array(1) {
  [0]=>
  object(stdClass)#49 (6) {
    ["_index"]=>
    string(7) "article"
    ["_type"]=>
    string(4) "data"
    ["_id"]=>
    string(7) "3258528"
    ["_score"]=>
    NULL
    ["_source"]=>
    object(stdClass)#50 (9) {
      ["thumb_url"]=>
      string(112) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2022/04/28/indiana-jones-asli_dinopediajpg-20220428081755.jpg"
      ["author"]=>
      array(1) {
        [0]=>
        object(stdClass)#51 (7) {
          ["twitter"]=>
          string(0) ""
          ["profile"]=>
          string(0) ""
          ["facebook"]=>
          string(0) ""
          ["name"]=>
          string(13) "Intisari Plus"
          ["photo"]=>
          string(0) ""
          ["id"]=>
          int(9347)
          ["email"]=>
          string(22) "plusintisari@gmail.com"
        }
      }
      ["description"]=>
      string(137) "Penjelajah Roy Chapman Andrews berani bergelut melawan bandit, badai, dan ular di Gurun Pasir Gobi. Apakah ia mendapatkan yang dicarinya?"
      ["section"]=>
      object(stdClass)#52 (7) {
        ["parent"]=>
        NULL
        ["name"]=>
        string(7) "Histori"
        ["description"]=>
        string(0) ""
        ["alias"]=>
        string(7) "history"
        ["id"]=>
        int(1367)
        ["keyword"]=>
        string(0) ""
        ["title"]=>
        string(23) "Intisari Plus - Histori"
      }
      ["photo_url"]=>
      string(112) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2022/04/28/indiana-jones-asli_dinopediajpg-20220428081755.jpg"
      ["title"]=>
      string(18) "Indiana Jones Asli"
      ["published_date"]=>
      string(19) "2022-04-28 20:18:17"
      ["content"]=>
      string(26341) "

Intisari Plus - Penjelajah Roy Chapman Andrews berani bergelut melawan bandit, badai, dan ular di Gurun Pasir Gobi. Apakah ia mendapatkan yang dicarinya?

------------------------

Saat barisan unta yang panjang itu berangkat di bawah bayang-bayang Tembok Raksasa Cina, pimpinan kawanan unta itu memulai nyanyian misterius dan aneh, sebuah doa agar selamat dari roh-roh jahat. 

Unta-unta yang membawa banyak beban itu digiring ke padang luas Gurun Pasir Gobi di Mongolia. Selain berbekal doa, para pria itu semuanya membawa senapan. Mereka sadar akan menghadapi lebih banyak makhluk halus yang ditakuti sebelum perjalanan mereka usai.

Seorang pria tinggi bertubuh atletis mengamati 75 ekor unta itu berlalu menjauhinya. Ketika yakin bahwa unta-unta itu aman dalam perjalanan, dengan riang ia berbalik dan kembali menuju mobilnya. Banyak yang harus ia kerjakan. 

Unta-unta itu hanyalah bagian dari ekspedisi besar yang ia pimpin. Pria bernama Roy Chapman Andrews itu adalah salah satu penjelajah Amerika yang paling terkenal pada abad ke-20.

 

Roy Chapman Andrews, 38 tahun, memilki reputasi sebagai petualang yang tak mengenal rasa takut. Ia telah menjelajahi banyak negeri Timur Jauh, Asia Tenggara, dan ia pernah terdampar dua minggu di sebuah pulau bergurun pasir. la membunuh ular piton sepanjang 20 kaki (sekitar 6 meter), memburu macan pemakan daging manusia, dan menyaksikan gua-gua opium Jepang.

 la lolos dari kematian akibat batang bumbu beracun, angin taifun di laut, dan serangan ikan hiu. Sebagai tambah ketenarannya, ia pernah menjadi mata-mata Amerika di Timur Jauh selama Perang Dunia Pertama. Andrews bukan cuma petualang, tapi juga ahili zoologi, yang memiliki keterampilan membuat hewan awetan dan pemahaman unik tentang paus. Saat itu, Maret 1922, ia baru mengawali petualangan terbesar di sepanjang kariernya.

