barthel, Scheible, Spielmann, dan mungkin Roesner. Sementara itu dua wanita penghibur, Ligeika dan Sonnenberg, dinilai tidak termasuk di dalamnya.

Banyak dijumpai hal yang sama antara kasus Barthel, Scheible, dan Spielmann. Ketiga korban masih sama-sama duduk di bangku sekolah menengah, sama-sama masih gadis, dan ketiganya diperkosa. Dua dari ketiga korban itu bahkan tewas di tempat yang sama, yaitu di hutan Heusenstamm. Senjata yang digunakan untuk membunuh pun sejenis, dan pelakunya sama-sama bergolongan darah B.

"Pembunuhnya pasti orang yang sama," kata Inspektur tampak cemas. "Saya khawatir, pembunuhan ini jadi berlarut-larut, mengingat sangat kurangnya petunjuk yang bisa membongkarnya. Apakah tidak ada kemungkinan insiden ini berkaitan dengan kasus-kasus pembunuhan yang terjadi di masa lalu?"

Sersan Busch menggeleng. "Tidak, kalau itu merupakan pembunuhan beruntun, Gabriele Roesner tentunya korban yang pertama. Selama sepuluh tahun terakhir ini, kita tidak pernah menghadapi kasus yang begitu gelap seperti ini."

Memang belum ditemukan titik terang pada kasus ini. Pembunuhan keenam wanita itu tidak menjurus kepada tindakan sadistis. Si pembunuh tidak menganiaya korban. Tidak merampok. la pun tidak memotong bagian tubuh tertentu atau mengambil pakaian tertentu dari si korban. la tidak memaksa korban dengan perlakuan seks yang aneh-aneh. Hanya dua hal yang pasti dilakukannya, memperkosa dan membunuh korbannya. 

Melalui media massa, polisi mengimbau wanita dan gadis-gadis yang pernah diperkosa atau lolos dari usaha perkosaan, agar menghubungi pihak kepolisian. Maksudnya, supaya polisi bisa mengorek dari mereka paling tidak sedikit keterangan tentang identitas pelaku. Meski identitas pelapor dirahasiakan, toh laporan yang masuk di meja polisi hanya sedikit.

Namun, setelah diselidiki, tak satu pelaku pun yang punya kaitan dengan kasus pembunuhan yang sedang dirisaukan itu.

Sambil menebarkan jaring-jaring yang lebih luas, Inspektur Dorner menyusun daftar pembunuhan bermotif seksual yang ‘tak terlacak’. Atau usaha pembunuhan yang gagal di wilayah Frankfurt dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

Ternyata Frankfurt merupakan kota yang menghadapi cukup banyak kasus pembunuhan bermotif seksual. Itu terlihat dari daftar panjang yang disusun Inspektur Dorner. Di dalamnya termasuk juga kasus Annedore Ligeika dan Fatima Sonnenberg.

Namun, Inspektur masih belum menemukan alasan untuk mengaitkan kasus kedua WTS itu dengan pembunuhan lainnya. Dari enam kasus yang diselidikinya, hanya empat yang diduga sebagai korban pembunuhan beruntun, yang pada tanggal 3 November 1983 kemudian bertambah jadi lima korban.

 

Jago lari

Hari itu Simone Newin, mahasiswi berusia 22 tahun, melakukan joging di taman kota Offenbach, la memang melakukannya setiap hari.

Sebagai pelari rupanya ia kalah cepat dibandingkan dengan si pembunuh, sebab kemudian ia ditemukan tewas dicekik. Si pembunuh benar-benar cekatan. Betapa tidak. Setelah diperkosa, leher korban dijeratnya dengan celana joging gadis itu.

Taman kota Offenbach itu letaknya dekat dengan tempat-tempat kejadian lainnya, terutama dari hutan Heusenstamm. Karena itu Newin diduga termasuk korban pembunuhan beruntun.

Walaupun Inspektur, Sersan, dan sejumlah teknisi serta berbagai ahli segera mendatangi tempat kejadian, ternyata juga tidak ditemukan petunjuk sama sekali dalam kasus itu. Semalaman mereka menghabiskan waktu di tempat itu. 

"Tidak bisakah Anda memberikan kesimpulan, Walter?" tanya Inspektur.

Dr. Walter Oberle cuma menggelengkan kepalanya. Pria bertubuh gemuk pendek dan berambut agak pirang di kiri-kanan ini dipandang sebagai pakar medis yang beken di kalangan polisi Frankfurt. Ia bergabung dalam tim itu menyusul pembunuhan atas Beatrix Scheible. 

"Penjahat itu mungkin tenaganya hebat," ujar Walter. "Korban berada dalam kondisi fisik yang prima, tapi rupanya si pembunuh lebih banyak menemui kesulitan menangkap seekor kelinci daripada menyergap wanita itu."

"Maksud Anda si pembunuh punya tenaga luar biasa seperti seorang binaragawan, pegulat, atau semacam itu?" tanya Sersan Busch.

"Tidak," jawab dr. Walter. "Orang itu biasa saja, tapi mungkin di atas rata-rata pria. Bisa jadi ia malah tak pernah berolahraga sama sekali, tapi hampir pasti orangnya masih muda. Saya kira usianya di bawah 30, yang masih punya dorongan seks yang kuat."

"Ya," kata Inspektur. "Dorongan seks yang kuat. Sangat, sangat kuat. Apakah Anda merasakan tempat ini berkesan erotis, sehingga bisa membawa keinginan orang untuk melakukan hubungan seksual?"

Taman itu jauh dari kesan erotis. Suhu udara di tempat itu saja -2°. Angin di awal musim dingin yang menggigit berembus kencang, menyusup di sela-sela batang pepohonan yang gundul tak berdaun. Langit di atasnya begitu suram, membuat lampu-lampu kota di kejauhan sana sepertinya malas bersinar. Angin kencang yang sekali-sekali berembus, menerbangkan debu dan daun-daun kering. 

"Barangkali penjahat itu menderita obsesi," guman Sersan. "Saya sendiri mungkin tak tahan berjoging di tempat seperti ini."

 

Tunggu satu korban lagi

Malam semakin larut, dingin pun kian menggigit. Namun, Inspektur dan Sersan masih tetap bersabar, menunggu para petugas penyidik menyelesaikan tugas di taman itu.

Suasana dalam ruangan kantor di markas detektif jelas lebih nyaman daripada di taman Offenbach. Hangat dan terang. Kopi panas dan sandwich keju yang lezat, semakin menghangatkan suasana ruangan itu.

"Apa kali ini mereka menemukan suatu petunjuk?" tanya Sersan seraya menelan roti isi keju dan mengaduk-aduk kopinya.

"Tidak," jawab Inspektur. "Tadi sebelum meninggalkan taman itu, aku omong-omong dengan pimpinan petugas penyidik. Memang mereka mengumpulkan beberapa barang, seperti puntung-puntung rokok dsb. Tetapi tak ada satu barang pun yang tampaknya punya kaitan dengan pembunuhan itu."

"Lalu apa yang mesti kita lakukan?" ujar Sersan. 

"Apa yang dapat kita lakukan, maksudmu?" tanya Inspektur bernada getir. "Tunggu satu korban lagi."

Inspektur tampaknya mengkal dan merasa frustrasi menghadapi kasus pembunuhan yang misterius ini. Kasus ini semakin menarik perhatian sebagian besar masyarakat, sehingga Inspektur merasa kariernya bakal tersendat gara-gara tak sanggup membongkar kasus itu. Barangkali sampai penghujung tahun itu, ia tak sempat lagi membuka tabir pembunuhan misterius ini, sebab dalam musim dingin ini ada kemungkinan ia dicopot dari tugasnya.

Celakanya, atau mungkin untungnya, 23 hari kemudian Inspektur dihadapkan lagi pada kasus pembunuhan lain.

Sabtu, 26 November 1983, seorang gadis bernama like Rutsch (21) ditemukan tewas di hutan dekat kampung kelahirannya, Babenhausen. Apa yang dilakukannya di tempat itu tidak diketahui secara persis. Letak Babenhausen hanya sepelemparan batu dari Langen, Dietzenbach, dan hutan Heusenstamm.

Inspektur bersama anak buahnya segera menuju ke tempat kejadian. Namun, mereka pun kembali dengan tangan kosong. Petunjuk tentang identitas si pembunuh juga tak lebih dari kasus-kasus sebelumnya. 

Hasil autopsi menunjukkan, like Rutsch diperkosa oleh seseorang yang bergolongan darah B. Gadis itu pun tewas oleh pisau yang menggoreskan luka yang sama dengan Regina Barthel, Beatrix Scheible, dan Regina Spielmann.

"Rasakan kalau satu saat nanti dia berbuat kesalahan," ujar Sersan dengan geram. Kali ini Inspektur cuma diam membisu.

 

Digagalkan supir taksi

Kala itu waktu menunjukkan pukul 15.30, tanggal 29 November. Di Jl. Bockenheim, yang menghubungkan pusat kota dengan wilayah Bockenheim bagian barat, beberapa pengendara sepeda motor dan pejalan kaki menyaksikan suatu adegan yang ganjil.

Seorang lelaki muda bertubuh tegap berkumis tipis, tiba-tiba menyergap seorang gadis remaja. Gadis naas itu diseretnya ke balik semak-semak.

Biasanya, orang-orang tidak peduli. Namun, kali ini tidak. Mereka yang melihat kejadian itu segera bergerak menuju ke tempat laki-laki dan gadis itu lenyap di balik semak-semak.

Mereka nyaris terlambat. Bagaikan anak kucing yang tak berdaya di tangan kukuh si penyerang, gadis itu tergolek di atas tanah. Gaunnya tersingkap sampai pinggangnya, sementara lelaki itu berusaha merenggut celana dalam si gadis. Rupanya gadis itu tak mudah menyerah, maka terjadilah pergumulan di balik semak-semak itu.

Seorang sopir taksi segera melaporkan kejadian itu lewat radio kontrolnya. Laki-laki itu pun segera digiring ke markas polisi. la dituduh melakukan usaha perkosaan, namun segera dibebaskan dengan syarat tidak meninggalkan kota itu sampai kasusnya didengar. Penahanan dan jaminan terhadap pelakunya dinilai tidak perlu.

