array(1) {
  [0]=>
  object(stdClass)#49 (6) {
    ["_index"]=>
    string(7) "article"
    ["_type"]=>
    string(4) "data"
    ["_id"]=>
    string(7) "3834062"
    ["_score"]=>
    NULL
    ["_source"]=>
    object(stdClass)#50 (9) {
      ["thumb_url"]=>
      string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2023/07/28/103-pesawat-radioaktif-peningkat-20230728053552.jpg"
      ["author"]=>
      array(1) {
        [0]=>
        object(stdClass)#51 (7) {
          ["twitter"]=>
          string(0) ""
          ["profile"]=>
          string(0) ""
          ["facebook"]=>
          string(0) ""
          ["name"]=>
          string(5) "Ade S"
          ["photo"]=>
          string(54) "http://asset-a.grid.id/photo/2019/01/16/2423765631.png"
          ["id"]=>
          int(8011)
          ["email"]=>
          string(22) "ade.intisari@gmail.com"
        }
      }
      ["description"]=>
      string(148) "Seorang pemilik hotel di Spanyol ditemukan terbunuh. Penyelidikan dilakukan terhadap pisau dapur berlumuran darah dan jaket kulit dengan noda hitam."
      ["section"]=>
      object(stdClass)#52 (8) {
        ["parent"]=>
        NULL
        ["name"]=>
        string(8) "Kriminal"
        ["show"]=>
        int(1)
        ["alias"]=>
        string(5) "crime"
        ["description"]=>
        string(0) ""
        ["id"]=>
        int(1369)
        ["keyword"]=>
        string(0) ""
        ["title"]=>
        string(24) "Intisari Plus - Kriminal"
      }
      ["photo_url"]=>
      string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2023/07/28/103-pesawat-radioaktif-peningkat-20230728053552.jpg"
      ["title"]=>
      string(39) "Pesawat Radioaktif Peningkat Mutu Intan"
      ["published_date"]=>
      string(19) "2023-07-28 17:36:55"
      ["content"]=>
      string(26815) "

Intisari Plus - Seorang pemilik hotel di Spanyol ditemukan terbunuh dengan pisau dapur di dekatnya. Penyelidikan dilakukan terhadap pisau dapur berlumuran darah dan jaket kulit dengan noda hitam.

----------

Peristiwa berikut ini terjadi pada tahun 1965. Seorang pemilik hotel di teluk San-Augustin dekat Palma de Malorca, Spanyol, ditemukan mati terbunuh di ruang makan hotelnya. Waktu itu hotel sedang sepi, hampir tak ada tamu. Mayat Valentino (demikian nama pemilik hotel itu) ditemukan di pagi hari oleh seorang gadis pembantunya — satu-satunya pekerja yang malam sebelumnya tidur di hotel tersebut.

Komisaris Murenos dari kepolisian Palma yang diberitahu tentang kejadian itu, segera datang bersama anak buahnya untuk mengadakan penyelidikan. Mayat Valentino tergeletak di lantai, dekat tangan kanannya terletak sebilah pisau dapur. Pisau besar bermata dua itu berlumur darah.

Keadaan korban menimbulkan dugaan bahwa pembunuh mencari sesuatu padanya. Sepatu dan kaos kaki korban semuanya telah dicopoti. Demikian pula jasnya, yang oleh pembunuh digunakan untuk menutupi muka korbannya. Kantong-kantong jas itu semuanya terbalik — suatu tanda bahwa pembunuh telah merogohinya. Celana korban tertarik ke bawah dan di lantai ditemukan sebuah topi, yang lapisannya telah tersobek.

Pemeriksaan mayat korban menunjukkan bahwa ia mati akibat tembakan pistol. Dua lubang luka terdapat pada tubuhnya, dan dua selongsong peluru ditemukan di tempat kejadian.

Gadis pembantu hotel tak dapat memberi banyak keterangan. Darinya hanya diperoleh keterangan, bahwa malam harinya Valentino masih hidup. Ketika gadis itu lewat di depan pintu ruang makan, ia mendengar majikannya sedang bercakap-cakap dengan seseorang. Rupanya Valentino bertengkar dengan orang itu.

+ “Apa yang mereka pertengkarkan?”, tanya komisaris Murenos.

