array(3) {
  [0]=>
  object(stdClass)#57 (6) {
    ["_index"]=>
    string(7) "article"
    ["_type"]=>
    string(4) "data"
    ["_id"]=>
    string(7) "3309837"
    ["_score"]=>
    NULL
    ["_source"]=>
    object(stdClass)#58 (9) {
      ["thumb_url"]=>
      string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2022/06/03/mayat-penerbang-yang-tak-membusu-20220603064827.jpg"
      ["author"]=>
      array(1) {
        [0]=>
        object(stdClass)#59 (7) {
          ["twitter"]=>
          string(0) ""
          ["profile"]=>
          string(0) ""
          ["facebook"]=>
          string(0) ""
          ["name"]=>
          string(13) "Intisari Plus"
          ["photo"]=>
          string(0) ""
          ["id"]=>
          int(9347)
          ["email"]=>
          string(22) "plusintisari@gmail.com"
        }
      }
      ["description"]=>
      string(138) "Bill Lancaster terbang di atas Sahara, namun ia dan pesawatnya tidak pernah kembali. Apa yang terjadi dengannya? Apa penyebab kematiannya?"
      ["section"]=>
      object(stdClass)#60 (7) {
        ["parent"]=>
        NULL
        ["name"]=>
        string(7) "Histori"
        ["description"]=>
        string(0) ""
        ["alias"]=>
        string(7) "history"
        ["id"]=>
        int(1367)
        ["keyword"]=>
        string(0) ""
        ["title"]=>
        string(23) "Intisari Plus - Histori"
      }
      ["photo_url"]=>
      string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2022/06/03/mayat-penerbang-yang-tak-membusu-20220603064827.jpg"
      ["title"]=>
      string(33) "Mayat Penerbang yang Tak Membusuk"
      ["published_date"]=>
      string(19) "2022-06-03 18:49:08"
      ["content"]=>
      string(25298) "

Intisari Plus - Bill Lancaster terbang di atas Sahara, namun ia dan pesawatnya tidak pernah kembali. Apa yang terjadi dengannya? Apa penyebab kematiannya? Jawabannya baru diketahui setelah 29 tahun kemudian.

-------------------------

Jika manusia terkubur di padang pasir Sahara, tubuhnya tidak membusuk. Namun, seperti yang diketahui orang Mesir kuno dengan baik, panas yang kering dan terus-menerus akan menarik seluruh udara lembap dengan cepat, dan kulit manusia menjadi rapuh. Tubuh menjadi mumi.

Tahun 1962, sebuah patroli angkatan udara Prancis mengarungi salah satu bagian terjauh Sahara, di selatan kota Reggan di Aljazair. Tempat itu sedemikian jauhnya bahkan suku nomad gurun jarang mengunjunginya, dan tempat itu disebut Tanezrouft—"tanah dahaga". Maka, sangat mengejutkan ketika seseorang tiba-tiba menemukan kilatan sinar matahari pada logam, mengarah ke atas.

"Apa itu?" para pria memanggil satu sama lain. Mereka mendekat.

"Seperti pesawat!" 

Benar, sebuah pesawat, terbalik di padang pasir, benar-benar remuk. Di bawah salah satu sayapnya, terbaring tubuh sang pilot yang mengering menjadi mumi. Pilot itu, namanya Kapten Bill Lancaster, tergeletak di sana. Ia telah hilang selama 29 tahun.

Dengan hati-hati, patroli Prancis itu memeriksa reruntuhan pesawat. Jenis Avro Avian, pesawat biplane berkursi tunggal, dari jenis yang dipakai para peminat penerbangan tahun 1930-an. 

Dokumen pesawat, buku harian, paspor Lancaster, dan dompet terikat pada sebuah topangan sayap. semuanya terbungkus rapi dalam bahan pelindungnya. Di dekatnya terdapat sebuah kartu bahan bakar Shell dengan sebuah pesan akhir:

"Demikianlah awal hari kedelapan telah mulai. Cuaca masih dingin. Aku tidak punya air ... Aku menunggu dengan sabar. Cepatlah datang. Demam semalam meruntuhkanku ..."

Pada bagian pembukaan buku harian yang rapuh itu, patroli menemukan 41 halaman terakhir yang merinci penerbangan sang pilot, tabrakannya, dan delapan hari mengerikan yang ia lewati dengan harapan untuk diselamatkan, tapi malah mati perlahan-lahan karena kehausan. 

Keberaniannya menghadapi kematian menakjubkan—dan mengungkapkan banyak hal tentang seorang pria, yang 12 bulan sebelumnya dituduh melakukan pembunuhan.

Kapten Bill Lancaster menempuh kehidupan yang menggairahkan. Ia dilahirkan di Inggris, 1898, pindah ke Australia saat remaja. Selama Perang Dunia I ia berlatih menjadi pilot dan bergabung dengan Angkatan Udara Kerajaan Inggris seusai perang. 

Tahun 1927, Angkatan Udara tidak lagi membutuhkannya, dan ia tak tahu apa yang akan dikerjakan. la tidak mau berhenti terbang; maka sewaktu ia berniat menjadi orang pertama yang terbang dari Inggris ke Australia, gagasan itu tampak menjadi cara yang sempurna untuk mengukir namanya sendiri sebagai pilot.

Tak lama, situasi berjalan sesuai dengan rencana. Ia ditawari sebuah pesawat Avro Avian dengan harga khusus, dan Shell menawarkan untuk membiayai bahan bakarnya. 

Ketika ia berjumpa wanita Australia yang ingin menjadi wanita pertama yang melakukan penerbangan juga—dan menawarkan mencari setengah dana—gagasan itu tiba-tiba menjadi kenyataan. Nama wanita itu Jessie Miller. Teman-temannya memanggilnya: "Chubbie".

Kedua orang itu itu berangkat 4 Oktober 1927 dari Airport Croydon dekat London. Penerbangan itu menjadi petualangan yang berlangsung lima bulan, karena mereka berjuang melawan cuaca buruk, kerusakan mesin, dan pendaratan darurat di Sumatra, Indonesia. 

Ketika mereka akhirnya tiba di Australia, ratusan orang di sana menyambutnya. Namun, hanya Chubbie yang menggapai cita-citanya. Dialah wanita pertama yang melakukan penerbangan— Bill bukanlah pria pertama. Penerbangan mereka berlangsung sangat lama sehingga pilot lain, Bert Hinkler, mengambil-alih perjalanan mereka.

Selama petualangan, Bill Lancaster dan Chubbie Miller saling jatuh cinta, meskipun keduanya sebelumnya telah menikah. Hubungan asmara itu berakibat menyedihkan. 

Chubbie membangun ketenarannya dengan mendapatkan lisensi pilotnya sendiri dan mengikuti berbagai kompetisi penerbangan. Chubbie dan Bill berangkat ke Amerika, di sanalah Chubbie menjadi terkenal di kalangan penerbangan. 

Kemudian, Chubbie berpikir untuk menulis buku tentang petualangannya dan mencari seorang penulis untuk membantunya. Ia menemukan Haden Clarke, pria muda tampan, yang hidup bersama dengan Chubbie dan Bill di rumah mereka di Miami untuk mengerjakan buku bersama Chubbie.

Bagi Bill, hal-hal tidak berjalan semestinya. Ia terus mengalami kesulitan mendapat pekerjaan. Pada 1932, ia mendapat pekerjaan penerbangkan sebuah pesawat di Meksiko. Karena tak ada pilihan, ia pun berangkat ke Meksiko meninggalkan Chubbie dan Haden berdua di rumah Miami.

Chubbie ditinggalkan dengan sedikit uang dan tak lama ia pun putus asa dan jemu. Terperangkap di rumah bersama Haden, penulis yang menarik itu memikat hatinya, bahkan Chubbie setuju menikahinya. Kedua pasangan itu menulis surat kepada Bill, memberitakan kabar itu. Bill pun segera terbang kembali dari Meksiko ke rumah. la linglung. Ia mengagumi Chubbie dan tak dapat mempercayai bahwa begitu mudah Chubbie mengkhianatinya.

Dengan tinggal bertiga di rumah di Miami, hampir tidak mengherankan bila permasalahan mencapai klimaks yang dramatis. Pada malam 20 April 1932, kepala Haden Clarke ditembus peluru yang membawanya pada kematian saat di rumah sakit. 