Lelaki itu sudah menikah, punya anak perempuan berusia tiga tahun, dan memiliki pekerjaan tetap. Namun, tindakannya itu bukan yang pertama kali dilakukannya. Interogasi terhadap orang itu baru akan dilakukan pada 1 Februari 1984, mengingat kasus-kasus semacam itu dilaporkan sering terjadi. Bahkan bisa dibilang hampir setiap hari.

 

Tukang listrik

Musim dingin kali ini memang semakin tidak menyenangkan bagi Inspektur Dorner dan Sersan Busch. Di satu pihak mereka berharap agar tidak terjadi lagi pembunuhan, namun di sisi lain mereka merasa pesimis bisa mengungkapkan kasus-kasus yang sedang mereka hadapi. 

Pembunuhan memang tidak terjadi lagi. Namun, kasus-kasus yang sedang mereka tangani juga tidak menunjukkan perkembangan apa-apa. Bahkan pemberitaan tentang kasus-kasus itu berangsur-angsur lenyap dari berbagai halaman surat kabar.

Meskipun demikian, Inspektur tidak akan menyerah begitu saja, kecuali kalau dikehendaki oleh atasan lantaran dinilai tidak becus menangani kasus-kasus itu. la tidak akan membiarkan pembunuh yang telah menewaskan korban paling tidak enam wanita itu, bebas berkeliaran memakan korban.

Karena itu Inspektur segera tertarik ketika ia menerima laporan dari salah satu sektor kepolisian yang telah menangkap seorang laki-laki yang tampaknya tahu banyak tentang pembunuhan beruntun itu.

Jumat, 3 Februari 1984, Inspektur segera memerintahkan Sersan Busch untuk menangkap kembali orang yang dicurigai itu dan membawa hasil rekaman pengakuan orang itu.

Orang itu adalah tersangka dalam kasus di Jl. Bockenheim. Namanya Michael Wolpert. Usianya 25 tahun. Ia bekerja sebagai tukang listrik dan tinggal di Kampung Neu-Isenburg.

Wolpert akan dibebaskan kembali, jika ternyata ia tidak punya sangkut paut dengan kasus pembunuhan gadis-gadis dan kasus hutan Heusenstamm.

 

Saling tukar pasangan hidup

Di hutan Heusenstamm paling tidak terjadi dua insiden. Pertanyaan-pertanyaan pun lalu diarahkan ke sana.

Wolpert mengelak, tetapi ia menghadapi para penyidik yang profesional. Kecurigaan mereka terhadap Wolpert bertambah besar. Para penyidik itu pun segera menghubungi Inspektur Dorner.

Inspektur lantas melanjutkan interogasi itu dan menugasi Sersan untuk menyelidiki lebih jauh mengenai latar belakang Wolpert. Wolpert memang sudah menikah dan memiliki anak perempuan berusia tiga tahun. Anehnya, ia justru tinggal seatap dengan wanita lain dan seorang anak perempuan. Wanita itu namanya Heidrun Mahler (22) dan anak perempuan itu Sonja.

Istrinya sendiri, Ilonka, juga berusia 22 tahun, dan anak perempuan mereka, Jessica, malah tinggal serumah dengan Detlev Mahler (26), bekas teman sekolah Wolpert. Mahler dan Wolpert sama-sama tukang listrik.

"Tukar-menukar suami-istri itu berlangsung pada bulan Juni 1982. Masing-masing merasa bahagia. Mereka mengaku tidak ada masalah, malah merasa begitu akrab seperti keluarga umumnya. Michael Wolpert maupun Detlev Mahler adalah para pekerja keras. Mereka pun sangat diperhatikan oleh majikan mereka.

Inspektur tak habis pikir. Wolpert hidup bersama dengan dua wanita muda dan cantik. Tampaknya hampir tidak mungkin Wolpert merasa perlu memperkosa wanita lain.

Namun kenyataannya, sudah dua kali Wolpert melakukan perbuatan yang melanggar hukum, yakni memamerkan tubuhnya di depan gadis-gadis. Yang pertama dilakukannya pada tahun 1973, dan atas ulahnya itu, ia dikenai denda. Yang kedua pada tahun 1982, Wolpert dijatuhi hukuman enam bulan yang ditangguhkan.

 

Dikurung seumur hidup 

Rupanya memang ada sesuatu yang tidak beres dalam diri Michael Wolpert. Namun, dari wajahnya yang polos, tetapi cukup menarik, sulit dipahami bahwa dia itu seorang pembunuh. Meski begitu, Inspektur tidak mau menyerah sebelum tahu benar latar belakang apa yang mendorong Wolpert sampai berbuat begitu.

Selain mengakui membunuh keenam gadis itu, Wolpert juga mengaku telah membunuh Annedore Ligeika dan Fatima Sonnenberg, dua pelacur itu. 

Para psikolog tidak bisa menarik kesimpulan mengenai apa yang tidak beres dalam diri Michael Wolpert. Yang jelas Wolpert memang memiliki gairah seks yang berlebihan, seperti diutarakan oleh istrinya sendiri dan juga Heindrun Mahler.

Namun, kedua wanita itu juga menyatakan bahwa Wolpert itu orangnya halus, lembut, tidak pernah menunjukkan sikap kasar dan kejam. Tak heran kalau kedua wanita itu tidak percaya mendengar Wolpert mengaku sebagai pelaku dalam kasus perkosaan dan pembunuhan gadis-gadis itu.

Bahkan Wolpert sendiri pun tidak bisa menjelaskan mengapa dirinya bisa berbuat seperti itu. 

Hanya satu yang disepakati oleh para psikolog yang ikut menangani kasus ini: terlalu berbahaya membiarkan Wolpert bebas berkeliaran di luar. 

Karena itu pada tanggal 24 Mei 1985, Wolpert dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Meski tidak ada jaminan bahwa ia bisa menjadi normal kembali, toh selama dalam penjara ia senantiasa menerima terapi dari seorang psikiater. 







" ["url"]=> string(74) "https://plus.intisari.grid.id/read/553350139/pelakunya-bergolongan-darah-b" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1656425149000) } } [2]=> object(stdClass)#69 (6) { ["_index"]=> string(7) "article" ["_type"]=> string(4) "data" ["_id"]=> string(7) "3304216" ["_score"]=> NULL ["_source"]=> object(stdClass)#70 (9) { ["thumb_url"]=> string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2022/06/03/incarannya-perawan-baik-baik_ale-20220603065417.jpg" ["author"]=> array(1) { [0]=> object(stdClass)#71 (7) { ["twitter"]=> string(0) "" ["profile"]=> string(0) "" ["facebook"]=> string(0) "" ["name"]=> string(13) "Intisari Plus" ["photo"]=> string(0) "" ["id"]=> int(9347) ["email"]=> string(22) "plusintisari@gmail.com" } } ["description"]=> string(146) "Saat perjalanan menuju stasiun, Oscar Riedel melihat sesosok tubuh tergolek dengan kaki lebih tinggi dari kepala di kubangan lumpur di tepi jalan." ["section"]=> object(stdClass)#72 (7) { ["parent"]=> NULL ["name"]=> string(8) "Kriminal" ["description"]=> string(0) "" ["alias"]=> string(5) "crime" ["id"]=> int(1369) ["keyword"]=> string(0) "" ["title"]=> string(24) "Intisari Plus - Kriminal" } ["photo_url"]=> string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2022/06/03/incarannya-perawan-baik-baik_ale-20220603065417.jpg" ["title"]=> string(28) "Incarannya Perawan Baik-baik" ["published_date"]=> string(19) "2022-06-03 18:54:42" ["content"]=> string(29961) "

Intisari Plus - Saat perjalanan menuju stasiun, Oscar Riedel melihat sesosok tubuh tergolek dengan kaki lebih tinggi dari kepala di kubangan lumpur di tepi jalan. Awalnya, ia berpikir bahwa orang itu mabuk dan tercemplung ke kubangan. Namun, setelah ditarik tangannya keluar, orang itu adalah wanita yang terbunuh dengan luka berdarah di perutnya.

-------------------------

Oscar Riedel, seorang mandor di pabrik sepatu, berjalan menuju ke Stasiun Kereta Api Rehme. la akan pergi bekerja. Pabrik tempat kerjanya tidak libur pada hari Sabtu, tanggal 8 April 1961 itu. Maklum ekonomi Jerman sedang berkembang pesat dan sebagian pabrik bekerja tujuh hari seminggu. 

Pria setengah umur itu tidak keberatan masuk pada hari Sabtu. Soalnya, ia senang pada pekerjaannya dan mendapat tambahan uang. Lagi pula langit musim semi ketika itu tampaknya secerah musim panas. 

Di tengah perjalanan, Riedel melihat sesosok tubuh tergolek dengan kaki lebih tinggi dari kepala di kubangan lumpur di tepi jalan. Tubuh itu sebetulnya tidak tampak jelas, sebab rumput cukup tinggi di tepi kubangan. Ia pikir, pasti orang itu mabuk, lalu tercemplung ke lumpur. 

Riedel orang baik. Cepat-cepat ia menghampiri untuk menolong. Ketika sudah berada cukup dekat, ia tertegun. Sosok tubuh itu milik seorang wanita muda. 

Wajahnya tertutup oleh roknya yang tersingkap, sehingga kelihatan sekitar perutnya berdarah. Cabikan pakaian tercecer di sekitarnya. Jangan-jangan korban perkosaan, pikir Riedel. 

Lekas-lekas Riedel menarik tangan gadis itu dari kubangan. Sekali lagi ia terkejut. Tangan yang dipegangnya dingin dan kaku. Gadis itu rupanya korban pembunuhan! 

Riedel gemetar. Dengan tersandung-sandung ia berhasil mencapai jalan, lalu berlari sekencang-kencangnya ke Kota Rehme. Lima menit kemudian polisi tahu bahwa untuk pertama kalinya sejak dua generasi, Rehme menghadapi kasus pembunuhan. 