Andrews bekerja di American Museum of Natural History di New York. Direktur Museum itu, Henry Osborn, yakin bahwa manusia pertama bukan berasal dari Afrika, tapi dari jantung benua Asia. Tapi, hal itu belum terbukti sehingga Andrews mengajukan sebuah proposal yang berani.

Mengapa tidak mengirimkan ekspedisi besar ke Gurun Gobi untuk menguji kebenaran teori Osborn? Ekspedisi itu dapat berlangsung lima kali musim panas, dan Andrews mengepalai berbagai tim ilmuwan yang berpengalaman. Osborn menyukai ide itu—dan Andrews adalah orang yang ideal untuk melaksanakannya.

Sewaktu pers Amerika mengendusnya, timbul kehebohan. "Ilmuwan mencari tulang-belulang manusia kera," The New York Times memberitakan "'Mata Rantai Hilang': Ekspedisi mencari sisa manusia purba di belantara Gobi," The Washington Post menegaskan. 

Sumbangan dari orang-orang terkaya di New York pun mulai mengalir, segera terkumpul US$ 250.000 yang diperlukan—jumlah yang amat banyak pada saat itu, setara dengan lebih dari US$ 5 juta untuk nilai uang sekarang. Dan sekitar sepuluh ribu orang menulis kepada Andrews, memohon untuk ikut serta dalam ekspedisi tersebut.

Meskipun demikian, ketika mengamati rombongan kereta untanya memulai prosesi yang lambat menuju gurun pasir, Andrews menganggap luar biasa kalau idenya menjadi kenyataan. Ekspedisi Asia Tengah, nama ekspedisi itu, benar benar berlangsung.

Rombongan unta itu membawa perbekalan bagi Andrews dan ilmuwan lain yang berangkat dengan lima mobil Dodge beberapa pekan kemudian. Mereka berangkat tanggal 17 April 1922 dari markas mereka di Kalgan, Tiongkok, menuju tempat yang suka disebut Andrews 'Great Unknown'. 

la sadar betul, mereka mengambil risiko yang amat besar—kenyataannya hampir tak pernah ada fosil yang ditemukan di Mongolia. Tapi, sekarang tekanan dibebankan pada Andrews untuk menemukannya sebagian.

Gurun Pasir Gobi penuh dengan bahaya, terutama pada waktu itu. Ganas dan tidak bersahabat. Gurun tersebut penuh perangkap bagi kendaraan Dodge yang kerap kali tenggelam ke dalam tanah yang lembek atau pasir hingga batas jari-jari bannya. Terdapat padang kerikil yang luas, bukit-bukit berbatu tajam, dan tonjolan-tonjolan bercadas, serta padang bukit berpasir yang luas. 

Iklim berubah secara dahsyat; temperatur dapat turun di bawah titik beku, dan segala jenis badai menjadi ancaman tanpa henti. Terutama badai pasir dapat menyapu tanpa terduga, menderu dengan ganas, dan menumpas apa saja yang dilaluinya.

Kendaraan Dodge amat bergantung pada rombongan unta, yang mengangkut bahan bakar, minyak, dan suku cadang. Tapi bagi unta-unta itu sekalipun, bertahan di gurun pasir tidaklah mudah. Kerap kali cuma ada sedikit yang bisa mereka makan, dan tanpa makanan mereka cepat lelah karena beratnya beban. 

Tapi, yang terpenting, baik rombongan unta dan kendaraan Dodge harus berurusan dengan ancaman para bandit. Keadaan politik di Tiongkok dan Mongolia tidak stabil. Akibat perang sipil dan pemberontakan yang terus-menerus meletus, jumlah bandit perampok meningkat. 