Ada dua catatan Haden, yang memberi kesan bahwa dia melakukan usaha bunuh diri. Akan tetapi, tidak membutuhkan waktu lama bagi polisi untuk tahu bahwa catatan itu palsu. Bill-lah yang menulis catatan itu. Sepekan setelah kematian Clarke, Bill Lancaster ditahan karena tuduhan pembunuhan.

Pengadilan atas dirinya merupakan sebuah sensasi besar. Setiap orang yakin, Bill pasti bersalah. Haden Clarke adalah saingannya—Bill punya alasan jelas dan terbuka kesempatan untuk membunuhnya. 

Akan tetapi, Bill membantah. la bersikeras bahwa dirinya tidak bersalah. Selama persidangan, tampak bahwa Bill mengatakan yang sebenarnya. Jelas, Bill adalah pria jujur dan sopan, sementara bukti tentang Haden Clarke menunjukkan bahwa ia seorang peminum berat alkohol dan tidak stabil. Bahkan sebelumnya Clarke mengancam untuk bunuh diri.

Hari keputusan benar-benar menggelisahkan Bill. Seluruh hidupnya tergantung pada saat itu ... Sewaktu ketua dewan juri mengucapkan "Tak bersalah," ruang pengadilan meledak dengan tepukan orang-orang yang mengikuti persidangan.

Toh, sesungguhnya, hidup Bill hancur lebur. Mencari pekerjaan cukuplah sulit, karena tak seorang pun mau berurusan dengannya setelah pengadilan itu, tak peduli juri menyatakan ia tak bersalah. Apa yang dapat ia lakukan? la dan Chubbie berangkat ke Inggris, yang jauh dari ingar-bingar publisitas yang buruk. Di sana, Lancaster merencanakan masa depannya.

la tak punya uang. Karir penerbangannya tercabik-cabik. Satu satunya ide adalah membuat rekor terbang lain, yang mungkin akan mengembalikan reputasinya di dunia penerbangan. Mengetahui putranya putus asa, ayah Bill sepakat membiayai perjalanan itu. 

Bill memutuskan membuat rekor terbang Inggris-Cape Town, Afrika Selatan, yang baru saja dipecahkan oleh pilot Inggris Amy Johnson. Ia mencatat waktu empat hari, enam jam, dan 54 menit. Tantangan itu berat, dan sejak awal Lancaster tidak benar-benar menyadarinya secara saksama.

la memilih pesawat Avro Avian lainnya, kali ini yang berkursi tunggal yang dinamakan Avian Mk. V Southern Cross Minor. Ia amat suka menerbangkan Avian, setelah menerbangkan pesawat jenis itu ke Australia. Akan tetapi tetap saja pilihan itu sedikit ceroboh. 

Amy Johnson melakukan penerbangannya dengan De Havilland Puss Moth, yang memiliki kecepatan jelajah 37 kph (20 mph), yang lebih cepat dari Avian. Untuk mengalahkan rekor Johnson, Lancaster harus melakukan penerbangan hampir nonstop—sebuah prestasi fisik atas ketahanan yang akan menguji pria terkuat.

Namun, Lancaster tidak lagi kuat, baik mental maupun fisik. Ia telah kelelahan karena pengadilan tahun sebelumnya. Segala sesuatu yang ia katakan sebelum terbang menunjukkan bahwa ia melakukan penerbangan itu dalam keadaan tidak sehat.

"Saya ingin tekankan bahwa saya mengusahakan penerbangan ini dengan menanggung risiko sendiri," katanya kepada seorang wartawan."Saya tidak berharap ada usaha untuk mencari jika saya dikabarkan hilang." Kata-kata itu hampir tidak optimistik bahkan mungkin amat tragis ...

Suatu pagi, 11 April 1933, Chubbie dan orangtua Bill datang melihatnya lepas landas dari Lympne Aero drome, dekat pantai Kent Selatan.

"Selamat tinggal, sayang," kata sang ibu, yang membekalinya sedikit roti isi daging ayam dan sepotong coklat. Bill memeluk mereka erat-erat, sebelum kemudian memanjat kokpit. Ia menyalakan mesin. Saat itu pukul 5:38 pagi.

Perhentiannya yang pertama diperkirakan di Oran, Aljazair—lompatan yang besar dari Inggris sejauh 1.770 km. Akan tetapi, sejak keberangkatan, ia mengalami kemalangan. Arah angin berlawanan dengannya, dan ia harus mendarat di Barcelona di Spanyol untuk mengisi bahan bakar. 

Saat berjuang mencapai Oran, urat sarafnya tegang, la sudah terlambat. Petugas di Oran tampak prihatin melihatnya. Bill gugup dan mudah tersinggung, dan tentu saja bukan dalam kondisi bagus untuk menyeberangi gurun pasir yang tandus.

"Tuan, menurut kami, sebaiknya Anda mempertimbangkan kembali," kata seorang petugas. "Anda perlu beristirahat." 

"Istirahat!" teriak Bill. "Saya sudah terlambat. Tidak bisa beristirahat. Kalian semua hanya memperlambat saya." 

"Itu untuk kepentingan Anda, Tuan," sahut petugas dengan sabar. "Menyeberangi gurun pasir adalah melelahkan Dan saya ingin mengingatkan Anda bahwa kami memerlukan deposit £100 untuk biaya pencarian, seandainya kami mencari Anda."

"Saya sudah membayar deposit!" Bill membentak. Memang benar, ia telah membayar biaya itu di London. 

"Saya khawatir kami tidak memiliki catatannya," kata petugas itu. "Anda harus membayarnya lagi."

Bill kesal. "Well, saya tidak punya £100!" bantahnya "Saya akan menanggung risiko. Dan saya tidak berharap Anda mencari saya."

Dengan kata-kata itu, ia kembali memanjat kokpitnya dan mengarah keluar ke landas pacu. Para petugas menggelengkan kepala. Saat itu pukul tiga pagi. Bill berada di udara selama hampir 24 jam.

Jangkauan perjalanan berikut membawa Bill melewati Pegunungan Atlas dan menyeberangi rentangan pertama gurun pasir. Ia terbang terus sepanjang malam, memeriksa kompasnya dengan lampu senter.

Saat fajar menyingsing, ia memandang ke bawah dari kokpitnya dengan gelisah, ia berusaha melihat jalur trans-Sahara yang mengarah ke kota Reggan, tujuan berikutnya sesuai jadwal. 

la merasa lega, tampak olehnya bentangan ke arah selatan melewati belantara tandus. Ia memutuskan berhenti di Adrar, 160 km di utara Reggan, kemudian melampaui Reggan dalam waktu yang sama dan meninggalkan gurun pasir itu dengan satu penerbangan yang besar.

Akan tetapi, kelelahan Bill mengalahkan semangatnya. Ia tinggal landas dari Adrar sekitar pukul setengah sepuluh pagi hari, dan segera kehilangan arah. Di bawahnya, badai gurun yang meraung-raung menutupi jalur menuju selatan. Sebagai gantinya, ia menuju timur. 

Penerbangan ini membawa petaka. la terbang selama lebih dari satu setengah jam sebelum menyadari apa yang ia kerjakan. Kemudian, ia mendarat di sebuah tempat kecil bernama Aoulef untuk memeriksa dengan saksama keberadaannya. 

Akhirnya, ia ke selatan menuju Reggan—tapi ia telah kehilangan berjam-jam waktu berharganya dan kehabisan bahan bakar. Bagaimana pun ia seharusnya mendarat di Reggan.

Sadarkah Bill Lancaster bahwa penghentian itu merupakan kontak terakhirnya dengan dunia? Kelihatannya seakan-akan ia berharap mati. la mendarat di Reggan dan keluar dari kokpit. la tidak makan dan tidur selama 30 jam, dan kondisinya menakutkan petugas.

"Lihat dia! Ia bahkan hampir tak bisa berjalan," seseorang berujar sewaktu Bill terseok-seok menghampiri mereka.

"Kita tidak bisa membiarkannya terus," yang lain setuju. "Ia membahayakan dirinya sendiri."

Para petugas, seperti juga yang ada di Oran, berusaha keras untuk menghentikan agar ia tak melanjutkan penerbangan. Akan tetapi, Bill tetap nekat seperti sebelumnya. Mengulurkan tangan dari wajahnya yang kelelahan, ia amat yakin dengan tujuannya.

"Aku terus," katanya kepada para petugas. "Cuma inilah kesempatanku. Satu-satunya kesempatanku, kau dengar? Aku tidak akan gagal. Aku tidak boleh gagal." 