 

Takut pulang sendiri

Rehme terlalu kecil untuk memiliki bagian penyidikan pembunuhan sendiri, sehingga kasus ini ditangani oleh bagian penyidikan pembunuhan di Minden, yang jaraknya sekitar 10 km dari Rehme. 

Empat puluh menit kemudian Inspektur Gerhard Heidel dan asistennya, Sersan Detektif Leopold Eisenbach, tiba membawa dokter polisi Herbert Krause. Sementara dokter memeriksa mayat di tempat pembunuhan, Sersan Eisenbach meneliti tempat itu meter demi meter. 

"Kau perlu orang-orang laboratorium kita, Leo? tanya Inspektur. 

"Rasanya tidak, Pak. Tidak ada apa-apa di sini." 

Kata dokter, korban tewas sekitar tengah malam. Setelah dokter merapikan pakaian korban, Inspektur Heidel bertanya kepada polisi setempat, kalau-kalau mereka tahu siapa gadis itu. 

Gadis berumur 25 tahun itu memang penduduk setempat. la tinggal bersama orang tuanya dan bekerja sebagai pelayan toko. Namanya Ingrid Kanike. Karena Rehme betul-betul kecil, polisi juga tahu, Ingrid tidak punya tunangan maupun pacar. 

"Orangnya menyenangkan, cuma agak gemuk," kata kepala polisi setempat, "sehingga ia repot berusaha menguruskan badan." 

"Saya ingin bertemu dengan orang tuanya," kata Inspektur. "Selain harus diberi tahu, siapa tahu mereka juga bisa memberi keterangan perihal ke mana anak mereka pergi tadi malam dan apa kira-kira yang dilakukan gadis itu semalam." 

Inspektur pergi bersama kepala polisi setempat ke rumah orang tua korban. Ketika mereka kembali, sersan dan dokter sudah menyelesaikan tugas mereka. 

"Saya menemukan tas tangannya," kata Sersan. "Tas itu tertutup. Isinya bawaan wanita biasa. Ada sedikit uang juga. Dari tanda-tanda di tanah tampaknya penyerang menyambar korban, mendorongnya ke kubangan, dan memperkosanya. Ia mati dicekik." 

Menurut dokter, korban tewas setelah perkosaan, tetapi bisa saja pencekikan berlangsung sejak sebelumnya dan pembunuh baru mematikan korban setelah itu. Korban melawan dengan keras. Itu terlihat dari memar pada tubuhnya. 

"Menurut Anda, si pembunuh kira-kira kenal dengan korban atau tidak?" tanya Inspektur kepada dokter. 

"Saya rasa tidak. Ini kejahatan seksual yang hampir klasik. Si pria seorang yang kemungkinan besar hanya mencapai kepuasan dengan membunuh atau sedikitnya menyakiti mitranya secara parah. Orang seperti itu tidak memilih-milih mitra. Siapa saja bisa ia jadikan korban. Gadis sial itu mungkin belum pernah melihat si pembunuh seumur hidupnya.." 

Inspektur tidak mendapat banyak keterangan dari orang tua korban. "Mereka bahkan tidak menyadari anak mereka tidak pulang. Mereka kira anak mereka sudah berangkat kerja sebelum mereka bangun tadi pagi. Kata mereka, gadis itu semalam pamit untuk menonton bioskop di Minden. Biasanya Ingrid itu pulang dengan kereta api yang tiba di sini pukul 00.07." 

"Mungkin si pembunuh menyergapnya ketika ia berjalan pulang dari stasiun," kata dokter. 

"Belum tentu," kata Inspektur. "Menurut orang tuanya, korban takut pulang malam-malam sendirian dari stasiun. Jadi, biasanya ia naik taksi." 

"Lebih baik kita tanyai sopir-sopir taksi," kata Sersan. 

"Baik! Lekas laksanakan. Saya akan minta ambulans untuk mengangkut jenazah. Kau yakin tak ada petunjuk lain di sini?" 

"Yakin, Pak. Tak ada petunjuk sama sekali." 

Sersan mendatangi juga Stasiun Rehme. Pada hari Jumat malam itu diketahui ada 15-2 0 orang dalam kereta api dari Minden yang tiba di Rehme pada pukul 00.07. Tidak seorang pun ingat melihat Ingrid Kanike. 

"Mungkin saja ia tidak naik kereta api itu," kata Sersan Detektif Eisenbach, ketika melaporkan hasil penyelidikannya. "Gadis itu tidak menonjol ataupun menarik perhatian, sehingga mungkin pula orang tidak memperhatikannya." 

Sersan menunggu para sopir taksi yang Jumat malam berada di stasiun. "Seluruhnya ada enam orang. Semua orang setempat. Semua setengah umur. Semua punya istri. Semua sudah jadi sopir taksi selama lebih dari delapan tahun. Tidak ada yang merasa mengangkutnya. Mereka juga tak ada yang cocok dengan pola pembunuhan Ingrid Kanike."

 

Ursula dipecat 

Perkara itu akhirnya terkatung-katung karena menemui jalan buntu. Orang-orang yang ada dalam kereta dan sopir taksi tak ada yang punya alasan untuk dicurigai. Entah kenapa malam itu Ingrid Kanike tidak naik taksi. Peristiwa serupa tak pula pernah terjadi di sekitar tempat itu. 

Dr. Herbert Krause dari kepolisian merasa heran. Seorang pemerkosa yang mempunyai kelainan seperti yang diduganya tidak mungkin merasa puas hanya dengan kematian seorang mitra. Ataukah si pembunuh tidak begitu aktif kehidupan seksualnya, pikir dokter itu. 

Empat tahun berlalu sebelum sekali lagi terjadi pembunuhan misterius atas seorang wanita. 

Korban adalah seorang sekretaris berumur 26 tahun, Ursula Fritz. Ia tidak muncul di kantor hari Senin, tanggal 17 Mei 1965. Ketika sampai hari Jumat ia tidak muncul juga tanpa memberi kabar, perusahaan tempatnya bekerja mengirimkan surat pemecatan ke alamatnya. Dalam surat itu dikirimkan pula cek sisa gajinya. Tidak seorang pun teman sejawatnya mau meringankan kaki menjenguknya. 

Tanggal 25 Mei wanita pemilik flat mengira Ursula Fritz kabur tanpa membayar uang sewa bulan terakhir yang mesti diserahkan tanggal 20 Mei. Wanita itu lantas mempergunakan kunci pas untuk membuka pintu flat. 

Ursula ternyata tidak kabur. Begitu pintu terbuka, wanita pemilik flat mencium bau busuk yang begitu keras sampai ia semaput Sebelah kelopak matanya luka terbentur sisi pintu pada saat ia terjatuh. Begitu sadar kembali, ia merangkak dengan kepala pusing dan muka berdarah ke tingkat bawah. Dari sana ia menelepon polisi. 

Ia tidak tahu apa yang terdapat atau terjadi di flat itu, namun bau busuk mengingatkan dia akan sesuatu yang mengerikan. Peristiwa itu bukan terjadi di Rehme, tetapi di Herford, + 13 km dari Rehme. Inspektur Anton Jech dan Sersan Detektif Dieter Schmidt dari Bagian Penyidikan Kejahatan Kota di Herford tiba tidak lama setelah mendapat laporan dari mobil patroli. Mereka menemukan Ny. Schroeder, pemilik flat, yang sudah bisa menenangkan diri. 

Setelah autopsi dilakukan, dokter menyatakan Ursula Fritz diperkirakan sudah meninggal lebih dari seminggu, sekitar tanggal 15 Mei. Wanita yang ditemukan di ranjang itu korban perkosaan dan mati dicekik. 

"Bagaimana kau bisa yakin? Mayat itu sudah begitu membusuk," kata Inspektur. Dokter bisa memberi alasan dengan bukti-bukti. Diketahui pula wanita itu melawan. 

Dari keterangan orang-orang yang kenal dengan korban, diketahui Ursula Schmidt tidak punya pacar atau teman pria yang pernah berkunjung ke kamar sewaannya.

 

Seperti kebanyakan makan wortel 

Namun, pembunuh diduga masuk tanpa kekerasan. Ada tujuh puntung rokok di asbak dan cuma empat korek api bekas pakai. Di kain penutup kasur ditemukan juga serat-serat dari kain serge kelabu seperti yang biasa dipakai untuk bahan pakaian pria. Pasti Ursula Schmidt tidak menduga pria itu akan berbuat jahat. 

"Sulitnya, tak seorang pun bisa menyebutkan siapa pria yang cukup dikenal oleh korban," kata Inspektur. Dokter mempunyai saran. "Kalau saya jadi Anda, saya akan memusatkan perhatian pada orang-orang yang tercatat pernah melakukan kejahatan seksual," katanya. 

"Ini semua memperlihatkan tanda-tanda kejahatan seksual dengan mempergunakan kekerasan. Pelakunya seorang gadis yang hanya bisa memperoleh kepuasan lewat penderitaan mitranya. Saya berani bertaruh, ini bukan perbuatannya yang pertama." 

"Kirim edaran pada semua kantor polisi di seluruh Jerman, Dieter," perintah Inspektur kepada asistennya. Tanyakan kalua-kalau ada yang pernah menghadapi kasus serupa. Tapi belum terpecahkan." 

Polisi Minden memberi jawaban bahwa mereka mempunyai kasus serupa yang belum terpecahkan. "Kasus yang Anda gambarkan hampir identik dengan yang kami hadapi bulan April 1961 di Rehme," kata Inspektur Heidel lewat telepon kepada Inspektur Jech. 

Cuma bedanya, kasus Ursula Fritz ini banyak menunjukkan jejak yang bisa dilacak. Jadi Heidel minta agar ia boleh mendapat semua salinan berkas kasus ini. 

Mengingat Rehme cuma sekitar 13 km dari Herford, bukan tidak mungkin kedua kasus ini berhubungan. "Dengan kerja sama mungkin kita lebih mudah menemukan pemecahan," kata Heidel. 