- “Entah, saya tidak biasa menguping percakapan orang’’, jawab pembantu rumah tangga itu.

+ “Tentu saja. Tapi mungkin toh terdengar sesuatu kalimat. Coba ingat-ingat. Satu kata saja bisa penting sekali untuk penyelidikan".

Setelah lama berdiam untuk mengingat-ingat, gadis itu akhirnya berkata “Saya mendengar majikan saya berteriak: kau menipu saya. Tunggu saja. Saya akan tahu siapa sebenarnya kau. Saya punya beberapa bukti… itu saja yang dapat saya tangkap”.

Polisi memeriksa seluruh kamar. Bekas-bekas sidik jari yang ditemukan di ruang makan itu diteliti.

Benda lain yang ditemukan polisi ialah sebuah jaket kulit yang tergantung pada gantungan pakaian di dinding. Menurut keterangan gadis pembantu hotel, itu milik salah seorang tamu, yang oleh tamu-tamu lain biasa disebut “profesor’’. Namanya Dr. Bruce Snyder. “Ia telah lama tinggal di hotel, kira-kira sudah 3 bulan”, kata gadis itu.

Lalu ia menambahkan bahwa Valentino rupanya mempunyai sesuatu urusan dengan Dr. Snyder. “Urusan apa, saya tidak tahu. Hubungan majikan dengan Dr. Snyder sering menjadi bahan percakapan para pelayan hotel”, gadis pembantu itu menambahkan.

Komisaris Murenos teringat pada kata-kata Valentino (menurut keterangan gadis pelayan hotel) ketika bertengkar dengan seseorang menjelang terbunuhnya: Kau menipu saya, saya akan tahu siapa sebenarnya kau, saya punya beberapa bukti.

Rupanya pertengkaran itu ada hubungannya dengan “urusan’’ Valentino dengan Dr. Snyder. Polisi menduga pula bahwa urusan itu bersifat rahasia.

Selesai mengadakan pemeriksaan di tempat kejadian, komisaris Murenos mengirimkan barang-barang bukti ke laboratorium pusat di Madrid untuk diselidiki lebih lanjut.

Pemeriksaan pisau dapur menunjukkan bahwa darah yang melumurinya, ternyata bukan darah Valentino. Darah pemilik hotel ini termasuk golongan B, sedangkan darah pada pisau dapur adalah dari golongan A. Rupanya ini darah si pembunuh.

Demi kepentingan pengusutan, darah A itu diselidiki lebih lanjut berdasarkan metode yang dikembangkan oleh Prof. Prokop dari lembaga kedokteran kriminal di Berlin. Berdasarkan metode itu, darah golongan A masih dapat dibagi lebih lanjut menjadi golongan A-1, A-2 dan A-3. Darah pada pisau yang ditemukan dekat mayat Valentino, adalah dari golongan A-3.

Sementara itu pemeriksaan dua selongsong peluru yang ditemukan di tempat kejadian membuktikan, bahwa Valentino meninggal akibat tembakan dengan pistol otomatis Mauser kaliber 7,65. Peluru dari kaliber itu ditemukan pula dalam tubuh Valentino.

Akhirnya diperoleh satu keterangan lagi dari pemeriksaan jaket kulit. Pada lapisan leher jaket itu terlihat noda hitam. Ketika diteliti dengan metode kimia dan kemudian difoto dengan sinar ultraviolet, pada kerah jaket itu terlihat “Schaefer’’, padahal menurut keterangan gadis pelayan hotel, jaket kulit itu adalah milik Dr. Bruce Snyder. Apakah yang terakhir ini mendapatkan jaket itu dari seorang pemilik lain? Ataukah Dr. Bruce Snyder dan “Schaefer” adalah orang yang sama?

Ada satu kesimpulan yang dapat ditarik oleh polisi dari darah yang melumuri pisau dapur. Yaitu, rupanya Valentino tidak terbunuh begitu saja. Sebelum itu terjadi perkelahian. Agaknya Valentino menyerang lawannya lantas ditembak atau lawannya melepaskan tembakan dan kemudian Valentino melukainya dengan pisau sebelum ia roboh akibat tembakan yang kedua. Ketika memasuki ruang makan untuk bertemu dengan lawannya, rupanya Valentino sudah mempersiapkan diri untuk menyerang atau mempertahankan diri. Ini tampak dari kenyataan bahwa ia telah mempersenjatai dirinya dengan pisau yang diambilnya dari dapur hotel.