Terkesan dengan keberaniannya, seorang petugas berusaha memengaruhinya dengan lebih halus. "Akan tetapi, Anda sudah terlambat 10 jam dari jadwal," katanya. "Anda letih. Tidaklah memalukan bila Anda menyerah sekarang. Lebih baik daripada tewas di gurun pasir."

Akan tetapi, pancaran mata Bill menunjukkan bahwa kegagalan adalah ketakutannya yang terbesar. 

Orang itu menghela napas dan berkata. "Saya tak dapat menghentikan perjalanan Anda," ia mengakui."Dan tentu saja, kami tak bisa mengabaikan bila Anda tidak sampai. Jika tidak ada kabar apa pun sampai pukul enam besok, saya akan mengirimkan mobil untuk menelusuri jalur ke Gau. Jika Anda dapat membakar sesuatu untuk membuat api unggun, kami pasti menemukan Anda."

Maka jam delapan petang itu Bill sekali lagi perlahan-lahan naik ke kokpit. Para petugas memandangnya dengan berat hati sewaktu pesawat bergerak zigzag dan terhuyung-huyung di landas pacu. Jelas Lancaster hanya dapat berkonsentrasi pada kontrol. Akan tetapi, pesawat melesat ke langit.

Selagi mereka menonton, Avian berbelok cukup halus dan mulai terbang ke selatan. Bill terbang lagi—tapi kesempatan hidupnya tampak tipis ... Di atas Sahara, Bill tahu gurun pasir berjarak 800 km di depannya. 

Jika ia betul-betul bisa terjaga dan terus ke jalur trans-Sahara, semua akan berjalan baik. Ia memandang dengan penuh konsentrasi ke kontrol kokpitnya sewaktu mesin terbatuk. Jantung Lancaster mulai berdebar. Ia memeriksa semua kontrolnya, tapi tak menemukan kesalahan apa pun. Kemudian, mesin terbatuk lagi—dan lagi ...

Pesawat mulai turun. Bill berusaha mengutak-atik kontrol, tapi tak ada yang bisa ia lakukan. Ia turun ke bawah. Saat itu gelap dan ia tak bisa menebak jaraknya dengan bumi. Ia berusaha menebak, tapi tak ada harapan.

Ada bunyi derak yang menyakitkan sewaktu pesawat menabrak pasir gurun dan terbalik. Bill tidak ingat lagi. Semuanya tampak gelap ...

Ketika sadar, Bill tidak dapat melihat apa-apa. Ia bertanya-tanya di mana ia berada dan apa yang telah terjadi.

Apakah ia sudah buta? la tampak terbalik, dan udara penuh bau asap. la meletakkan tangan ke kedua matanya, dan sadar matanya tersumbat darah beku. Ia menggosok matanya hingga terbuka.

Sekarang, ia dapat meraba-raba keadaannya. Ia benar-benar terbalik di dalam kokpit sempit, yang tersembur darah. la membelai wajahnya dengan hati-hati. Ada luka yang dalam di dahi dan hidungnya, tapi setidaknya darah sudah berhenti mengalir. Berapa lama ia tak sadar, ia tak tahu, tapi ia yakın telah kehilangan banyak darah. Ia merasa lemah dan pusing, Ia berusaha sekuat tenaga mengangkat badannya keluar kokpit

"Aku baru saja bebas dari kematian yang paling mengerikan," ia menulis di buku hariannya. Tampaknya ia tidak memperkirakan sesuatu yang bahkan lebih tidak menyenangkan terbentang di hadapan. 

Ia memeriksa persediaannya. Menyedihkan. Ia punya dua galon air dan jatah makan siang dari ibunya. Namun, Bill bersikeras untuk optimistis. la mendapati airnya cukup untuk persediaan selama tujuh hari. Saat itu, ia yakin akan diselamatkan.

Penantian yang panjang pun dimulai. Setiap hari Lancaster meneguk jatah airnya dan menggoreskan pikirannya di buku harian. Pada malam pertama ia membuat api dari reruntuhan pesawat, merendam potongan-potongan dalam bahan bakar dan menyalakannya. Ia terus menyalakan api sepanjang malam, menyalakan api setiap sekitar duapuluh menit. Meskipun api menyala terang, tak seorang pun melihatnya.

Di hari-hari berikutnya, ia berpikir kemungkinan berjalan kaki mencari bantuan, tapi ia sadar mungkin akan mati lebih cepat bila melakukan itu. Dari udara, sosok orang yang berjalan di gurun pasir hampir tidak kelihatan, setidaknya jika para penyelamat terbang di atasnya, mereka akan menemukan pesawat itu. "Aku harus tetap di dekat pesawat," tulisnya.

Tempat tabrakan itu mengerikan, tepat di jantung Sahara. Bukit pasir membentang di seluruh penjuru. Panas siang hari membakar dan Lancaster hanya memakai pakaian dalamnya karena ia berusaha menghemat energinya di tempat teduh. 

Namun, malam hari dingin menusuk, dan ia mengenakan apa saja agar tubuhnya hangat. "Aku sungguh-sungguh menebus dosa atas segala kesalahan yang kuperbuat di bumi ini. Aku tak ingin mati. Aku benar-benar ingin hidup," tulisnya.

Tanda-tanda kehidupan sama sekali sedikit. Sesekali ia melihat burung hering berputar-putar di atasnya, tidak ragu berharap mendapat makanan. Ia juga melihat seekor burung coklat kecil di dekatnya, dan menduga-duga apakah letak oasis jauh. Akan tetapi, ia menahan diri dan tetap tinggal di bawah sayap pesawat.

Namun, pada akhir hari keempat, harapannya untuk diselamatkan mulai pudar. "Jangan berduka," ia menulis kepada orangtuanya dan Chubbie. "Aku hanya menyalahkan diriku sendiri atas segalanya." Akan tetapi, setelah menggoreskan tulisan itu, jantungnya tiba-tiba berdegup dengan harapan. Di sana, dalam kegelapan, ada api pesawat. Gemetar karena sukacita, Bill menyalakan api untuknya. "Menurutku aku ditemukan," tulisnya dalam buku harian. "Aku percaya itu."

Dengan rasa lega dan girang, Lancaster meneguk dua jatah air. Bagaimanapun ia tak akan mati! Hari berikutnya, ia memandangi kaki langit dengan penuh harap. Sekarang, tak lama lagi, ia bergumam pada dirinya. Sekarang, tak lama lagi ...

Akan tetapi, tetap tak ada yang muncul. Harapannya sirna lagi, dan ia menderita karena dahaga. "Seandainya aku tidak minum cadangan air itu," ia menulis penuh sesal. "Oh, air, air." Rasa dahaga yang luar biasa membuatnya gila. 

Meskipun mengalami segala yang mengerikan, ia menjaga martabatnya. Dalam keadaan putus asa, ia mulai memikirkan mati. "Mohon, Tuhan, aku mati sebagai seorang ksatria," tulisnya. Dan tampak pasti ia seakan-akan melakukan itu.

Pada hari ketujuh, ia menyadari nyawanya tinggal beberapa jam lagi. Dengan kekuatan terakhirnya, ia menulis pesan kepada setiap anggota keluarganya, meyakinkan cintanya kepada mereka. "Ketabahan adalah harapan terakhirku. Sekarang aku sedang mengikatkan buku harian ini dengan kain ..."

Dengan seluruh dokumen terikat pesawat, Bill menanti datangnya ajal. Ajal pasti datang sedikit lebih lama dari yang ia duga, karena ia mendapat tenaga untuk menulis pesan terakhirnya pada kartu bahan bakar Shell: "Tak ada yang disalahkan ... Selamat tinggal, Ayah, lelaki tua ... dan selamat tinggal semua kekasihku. Bill."

Sewaktu Bill terbaring sekarat, pencarian atas dirinya masih berlangsung. Para petugas Prancis di Reggan telah mengirim mobil pencari yang telah mereka janjikan; tapi karena pesawat kandas 60 km dari jalan, kesempatan untuk menemukannya kecil. Pencarian dari udara berlangsung lebih jauh ke selatan, tak seorang pun menduga ia kandas tak begitu lama setelah lepas landas, bahkan pada kondisinya yang melelahkan. Tiba-tiba pencarian dihentikan.