Surat-surat kabar pun menghubung-hubungkan kasus Ursula Fritz dengan kasus Ingrid Kanike yang terjadi empat tahun sebelumnya. Banyak wanita dan gadis takut keluar rumah setelah gelap dan polisi juga menerima banyak kritikan. 

"Jangan kecil hati oleh kritikan”, kata Inspektur Jech kepada anak buahnya. "Namun, sebaiknya wanita memang jangan keluar sendirian malam-malam." 

Berkas Kanike ternyata tak menolong dalam pengusutan. Kasus Fritz pun tampaknya bakal menemui jalan buntu. 

Sebulan sesudah mayat Ursula Fritz ditemukan di Herford, polisi Rehme menangkap seorang tukang daging yang sedang menganggur. Pria berumur 34 tahun itu mencoba memperkosa seorang gadis berumur 14 tahun dekat Stasiun Kereta Api Rehme. 

Gerd Simmon yang ditangkap itu bukan penduduk setempat. Orang lantas ramai menuduhnya sebagai pemerkosa merangkap pembunuh Ingrid Kanike serta Ursula Fritz. Kalau saja Sersan Eisenbach kurang gesit melindunginya dan membawanya pergi ke Minden, Simmon mungkin mati dikeroyok penduduk Rehme. 

Simmon segera diinterogasi secara saksama oleh Inspektur Jech maupun Heidel. Ia tidak menyangkal mencoba memperkosa gadis berumur 14 tahun. Ia juga tidak menyembunyikan kenyataan bahwa sudah empat kali ia ditahan gara-gara mencoba memperkosa anak. Tidak pernah ia berhasil, tetapi dua kali ia dihukum. Sekali ia mendekam 2,5 tahun di penjara dan sekali lagi 3 tahun 3 bulan. Namun, ia membantah membunuh Ingrid Kanike dan juga bersikeras bahwa seumur hidupnya belum pernah ia menginjak Herford. 

Penampilan Simmon memang tidak menguntungkan, karena agak aneh. Rambut dan kulitnya merah seperti kebanyakan makan wortel, sedangkan lengannya panjang dan tangannya besar. la juga kelihatan bermental baja. la tenang-tenang saja diinterogasi dua orang inspektur. 

Betul ia penjahat seksual, katanya, karena ia tidak bisa mengendalikan diri. Namun, ia mengaku tidak pernah membunuh seorang pun. Akhirnya, polisi jadi lebih lelah daripada Simmon. Tukang daging itu pun dipindahkan ke sel untuk diperiksa lebih lanjut sehubungan dengan percobaan pemerkosaan di Rehme.

 

Bukan gadis genit 

Inspektur Heidel mengundang Inspektur Jech dan dr. Krause serta dr. Schoenauer untuk beristirahat di kantornya sambil minum teh. 

Dr. Krause berpendapat, Gerd Simmon bukan orang yang mereka cari. Dr. Schoenauer pun sependapat. 

"Ia tercatat tidak pernah berhasil. Mungkin memang ia tidak mampu," katanya. 

"Betul," dr. Krause menimpali, "padahal pembunuh Ingrid Kanike dan Ursula Fritz terbukti sangat mampu." 

Inspektur Heidel percaya pada pendapat kedua ahli itu, "Untuk pengecekan terakhir, saya pikir sebaiknya kita tanyai lagi orang-orang yang ada dalam kereta api dari Minden ke Rehme pada malam Ingrid terbunuh. Siapa tahu ada yang mengenali foto Simmon. Simmon bukan orang yang mudah dilupakan." 

"Kita juga menanyai para sopir taksi," kata Sersan Detektif Eisenbach. "Jangan lupa juga menanyai wanita pemilik flat yang disewa Ursula Fritz dan teman-teman sejawat Fritz," saran Inspektur Jech. 

Ternyata usaha ini pun hasilnya nol. Simmon diadili karena mencoba memperkosa gadis di bawah umur dan ia dijatuhi hukuman penjara dua tahun. 

"Apakah kita menyerah sekarang?" tanya Sersan Detektif Schmidt. Atasannya masih mau mencoba. Sebelum merelakan kasus pembunuhan itu sebagai kasus tak terpecahkan, mereka memeriksa berkas dengan teliti. Diketahui ketika polisi Minden menanyai para sopir taksi di Stasiun Rehme untuk kedua kalinya, salah seorang di antara sopir taksi itu menceritakan hal yang berbeda daripada yang pertama kali ia akui pada kasus Kanike. 

"Telepon Minden. Beri tahu mereka. Rehme merupakan daerah tanggung jawab mereka," perintah atasannya. 

Sopir taksi bernama August Fennel itu berumur 54 tahun dan sudah beristri. Ia dilahirkan dan dibesarkan di Rehme. Sudah hampir dua puluh tahun lamanya ia menjadi sopir taksi. 

"Kami mempunyai bukti positif di sini bahwa Anda memberi keterangan palsu kepada polisi," gertak Inspektur Heidel. "Salah satu versi yang Anda berikan pasti palsu. Saya bisa menuntut Anda. Saya bahkan bisa menahan Anda dengan alasan dicurigai membunuh Ingrid Kanike. Lebih baik Anda ceritakan apa yang sebenarnya terjadi tanggal 7 April 1961 malam. Mungkin Anda tidak perlu dituntut."

 Fennel gelisah. "Soalnya, saya tidak mau terbawa-bawa," katanya. "Saya juga takut disalahkan." 

"Anda akan disalahkan, kalau tidak menceritakan yang sebenarnya terjadi." 

"Saya ada di stasiun, ketika kereta pukul 00.07 tiba," kata Fennel. Gadis Kanike itu naik ke taksi saya. Saya mengenali dia, sebab sebelumnya saya pernah beberapa kali mengantarkannya ke rumahnya, tapi saya baru tahu namanya setelah ia terbunuh. Malam itu ia tidak sendirian, padahal sebelumnya ia selalu sendiri. Sekali itu ia naik taksi bersama seorang pria." 

"Bagaimana rupanya?" potong Inspektur. "Anda kenal dia atau pernah melihatnya sebelum dan sesudah peristiwa itu?" 

"Saya tidak memperhatikan wajah orang itu. Yang saya tahu, ia tampan dan masih muda. Paling-paling umurnya 30 tahun. Ia bukan orang Rehme dan saya cuma melihatnya sekali itu saja." 

"Baik. Nanti saya minta Anda melihat sejumlah foto. Siapa tahu salah satu di antaranya Anda kenali sebagai foto orang itu. Sekarang silakan teruskan cerita Anda. Anda mengantarkan gadis itu ke rumahnya?" 

"Tidak," jawab si sopir taksi dengan gelisah. "Pada saat tiba di tempat yang kemudian menjadi tempat mayat ditemukan, pemuda itu menyuruh saya menghentikan taksi. Ia membayar semua ongkos dan mereka keluar. Itulah semua yang saya ketahui." 

"Apakah gadis itu kelihatan ketakutan, ataukah ia keluar dari taksi dengan sukarela?" tanya Inspektur Heidel. 

"Sepanjang yang saya ingat, ia keluar dengan sukarela. Mereka mengobrol selama dalam taksi dan tampaknya cukup akrab. Cuma saja ia tidak menyebut lawan bicaranya dengan du (kau, kamu)." Du adalah bentuk akrab yang dipakai di antara kawan baik, sanak keluarga, dan anak-anak di Jerman. 

Fennel dibebaskan setelah diberi peringatan keras. "Kalau saja Anda menceritakan apa yang sebenarnya terjadi empat tahun yang lalu, Ursula Fritz mungkin masih hidup sekarang," kata Heidel dengan keras. Kerugian lain ialah ingatan Fennel akan wajah si pemuda yang setaksi dengan Ingrid Kanike juga sudah pudar sekarang.

 

Dukun turun tangan 

Inspektur Jech diberi tahu. "Artinya, pemuda itu bukan orang yang betul-betul asing bagi Ingrid Kanike," kata Jech sambil berpikir. "Orang itu mestinya cukup dikenal, sehingga ia mau diajak naik taksi bersama, tetapi tidak cukup akrab untuk dipanggil dengan sebutan du." 

Inspektur Heidel sudah merekonstruksi kehidupan Ingrid Kanike. Tidak terlalu sulit. Gadis itu tinggal bersama orang tuanya. Ia cuma pernah kerja di satu tempat. Teman-teman wanitanya ialah teman-teman sejak masa sekolah. Ia bukan jenis gadis yang genit, yang senang berbuat ulah atau yang sering berpacaran. 

Fennel, si sopir taksi, pasti mengenali wajah hampir semua orang di Rehme yang kecil itu. Ia tidak mengenal pemuda itu, jadi mungkin orang tua kenalan Ingrid Kanike, penduduk kota lain. 

"Mungkinkah ia berada di kereta api dari Minden yang tiba di Rehme pukul 00.07?" tanya Jech. 

"Ya, saya kira mereka bertemu di kereta," kata Heidel. "Ingrid Kanike agak terlalu montok, sehingga tidak berhasil menarik perhatian para pemuda. Mungkin saja pemuda tampan yang bicaranya sopan itu menegurnya di kereta api, lalu pemuda itu berkata ia juga dari Rehme dan mengajaknya naik taksi bersama. Kemudian si pemuda juga berhasil membujuknya untuk turun di jalan dan berjalan kaki bersamanya sampai di rumah. Romantis sekali buat gadis malang itu." 

"Sungguh menyedihkan," kata Jech. 

Dari sekian banyak penumpang kereta api Minden - Rehme pada tengah malam yang naas itu, ternyata hanya ada empat orang yang umurnya mendekati gambaran Fennel. Dua di antaranya yaitu Otto Johanns dan Emil Bach, berasal dari Rehme. Seorang yang lain adalah Karl Muller, penduduk Minden, dan yang keempat Dieter Beck, dari Bielefeld. Semua bekerja di Rehme dan tiga di antaranya karyawan sebuah pabrik mesin dekat sungai. 