Mereka kadang bergabung bersama dalam kelompok yang ganas dan bengis berjumlah sampai seribu orang. Mereka merampok apa pun yang berharga yang melewati Gobi, membunuh tanpa ampun. Orang-orang Andrews harus terus berjaga: mereka semua membawa senapan laras panjang dan pistol.

Tapi, ketika musim pertama ini mulai, para ilmuwan segera melupakan bahaya itu. Begitu banyak spesies hewan di gurun pasir untuk dicatat. Tim tersebut mengamati keledai liar yang berlari-lari bebas dalam kawanan yang besar. Para ilmuwan telah mengetahui keberadaan mereka, tapi sebelumnya tak pernah berkesempatan untuk mengamati dari dekat. 

Andrews menembak beberapa hewan untuk dipamerkan, dan mencatat secara rinci tingkah laku mereka. Yang lebih penting, para ilmuwan mulai menemukan fosil. Fosil hewan purba: ikan, kodok, serangga, hewan pengerat, dan mamalia kecil lain yang telah lama punah.

Tapi, bagaimana dengan manusia pertama? Tidak ada. Fosil mirip manusia sama sekali tidak ditemukan. Sebagai gantinya, ada yang lain—sesuatu yang tak diduga. Dinosaurus. Bukan saja dinosaurus tua, tapi spesies baru, yang tak pernah dijumpai sebelumnya. 

Salah satu spesies yang pertama timbul dari formasi cadas yang terkikis adalah makhluk aneh dari periode Cretaceous, (antara 135 dan 65 juta tahun lalu)  dengan paruh seperti seekor burung beo. Mereka menamakannya Psittacosaurus mongoliensis, yang artinya 'tokek burung beo dari Mongolia'.

Tim menjadi heboh. Mereka tidak khawatir akan pulang dengan tangan hampa. Mereka bekerja amat keras, bertekad untuk memanfaatkan temuan tersebut sebaik-baiknya. Tapi, menjelang bulan September, temperatur udara mulai menurun dan keadaan Gurun Gobi lebih mengerikan dari sebelumnya. Mereka harus pergi, dan kembali saat musim semi.

Sewaktu mencari jalan ke arah utara menuju ibukota Mongolia, Urga, tim tersebut tersesat di padang pasir yang luas. Tempat itu tampak tak berujung. Selama tiga hari mereka mencari tanda-tanda kehidupan, atau jejak untuk melangkah.

Tiba-tiba, mereka menemukan sekelompok kecil tenda suku nomadik Mongolia yang disebut yurt. Andrews menghampiri kelompok itu untuk minta pertolongan, meninggalkan yang lainnya menunggu kabar. Sementara menunggu, sang juru foto, Shackelford, keluar dari mobil Dodge-nya untuk meregangkan kakinya. Ia melihat ada tonjolan aneh dari batu cadas di dekatnya. Karena penasaran, ia berjalan menuju tonjolan itu untuk melihat dari dekat.

Yang ia temukan, mencengangkan. Di depannya terdapat sebuah kawah besar dari tebing batu pasir yang dramatis, terukir menjadi bentuk-bentuk yang fantastis akibat terkikis selama bertahun-tahun. "Kelihatannya seperti kastel zaman pertengahan dengan puncak menara dan menara-menara kecil, beraneka warna di bawah cahaya petang, pintu gerbang yang besar, dinding dan benteng ...," tulis Andrews.

Memesona. Tapi, yang lebih penting, di atas permukaan bebatuan cadas itu tergeletak fosil. Ratusan jumlahnya. Dengan sangat bergairah, tim segera memancangkan tendanya, dan mulai menjelajah. Tempat itu, seperti yang ditulis Andrews, 'surga bagi palaeontologis'. Mereka menamakan tempat itu "Tebing Menyala' (Flaming Cliffs). 