Seperti disebutkan di atas, dari keadaan-keadaan korban dapat ditarik kesimpulan bahwa pembunuh menggerayangi semua kantong-kantongnya sampai pada lapisan dan lipatan topi, kaos dan sepatu, dengan amat telitinya.

Sudahlah ia berhasil menemukan apa yang dicarinya — sebuah dokumen, surat-surat, kunci atau entah apa pun? Mungkin belum. Maka komisaris Murenos beberapa kali memeriksa rumah korban dan kantornya. Lemari, laci-laci meja tulis, peti uang dan sebagainya ditelitinya.

Pada suatu hari ia bahkan mengikuti dinding-dinding untuk mengetahui kalau-kalau ada rongga tersembunyi di dalamnya. Dan memang ia berhasil menemukan semacam brankas dalam dinding, tersembunyi di balik sebuah lukisan. Tapi kuncinya tidak ada. Semua lemari, laci-laci dan sebagainya sekali lagi diteliti. Lantai sampai di bawah kolong-kolong diperiksa. Akhirnya kunci ditemukan dalam kantong salah satu pakaian almarhum.

Peti rahasia dibuka. Di dalamnya ditemukan sebuah amplop. Isinya kuitansi-kuitansi dan sehelai foto yang memperlihatkan seorang lelaki setengah umur. Lelaki dalam foto itu sedang membungkuk, mengamati sebutir permata dengan kaca pembesar, tangannya memegang sebuah alat penjepit kecil dan di depannya ada segunduk butir-butir batu atau kristal garam.

Lelaki dalam foto itu, menurut keterangan para pelayan hotel adalah Dr. Bruce Snyder. Kuitansi-kuitansi dalam amplop adalah bukti tanda terima uang yang diberikan oleh Valentino kepada Dr. Snyder. Jadi agaknya orang inilah yang menipu si pemilik hotel. Dugaan menjadi kepastian dengan adanya kesaksian dari paman almarhum yang mengetahui bahwa keponakannya masuk perangkap seorang penipu kelas berat — sayang pada saat terakhir sewaktu sudah terlambat. Asal mula kejadian itu sebagai berikut.

Kira-kira 3 bulan sebelumnya, hotel Valentino kedatangan seorang tamu yang mengaku bernama Dr. Bruce Snyder, berkebangsaan Swiss. Ia tinggal di hotel Valentino yang terletak di pinggir teluk San-Agustin itu untuk menikmati cutinya. “Sarjana” yang oleh para tetamu disebut dengan “profesor” itu tampak mereguk penuh-penuh kenikmatan masa liburnya. Tak pernah hari cerah lewat, tanpa ia mandi di laut dan berjemur di pantai. Di antara para tetamu Dr. Bruce Snyder berhasil menanamkan anggapan bahwa ia seorang pembantu ilmiah lembaga fisika nuklir di Jenewa.

Sebagai seorang pengusaha yang baik, Valentino biasa bergerak di antara para tamu-tamunya dan dengan kepandaiannya berbicara berusaha menyenangkan kediaman mereka di hotelnya. Tak lupa pula ia mendekati Dr. Snyder, apalagi karena “sarjana atom” yang sedang pakansi ini, bisa berbicara Spanyol cukup baik.

+ “Apa kegiatan ilmiah yang Anda lakukan, Profesor?” tanya Valentino ketika pada suatu hari ia kebetulan duduk semeja dengannya pada waktu makan sore. “Bom atom ?”

- “Sama Sekali tidak! Anda tahu, Swiss negara cinta damai. Lembaga saya hanya melakukan eksperimen-eksperimen ilmiah dengan pesawat pemercepat elektron”, jawab Dr. Snyder

Dengan kata-kata sederhana, penipu itu kemudian mencoba menerangkan kepada Valentino, apa saja yang dilakukan “di lembaga nuklir” tempat ia bekerja. Di sana ada alat pemercepat elektron dengan magnet-magnet raksasa. Dengan alat ini para ahli dapat mengadakan perubahan-perubahan pada zat-zat dan bahan-bahan, yaitu dengan mempercepat bagian-bagian elementernya.