Keluarga Ingrid Kanike pernah memanggil dukun dari Belanda, Gerard Croiset, yang dikatakan bisa memecahkan peristiwa-peristiwa pembunuhan misterius. Menurut Croiset, pembunuh Ingrid Kanike bekerja di pabrik mesin dekat Rehme. Namun bagaimana mencarinya, kalau kita ingat di tempat itu ada beberapa pabrik mesin yang mempekerjakan banyak sekali buruh. 

Jech dan Heidel bekerja sama untuk mengecek dari keempat orang itu pada saat pembunuhan Ursula Fritz terjadi. 

Sersan Eisenbach segera bisa mengeluarkan Otto Johanns dari daftar orang yang dicurigai, karena selama seminggu sekitar waktu pembunuhan Ursula Fritz ia dirawat di rumah sakit. 

Sesudah itu pengusutan menghadapi jalan buntu lagi, sebab ingatan sopir taksi Fennel akan wajah si pemuda sudah kabur. Menurut dr. Krause dan dr. Schoenauer, penjahat seksual seperti pembunuh Ingrid Kanike dan Ursula Fritz (orangnya diduga sama), pasti akan kambuh lagi penyakitnya. Menurut dugaan dr. Krause, jarak waktu kambuh penyakit pembunuh itu empat tahun sekali, tetapi dr. Schoenauer yakin tahun ini juga penyakit si pembunuh pasti kambuh lagi. 

Mereka berdua keliru, sebab tanggal 28 Februari 1968 malam, pemerkosa yang membunuh korbannya itu sudah minta nyawa lagi.

 

Dikenali pelayan 

Leopold Beisel dari Bielefeld pagi tanggal 29 Februari itu menginspeksi jaIan kereta api di Hutan Teutobiirger antara kotanya dan Desa Werther di sebelah barat. Pukul 10.00, ketika ia sudah berhasil menempuh setengah perjalanan, tiba-tiba saja ditemukannya mayat gadis di tepi rel. 

Tadinya Beisel mengira gadis itu mengalami kecelakaan, yaitu melangkah ke luar dari pintu yang dikiranya pintu masuk ke WC. Namun begitu melihat wajah mayat, ia tahu dugaannya keliru. Wanita itu wajahnya lebam, matanya melotot, sedangkan lidahnya terjulur ke luar. Bagian bawah tubuh wanita itu seperti Ingrid Kanike. 

Leopold Beisel termasuk orang yang rajin membaca koran. Ia segera ingat pada pembunuhan atas Ingrid Kanike dan Ursula Fritz. Didatanginya telepon terdekat yang lebih dari 1 km jaraknya, lalu diteleponnya polisi. 

Inspektur Ludwig Pfeiffer dari Bagian Penyidikan Kejahatan Bielefeld datang bersama Sersan Detektif Max Kramer dan dr. Hans Fuchs. 

Laporan Beisel begitu jelas, sampai mereka pun menghubungi Inspektur Jech dan Inspektur Heidel yang diminta ikut datang. Kedua inspektur itu tiba kemudian bersama anak buah mereka, yaitu Sersan Eisenbach, Sersan Schmidt, dr. Krause, dan dr. Schoenauer. 

Inspektur Pfeiffer berpendapat, semua penjahat seksual yang tercatat pada polisi di daerah itu harus discreen dan diperiksa alibinya, sedangkan Inspektur Jech berpendapat sebaiknya masyarakat luas diimbau untuk memberi informasi. 

Para teknisi laboratorium berdatangan dari Bielefeld dan daerah itu diperiksa dengan saksama. Namun yang ditemukan cuma tas tangan si gadis. Isinya biasa. Ada juga kartu pengenalnya. Nama korban itu Anneliese Herschel (21), belum menikah, dan penduduk Werther. Sidik jari pada tas itu hanya sidik jari korban. 

Dalam kantung mantelnya ditemukan korek api dari kertas tebal yang mengiklankan Igloo Bar, Jl. Kon 4, Bielefeld. 

"Periksa ke sana, Max," kata Inspektur Pfeiffer kepada bawahannya seraya menyerahkan korek api itu. 

Sesudah pemeriksaan di tempat mayat ditemukan selesai, korban dikirim dengan ambulans untuk pemeriksaan lebih lanjut. Para polisi berkumpul di Bielefeld. 

Saat itulah Inspektur Jech teringat pada Gerd Simmon. "Dia 'kan dihukum dua tahun penjara, ya? Kalau tidak salah mestinya dia sudah bebas sekarang." Penjara tempat Simmon menjalani hukuman ditelepon. 

"Ya, ia sudah dibebaskan tanggal 16 Februari," Segera telepon dan teleks di kantor polisi seluruh Jerman diaktifkan untuk mencari jejak Gerd Simmon. 

Sementara itu Sersan Kramer kembali ke markas besar untuk melaporkan hasil penyelidikannya. Anneliese Herschel betul berada di Igloo Bar tanggal 28 Februari itu. Ia meninggalkan bar bersama seorang pria. 

Foto-foto Simmon, Fennel (sopir taksi), dan tiga pria muda yang sekereta api dengan Ingrid Kanike segera dibawa ke Igloo Bar. 

Sebelum Sersan Kramer kembali dari bar, para inspektur mendapat kabar bahwa Gerd Simmon sudah diketahui berada di dalam tahanan polisi Bielefeld, karena empat hari yang lalu merayakan kebebasannya terlalu "liar". Hampir saja sebuah bar rusak oleh ulahnya. Jadi, ia tidak mungkin membunuh Anneliese Herschel. 

Sersan Kramer sebaliknya, ia kembali dengan berita baik. Tiga orang, termasuk pelayan Igloo Bar, secara terpisah mengenali orang yang sama sebagai teman pria Anneliese Herschel tanggal 28 Februari malam itu. 

"Siapa dia, Max?" tanya Inspektur Pfeiffer tidak sabar. 

"Dia sekereta api dengan Ingrid Kanike pada malam gadis itu dibunuh. Dieter Beck, penduduk Bielefeld." 

Dieter Beck dijemput dari rumahnya. Ia tidak berusaha menyangkal melakukan pembunuhan atas Ingrid Kanike, Ursula Fritz, dan Anneliese Herschel. 

"Saya tahu, cepat atau lambat kalian akan menangkap saya," katanya apatis di hadapan polisi Bagian Penyidikan Pembunuhan dari tiga kota. "Saya senang semuanya telah berlalu. Sebetulnya, saya tidak ingin membunuh, tetapi saya tidak bisa menahan diri. Saya mengaku melakukan pembunuhan-pembunuhan itu, tapi jangan dibicarakan lagi." 

Beck akhirnya mau juga bercerita. Katanya, ia memilih Ingrid Kanike, Ursula Fritz, dan Anneliese Herschel karena mereka bukan jenis gadis yang populer di kalangan pria. Jadi, biasanya lebih peka akan perhatian pria ganteng yang pandai bicara. Beck memiliki dua kelebihan itu. 

Berlawanan dengan pendapat kedokteran, Beck mampu melakukan hubungan seksual secara normal. Hal itu dikemukakan sejumlah pacarnya. Cuma saja ia mempunyai kebiasaan mengusap-usap leher mitranya dengan tangannya yang kuat itu pada saat bermesraan. Mereka malah menganggap perlakuan itu mengharukan. 

Dieter Beck diadili mulai tanggal 22 - 26 Juni 1969. Pengadilan menjatuhkan hukuman tiga kali seumur hidup untuk perbuatannya melakukan tiga kali pembunuhan yang direncanakan lebih dahulu.

(John Dunning)

 

" ["url"]=> string(73) "https://plus.intisari.grid.id/read/553304216/incarannya-perawan-baik-baik" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1654282482000) } } [3]=> object(stdClass)#73 (6) { ["_index"]=> string(7) "article" ["_type"]=> string(4) "data" ["_id"]=> string(7) "3305937" ["_score"]=> NULL ["_source"]=> object(stdClass)#74 (9) { ["thumb_url"]=> string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2022/06/03/korban-mengenali-pemerkosanya_ry-20220603022335.jpg" ["author"]=> array(1) { [0]=> object(stdClass)#75 (7) { ["twitter"]=> string(0) "" ["profile"]=> string(0) "" ["facebook"]=> string(0) "" ["name"]=> string(13) "Intisari Plus" ["photo"]=> string(0) "" ["id"]=> int(9347) ["email"]=> string(22) "plusintisari@gmail.com" } } ["description"]=> string(144) "Gadis cantik berambut pirang, tak kembali seselesainya dari kegiatan pramuka. Ia dicari sampai akhirnya gadis-gadis lain juga dilaporkan hilang." ["section"]=> object(stdClass)#76 (7) { ["parent"]=> NULL ["name"]=> string(8) "Kriminal" ["description"]=> string(0) "" ["alias"]=> string(5) "crime" ["id"]=> int(1369) ["keyword"]=> string(0) "" ["title"]=> string(24) "Intisari Plus - Kriminal" } ["photo_url"]=> string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2022/06/03/korban-mengenali-pemerkosanya_ry-20220603022335.jpg" ["title"]=> string(29) "Korban Mengenali Pemerkosanya" ["published_date"]=> string(19) "2022-06-03 14:24:07" ["content"]=> string(31354) "

Intisari Plus - Brenda, gadis cantik berambut pirang, tak kunjung kembali seselesainya ia dari kegiatan pramuka. Ia dicari sampai akhirnya gadis-gadis lain juga dilaporkan hilang satu per satu. Polisi akhirnya menemukan pelakunya dari keterangan korban yang mengenal pemerkosanya.

-------------------------

Sampai hari Jumat 28 Oktober 1960, Desa Heston di pinggiran Kota London, hanya dikenal karena ada lapangan terbang dan Cranford Park-nya, yaitu suatu taman berhutan yang luasnya sekitar 90 ha. 

Sudah hampir seminggu hujan turun terus. Khas cuaca musim gugur di Inggris. Di Bleriot Road yang letaknya di pinggir taman itu, tinggal beberapa jendela rumah saja yang masih kelihatan terang. Saat itu sudah pukul 22.00. Kabut mulai menebal. 