Mereka yang ditinggalkan harus menghadapi sebuah pertanyaan yang terasa sebagai azab. Apakah Bill ingin mati? Hidupnya jelas telah menyingkirkannya ke tepian. Seiring dengan bergantinya tahun, mereka harus menerima bahwa mereka tak akan pernah tahu. Dua puluh sembilan tahun adalah jangka waktu yang sangat lama untuk penantian.

 

Kemudian

Chubbie Miller menerima kematian Bill dan menikahi seorang pilot Inggris tahun 1936. Ia masih hidup saat patroli Prancis akhirnya menemukan Avro Avian tahun 1962. Mereka menyerahkan buku harian Bill dan dokumen lain padanya.

Tubuh Bill Lancaster yang termumikan dimakamkan di Reggan oleh patroli Prancis.

Tahun 1975, sebuah tim asal Australia bertolak untuk menyelamatkan sisa-sisa Avian. Mereka mengangkut pesawat itu kembali ke Australia yang sekarang dapat dilihat di Queensland Air Museum.

" ["url"]=> string(78) "https://plus.intisari.grid.id/read/553309837/mayat-penerbang-yang-tak-membusuk" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1654282148000) } } [1]=> object(stdClass)#61 (6) { ["_index"]=> string(7) "article" ["_type"]=> string(4) "data" ["_id"]=> string(7) "3309755" ["_score"]=> NULL ["_source"]=> object(stdClass)#62 (9) { ["thumb_url"]=> string(105) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2022/06/03/jalan-menuju-timbuktujpg-20220603064340.jpg" ["author"]=> array(1) { [0]=> object(stdClass)#63 (7) { ["twitter"]=> string(0) "" ["profile"]=> string(0) "" ["facebook"]=> string(0) "" ["name"]=> string(13) "Intisari Plus" ["photo"]=> string(0) "" ["id"]=> int(9347) ["email"]=> string(22) "plusintisari@gmail.com" } } ["description"]=> string(113) "Ibnu Battuta telah mengarungi hampir seluruh dunia, kecuali Sahara, yang kemudian menjadi perjalanan terakhirnya." ["section"]=> object(stdClass)#64 (7) { ["parent"]=> NULL ["name"]=> string(7) "Histori" ["description"]=> string(0) "" ["alias"]=> string(7) "history" ["id"]=> int(1367) ["keyword"]=> string(0) "" ["title"]=> string(23) "Intisari Plus - Histori" } ["photo_url"]=> string(105) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2022/06/03/jalan-menuju-timbuktujpg-20220603064340.jpg" ["title"]=> string(21) "Jalan Menuju Timbuktu" ["published_date"]=> string(19) "2022-06-03 18:44:21" ["content"]=> string(13958) "

Intisari Plus - Ibnu Battuta telah mengarungi hampir seluruh dunia, kecuali Sahara, yang kemudian menjadi salah satu obsesinya. Dalam perjalanan terakhirnya ia banyak menghadapi rintangan alam yang tidak mudah. Apakah ia mencapai tujuannya?

-------------------------

"Pelancong terbesar di dunia!" Setidaknya itulah gambaran yang diberikan pada Abu'Abdallah Ibnu Battuta oleh para sejarawan. Pada abad ke-14, tidak banyak pria mau menyeberangi Gurun Sahara—katakanlah pada usia 49. Akan tetapi, bagi Ibnu Battuta, inilah tantangan terakhirnya sebelum hidup tenang dan layak di kampung halamannya, di Maroko.

Ibnu Battuta lahir di Tangiers, di pantai utara Maroko, tahun 1304. Ketika berumur 21, ia berziarah ke kota suci Mekah di Saudi Arabia. Perjalanan itu disebut pergi haji dan semua Muslim diwajibkan melakukan perjalanan ke sana—sekurangnya sekali seumur hidup, jika mampu. 

Sedikit yang diketahui Ibnu Battuta ke mana perjalanan itu akan membawanya: sepanjang pantai Afrika Timur hingga Mesir, Palestina, dan Suriah, bahkan sebelum ia pergi ke Mekah ... kemudian sebelum kembali ke rumah, ia mampir ke Irak, Iran, pantai timur Afrika, Oman, dan Teluk Persia, Asia Kecil (sekarang Turki), Laut Hitam, Konstantinopel, dan akhirnya India melalui Afganistan. 

Dari sana, ia mengunjungi Kepulauan Maladewa dan dilanjutkan ke timur menuju Tiongkok dan Indonesia. Sewaktu ia akhirnya kembali ke Moroko, telah menjelajah selama 24 tahun.

Bahkan dengan standar modern, Anda menganggap rentetan perjalanan itu bagi siapa saja sudah cukup. Namun, ada satu tempat yang masih ingin dikunjungi Ibnu Battuta, yaitu Mali, di selatan Gurun Pasir Sahara yang luas. 

Ia mendengar bahwa negara itu amat kaya, salah satu sumber emas terbesar dunia. Ia tak tahan untuk melanjutkan sebuah perjalanan terakhir; maka musim gugur tahun 1351, ia berangkat dari kota Fez menuju selatan.

Menyeberangi Sahara yang luas tak pernah mudah. Pada abad ke-14, banyak rute dagang yang telah dibangun untuk menyeberangi gurun, yang berarti jalur tersebut relatif sibuk. Karavan yang besar lebih suka melakukan perjalanan pada awal-awal tahun ketika gurun tidak panas mencekik. 

Setelah menyeberangi Pegunungan Atlas, Ibnu Battuta menetap untuk menunggu di sebuah kota bernama Sijilmasa. Kota itu berada di tepi gurun—tempat yang ideal untuk membeli unta dan mempersiapkan perjalanan besar lebih awal.

Meskipun seorang petualang, Ibnu Battuta tidak punya rencana untuk sebuah perjalanan heroik sendirian. Bila ia akhirnya bertolak menyeberangi gurun pasir, ia ditemani banyak orang. Selain unta-untanya sendiri, terdapat karavan pedagang yang lengkap dari Sijilmasa. Mereka semua dipandu seorang anggota suku Berber yang nomadik, yang mengenal gurun pasir dengan baik.

Karavan melaju perlahan-lahan, berangkat di pagi hari, dan beristirahat pada terik siang; kemudian berangkat lagi saat petang. Butuh waktu 25 hari untuk mencapai pemukiman pertama, sebuah tempat yang aneh dan sunyi bernama Taghaza. Di situ tak ada yang tumbuh—kota itu hidup hanya karena ada tambang garamnya. 

Ibnu Battuta membencinya. "Tak ada yang baik dengan desa ini," tulisnya. "Inilah tempat yang paling kotor, bau, dan kusam." Penduduk Taghaza hidup miskin, mengangkut blok-blok garam yang besar dari pertambangan untuk diangkut unta ke selatan. 

Mereka bergantung pada pedagang untuk membawakan makanan pada mereka karena tanah mereka sangat tandus. Namun, tempat itu menarik. Terdapat begitu banyak garam sehingga penduduk membangun rumah mereka dari garam. 

Ibnu Battuta tinggal di sebuah rumah yang dindingnya terbuat dari garam, dan atapnya dari kulit unta, dan ia sembahyang di sebuah masjid yang terbuat dari bahan yang sama. Ia juga memperhatikan banyak perputaran uang di sana. Sejumlah besar emas bertukar tangan untuk ditukar dengan garam.

Ia merasa sangat lega sewaktu meninggalkan Taghaza, ia tahu bagian terberat perjalanan ada di hadapannya—800 km pasir, dengan hanya satu mata air. Akan tetapi, Ibnu Battuta beruntung. Hujan turun di gurun pasir pada musim dingin itu, dan karavan menemukan kolam air sepanjang jalan, terperangkap di batu cadas. 

Penemuan itu membuat perjalanan yang berbahaya jadi jauh lebih mudah. Namun demikian, mereka kehilangan salah satu teman mereka. Setelah beradu mulut dengan anggota karavan lain, pria bernama Ibnu Ziri itu tertinggal di belakang. Ia tak pernah ditemukan—dan tak seorang pun pernah melihatnya lagi.

Ibnu Battuta sendiri mencapai mata air tersebut dengan selamat, tapi ia mengkhawatirkan sisa perjalanannya. Mereka baru setengah jalan menyeberangi padang pasir, dan gurun pasir, yang menurutnya penuh dengan bahaya yang mengerikan.

la khawatir pemandu mereka akan tersesat dan mereka akan kehabisan air atau tertangkap oleh "makhluk halus" yang tinggal di padang tandus. Ia tidak merasa senang. Akan tetapi, ia tak perlu khawatir. Setelah perjalanan selama sekitar 10 hari, karavan memasuki Walata—sekarang dikenal sebagai negara Mauritania, yang saat itu menjadi kota provinsi kesultanan Mali. Ibnu Battuta telah selamat menyelesaikan perjalanan lain lagi.