Ia sendiri bekerja pada suatu proyek yang menyelidiki kemungkinan untuk mengubah warna intan, yaitu dengan menembakinya dengan bagian-bagian elementer.

+ “Hebat juga kemajuan ilmu pengetahuan! Jadi dengan itu intan dan berlian dapat diberi warna-warna lain? Misalnya tadinya kuning, dapat dibuat bersinar biru”, tanya Valentino.

- “Ya, memang”, jawab Dr. Snyder. “Bahkan batu intan yang jelek dengan warna-warna tak murni dapat dibuat berwarna biru lazuardi. Tapi prosesnya tidak semudah dibayangkan. Soalnya, orang harus mengetahui persis detail sekecil-kecilnya. Harus diketahui dengan tepat berapa kecepatan-kecepatan yang diperlukan pada penembakan proton-proton.”

Dr. Snyder kemudian memperlihatkan sebuah foto batu intan. ”ini salah satu foto eksperimen saya. Saya buat di bawah lampu kwarts, batu-batu biru tentu saja tampaknya lebih kelam’’, ia menerangkan.

Valentino tertarik pada kemungkinan membuat intan-intan rendah-nilai menjadi berkualitas tinggi. Ia bertanya kepada Dr. Snyder apakah peningkat mutu intan dengan cara seperti disebutkan di atas, dapat dilakukan secara besar-besaran. Ia mendapat jawaban “ya’’. Pikir Valentino: alangkah besarnya keuntungan finansial yang dapat diperoleh dengan cara ini.

Eksperimen-eksperimen untuk mengubah warna intan, memang pernah dilakukan oleh Prof Dr Scherrer beberapa kali pada institut fisika Perguruan Tinggi Swiss di Zurich. Juga seorang ahli lain, Prof. E. Gubelin dari Luzern, pernah menyelidiki hal ini dan menulis beberapa risalah fundamental tentangnya. Beberapa majalah vak membicarakan eksperimen-eksperimen dua sarjana tersebut.

Valentino yang bernafsu untuk mengetahui lebih lanjut tentang peningkatan mutu intan dengan radiasi nuklir itu, kemudian diam-diam menyusup ke kamar Dr. Snyder selagi penipu ini pergi keluar hotel. Ditemukannya beberapa masalah vak ilmiah berbahasa Jerman dalam lemari kecil di samping tempat tidur. Ia tak tahu bahasa Jerman. Tetapi ia menduga bahwa ada karangan-karangan yang membicarakan soal intan.   

Beberapa kali penyusupan ke kamar Bruce Snyder itu dilakukan oleh Valentino. Dari pengalaman ini pemilik hotel itu menyimpulkan bahwa Dr. Snyder tak pernah membuka lemari tempat majalah-majalah vak itu tersimpan. Valentino makin berani. Pada suatu hari majalah itu dibawanya ke sebuah biro penerjemah di kota Palma dengan permintaan agar beberapa bagian terpenting disalin ke dalam bahasa Spanyol. Majalah kemudian ditaruhnya kembali di lemari seperti semula — tanpa Dr. Snyder mengetahuinya. Paling tidak dalam anggapan Valentino.

Pada suatu sore, ketika kebetulan hampir semua tamu sedang keluar, Valentino menemui lagi Dr. Snyder. Setelah omong-omong tentang ini itu, mulailah Valentino menyinggung soal intan. Pemilik hotel itu ingin mengetahui berapa gerangan harga alat-alat dan instalasi yang diperlukan untuk penggarapan intan dengan teknik radiasi nuklir itu.

Dr. Snyder sambil angkat bahu, menyatakan tidak tahu. “Sebab saya memang tak pernah berurusan dengan pembelian alat-alat tersebut. Tapi kira-kira berapa juta peseta”, katanya. “Kalau Anda berminat, boleh sekali waktu saya tanyakan”.