Tiga anak perempuan yang umurnya hampir sebaya berjalan bersama-sama. Pamela Dyer, Glynis Blight, dan Brenda Nash pulang dari pertemuan pramuka. Kemudian mereka berpisah. Pamela dan Glynis pulang lewat jalan besar, sedangkan Brenda berbelok ke Bleriot Road. Rumahnya tidak sampai seperempat kilometer dari ujung jalan. 

Tapi Brenda Nash tidak pernah sampai di rumah. Orang tuanya menunggu dengan cemas sampai larut malam. Mereka bertanya-tanya pada para tetangga. Di tengah malam buta mereka mengetuk pintu rumah orang tua teman sekolah Brenda, tetapi tidak memperoleh petunjuk. 

James Nash, seorang buruh pelabuhan yang berumur 38 tahun, serta istrinya Florence, semakin panik. Akhirnya, mereka melapor pada polisi. Selama tiga hari berikutnya polisi dengan dibantu pasukan tentara mencari-cari di Cranford Park. Segala sudut taman yang luas itu didatangi, tapi tidak ditemukan jejak Brenda Nash di situ. 

Tak pernah terlintas oleh ibu Brenda kalau anaknya itu menjadi korban kejahatan seksual. Ny. Nash yakin Brenda pasti diculik orang. Ternyata kasih sayang ibu lebih kuat daripada akal sehat. Karena mana mungkin ada orang berniat memeras keluarga buruh pelabuhan yang pasti tidak kaya? Tetapi Ny. Nash tetap yakin, Brenda diculik penjahat untuk meminta uang tebusan. 

Brenda berumur 12 tahun. Parasnya cantik sekali, tapi bentuk tubuhnya masih sangat kekanak-kanakan. Rambutnya pirang. Sewaktu lenyap, ia memakai pakaian seragam pramuka.

 

Diperkosa "polisi" 

Polisi menerima laporan Frederick Holloway. Ia mengatakan, pada malam kejadian itu sekitar pukul 22.00 melihat seorang anak perempuan berambut pirang dan memakai topi baret pramuka berdiri di pinggir jalan yang menuju ke Cranford Park. 

Kebetulan saat itu Holloway lewat dengan mobil. la melihat anak perempuan itu sedang bercakap-cakap dengan seorang laki-laki, di samping sebuah mobil Vauxhall berwarna hitam. Laki-laki itu umurnya sekitar 40 tahun, tidak memakai topi, warna rambutnya mungkin coklat muda. Frederick Holloway tidak bisa memastikannya, karena hanya melihat sepintas saja. 

Orang tua Brenda masih terus berharap, anak mereka bisa pulang dalam keadaan selamat. Tapi Scotland Yard yang sementara itu telah dilibatkan, semakin giat melancarkan usaha mencari seorang pelaku kejahatan seksual yang sudah dicari sejak tanggal 9 September. 

Pada tanggal itu, yang juga jatuh pada hari Jumat, di Twickenham yang letaknya tidak jauh dari Heston, seorang anak perempuan berumur 11 tahun menjadi korban perkosaan. Sekitar pukul 21.30 Barbara pulang naik sepeda seorang diri. la baru saja menghadiri pertemuan pramuka. Tiba-tiba seorang laki-laki keluar dari sebuah mobil yang dihentikan di pinggir jalan. 

Laki-laki itu mengangkat tangannya, menyuruh Barbara berhenti. Barbara menuruti perintahnya. Laki-laki itu mengatakan ia petugas polisi, sambil menunjukkan tanda pengenalnya. "Sebuah lencana terbuat dari logam yang terpasang pada semacam dompet kulit selebar tangan," kata Barbara kemudian. 

"Kami sedang menyelidiki kasus pencurian sepeda," kata laki-laki itu menjelaskan kepadanya. "Kami memerlukan informasi dari anak-anak sekolah. Kau harus ikut ke kantor polisi. Tinggalkan saja sepedamu di sini, nanti kau kuantarkan lagi kemari!" 

Barbara naik ke mobil orang itu, dan langsung berangkat. Di tengah jalan orang itu menunjukkan sebuah revolver sambil berkata, "Ini buktinya aku polisi! Kami semua bersenjata api!" 

Ketika mobil berhenti sebentar di suatu persimpangan jalan, laki-laki. itu menyodorkan permen yang dibungkus. Barbara mengulum permen itu, sedangkan kertas pembungkusnya dimasukkan ke dalam kantung. Pramuka selalu rapi, tidak membuang sampah sembarangan! 

Orang yang mengaku polisi itu mengarahkan mobilnya ke luar dari Twickenham, menuju Staines. 

"Revolverku berisi peluru," katanya. Barbara mulai ketakutan. Setelah berjalan sekitar 20 mil, akhirnya mobil berbelok ke jalan kecil yang menuju ke hutan. 

Di tempat itu Barbara diperkosa dua kali. Sebelumnya mukanya dipukul dan dicekik, karena mencoba melawan. Selesai diperkosa anak malang itu berusaha melarikan diri. Tetapi gagal. Ia didorong masuk ke mobil. 

Kemudian ia diantarkan kembali ke Twickenham. Laki-laki yang telah menodainya menanyakan alamat rumahnya. Barbara disuruhnya duduk membungkuk dalam mobil, supaya tidak kelihatan dari luar. 

"Apakah kau bisa mengenali aku kembali lain kali?" tanya laki- laki itu tiba-tiba. 

"Tidak, saya takkan bisa mengenali Anda lagi," jawab Barbara dengan cepat. Mungkin jawabannya itu yang menyelamatkan nyawanya. 

Padahal daya pengamatan Barbara sangat tajam. Diterangi cahaya samar-samar yang terpantul dari dasbor, tampak olehnya di pipi lelaki itu ada bekas luka yang agak aneh. Pada pipi yang tembem dan coklat terbakar sinar matahari itu tampak ada tanda seperti bintang laut. 

Barbara juga sempat memperhatikan bentuk tubuh yang kekar, gelang arloji tangan yang terbuat dari logam putih, serta tanda pengenal yang ditunjukkan orang itu padanya. Barbara juga mengenali merek mobil yang dipakai, karena itu memang hobinya. 

"Mobil Vauxhall hitam, model tujuh atau delapan tahun yang lalu!" katanya tegas. 

Dalam kantungnya masih ada kertas pembungkus permen pemberian orang itu. Pada roknya menempel beberapa lembar benang wol. Warnanya mencolok, hijau kekuningan. Ketika diperkosa untuk kedua kalinya dalam hutan, Barbara digeletakkan di atas selembar selimut wol yang diambil dari bagasi mobil. 

Jadi, kini polisi telah mengenali ciri-ciri pelaku tak dikenal itu. Juga ada seorang saksi yang mampu mengenalinya, apabila ia berhasil ditangkap. 

Tapi mula-mula orang itu harus ditemukan dulu. Jalan satu-satunya ialah melalui mobilnya. Tugas itu bisa ditanggulangi, namun memakan waktu lama. Ada sekitar 199.000 mobil Vauxhall yang terdaftar antara tahun 1951 dan 1954; 44.000 di antaranya berwarna hitam. Menanyakan alibi 44.000 pemilik mobil untuk tanggal 9 September bukan merupakan tugas enteng.

 

Anggota pramuka lenyap 

Sementara penyelidikan masih berlangsung, pada tanggal 28 Oktober Brenda Nash lenyap! Murid sekolah yang anggota pramuka ini terakhir kali terlihat berdiri di pinggir jalan bersama seorang laki-laki bertubuh tinggi kekar, di samping mobil Vauxhall berwarna hitam. 

Pihak Scotland Yard merasa yakin, laki-laki itu pasti orang yang memperkosanya. Mereka juga yakin Brenda pasti sudah mati. Pelaku yang dicurigai mengendarai mobil. Jadi, mayat anak itu bisa diangkut ke tempat yang jauh, lalu dibuang di sana. 

Sementara itu penyelidikan yang merepotkan tapi dilakukan secara sistematis berjalan terus. Pencarian mobil Vauxhall hitam sudah sampai di Hounslow, suatu daerah pinggiran Kota London. 

Tanggal 24 November, Sersan Detektif Walter Nicholson mengetuk pintu depan sebuah rumah 1939 Ely Road. Nicholson membawa daftar nama pemilik mobil Vauxhall di daerah itu. Yang didatangi itu tempat kediaman Arthur Albert Jones dengan keluarganya. 

Jones berumur 43 tahun, seorang tukang las logam. Orangnya tinggi besar, bermuka tembem, berbibir tipis. Pandangan matanya menusuk dan di pipinya ada bekas luka berbentuk bintang. Kelihatan seperti bintang laut yang menempel! 

Kenyataan itu diakuinya sendiri. Katanya, bekas luka itu menyebabkan ia terus-menerus diganggu kawan-kawan kerjanya di pabrik. Kata mereka, pasti ia penjahat yang dicari. 

Tapi menurut keterangannya sendiri, ia sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan kejahatan itu. Kehidupan keluarganya berbahagia. Anak-anaknya baik semua. Ia mempunyai penghasilan tetap dan tidak berutang sedikit pun. 

Ia juga mempunyai alibi yang teguh, untuk tanggal 9 September dan 28 Oktober. Jones tidak segan-segan memaparkannya. 

"Pada kedua malam itu kebetulan saya pergi dengan istri serta anak laki-laki kami ke rumah saudara istri saya, Ny. Eldridge di Beckenham," katanya. "Kami sangat jarang keluar rumah, dan kalau pergi pun paling-paling ke rumah saudara. Karena itulah saya ingat sekali pada kedua kunjungan itu." 

Sersan Detektif Nicholson memeriksa mobil Vauxhall milik Jones. Di bangku depan ada selimut wol dengan motif kotak-kotak, sedangkan di bangku belakang ada lagi selembar. Selimut itu berwarna kehijau-hijauan. Setelah itu dikatakannya pada Jones bahwa polisi akan mengecek alibinya. Ia diminta agar untuk sementara agar jangan menghubungi iparnya, karena nanti "bisa timbul penafsiran yang negatif".