Ibnu Battuta kesal setelah seumur hidup melakukan perjalanannya, karena ia mengeluhkan banyak pengalamannya di Mali. Tentu saja ia tidak mendapatkan kekayaan Mali yang luar biasa seperti yang mungkin ia harapkan. Ia sakit amat parah selama dua bulan masa tinggalnya—ia makan sedikit ubi rambat yang tidak matang dan nyaris mati. 

Kejadian itu tidak memberi banyak kesan kepadanya. Ia benar-benar terkejut dengan sambutan yang diterimanya. Sebagai veteran petualang, ia memandang dirinya tokoh diplomatik penting dan berharap raja menyambutnya dengan pemberian yang berlebih. Sultan Mali hanya memberinya makanan yang terdiri dari roti, daging, dan yogurt.

Ibnu Battuta sangat tersinggung. "Apa yang akan saya katakan pada sultan lain tentang Anda?" tanyanya. 

Setelah itu, sang sultan lebih bermurah hati dan memberinya sebuah rumah dan kemudian—sewaktu ia pergi—hadiah emas.

Ibnu Battuta tertarik pada adat-istiadat Mali tapi terkejut dengan kebanyakan adat itu. Mali adalah negara Muslim, tapi adat-istiadatnya tidak sesuai dengan ajaran perilaku seharusnya seorang Muslim. Di Walata, ia tercengang mengetahui bahwa pria dan wanita kerap kali berteman dan dapat saling bertemu secara terbuka dan kebetulan untuk mengobrol dan bersenang-senang. 

Ibnu Battuta terbiasa dengan pemisahan jenis kelamin secara ketat. Selanjutnya, di ibukota Mali, ia merasa jijik melihat budak perempuan dibolehkan berkeliaran tanpa pakaian, dan ia pun tidak menyukai para penyair kerajaan yang pakaiannya berbulu dan flamboyan dan bertopeng.

Akan tetapi, tidak semuanya buruk. Ia terpikat menonton pesta sultan yang mewah, dan terkesan pada betapa ketatnya anak-anak diajarkan Alquran. Ia menjelajahi banyak negeri itu dan mengunjungi kota Timbuktu sebelum kota itu terkenal. 

Pada abad ke-14, Timbuktu masih berupa kota provinsi yang agak kecil. Tak banyak yang menunjukkan bahwa kota itu akan menjadi pos perdagangan yang kaya dan tempat pelajaran Islam akan tumbuh dua abad berikutnya.

Dari Timbuktu, ia menuju timur ke Kawkaw, yang sekarang dikenal dengan nama Gao. Kota itu berada paling timur dari kota-kota penting Mali. Ibnu Battuta menganggap ia sudah cukup banyak melihat. Ia mulai berpikir kembali ke rumah. Gao merupakan jalan panjang di timur Walata, dan ia tidak mau menyusuri kembali jejak kakinya. 

Ia berencana menuju utara menyeberangi Sahara dengan rute yang berbeda—timur laut dari Gao sepanjang oasis Takedda, kemudian arah barat laut kembali ke Sijilmasa. Rute ini akan membawanya ke beberapa gurun yang paling tidak ramah di dunia, dan kali ini ia tak akan memiliki keuntungan atas bulan-bulan musim dingin yang sejuk. 

Saat itu puncak musim panas. Ibnu Battuta jelas sangat bergantung pada rombongan karavan tempat ia bergabung, karena ia hanya membeli dua ekor unta untuk perjalanan ke utara yang melelahkan: unta jantan ditunggangi, unta betina membawa peralatan. Rencana itu bukanlah jenis terbaik untuk penyeberangan musim panas melintasi Sahara.

Sejak awal, perjalanan itu berlangsung buruk. Unta betina yang lemah tidak tahan panas dan menanggung seluruh bebannya, dan tak lama ia pun roboh. Perjalanan yang berani itu sekarang berada benar-benar dalam kesulitan. Yang menguntungkan, orang-orang dalam rombongan karavan itu menawari bantuan untuk membawa perbekalannya, membagi-bagikannya di antara mereka—kebanyakan mereka membawanya. 

Amarah jelas berkobar dalam panas terik, karena seorang pria menolak membantu, dan bahkan menolak memberi air kepada pembantu Ibnu Battuta.

Kini mereka melalui tanah sebagian orang Tuareg, suku nomadik gurun yang masih hidup di bagian utara Mali dan Mauritania. Sebagian mereka hidup dengan memeras "uang perlindungan": karavan diwajibkan memakai mereka sebagai pemandu, atau berisiko untuk diserang. 

Meskipun demikian, Ibnu Battuta tertarik—terutama pada wanitanya yang menggemukkan diri dengan minum susu sapi dan makan padi-padian yang ditumbuk. Saat itu, perempuan kurus tidak dianggap cantik (orang Tuareg modern masih beranggapan sama), dan Ibnu Battuta sangat mengagumi para wanita ini. 

Akan tetapi, kebahagiaannya pada perjalanan ke Takedda tak banyak. la jatuh sakit dalam panas yang menyengat dan merasa amat lega dapat mencapai oasis.

Takedda merupakan pos perdagangan besar dan—seperti Taghaza—menggali kekayaannya dari tambang lokal—kali ini tambang tembaga. Takedda tidak segersang Taghaza, dan penduduknya dapat menanam sedikit gandum. Di sana, Ibnu Battuta bertemu masyarakat Maroko yang dapat ia tinggali dan menetap untuk beristirahat. Tampaknya Ibnu Battuta sama sekali tidak tertarik melanjutkan perjalanannya yang melelahkan.

Akan tetapi, kemudian, tanpa diduga, ia menerima perintah dari Sultan Fez untuk segera kembali. Tidak jelas mengapa, dan kelihatan ganjil bahwa sultan harus menguntit di mana pun ia berada, bahkan di gurun pasir. Namun, tak lama setelah itu Ibnu Battuta berangkat, bergabung dengan karavan besar yang terdiri dari 600 perempuan budak kulit hitam, menuju Sijilmasa. 

Perjalanan itu pasti mengerikan bagi mereka, dan mereka memiliki sedikit harapan—mereka akan diperdagangkan di Maroko sebagai pembantu atau pelacur. Akan tetapi, Ibnu Battuta tidak memikirkannya; saat itu hal seperti itu seluruhnya benar-benar biasa di Afrika Utara.

Dalam perjalanan ke Sijilmasa, rombongan karavan menjumpai lebih banyak lagi suku nomadik—kali ini sekelompok Berber, yang mengenakan cadar di wajahnya. Mereka memeras bayaran kain sebelum membolehkan rombongan meneruskan perjalanan, dan itu sangat menjengkelkan Ibnu Battuta.

"Tidak ada yang baik dalam diri mereka," keluhnya. Namun, ini satu-satunya masalah utama yang ia temui, selain ketidaknyamanan yang terus-menerus dalam perjalanan gurun pasir. Setelah ini, mereka melewati negeri Berber dengan tenang.

Ia tiba di Sijilmasa saat musim dingin, dan ia melakukan perjalanan yang berbahaya melintasi pegunungan Atlas dalam salju. Meski melintasi gurun pasir adalah perjalanan terbesarnya, ia menyatakan bahwa taraf akhir perjalanan menuju Fez adalah yang tersulit dari seluruhnya.

 

Kemudian

Setelah tiba di Fez, Ibnu Battuta pulang untuk selamanya. Kita tidak mengetahui banyak yang terjadi dengannya setelah ini—kita hanya dapat menduga bahwa ia hidup tenang dan layak dengan kemewahan di istana raja, tempat ia memiliki banyak kisah untuk diceritakan. 

Ia pasti hidup cukup lama untuk menuliskan kisah perjalanannya yang dikenal dengan Rihla—sebuah wawasan menarik tentang banyak negara-negara Muslim di dunia pada abad ke-14.