Tapi, walaupun harga alat-alat itu tinggi, keuntungan yang dapat diperoleh kiranya akan besar sekali, kalau dengan cara itu intan-intan yang kurang bernilai dapat dipertinggi mutunya’’, kata Valentino dan pemilik hotel itu secara diam-diam bahkan sudah menanyakan, berapa perbedaan harga per batunya setelah sebutir intan diubah warnanya, dan dipertinggi mutunya.

Dr. Snyder sebagai penipu ulung, berbuat seolah-olah ia acuh tak acuh. Ia menjawab: “Alat-alat yang diperlukan, meliputi juga instalasi untuk melindungi pekerja dari radiasi-radiasi atom dan masih banyak lagi yang diperlukan. Misalnya, diperlukan sebuah bangunan yang sebaiknya dipahat dalam batu cadas.”

Valentino yang terpikat oleh harapan akan keuntungan finansial luar biasa, dengan antusias menjawab: “Saya mempunyai rumah seperti itu. Tapi letaknya agak jauh dari sini, di Cala Murada. Rumah itu warisan dari paman saya. Kalau Profesor tidak keberatan kita dapat meninjaunya besok”.

Segala sesuatu berjalan dengan lancar seperti diharapkan oleh si penipu. Rumah di Cala Murada itu luas, terbuat di dalam batu-batu cadas. Sang profesor masuk ke dalam, melakukan pengukuran di sana sini, membuat sketsa akan tempat di mana laboratorium harus dibuat dan menunjuk tempat yang paling baik untuk memasang alat pembangkit listrik. Lagaknya sungguh seperti seorang ahli hingga Valentino makin antusias.

Dalam suatu bisnis segala sesuatu harus diatur dengan batasan yang pasti. Maka sang profesor  membuat konsep perjanjian, yang menentukan bahwa keuntungan nantinya akan dibagi sama. Dalam kontrak itu selanjutnya dikatakan bahwa menjadi tanggung jawab Valentino untuk mengeluarkan persekot bagi proyek tersebut.

Kini Valentino, merasa sudahi dapat melangkah dengan aman berdasarkan kontrak yang telah dibuatnya. Ia menyerahkan uang sebanyak satu juta peseta (kurang lebih $ 18.000 atau hampir Rp. 7,5 juta) kepada “ahli nuklir’’ itu untuk membeli alat-alat yang diperlukan.

“Sebenarnya agak terlalu sedikit. Tapi sebagai pengeluaran pertama saya kira cukup,” kata Dr. Bruce. Dan segera ia terbang dari Palma ke Madrid. Valentino tidak tahu, bahwa sebenarnya Bruce Snyder di Barcelona sudah turun dari kapal terbang. Sepuluh hari kemudian sang profesor sudah kembali di hotel Valentino, membawa beberapa surat transaksi. Karena antusiasnya, Valentino tidak memperhatikan bahwa surat-surat tersebut dibuat di Barcelona.

Jika tadinya pemilik hotel itu cemas juga, jangan-jangan Dr. Bruce Snyder kabur dengan uangnya, maka kini sedikit pun ia sudah tidak mempunyai kecurigaan. Apalagi setelah datang alat-alat yang menurut Dr. Bruce Snyder dipesannya dari New York.

Pesawat-pesawat itu kemudian dipasang dan Valentino sangat terkesan oleh aspek lahiriahnya. Tidak mengherankan, karena alat-alat itu dibuat oleh orang-orang profesional di Barcelona secara khusus untuk tujuan penipuan.

Alat-alat ini belum lengkap. Masih ada beberapa alat tambahan yang diperlukan. Pertama, tentu saja generator. Ini dapat kita beli dengan harga yang lebih murah di Eropa’’, kata Dr. Snyder.

“Apakah tidak lebih baik mengambil aliran listrik dari Murada tanya Valentino yang ingin menghemat pengeluarannya. Dr. Snyder tampak terkejut mendengar usul ini. Katanya: “Bukankah proyek ini harus kita rahasiakan? Pemerintah pasti tak menyetujui proyek semacam ini yang akan menggoncangkan harga intan berlian di pasaran. Apalagi jika sampai ketahuan umum, rencana komersial akan gagal sama sekali.