 

Bersekongkol 

Keesokan paginya Nicholson pergi ke Beckenham, mendatangi Ny. Eldridge. Wanita yang sudah ubanan itu membenarkan seluruh keterangan Jones mengenai kedua kunjungannya tanggal 9 September dan 28 Oktober. Alibi itu benar-benar sempurna. Terlalu sempurna, menurut pendapat Scotland Yard. 

Sebelum itu sudah masuk pula informasi tentang berbagai pria yang mempunyai bekas luka di pipi, atau memiliki mobil Vauxhall. Tapi baru pada Arthur Jones ada bekas luka di pipi dan memiliki Vauxhall buatan tahun yang diperkirakan. Kecuali itu masih ada satu lagi yang memperbesar kecurigaan terhadap dirinya: tempat tinggalnya hanya 2 mil dari Twickenham, sedangkan Heston 5 mil. Scotland Yard melanjutkan penyidikan dengan lebih saksama lagi. 

Ternyata tahun 1939 Jones pernah melakukan pelanggaran susila dengan mengganggu seorang gadis di suatu jalan kecil. Untuk itu ia dihukum penjara tiga bulan. Kecuali itu ia juga pernah dua kali dihukum karena mencuri. Dalam file mengenai dirinya ditemukan informasi bahwa Arthur Jones selalu mengantungi permen, sebagai penawar sakit perut yang sering dideritanya. 

Sementara itu Ny. Nash masih selalu berharap bahwa pada suatu saat Brenda pasti akan kembali. Pada malam hari menjelang tanggal 11 Desember, ia terpaksa diangkut ke klinik penyakit saraf. Harapan bahwa anaknya pasti kembali, akhirnya terkabul. Tetapi Brenda ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa lagi. 

Anak malang itu ditemukan di tepi lapangan Desa Yateley di daerah Hampshire, 20 mil dari Heston. Ia masih mengenakan mantel dan pakaian seragam pramuka yang dipakai ketika lenyap 40 hari sebelumnya. 

Di bawah kepalanya ditemukan potongan kalung perak yang putus. Pada sepatu sebelah kanan serta roknya menempel beberapa lembar benang wol berwarna hijau kekuningan. Mirip dengan benang wol yang ditemukan pada rok Barbara. 

Kesamaan antara kedua kasus itu nampak jelas. Scotland Yard sedikit pun tidak ragu lagi. Pelakunya pasti Arthur Albert Jones. 

Tapi orang itu mempunyai alibi yang kokoh! Bagaimana caranya bisa membuktikan bahwa ia bersekongkol dengan istri, anak laki-laki, serta iparnya untuk memberikan kesaksian palsu? 

Scotland Yard hanya bisa menunggu, mudah-mudahan ada petunjuk baru yang bisa dijadikan bukti.

 

Berbohong demi saudara 

Senin berikutnya koran-koran memasang kepala berita yang besar-besar, disertai berita Panjang lebar mengenai kejadian ditemukannya mayat Brenda. Kemudian menyusul sesuatu yang benar-benar tak terduga sebelumnya: malam itu juga alibi Arthur Jones ambruk! 

Seorang gadis cantik rupawan berumur 17 tahun mendatangi kantor polisi kota besar London di Hampstead. Namanya Lesley Carruther. Ia seorang manikuris, pemotong kuku yang bisa ditemui di salon-salon penata rambut kelas tinggi. 

Lesley bercerita bahwa pada musim gugur yang lalu ia bekerja di sebuah salon yang mentereng di daerah kelas tinggi Mayfair. Di situ ia berkenalan dengan seorang rekan bernama Christine Eldridge. Awal minggu pertama bulan November - ia ingat benar saat itu, karena ia minta berhenti tepat pada waktu itu - Christine mengatakan padanya bahwa ia memprihatinkan ibunya. 

Menurut Christine, secara kebetulan ia mendengar pembicaran antara ibunya dan Tante Grace dan suaminya, Arthur Jones. Kedua orang itu mendesak ibunya agar mau mendukung alibi Arthur untuk suatu hari Jumat di bulan September, begitu pula hari Jumat di akhir bulan Oktober.

 "Ia (Jones) sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan kedua anak perempuan itu - ini hanya untuk berjaga-jaga jangan sampai dipergunjingkan para tetangga," demikian kata Tante Grace menurut cerita Christine pada Lesley. Christine merasa ibunya pasti terseret dalam suatu persoalan yang tidak enak. 

Demikian keterangan Lesley Carruther. Justru itulah yang ditunggu-tunggu Scotland Yard. Kini ada sesuatu yang bisa dijadikan pegangan untuk menangkap Arthur Jones. 

Keesokan paginya, tanggal 13 Desember, ipar Arthur Jones dipanggil lagi. Polisi langsung mengatakan bahwa keterangannya yang lalu bohong semua, dari A sampai Z. 

Sambil menangis tersedu-sedu Ny. Eldridge mengakui bahwa berbuat begitu karena ingin menolong saudaranya, Grace Jones. Ternyata Jones beserta istrinya tanggal 11 September mendatanginya, untuk mengatur alibi bagi Jones untuk tanggal 9 September. Ny. Eldridge tidak bisa menolak. 

Ia pun menurut saja, ketika kedua orang itu kemudian muncul lagi guna mengatur alibi untuk tanggal 28 Oktober. Tanggal 24 November Arthur Jones datang sendiri untuk memberitahukan bahwa sebentar lagi polisi akan datang melakukan interogasi.

 

"Itu orangnya!" 

Tanggal 28 Desember Arthur Albert Jones dijemput polisi dari pabrik tempat ia bekerja dan dibawa ke kantor polisi. Sementara itu rumahnya digeledah. Di situ ditemukan sebuah dompet sebesar telapak tangan, terbuat dari kulit tiruan. Di bagian depannya terpasang semacam lencana dari logam. 

Di dalam mobil ditemukan permen, tapi lain dari yang dimakan Barbara. Polisi menemukan pula sebuah kotak kardus di dalam rumah berisi peluru senjata api. Sedangkan arloji tangan dengan gelang terbuat dari logam putih disita sebagai barang bukti. 

Jones ternyata senang bertukang. Dalam sebuah gubuk yang dijadikan tempat kerja banyak sekali ditemukan kawat tua, jam yang sudah rusak, potongan-potongan kulit, sekrup-sekrup, dan macam-macam lagi, disimpan dalam kotak dan laci-laci. 

Di antara sekian banyak rombengan itu ditemukan bagian-bagian dari kalung perak yang putus. Kalung itu pola buatannya sama dengan potongan kalung yang ditemukan di bawah kepala Brenda. Tapi kemudian ternyata bahwa bagian-bagian kalung itu terbuat dari bahan yang berbeda-beda. 

Tanggal 30 Desember diadakan peragaan identitas di Kantor Polisi Twickenham. Barbara diminta meneliti 12 orang laki-laki yang disuruh berdiri berjejer. Di antara mereka terdapat Arthur Jones. Kedua belas laki-laki itu berpotongan tubuh sama. 

Lima di antaranya mempunyai bekas luka di pipi kanan. Tapi semuanya diberi plester di tempat itu, sehingga Barbara tidak bisa mengetahui mana yang benar-benar mempunyai tanda khas seperti yang disebutkan olehnya. Walaupun demikian, tanpa ragu sedikit pun anak itu menuding Arthur Albert Jones. 

"Itu orangnya!" 

Polisi tidak ragu lagi bahwa laki-laki itu bukan saja memperkosa Barbara, tapi juga Brenda yang kemudian dibunuh. Tapi bukti-bukti yang diajukan pihak kejaksaan, dinyatakan tidak cukup. Karenanya tuntutan hukum terhadap Jones hanya mengenai perkosaan seorang anak di bawah umur. Persidangan pengadilan dimulai tanggal 8 Maret 1961. Arthur tetap bersikeras, menyatakan dirinya tidak bersalah. 

Barbara tampil sebagai saksi pertama. Selama 1,5 jam anak itu bercerita dengan suara pelan dan terputus-putus. la menuturkan penderitaannya pada tanggal 9 September serta menjawab serentetan pertanyaan yang diajukan. 

Kemudian dipanggil Ny. Ivy Eldridge, ipar terdakwa. Wanita setengah umur itu mengakui bahwa sebelumnya ia memberikan keterangan palsu, yaitu ketika mendukung alibi yang diajukan terdakwa. 

Menurut pernyataannya; ia hanya ingin menolong saudara perempuannya, istri terdakwa. Sedangkan pada kenyataannya, - pada tanggal itu Jones tidak datang ke rumahnya. Pengakuan ini sangat menyulitkan posisi terdakwa.

 

Menyusun alibi palsu 

Di tempat tahanan, Arthur Jones kemudian membuat pernyataan tertulis. Ia menyatakan bahwa ia kini akan berterus terang, tidak menyembunyikan apa-apa lagi. Alibi palsu disusunnya karena merasa takut, mengingat ciri-ciri pelaku yang dicari banyak persamaannya dengan dirinya. 

Sebenarnya tanggal 9 September ia pergi ke London, untuk suatu urusan yang apabila diketahui umum pasti akan membuat malu dirinya serta keluarganya. 

Dalam tanya-jawab dengan pembelanya di depan pengadilan, Arthur Jones mengantakan bahwa pada malam naas itu ia minum-minum sampai pukul 21.30 di Henekey-Pub di Hounslow. Itu merupakan kebiasaannya setiap Jumat malam. Setelah itu ia pergi dengan mobil ke London, lalu minum-minum lagi di sebuah bar. 

Sekitar pukul 22.00 ia meninggalkan tempat itu. Di pinggir jalan antara Holland Park dan Nottinghill Gate ia disapa seorang wanita keturunan campuran, yang ternyata pelacur. Jones tidur dengan wanita itu. Sekitar pukul 23.00 ia pergi lagi, lalu mencari makan. Setelah itu ia pulang. 

Sesampai di rumah, istrinya yang belum tidur tidak mau percaya ketika Jones mengatakan ia pulang larut malam karena habis minum dengan kawan-kawannya. Bahkan keesokan paginya, istrinya masih tetap mendiamkannya, sampai Minggu pagi. 