 

" ["url"]=> string(66) "https://plus.intisari.grid.id/read/553309755/jalan-menuju-timbuktu" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1654281861000) } } [2]=> object(stdClass)#65 (6) { ["_index"]=> string(7) "article" ["_type"]=> string(4) "data" ["_id"]=> string(7) "3258533" ["_score"]=> NULL ["_source"]=> object(stdClass)#66 (9) { ["thumb_url"]=> string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2022/04/28/penyamaran-di-gurun-pasir_explor-20220428082319.jpg" ["author"]=> array(1) { [0]=> object(stdClass)#67 (7) { ["twitter"]=> string(0) "" ["profile"]=> string(0) "" ["facebook"]=> string(0) "" ["name"]=> string(13) "Intisari Plus" ["photo"]=> string(0) "" ["id"]=> int(9347) ["email"]=> string(22) "plusintisari@gmail.com" } } ["description"]=> string(108) "Isabelle Eberhardt menentang adat kebiasaan dan memilih kehidupan yang penuh romantika dan bahaya di Sahara." ["section"]=> object(stdClass)#68 (7) { ["parent"]=> NULL ["name"]=> string(7) "Histori" ["description"]=> string(0) "" ["alias"]=> string(7) "history" ["id"]=> int(1367) ["keyword"]=> string(0) "" ["title"]=> string(23) "Intisari Plus - Histori" } ["photo_url"]=> string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2022/04/28/penyamaran-di-gurun-pasir_explor-20220428082319.jpg" ["title"]=> string(25) "Penyamaran di Gurun Pasir" ["published_date"]=> string(19) "2022-04-28 20:23:45" ["content"]=> string(23401) "

Intisari Plus - Isabelle Eberhardt menentang adat kebiasaan dan memilih kehidupan yang penuh romantika dan bahaya di Sahara.

-------------------------

"Aku hanyalah seorang yang nyentrik, pemimpi yang mendambakan kehidupan yang bebas dan nomadik, jauh dari dunia yang beradab...," tulis Isabelle Eberhardt pada Juni 1901. Hidupnya terdengar amat sederhana dan romantis. Kenyataannya, kehidupannya jauh dari bayangan itu. Ia menjalani kenyataan yang asing dan sulit, mencari jawaban pertanyaan-pertanyaan kehidupan di bawah naungan terik matahari yang ganas Gurun Pasir Sahara. 

Ia melanggar semua peraturan yang harus diikuti kaum perempuan pada zamannya; Isabelle benar-benar mengagetkan sebagian besar orang dan menjadi inspirasi bagi ribuan orang lainnya. Setelah wafat, ia dikenal sebagai 'Amazon dari Sahara' atau bagi sebagian orang: 'seorang nomadik yang baik'.

Isabelle lahir di Swiss, Februari 1877. Ibunya pelarian asal Rusia yang meninggalkan suaminya, seorang jenderal Rusia, tahun 1871. Sang ibu tak pernah mengakui siapa ayah Isabelle. Ia memberi nama gadisnya pada putrinya—Eberhardt. 

Ayahnya kemungkinan adalah tutor keluarga, Alexander Trophimowsky, adalah seorang pria yang kuat dan aneh yang menanamkan pengaruh besar pada masa kanak-kanak Isabelle. Mereka tinggal di sebuah vila sederhana di luar kota Jenewa. 

Trophimowsky menolak menyekolahkan Isabelle atau kakak perempuannya serta ketiga saudara laki-lakinya atau mengizinkan mereka berada di pelataran vila, sehingga mereka diisolasi dari dunia luar. Mereka semua berbahasa Prancis dan Rusia. Trophimowsky juga mengajarkan Isabelle bahasa Latin, Italia, sedikit Inggris, juga Arab.

Dalam lingkungan yang asing itu, Isabelle menjadi seorang pemimpi, keluyuran di pelataran vila sendirian. Ia membaca amat banyak buku dan mulai tertarik pada agama Islam ketika ia masih belia. Hidupnya dalam dunia angan-angan, dan ia terbiasa menemukan identitas baru bagi dirinya. Trophimowsky mendorongnya berpakaian seperti anak laki laki, dengan rambut dipangkas pendek. Siapa dirinya? Siapa ayahnya? Isabelle tak pernah benar-benar tahu.

Sepanjang itulah tumbuh keinginan dalam dirinya untuk melarikan diri. Negeri impiannya adalah Afrika Utara dan Gurun Pasir Sahara. Akhirnya, ia membujuk ibunya untuk ikut bersamanya. Mereka berangkat Mei 1897 ke Bône (sekarang Annaba), di sebelah utara Aljazair.

Di situlah Isabelle mulai menciptakan identitas 'gurun pasir'nya. Ia berpakaian bagai seorang pemuda dan menamakan dirinya sendiri Si Mahmoud Saadi, dan mengaku sebagai cendekiawan Al-Qur'an asal Tunisia. Dalam penyamaran ini, ia dapat bergaul bebas dengan warga Bône, dan segera menguasai bahasa Arab Aljazair yang menjadi bahasa percakapan. Ia merasa benar-benar aman, dan betah seperti di rumah.

Tapi, impian itu tidak bertahan. Ibunda Isabelle meninggal di Bône, dan Isabelle terpaksa kembali ke Jenewa. Dalam tahun itu, tutornya yang renta, Trophimowsky, juga wafat, meninggalkannya sedikit uang. Kini ia dapat melakukan yang ia sukai. Ketika dukacitanya telah berlalu, Isabelle sadar, ia bebas kembali ke Afrika Utara yang dicintainya.

Pada Juni 1899, ia pun berangkat ke Tunis. Di sana, sekali lagi ia menjadi Si Mahmoud Saadi, dan membuat rencana untuk memenuhi impian sepanjang hidupnya—menuju gurun pasir.

Di Tunisia dan Aljazair pada akhir abad ke-19, tidak ada jalan mudah yang menghubungkan kota-kota di gurun pasir, Satu-satunya jalan bagi Isabelle untuk mencapai tujuannya, Ouargla di Aljazair, adalah dengan berkuda ditemani para pemandu yang menunggang keledai.

Perjalanan itu penuh warna. Di sepanjang rute, sedikit air yang ditemukan, dan Isabelle terus-menerus kehausan serta menderita demam tinggi. Meskipun ada, sumur tidak selalu mudah ditemukan, terutama jika rombongan tiba malam hari. Suatu ketika mereka mencari sebuah sumur dalam gelap gulita dengan korek api sebagai satu-satunya sumber cahaya pemandu mereka. Ia dan para pemandunya tidur di bawah cahaya bintang, terbungkus dalam burnous, baju yang dipakai penduduk di wilayah itu.

Diperlukan delapan hari untuk mencapai kota Touggourt—perjalanan sepanjang 220 kilometer (135 mil). Di sana Isabelle disambut dan ia meminta izin untuk melanjutkan perjalanan ke selatan menuju Ouargla. Tetapi, semakin jauh perjalanannya semakin berbahaya, dan penguasa Prancis mengawasinya lebih dari yang ia bayangkan. 

Suku nomadik di gurun pasir, Tuareg, pernah membunuh sejumlah orang Eropa yang dengan naif menyangka mereka akan mendapat sambutan. Tidaklah mengejutkan bila penguasa Prancis menolak memberinya izin untuk melakukan perjalan lebih jauh ke selatan.

Sebagai gantinya, ia melanjutkan perjalanan ke Souf, bagian Great Eastern Erg (Padang Pasir Timur Raya), yang terdiri dari sejumlah oasis yang membentang di antara bukit pasir putih bergelombang dan kolam garam. Kota utama di Souf, El Oued, menjadi tujuan Isabelle. Perjalanan itu merupakan penyeberangan gurun pasir yang sulit—memerlukan waktu lima hari untuk menyelesaikan perjalanan sepanjang 100 kilometer (60 mil).

Tapi, sesampai di sana, oasis menawan hatinya. Hingga sekarang, El Oued merupakan salah satu kota terindah di Aljazair, yang juga dikenal sebagai 'Kota Seribu Kubah' karena arsitekturnya. Rumah-rumahnya yang berkubah dicat putih, semak belukar pohon palmanya hijau dan rimbun, dan Sahara hanya beberapa langkah lagi, pasirnya yang indah membentang ke seluruh penjuru. Bagi Isabelle, rasanya seperti di rumah.

Isabelle menyelesaikan perjalanan pulang baliknya dalam beberapa pekan: sebuah perjalanan yang luar biasa bagi seorang wanita Eropa ketika itu. Yang lebih mengejutkan adalah masyarakat setempat yang ia jumpai menerimanya dengan terbuka—terutama para pemimpin agama. 