Dengan tergesa-gesa, para ilmuwan mengumpulkan apa yang bisa mereka temukan. Di antara temuan itu ada sepotong kulit telur yang membatu—mungkinkah ditinggalkan burung purba? Tapi, penggalian itu berpacu dengan waktu. Mereka terpaksa harus segera pergi, dan dengan dipandu penduduk setempat, melanjutkan perjalanan ke ibukota. Angin beku dan bahkan terpaan salju mulai menyerang Gobi. Mereka harus keluar sebelum padang pasir mengubur mereka. 

Yang pasti, Flaming Cliffs menunggu saat mereka kembali nanti. 

American Museum dan pers New York amat bergairah menanti berita tentang ekspedisi itu. Andrews tak pernah malu-malu, ia suka mengumumkan kegiatannya. Sesampai di Urga ia segera mengirim telegram yang panjang. "Hasil-hasil temuan ilmiah melebihi harapan terbaik kami,"Andrews mengumumkan. 

Osborn amat gembira dengan berita itu. Ia membalas, "Anda telah menggoreskan sebuah bab baru dalam sejarah kehidupan di muka bumi." Andrews melakukannya lagi. Reputasinya naik. Saat musim dingin berlalu dan waktunya memulai ekspedisi kedua, nama Andrews mulai harum di Amerika.

Pada April 1923, Andrews dan timnya kembali ke Kalgan, Tiongkok. Mereka segera menyadari, sejak perjalanan yang terakhir, bahkan mungkin bahaya tidaklah berkurang. Ancaman bandit menjadi lebih buruk. Beberapa pedagang Rusia baru-baru ini dirampok dan dibunuh dengan sadis, dan tentara Kalgan tidak becus mengatasi masalah ini. Para ilmuwan tahu mereka harus tetap berjaga dan membawa banyak senapan untuk menghalau para bandit.

Mereka tidak perlu menunggu lama datangnya bahaya. Ketika Andrews sedang berkendara dekat tempat bangsa Rusia diserang, tiba-tiba ia melihat kilatan sinar matahari dari sebuah laras senapan. Kilatan itu berasal dari puncak bukit di dekatnya. Sewaktu ia menghampiri, Andrews dapat melihat seseorang yang berkuda. Terburu-buru, ia menarik pistol dan menembaknya. Orang berkuda itu menghilang. Tapi, sewaktu mobil berputar ke sebuah sudut, yang dilihat Andrews bukan cuma seorang penunggang kuda, tapi tiga orang.

Andrews segera berpikir. Tidak ada waktu untuk berpaling dan bila berbalik ia akan ditembak. "Tahu bahwa seekor pony Mongol tak akan pernah berdiri berhadapan dengan raungan kendaraan bermotor, aku bermaksud menyerang."

Benarlah. Ia mengendarai mobil dengan kecepatan penuh ke arah kuda-kuda itu. Mesin mobil meraung. Kuda para bandit tersebut panik dan mulai melompat dan meringkik ketakutan. Para bandit yang tidak mampu mengambil senjatanya, juga mulai panik. Hanya ada satu hal yang dapat mereka lakukan—berbalik dan melarikan diri secepat mungkin. 

Tim telah bertahan. Mulai sekarang, tidak ada lagi serangan bandit—hanya jalan yang tandus dan panjang di gurun pasir menuju Flaming Cliffs, tempat para ilmuwan melanjutkan pencarian fosil. Segera setelah memasang tenda di sana, perburuan dimulai.

Musim sebelumnya memberikan harapan besar bagi tim tersebut, dan mereka tidak kecewa. Tulang-tulang fosil yang bertebaran itu segera diketahui sebagai kerangka utuh dan tengkorak yang tersimpan dengan baik. Kebanyakan adalah makhluk Cretaceous aneh yang berjalan dengan empat kaki dan memiliki kepala bertulang aneh, berujung melengkung mirip paruh beo. 