Tapi ketika sedang sarapan, tiba-tiba istrinya menyodorkan koran yang sedang dibaca ke depan hidung Arthur Jones. Di halaman depan tertulis dengan huruf-huruf tebal: "Pengendara Mobil Bersenjata Menculik Anak 11 tahun". Disusul dengan keterangan mengenai ciri-ciri pelaku, yang cocok sekali dengan diri Jones. 

Jones merasa panik, karena untuk saat yang menentukan itu ia tidak mempunyai saksi jelas. Pelacur yang tidur dengan dia, apabila bisa ditemukan kembali, pasti akan mungkir karena takut ketahuan bahwa ia pelacur. Lagi pula istrinya mengatakan, apabila orang lain sampai tahu bahwa Jones bergaul dengan pelacur, ia takkan berani lagi pergi ke luar rumah. Karena itu Jones lantas mengambil keputusan untuk menyusun alibi palsu saja. 

Kesaksian terdakwa itu didukung oleh istri dan anak laki-lakinya. Namun dari alibi baru itu, hanya satu keterangan yang bisa dibuktikan kebenarannya. Pada tanggal 9 September, Jones memang benar minum-minum di Henekey-Pub, sampai pukul 20.30. Tapi sejak saat itu, yaitu sejak ia pergi dengan mobil dalam keadaan setengah mabuk, yang ada hanya kesaksian terdakwa sendiri mengenai ke mana saja ia pergi. Tidak ada saksi lain yang bisa ditemukan. 

Sedangkan para anggota juri sudah mendengar sendiri keterangan dari Barbara mengenai penderitaan yang dialaminya. Di antara para anggota juri terdapat sejumlah bapak, yang membayangkan anak perempuan mereka sendiri menjadi korban laki-laki yang kini menjadi terdakwa. 

Meski dalam sidang pengadilan itu sama sekali tak pernah disebut-sebut nama Brenda Nash, tapi bayangan kematiannya yang mengerikan menghantui proses itu. Bayangan anak malang itu seolah-olah berdiri di pengadilan, menuding terdakwa. 

Kecuali itu, walaupun tidak ada paragraf tertentu dalam undang-undang pidana Inggris, tapi berdasarkan pandangan yuridis yang sudah tradisional, "Upaya menyusun alibi palsu yang kemudian ketahuan sangat memberatkan posisi terdakwa, karena pembelaan diri secara itu dinilai sebagai pengakuan tidak langsung bahwa ia bersalah."

 

Keterangan para saksi seragam 

Alibi palsu yang kemudian baru dicabut kembali oleh Jones setelah posisinya sangat terdesak, semakin menyulitkan posisinya. Sebab hanya satu keterangan dari alibinya yang baru itu bisa dibuktikan kebenarannya. Itu pun dengan selisih waktu satu jam! 

Dewan juri berembuk selama hampir tiga jam. Hasil keputusan yang diambil: Arthur Albert Jones dinyatakan bersalah telah memperkosa seorang anak di bawah umur. Oleh hakim, Jones dijatuhi hukuman terberat yang bisa diberikan menurut undang-undang, yaitu 14 tahun penjara. 

Pengambilan keputusan itu terasa dipengaruhi oleh kasus Brenda Nash. Juri seolah-olah mempertimbangkan, walau kemudian ternyata tidak berhasil ditemukan bukti lebih lanjut mengenai kasus itu, Arthur Jones tetap akan baru bisa bebas lagi apabila sudah kakek-kakek. 

Tapi ternyata kemudian muncul bukti-bukti baru. Bukti-bukti mana apabila ditilik satu-persatu mungkin tidak cukup kokoh, tapi bila digabungkan sangat memberatkan Jones. 

Selama persidangan berlangsung foto-foto Jones 3 dimuat dalam koran. Sebagai reaksi muncul lagi laki-laki bernama Frederick Holloway, yang pada tanggal 28 Oktober ketika sedang naik mobil melihat Brenda berbicara dengan seorang laki-laki di tepi jalan, di samping mobil Vauxhall berwarna hitam. 

"Laki-laki yang saya lihat waktu itu, pasti Jones," kata Holloway dalam keterangan susulannya. Dulu ia mengatakan bahwa laki-laki teman bicara Brenda "mungkin rambutnya berwarna coklat muda". Kini ia mengatakan keliru melihat. Tapi Jones dikenalinya kembali dari foto-foto dalam koran. 

Seorang penerbang bernama Cuthbert Wakefield pada malam hari tanggal 28 Oktober itu berkunjung ke rumah seorang temannya. Sekitar pukul 21.40 ia pulang, diantarkan temannya itu sampai ke jalan. 

Mereka berdua melihat seorang laki-laki - yang berdasarkan foto dalam koran dikenali sebagai Arthur Albert Jones. Laki-laki itu muncul dari suatu gang, masuk ke dalam mobil Vauxhall yang diparkir di pinggir jalan, lalu mengendarainya menuju Cranford Lane. 

Masih ada lagi tiga orang saksi, yaitu Ny. Barker, putranya Colin yang berumur 10 tahun, serta Ny. Fahey. Ny. Barker dan Colin pada malam hari tanggal 28 Oktober berkunjung ke rumah Ny. Fahey. Ketiganya melihat, sekitar pukul 21.45 ada mobil Vauxhall hitam membelok dari Cranford Lane ke Armitage Road dan berhenti di situ.

 "Mobil itu mirip mobil suaminya," kata Ny. Fahey waktu itu pada Ny. Barker. 

"Itu memang Vauxhall," kata Collin, "tapi spatbor mobil itu lain bentuknya. Mobil itu bumpernya dilapisi krom." 

Sedangkan bumper mobil Arthur Jones memang dilapisi krom! Ada lima orang saksi melihat dan memperhatikan mobil Vauxhall hitam pada saat dan lokasi yang sama. Dua dari mereka juga melihat pengendaranya. Belum lagi Frederick Holloway, yang sekaligus melihat mobil tersebut, Jones, dan juga Brenda Nash. 

Pada kesempatan peragaan identitas, Jones dikenali oleh Holloway, Wakefield, serta temannya, sebagai laki-laki yang mereka lihat pada malam naas itu. Identifikasi yang dilakukan setelah para saksi melihat foto tersangka, sebetulnya merupakan prosedur yang meragukan. Tapi keseragaman keterangan ketiga saksi itu mengenai lokasi dan waktu, menyebabkan tidak adanya keraguan lagi mengenai keterangan yang berhubungan dengan diri tersangka.

 

Dihajar sampai babak belur 

Bukti lain berupa benang wol yang menempel di pakaian Brenda ternyata identik dengan benang dari selimut yang ada dalam mobil Arthur Jones. Kecuali itu ada pula potongan kalung yang ditemukan di bawah kepala Brenda. 

Ketika dicocokkan, ternyata pas dengan kedua bagian kalung yang ditemukan di rumah Jones. Tanggal 13 Juni 1961 Arthur Jones diajukan kembali ke pengadilan. Kali ini dengan tuduhan membunuh. Prosesnya seakan-akan merupakan pengulangan suatu pertunjukan teater yang mengalami perubahan di sana-sini. 

Jones menyatakan dirinya tidak bersalah. Sebagai pembelaan ia kembali menuturkan alibi yang pernah diajukannya dalam kasus Barbara, tetapi dengan beberapa perubahan kecil. 

Kali ini ia tidak tidur dengan pelacur keturunan campuran, tapi wanita kulit putih. Tempatnya minum-minum di London juga lain, disusul dengan makan di restoran Cina. Sedangkan dalam kasus Barbara, ia mengaku makan di restoran yang hidangannya khusus ayam panggang. 

Sedangkan keterangan selebihnya persis sama seperti dalam kasus Barbara. Baik sambutan dingin istrinya ketika ia pulang larut malam, maupun kedatangannya ke tempat iparnya untuk menyusun alibi palsu. 

Jaksa mengetengahkan adanya kesamaan antara kedua keterangan yang diberikan Jones pada juri. 

Dewan juri kemudian hanya memerlukan waktu berembuk selama 7 menit, untuk mengambil keputusan bahwa Arthur Albert Jones dinyatakan bersalah. Dalam pengumuman keputusan, hakim ketua pengadilan menyatakan, "Sudah selayaknya, mengingat kejinya perbuatan terdakwa, maka terdakwa mula-mula harus menjalani hukuman penjara selama 14 tahun yang telah dikenakan dalam kasus terdahulu, sebelum hukuman penjara seumur hidup yang dijatuhkan sekarang terhadapnya mulai berlaku!" 

Sebetulnya Arthur Albert Jones masih mujur. Apabila perbuatan laknatnya dilakukan sebelum tahun 1957, ia pasti akan dijatuhi hukuman mati. Perundang-undangan baru menyelamatkan dirinya dari tiang gantungan. Tapi walaupun begitu, nasibnya tidak bisa dikatakan enak. Pemerkosa anak-anak dan pembunuh karena alasan seksual selalu diperlakukan dengan kejam oleh sesama narapidana. 

Di Penjara Wandsworth ia diserang seorang narapidana lain yang hendak menikamnya dengan paku runcing sepanjang 15 cm. Nyawa Jones diselamatkan seorang penjaga yang kebetulan melihat lalu cepat-cepat bertindak. 

Setelah itu Jones dipindahkan ke Penjara Pentonville. Tapi di situ pun keselamatannya tidak terjamin. Ia dikeroyok oleh tiga orang sampai babak belur. Akhirnya, ia dipindahkan ke Penjara Dartmoor. 

Arthur Albert Jones ditempatkan dalam suatu blok khusus, di mana para penghuninya dimasukkan dalam sel-sel tersendiri. Di situ Jones hidup terpisah sama sekali dari lingkungannya. Ia makan dan tidur sendiri, bekerja sendiri, dan berjalan-jalan di pekarangan dalam penjara pun sendiri. 

Ia tidak bisa bercakap-cakap dengan orang lain, apalagi anak-anak perempuan yang terancam keselamatannya selama ia masih berkeliaran di alam bebas.

 

" ["url"]=> string(74) "https://plus.intisari.grid.id/read/553305937/korban-mengenali-pemerkosanya" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1654266247000) } } }