Mungkinkah karena penyamarannya? Mungkin saja ... Tapi, Isabelle berbeda dari kebanyakan orang Eropa, dalam hal keikhlasannya untuk menjadi bagian dari kehidupan Afrika Utara. Ia tidak seperti para penjajah Prancis yang merampas negeri; ia meyakini agama Islam dengan penuh semangat, dan dapat membahas Al-Qur'an dan Islam secara cerdas. 

Para pemimpin agama mungkin tahu bahwa mereka berbicara dengan seorang perempuan, tapi mereka memaafkannya karena Isabelle benar-benar meyakini segala perkataannya.

Isabelle kembali ke Eropa, tapi tidak lama karena gurun pasir memanggilnya kembali. Saat itu, ia memutuskan bukan cuma untuk melakukan perjalanan. Ia kembali untuk menetap di gurun pasir.

El Oued telah menawan hatinya. Di sana, pikir Isabelle, ia dapat memiliki kehidupan dengan kedamaian; ia dapat berkonsentrasi menjadi seorang penulis atau mengembangkan keyakinan agamanya. Ia akan dikelilingi pemandangan dan suara-suara yang ia senangi.

"Oh Sahara, Sahara yang mengancam, sembunyikan jiwamu yang gelap dan indah dalam kehampaan yang sunyi!" tulisnya. "Oh ya, aku mencintai negeri berpasir dan berbatu ini, negeri unta dan orang-orang primitif serta padang garam yang tandus dan luas."

Demikianlah, setelah sebuah perjalanan lain yang melelahkan dan panjang, ia tiba di El Oued dan la bersuka ria dengan kedatangannya. "Aku jauh dari semua orang, jauh dari peradaban serta kepura-puraanya yang munafik. Aku sendirian, di negeri Islam, di tengah gurun pasir, merdeka ...," tulisnya dengan riang.

Isabelle menjalani kehidupan yang sederhana, berbaur dengan masyarakat dan bertemu dan para pria suci setempat. la membeli seekor kuda dan menamainya Souf, sesuai nama wilayah itu, dan menjelajahi bukit pasir putih pada malam hari dengan berkuda. Ia menuliskan keindahan bukit pasir dan matahari yang terbenam di gurun pasir: "Ke arah barat ... matahari serupa bola darah sungguhan yang terbenam dalam cahaya emas dan merah. Lereng bukit pasir tampak terbakar di bawah barisan itu, dalam bayang-bayang yang mendalam dari waktu ke waktu."

Dalam menjelajahi bukit-bukit pasir, Isabelle sering ditemani seorang tentara Aljazair bernama Slimène, yang kemudian menjadi suaminya—meskipun persahabatan ini menjadi salah satu alasan mengapa orang beranggapan buruk tentang Isabelle. Pada umumnya, orang Eropa menganggap dirinya lebih unggul dari penduduk Afrika Utara, dan tidak bergaul dengan mereka. Kebanyakan orang sangat terkejut dengan gagasan orang Eropa benar-benar menikahi orang Aljazair. Namun bersama Slimène, dan kehidupan di El Oued, Isabelle merasa lebih bahagia dari sebelumnya.

Pada saat itu, ia mengemban kepercayaannya satu langkah lebih jauh. Ia mulai berkenalan dengan para pemimpin sekte Sufi tertua di dunia—persaudaraan Qodariah. Hanya orang-orang pilihan dapat menjadi anggota sekte ini. Dua pemimpin Qodariah, Sidi el Hussein dan Sidi el Hachemi, bersikap hangat terhadap Isabelle, meskipun hampir dipastikan mereka sebenarnya mengetahui penyamarannya itu. Tak lama kemudian, mereka mengangkatnya menjadi anggota sekte—sesuatu yang tak pernah terjadi pada seorang Eropa, apalagi perempuan.

Tapi, impian Isabelle atas kehidupan yang damai tidak bertahan. Kenyataannya, ia agak naif dengan mengira bahwa ia dapat bersembunyi begitu saja di gurun. Penguasa Prancis mengetahui tentang dirinya bahkan sebelum ia tiba, dan tanpa sepengetahuannya, ia diawasi dengan ketat selama tinggal El Oued. Mengapa mereka sedemikian mencurigainya? Isabelle tidak membahayakan siapa pun.

Permasalahannya penguasa Prancis di Aljazair takut terhadap orang-orang di sekeliling mereka. Mereka takut warga Aljazair bangkit melawan mereka, dan memperjuangkan kemerdekaannya. Isabelle, meskipun orang Eropa, adalah seorang Muslim dan mencintai penduduk setempat. Sebagian mengira ia mungkin mendorong penduduk setempat untuk memberontak melawan Prancis. Bagaimana pun, cara hidupnya mencengangkan—berpakaian seperti seorang pria, berjalan-jalan sendirian ..., dan di luar dugaan, hubungan Isabelle dengan Slimène bukan rahasia lagi. Ada desas-desus bahwa keberadaan Isabelle menimbulkan ancaman di banyak lapisan, tidak saja bagi penguasa, tapi juga pemikiran masyarakat tentang kesopanan.

Sementara itu, kehidupan Isabelle yang 'damai' semakin ganas. Cuaca di Sahara bisa menjadi kejam—angin mengaduk aduk pasir, merontokkan rumah-rumah, dan membuat kehidupan sengsara, Saat musim dingin, cuaca juga menggigit. Dan Isabelle kehabisan uang. la selalu bercita-cita menjadi penulis dan mencari uang dengan cara itu, meski tidak mudah. Sekarang, ia terlilit hutang. Dia kerap jatuh sakit, dan hampir kurang makan.

Kemudian, datang berita buruk. Angkatan bersenjata menugaskan Slimène keluar El Oued, ke kota Batna, jauh di utara. Isabelle tidak mengetahuinya. Penguasa berharap, dengan menyingkirkan Slimène, mereka dapat membuang Isabelle. Mereka yakin Isabelle akan menyusul Slimène—yang ternyata memang benar.

Sebelum Isabelle pergi, terjadi peristiwa yang luar biasa buruk. Ketika itu, ia mengunjungi beberapa teman Sufinya, dan mampir di sebuah desa bernama Béhima. Isabelle bertamu ke rumah seorang pria kaya setempat. Ia duduk di pelataran dikelilingi para anggota Qodariah lain. Saat sedang duduk tenang bersama-sama sambil membantu seorang pria muda menerjemahkan sepucuk surat, tiba-tiba ia merasakan hantaman kuat di kepalanya.

Sebelum sempat berpikir dan bereaksi, ada dua pukulan lagi, kali ini mengenai lengan kirinya. Ia menengok dan melihat seorang pria dengan kasar melayangkan sepucuk senjata ke kepalanya, dan teman-temannya anggota Qodariah melompat melindunginya. Terguncang dan bingung, Isabelle pun melompat dan berlari menuju dinding, tempat sebilah pedang bergantung. Teman-temannya telah melucuti senjata si penyerang, tapi pria itu berhasil melarikan diri.

"Akan kubawa senjata untuk menghabisinya!" penyerang itu berteriak saat menghilang.

Orang-orang Qodariah itu kembali mengurus Isabelle, yang banyak mengucurkan darah dari lukanya.

"Dengan inilah pengecut itu melukaimu!" teriak salak satu dari mereka, seraya memperlihatkan sebilah pedang yang berlumuran darah.

Tidak ada keraguan siapa penyerang itu. Beberapa orang yang hadir mengenalinya, meskipun Isabelle tidak. Namanya Abdallah Mohammed bin Lakhdar, berasal dari desa Béhima juga. Ia anggota kelompok Sufi lain bernama persaudaraan Tidjanya, sekte rival terbesar Qodariah. Pemimpin Tidjanya segera dipanggil, dan diminta menangkap pelaku penyerangan. Permintaan itu ditolak.

"Jika Anda tidak menemukannya, kami akan mengumumkan Anda membantu terjadinya kejahatan," pemimpin itu dihardik. Terpaksa, pemimpin Tidjanya itu mengirim orang untuk mencari Abdallah—sebuah tugas yang tak sulit di sebuah desa kecil. Abdallah tertangkap dan dibawa ke rumah pria kaya tempat Isabelle berbaring dalam keadaan terluka.

Abdallah dibawa ke kamar tempat Isabelle terbaring berdarah di atas selembar kasur. la belum mendapat pengobatanı untuk luka-lukanya yang cukup serius. Abdallah malah diinterogasi di hadapannya, dan Isabelle ikut mengajukan lebih banyak pertanyaan.