Para ilmuwan menamakannya Protoceratops andrewsi yang diambil dari nama pemimpin mereka yang berani. Secara kasar, nama itu berarti dinosaurus bermuka tanduk pertama milik Andrews.

Tapi, penemuan yang lebih revolusioner belum juga muncul. Pada 13 Juli 1923, salah seorang ilmuwan, George Olsen, membuat pengumuman pada saat seluruh anggota tim duduk bersantap siang.

"Saya menemukan beberapa fosil telur pagi ini," kata Olsen datar. 

Semua orang memandang ke arahnya. Tampaknya tidak mungkin—mereka telah menetapkan bahwa palung fosil berasal dari periode Cretaceous, masa yang terlalu awal bagi kehidupan burung-burung besar. 

Sepanjang pengetahuan setiap orang saat itu, dinosaurus tidak bertelur. "Kami tidak menanggapi ceritanya dengan sangat serius," tulis Andrews. Tapi, setelah makan siang, mereka semua melihat yang ditemukan Olsen. Kepala ahli palaeontologi, Walter Granger, tidak dapat mempercayai penglihatannya. Tidak diragukan lagi bahwa fosil di hadapan mereka adalah telur—tapi bukan telur burung.

"Itu telur reptil!" seru Granger. "Dan itu berarti ... telur dinosaurus."

Temuan itu merupakan yang pertama. "Jelas bahwa dinosaurus benar-benar bertelur dan kita telah menemukan spesimen pertama yang dikenal ilmu pengetahuan," tulis Andrews. Temuan itu sungguh menghebohkan.

Masih ada lagi. Sewaktu sarang burung ditemukan, kerangka lain menyusul—bukan seekor Protoceratops, tapi makhluk mirip burung yang aneh. Tampaknya makhluk itu mati pada saat mencari sarang telur. Mereka menamakannya Oviraptor philoceratops, yang berarti 'pencuri telur yang menyukai dinosaurus berwajah tanduk'. Ekspedisi Asia Tengah benar-benar melebihi semua harapan.

Di tengah seluruh kegembiraan itu, Andrews merasa khawatir. Sewaktu mobil-mobil Dodge tiba dengan selamat di Flaming Cliffs, unta-unta yang membawa perbekalan belum juga sampai. Rombongan kehabisan makanan. 

Tapi, saat itu makanan tidaklah terlalu sulit, karena banyak antelop untuk diburu—tapi masalah menjadi serius bila tim itu terdampar di gurun pasir selama musim dingin. Lantas, apa yang terjadi dengan karavan itu? Apakah rombongan unta itu tewas dalam perjalanan? Apakah seluruh karavan diserang bandit?

Andrews mengutus beberapa pembantu Mongol-nya untuk mencari unta-unta itu. Tapi, pencarian itu nyaris berakhir dengan bencana. Salah seorang dari mereka diserang, dan nyaris mati. Ia dapat kembali ke Flaming Cliffs dalam keadaan setengah hidup. Keadaan tampak buruk. Ada kabar dari orang tua bijak yang lewat dan mengaku sebagai ahli nujum.

"Karavan masih jauh," kata orang tua itu. "Rombongan unta itu sekarat. Tapi, Anda akan menerima berita dalam tiga hari."

Benar juga. Empat hari kemudian, salah seorang pencari itu menemukan karavan. Para penunggang unta itu tidak mampu menemukan makanan untuk unta di gurun pasir yang tandus. Mereka berusaha keras menemukan tempat merumput. 

Meskipun demikian, banyak unta mati. Ketika karavan akhirnya sampai di Flaming Cliffs, hanya 39 dari 75 ekor unta yang tetap hidup. Peristiwa itu merupakan kenangan yang suram tentang bahaya yang mereka semua hadapi.