Alasan yang dikemukakan Dr. Snyder memang sangat masuk akal. Dan sekali lagi Valentino mengeluarkan uang untuk pembelian mesin pembangkit listrik. Ia tidak mengetahui, bahwa di sini ia lebih dalam terperosok dalam perangkap Snyder. Termasuk bagian penting dari siasat penipu ulung ini. Untuk mendorong korbannya berbuat sesuatu yang menyebabkan dia bertindak dengan melawan undang-undang atau penguasa resmi. Agar si korban nantinya tidak berani berkutik seandaianya ia menyadari telah menjadi korban penipuan dan merasa dirugikan.

Sesuai dengan taktik ini, Dr. Snyder menempuh jalan berikut. Generator dibeli di Perancis dan diselundupkan ke Cala Murada dengan sebuah perahu nelayan. Tapi kali ini sang profesor tidak berani mendatangkan mesin tiruan. Ia membeli generator sungguh-sungguh walaupun sudah bekas. Alat-alat listriknya ia suruh pasang oleh tenaga ahli.

Tentu saja rumah dengan “instalasi atom’’ tertutup bagi siapa pun juga. Agar proyek ini jangan sampai ketahuan orang, kata Snyder.

Sementara itu Valentino telah membeli sebutir intan murahan yang berwarna kuning untuk percobaan. Di lain pihak Dr. Snyder segera membeli sebutir intan lazuardi murni yang bentuk maupun besarnya, mirip dengan batu murahan yang disediakan oleh Valentino untuk percobaan.

Tak lupa Snyder menciptakan suasana misterius ketika melakukan “eksperimen ilmiah’’ ini untuk pertama kali. Ruangan gelap gulita, alat-alat berderu, bermuncratan api listrik. Dan terlaksanalah percobaan pertama dengan “penuh sukses’’. Artinya Snyder berhasil menukar batu murahan Valentino dengan intan lazuardi yang dibeli oleh penipu itu di sebuah toko — tanpa Valentino mengetahui rahasia permainan sulap itu!

“Coba, nilai sendiri perbedaan harga antara intan ini dengan keadaan sebelum ia digarap, dengan radiasi nuklir”, kata Snyder bangga. Ia menambahkan agar Valentino jangan membawa intan itu ke toko yang menjual intan tersebut dalam bentuk batu murahan. Karena pemilik toko itu mungkin akan mengenalinya berdasarkan bentuk dan besarnya.

Valentino kegirangan. Sang profesor mengesploitasi keadaan ini. Ia mengatakan kepada Valentino bahwa mereka dapat membeli intan-intan Siberia yang tidak menarik minat pedagang batu permata dan biasanya hanya digunakan untuk tujuan industrial. Dan mengusulkan mendatangkan intan-intan murahan itu lewat penyelundupan. Ini untuk menghindari pajak duane, agar keuntungan makin besar. Dr. Snyder akan berangkat sendiri. Valentino setuju dan sekali lagi menyediakan uang, yang kali ini dipinjamnya dari pamannya. Dengan ini pengeluaran Valentino untuk proyek intannya, telah mencapai 4 juta peseta. 

Valentino menghibur diri dengan harapan bahwa keuntungan akan segera mengalir apabila dengan intan-intan Rusia sebagai bahan proyeknya sudah dapat berproduksi secara besar-besaran.

Seminggu berlalu sejak profesor Bruce Snyder pergi mencari intan Rusia — tanpa ada kabar beritanya. Padahal Valentino harus segera mengembalikan uang pinjaman dari pamannya. Musim panas sudah berakhir. Datang bulan Oktober 1965 — bulan ketiga sejak Dr. Snyder berlibur di hotel Valentino. Masih tiada kabar. Akhirnya Valentino terpaksa membuka rahasianya kepada pamannya dengan mengatakan, untuk apa ia pinjam uang darinya.

Paman Valentino menaruh curiga. “Bila benar doktormu itu seorang sarjana atom, apalagi bekerja di lembaga ilmiah di Jenewa, mungkinkah ia bercuti musim panas sampai satu kuartal lamanya? Ayo, kita melihat rumahmu di Murada. Aku ingin melihat instalasi itu", kata sang paman, yang sebagai seorang insinyur merasa sedikit-sedikit tahu soal alat-alat dan pesawat.

Sayang, rencana ke “instalasi atom’’ di Murada itu tidak jadi terlaksana, karena Dr. Snyder keburu datang.