"Mengapa engkau melakukan hal yang buruk itu?" ia ditanya.

Pertama, Abdallah berpura-pura gila. Tapi, tak satu pun penduduk setempat mempercayainya, karena mereka amat mengenalnya. Ia pun menanggalkan kepura-puraannya, dan cuma menyatakan bahwa Tuhan telah mengirimnya untuk membunuh Isabelle.

"Tapi, kau tidak mengenalku," kata Isabelle. "Dan aku tidak mengenalmu."

"Memang tidak,"Abdallah mengiyakan. "Aku tak pernah bertemu engkau sebelumnya. Tapi, bagaimana pun, aku harus membunuhmu. Jika orang-orang ini membebaskanku, aku akan berusaha melakukannya lagi."

"Mengapa?" tanya Isabelle. "Mengapa engkau menantangku?"

"Bukan apa-apa. Engkau tidak melakukan kesalahan terhadapku. Aku tidak mengenalmu, tapi aku harus membunuhmu."

Jawabannya sama sekali tidak masuk akal. 

"Tahukah engkau dia seorang Muslim?" tanya salah satu dari orang lain.

"Ya," jawab Abdallah.

Kejadian itu sangat misterius. Beberapa jam kemudian, seorang dokter tiba dari El Oued, untuk mengobati Isabelle. Isabelle amat beruntung—kain sorban telah menangkis pukulan ke kepalanya. Tanpa kain itu, bisa jadi Isabelle telah tewas dengan mudah. Cedera yang paling parah terjadi di siku kirinya, karena tersayat menembus tulang.

Menunda penyembuhan berarti Isabelle kehilangan banyak darah. Ia amat lemah. Hari berikutnya ia dipindahkan ke rumah sakit militer di El Oued, tempat ia menjalani masa penyembuhan hampir sebulan. Itulah akhir dari syair gurun pasirnya. Setelah cukup sehat, ia pergi ke utara untuk bergabung dengan Slimène di Batna.

Setelah penyerangan itu, pemerintah Prancis tetap bertekad untuk menyingkirkan Isabelle. la diasingkan dari Aljazair, dan hanya diberi izin masuk saat persidangan Abdallah, yang berlangsung empat bulan kemudian.

Sidang itu sedikit menyingkap misteri penyerangan terhadap Isabelle. Pada persidangan, Abdallah tampak menyesalinya, dan memohon ampunan Isabelle. Tapi, ia tetap tidak menjelaskan alasannya melakukan penyerangan itu. Isabelle sendiri yakin, pria itu adalah pembunuh bayaran yang dipekerjakan penguasa Prancis atau kelompok Tidjanya. Ada desas-desus bahwa Abdallah dapat melunasi hutangnya dan membeli kebun palem. Meskipun desas-desus itu benar. Abdallah akhirnya membayar perbuatannya itu. Pengadilan mendakwanya pasal pembunuhan berencana, dan ia dihukum seumur hidup kerja fisik yang keras.

Isabelle terkejut. Hukuman itu mengerikan, terutama karena Abdallah beristri dan memiliki anak. Yakin bahwa ia bukan penjahat sungguhan, Isabelle memohon penguasa agar bersikap lebih lunak. Mereka menanggapi dengan mengurangi hukuman Abdallah menjadi 10 tahun penjara.

Setelah persidangan itu, Isabelle sekali lagi dibuang ke Prancis, tempat ia hidup dengan saudara laki-lakinya di Marseilles. Slimène ikut dengannya, dan mereka menikah. Pernikahan itu memberi Isabelle hak untuk kembali ke Aljazair—tapi tanpa disadarinya, itulah kepulangan terakhirnya.

Isabelle merasa sulit untuk tinggal dalam jangka lama di satu tempat. Bahkan di Aljazair, kota-kota pantai utara tidak sepenuhnya memuaskan hasratnya. Gurun pasir, jauh di selatan selalu memanggilnya. Ketika datang kesempatan bekerja dengan angkatan bersenjata Prancis di selatan pegunungan Atlas, ia mengambilnya.

Pekerjaan Isabelle melakukan perjalanan, mendengarkan suku-suku nomadik, dan membantu melicinkan hubungan antara mereka dan penjajah Prancis. Pekerjaan itu ganjil baginya, karena ia sebenarnya bukan pendukung pemerintah Prancis. "Sekalipun gaya hidup mereka terbelakang, kesederhanaan suku Bedouin jauh lebih unggul dari orang-orang Eropa yang idiot yang menyusahkan dirinya sendiri," tulisnya. Tapi, bagian angkatan bersenjata tempat ia bekerja ingin meneruskan penjajahan dengan persuasi dan pemahaman bersama ketimbang dengan kekerasan. Isabelle merasakan itu sebagai hal yang lebih baik dari dua pilihan yang buruk.

Tentu saja, pekerjaan itu memungkinkan ia kembali ke gurun pasir. Dia pindah dari kota ke kota, dan tinggal sementara di sebuah biara, karena ia berhak berlaku seperti calon anggota Qodariah.

Tapi, kesehatannya memburuk. Seperti biasa bila berada di gurun, ia terjangkit demam yang umumnya disebabkan malaria, yang kian hari kian memburuk. Ia dibawa ke rumah sakit militer di kota Aïn Séfra, tempat pertemuan pegunungan Atlas dan Gurun Pasir Sahara. Ia menghabiskan hampir tiga minggu di sana pada Oktober 1904, sebelum keluar.

Slimène, suaminya, yang tetap berada di utara Aljazair karena tugas, datang untuk menemaninya ketika ia meninggalkan rumah sakit, 20 Oktober. Pertemuan itu berlangsung singkat karena 21 Oktober banjir bandang menyapu Aïn Séfra.

Gurun pasir adalah tempat segala hal ekstrem. Hampir setiap saat, cuaca sangat kering, panas membakar di siang hari, dan kadang dingin menggigit pada malam hari. Tapi, bila hujan turun di suatu tempat yang dekat, terutama jika ada pegunungan, akibatnya dapat menghancurkan.

Hujan tidak turun di Aïn Séfra dalam minggu-minggu terakhir. Wadi, palung sungai yang mengalir melalui kota, benar-benar kering. Tapi, di suatu tempat di pegunungan Atlas pasti turun hujan, karena tiba-tiba, pagi hari 21 Oktober, terdengar deru besar dan banjir dahsyat menyentak gunung, menyapu apa saja yang berada di jalannya. Air kuning keruh yang mengamuk menangkap sampah, batang pohon, dan semak-semak, menghantam rumah-rumah dan menghanyutkan manusia.

Waktu untuk bereaksi sangat singkat, dan banjir bandang itu berhenti secepat datangnya. Baru setelah itu kerusakan yang sesungguhnya dapat diketahui. Lebih dari 20 orang tewas di antara mereka adalah Isabelle, yang ditemukan terkubur di bawah sampah-sampah di dalam rumahnya. Melihat betapa besar ia menyelami kehidupannya, sangat mengherankan bahwa ia baru berusia 27 tahun ketika wafat.

 

Kemudian

Setelah kematian Isabelle, temannya mengumpulkan semua tulisan Isabelle untuk diterbitkan. Ia menjadi pahlawan perempuan yang diidamkan di lingkungan Paris. Banyak tulisan tentang dirinya, termasuk dua drama, dan orang masih memikirkan kehidupannya yang kontroversial—sampai sekarang.

Yang membuat ia menonjol di antara "petualang padang pasir" pada masanya adalah niat tulusnya untuk menjadi penduduk setempat. Ia tidak sendirian dalam melakukan penyamaran; contoh yang paling terkenal adalah penjelajah Richard Burton, yang menyamar sebagai seorang Muslim untuk memasuki kota suci Mekah. Tapi, ia seorang Kristen yang sekadar ingin memasuki tempat yang terlarang baginya. Isabelle berbeda. Meskipun identitasnya sebagai Si Mahmoud Saadi membantunya untuk bergabung, identitas itu juga yang membuatnya nyaman. Ia bukan seorang pria, bukan pula seorang Tunisia, tapi ia seorang cendekiawan Al-Qur'an seperti pengakuannya—dan karena itulah rakyat Afrika Utara mencintainya.

(Gill Harvey)

 

" ["url"]=> string(70) "https://plus.intisari.grid.id/read/553258533/penyamaran-di-gurun-pasir" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1651177425000) } } }