Namun, dengan cadangan bahan bakar yang cukup di perkemahan, anggota tim tahu mereka dapat kembali ke peradaban. Jumlah fosil yang banyak dengan hati-hati dimasukkan ke punggung unta-unta yang tersisa. Berita tentang telur dinosaurus bakal mengguncang dunia.

Sekembali di Amerika, Andrews mendapat sambutan bak seorang pahlawan. Semua orang terjangkit demam dinosaurus. Ambisi Andrews pun berkembang. Ekspedisi Asia Tengah harus berlanjut untuk sepuluh tahun, bukan lima! Andrews mengawali tur penggalangan dana singkat yang meliputi 'pelelangan' salah satu fosil telur. Harganya US$ 5.000. Nilai yang amat tinggi saat itu.

Tapi, semua publisitas itu berpengaruh negatif juga. Pihak pemerintah Mongolia segera menyadari bahwa Andrews mengambil banyak barang berharga dari Gurun Pasir Gobi, sementara mereka hanya mendapatkan sedikit sebagai imbalan. Terbukti, untuk mendapatkan izin ekspedisinya berangsur-angsur semakin sulit.

Akan tetapi, pada awal 1925, Andrews kembali. la mendesak pihak pemerintah Mongolia untuk memberi izin, dan akhirnya mereka mengabulkannya. Namun, mulai saat itu, ia ditekan untuk meninggalkan temuan-temuannya di Mongolia, dan tidak mengirimkannya ke Amerika. Andrews adalah seorang patriot yang kuat dan sikap Mongolia membuatnya jengkel.

Pihak Mongolia bukanlah satu-satunya masalah pada musim itu. Badai pasir mengamuk, dan rombongan karavan kehilangan banyak unta. Bergerak dari Flaming Cliffs, wilayah bukit pasir, ngarai, dan batu cadas sering kali tidak mungkin dilalui truk.

Selanjutnya, mendekati akhir musim, ketika malam semakin dingin, rombongan perkemahan kedatangan tamu tak diundang. Andrews yang pertama mencium bahaya itu. Ular! Tiga ekor ular berbisa yang tertarik kehangatan di perkemahan melata ke arah tenda. Andrews memberi tanda bahaya—terlambat. Ular ada di mana-mana: di sekeliling tempat tidur, di sepatu mereka ...

Orang-orang menyerang kawanan ular tersebut dengan ganas, memakai perkakas, senjata, kapak, atau apa saja yang ada di tangan. Anehnya, tak seorang pun tergigit. Mereka membunuh 47 ular berbisa seluruhnya. Tapi, masalah belum berakhir. Para ilmuwan itu terpaksa membongkar tenda dan pindah. Musim dingin di gurun sekali lagi memaksa mereka kembali ke peradaban.

Meskipun ada masalah, Andrews membuktikan bahwa Gurun Pasir Gobi—seperti yang ia katakan—benar-benar "surga bagi para ahli paleontologi." Tapi, sekarang ia bukan satu-satunya orang yang menyadari hal itu, impiannya tentang penggalian sepuluh tahun mulai pudar. 

Baik Tiongkok maupun Mongolia tidak menyukai kegiatannya. Lagi pula, kondisi politik di Tiongkok dan Mongolia masih membara. Perang sipil meletus di Tiongkok, dan Andrews menyaksikan banyak pembunuhan yang mengerikan di Beijing dan di mana saja. la sendiri nyaris kena tembakan beberapa tentara Tiongkok yang bengis. Musim tahun 1926 harus ditinggalkan.

Andrews bersikeras untuk tidak menyerah. Ia berusaha melaksanakan ekspedisi lain tahun 1927. Segalanya tampak bersekongkol menentangnya: perang sipil Tiongkok, penguasa (seperti sebelumnya), jumlah bandit yang meningkat, dan cuaca yang ganas di Gurun Pasir Gobi yang merusak peralatan dan menyobek-nyobek tenda. Bekerja menemukan fosil dalam keadaan seperti itu hampir tidak mungkin.