Muka Dr. Snyder tampak muram, dan ia menjual kisah berikut. Intan industri yang dibelinya di Paris, disita oleh duane di Irun dan Sang profesor memperlihatkan keterangan tertulis dari pembeslahan ini. Ia disekap satu minggu lamanya, kata Snyder sambil memperlihatkan surat pembebasannya. Berkali-kali ia diinterogasi di mana ia membeli intan-intannya dan akan diapakan intan-intan itu. “Tentu saja saya tak mau membuka rahasia, sampai akhirnya saya dibebaskan”, tambahnya.

Dr. Snyder selanjutnya menyatakan rela, bahwa kerugian akibat penyitaan ini nantinya akan dipotong dari keuntungan yang pertama setelah pabrik berproduksi. Tapi kini harus disediakan bahan-bahan intan baru.

Tentu saja, segala macam surat keterangan yang bertalian dengan kisah pembeslahan ini, semua palsu. Tapi Valentino tak menyadari hal ini. Ia terlalu pusing memikirkan bagaimana ia mesti menyampaikan berita bencana penyitaan itu kepada pamannya.

Ketika Dr. Snyder sekali lagi minta uang, Valentino menjawab lesu: “Saya bicara dulu dengan paman saya. Barangkali ia dapat meminjamkannya”.

Valentino kemudian berunding dengan pamannya. Yang terakhir ini mengajaknya diam-diam pergi ke Murada untuk melihat “instalasi atom” itu. Apa yang ditakutkan memang benar. Instalasi atom itu mesin tiruan. “Bahkan mesin palsu yang baik sekali, dengan sakelar-sakelar, berbagai alat pengukur dan handel-handel”, kata si paman.

Inilah jalannya seluruh peristiwa sampai hari terakhir sebelum Valentino mati terbunuh. kesemuanya terungkap dari kesaksian paman Valentino dan juga pengakuan Dr. Bruce Snyder sendiri yang berkat bantuan Interpol segera dapat ditangkap, yaitu di Bordeaux, Perancis, di rumah salah seorang pacarnya. Penangkapan ini terjadi hanya beberapa hari setelah foto Snyder ditemukan di brankas rahasia dalam dinding kamar Valentino, bersama-sama dengan kuitansi yang ditandatangani oleh si penipu.

Antara lain berkat foto inilah penipu ulung itu berhasil ditangkap. Begitu ditemukan, kopi dari foto itu oleh komisaris Murenos dikirim ke Interpol, disertai keterangan bahwa kemungkinan besar penipu itu bernama Schaefer.

Dugaan ini memang tak salah. Dr. Bruce Snyder sebenarnya bernama Fritz Schaefer, bekas guru, umur 42 tahun, dilahirkan di Calmar tanggal 11 Agustus 1923. Terakhir ia tinggal di Jenewa dan di sini ia dicari-cari karena tidak membayar kuitansinya di Hotel de la Gare.

Tentu saja mula-mula Fritz Schaefer menyangkal semua tuduhan. Pistol Mauser yang digunakannya untuk membunuh Valentino, juga sudah tidak ditemukan padanya.

Schaefer dikirim ke Spanyol untuk diperiksa lebih lanjut. Ia terpaksa mengaku menghadapi bukti-bukti dan kesaksian-kesaksian yang kuat: persamaan tanda tangan pada kuitansi-kuitansi yang ditemukan dalam lemari besi Valentino dengan tanda tangannya; kenyataan bahwa darahnya memang dari golongan A-3 seperti darah yang melumuri pisau dapur yang ditemukan di tempat kejadian; kesaksian orang-orang yang mengenalinya sebagai tamu yang mempunyai urusan misterius dengan Valentino.

Berperanan besar dalam pengusutan kejahatan ini adalah foto yang memperlihatkan “Dr Bruce Snyder” sedang mengamati batu-batu permata — foto yang telah digunakan oleh Fritz Schaefer sebagai alat untuk melakukan penipuannya.

(Hanns Walther)

Baca Juga: Korbannya Pemenang Nobel

 

" ["url"]=> string(84) "https://plus.intisari.grid.id/read/553834062/pesawat-radioaktif-peningkat-mutu-intan" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1690565815000) } } }