Kemudian secara tidak sengaja Andrews menembak dirinya. Ia sedang berburu antelop, dan menyandang revolver di pinggulnya. Ia menekan pelatuk dan revolver meledak ke kaki kirinya. Peluru itu menyobek pahanya dan menembus di bawah lututnya. Untunglah, tim dokter bisa mengobati luka itu, tapi Andrews sembuh dalam keadaan payah. Badai gurun yang terus mengamuk, menyebabkan penderitaan yang amat sangat bagi setiap orang. "Sering kali aku harus membenamkan kepalaku ke dalam selimut agar tidak menjerit," tulisnya.

Berhadapan dengan kesulitan yang dahsyat itu, tidak ada lagi perjalanan selama tiga tahun. Pada 1930, Andrews kembali memimpin Ekspedisi Asia Tengah ke gurun pasir. Sekali lagi, meskipun ada bahaya, ada temuan yang luar biasa. Salah satunya adalah makhluk seperti gajah raksasa dengan gigi-gigi seperti sekop, rata dan luar biasa besar di ujung belalainya. 

Para ilmuwan menamakannya Platybelodon (yang berarti: gajah berbelalai sekop) dan mereka gembira mendapati si induk dan bayi berbaring berdekatan.

Namun, jelas sudah bahwa hari-hari ekspedisi akan berakhir. Perlawanan dari penguasa Tiongkok semakin besar. Andrews dipaksa meninggalkan Tiongkok untuk terakhir kali tahun 1932. Ia kembali ke Amerika, di mana reputasinya yang bersinar menjamin kariernya yang cerah sebagai pembicara, penulis, dan akhirnya direktur American Museum of Natural History.

 

Kemudian

Ekspedisi-ekspedisi tersebut tak pernah menemukan 'Mata Rantai yang Hilang'. Teori Osborn salah—atau masih tetap harus dibuktikan. Tapi, penemuan dinosaurus itu adalah temuan yang terbesar yang pernah dilakukan.

Penemuan selanjutnya menunjukkan bahwa telur dinosaurus itu bukanlah milik Protoceratops, seperti yang diperkirakan Andrews dan timnya. Telur itu milik Oviraptor philoceratops, dinosaurus yang mereka temukan 'sedang mencari' sarang. Jadi Oviraptor bukan dalam rangka mencuri telur, tapi mengeraminya.

Tidak seluruhnya benar juga bahwa telur-telur itu merupakan telur dinosaurus pertama yang pernah ditemukan. Tahun 1859, sekumpulan telur ditemukan di French Pyrenees. Sebuah makalah memaparkan hal itu, tapi saat itu tidak dipedulikan.

Berkat film layar lebar seperti Jurassic Park, hampir semua orang mengetahui sebagian dinosaurus yang ditemukan Andrews. Yang paling terkenal adalah Velociraptor ('pencuri lihai'), karnivora ganas yang digambarkan dalam film memiliki gigi setajam pisau dan naluri berburu yang mematikan.

Lalu, bagaimana dengan Indiana Jones? Banyak yang membandingkan Roy Chapman Andrews dengan pahlawan dalam film petualangan fiksi itu, dan menganggap dialah sosok yang asli. 

Pencipta Indiana Jones, George Lucas, selalu menyangkalnya. Tapi, tidak ada keraguan bahwa Andrews memikat imajinasi seluruh generasi Amerika sebagai penjelajah yang berani dan tak kenal takut menghadapi rintangan. Tak seorang pun yang mirip dirinya, sebelum atau sesudahnya; jadi dapat dibayangkan bagaimana ia memengaruhi seorang penulis, mungkin secara tidak sadar.

Roy Chapman Andrews meninggal 11 Maret 1960 pada usia 76 tahun.

(Gill Harvey)

 

" ["url"]=> string(63) "https://plus.intisari.grid.id/read/553258528/indiana-jones-asli" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1651177097000) } } }